Home / Sci-Fi / AETHERITH: Perang Planