Beranda / Romansa / A Story We Misread / BAB XXXIX - The Questions He Couldn't Ask (Pt.1)

Share

BAB XXXIX - The Questions He Couldn't Ask (Pt.1)

Penulis: Ann Azure
last update Tanggal publikasi: 2026-10-18 15:59:06

Keesokan paginya, Issa tiba di kantor Hawthorne Literary Press lebih awal dari biasanya.

Suasana gedung penerbitan itu masih relatif tenang ketika ia melangkah keluar dari lift. Beberapa karyawan sudah mulai berdatangan, menyapa satu sama lain sebelum menuju departemen masing-masing. Issa membalas sapaan mereka seperti biasa, dengan anggukan singkat dan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

Tak ada yang berbeda dari penampilannya pagi itu. Kemeja yang dikenakannya rapi, lengan bajunya tergulun
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • A Story We Misread   Bab XLII - The Weight of Unspoken Words

    Emma masih mengenakan gaun malam berwarna hitam sederhana yang dipadukan dengan blazer tipis. Sejak awal acara, ia telah membantu mengoordinasikan jadwal Issa, berkomunikasi dengan pihak hotel, dan memastikan segala keperluan tim berjalan sesuai rencana. Ia tidak menyentuh alkohol sedikit pun.Baginya, malam itu adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia bukan sekadar sekretaris yang mampu menyelesaikan pekerjaan administratif. Ia ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan Issa bahkan ketika urusan pribadi pria itu mulai mengganggu pekerjaannya."Pak Direktur?"Issa yang bersandar pada tembok tidak jauh dari pintu masuk ballroom mengangkat kepala ketika mendengar suara yang familier."Oh. Emma."Emma tersenyum kecil. "Apa Anda akan pulang sekarang?""Ya. Tidak. Maksudku..." Issa mengerutkan kening, seolah-olah pertanyaan sederhana itu membutuhkan pertimbangan yang cukup rumit. "Ya, tapi tidak juga."Emma terdiam sesaat sebelum tawa kecil lolos dari bibirnya.Selama bekerja sebagai

  • A Story We Misread   BAB XLI - A Celebration Without Joy

    Ballroom hotel itu dipenuhi cahaya keemasan yang memantul pada permukaan gelas kristal dan dekorasi elegan di sepanjang ruangan. Musik instrumental mengalun lembut, bercampur dengan percakapan para tamu yang memenuhi acara peluncuran dua buku terbaru dari divisi Sci-fic dari penerbit ternama Hawthorne Literary Press.Bagi sebagian besar orang yang hadir malam itu, acara tersebut merupakan perayaan atas keberhasilan dua penulis yang telah menghabiskan berbulan-bulan menyelesaikan karya mereka. Bagi Issa Saverio, ini adalah bukti lain bahwa divisi yang dipimpinnya terus berkembang.Semuanya berjalan sesuai rencana. Kedua penulis memberikan sambutan singkat, para tamu menikmati jamuan, dan beberapa media melakukan wawancara dengan tim penerbitan. Arland bahkan sempat berkomentar bahwa acara tersebut mungkin menjadi salah satu peluncuran buku terbaik yang pernah mereka selenggarakan tahun ini.Namun, meskipun Issa menjawab setiap pertanyaan dengan profesional dan tersenyum ketika diperluk

  • A Story We Misread   BAB XL - The Questions He Couldn't Ask (Pt.2)

    "Memangnya ada masa lalu yang bisa diubah?" Arland mengangkat sebelah alis. "Kita hanya bisa memutuskan apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui apa yang terjadi. Kalau sesuatu dari masa lalu memang bisa memengaruhi masa depan mereka, bukankah mereka berhak mengetahuinya sebelum mengambil keputusan?"Issa terdiam beberapa saat. Ia memahami maksud Arland. Namun, ada perbedaan antara mengetahui sesuatu yang memang perlu diketahui dan mencampuri urusan yang belum tentu berkaitan dengannya.Ia tidak ingin menuduh Nyonya Oswald menyembunyikan sesuatu hanya karena perempuan itu menolak menjelaskan alasannya. Akan tetapi, ia juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan tersebut."Jadi, menurutmu, orang yang menentang hubungan itu seharusnya menjelaskan alasannya?" tanya Issa."Kalau dia benar-benar peduli kepada salah satu dari mereka, tentu saja." Arland menjawab dengan nada lebih serius. "Setidaknya, dia harus memberi mereka kesempatan untuk memahami apa yang sedang terjadi. Menentang sesu

  • A Story We Misread   BAB XXXIX - The Questions He Couldn't Ask (Pt.1)

    Keesokan paginya, Issa tiba di kantor Hawthorne Literary Press lebih awal dari biasanya.Suasana gedung penerbitan itu masih relatif tenang ketika ia melangkah keluar dari lift. Beberapa karyawan sudah mulai berdatangan, menyapa satu sama lain sebelum menuju departemen masing-masing. Issa membalas sapaan mereka seperti biasa, dengan anggukan singkat dan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.Tak ada yang berbeda dari penampilannya pagi itu. Kemeja yang dikenakannya rapi, lengan bajunya tergulung hingga siku, sementara rambutnya tertata seperti biasa. Ia membawa secangkir kopi hitam di satu tangan dan tas laptop di tangan lainnya.Dari luar, Issa tampak seperti direktur yang siap menghadapi hari kerja yang sibuk. Namun, begitu duduk di balik meja kerjanya, pikirannya kembali pada percakapan semalam.“Ibuku memintaku putus denganmu.” Kalimat Reana itu masih terngiang jelas di benaknya.Issa telah berusaha memikirkan persoalan tersebut dari berbagai sudut pandang sejak meninggalkan apart

  • A Story We Misread   BAB XXXVIII - The Questions That Remain

    Untuk sesaat, Issa tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Reana, mencoba memahami kalimat yang baru saja didengarnya. Bukan karena ia tidak mengerti maksud perkataan itu, melainkan karena ia sama sekali tidak menyangka Nyonya Oswald akan mengambil langkah sejauh itu. Ia sudah menduga bahwa ada sesuatu yang membuat perempuan itu bersikap berbeda terhadapnya. Ia juga menyadari perubahan sikap Nyonya Oswald setiap kali mereka bertemu. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa Nyonya Oswald akan meminta putrinya mengakhiri hubungan mereka. "Dia mengatakan itu kepadamu?" tanyanya akhirnya. Reana mengangguk. "Iya." "Apakah dia menjelaskan alasannya?" Reana menggeleng. "Itulah masalahnya. Dia hanya mengatakan bahwa hubungan kita tidak baik untukku. Ketika aku meminta penjelasan, dia bilang aku belum memahami semuanya." Issa terdiam. Reana mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. "Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan lagi, Issa. Aku tidak ingin ber

  • A Story We Misread   BAB XXXVII - Beneath the Silence

    Pagi di Ashbourne House biasanya dimulai dengan percakapan ringan di meja makan.Terkadang Reana akan menceritakan sesuatu yang terjadi di Reading Delights. Pada kesempatan lain, Nyonya Catherine Oswald akan membahas rencana mereka untuk akhir pekan, sementara Tuan Frederick Oswald sesekali menyela dengan komentar yang membuat kedua perempuan itu tertawa.Namun, pagi ini terasa berbeda.Reana duduk di kursinya dengan secangkir teh di hadapan, sementara Nyonya Oswald sibuk mengoleskan selai pada sepotong roti panggang. Tidak ada yang benar-benar memulai percakapan. Bahkan suara peralatan makan yang beradu dengan piring terdengar lebih jelas daripada biasanya."Roti panggangnya masih ada kalau kamu mau," kata Nyonya Oswald akhirnya.Reana mengangkat wajahnya. "Terima kasih, Bu. Aku sudah cukup."Nyonya Oswald mengangguk kecil, lalu kembali pada sarapannya. Dan percakapan mereka berhenti di sana.Reana menunduk, mengaduk tehnya meskipun ia tidak berniat menambahkan apa pun ke dalamnya. P

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status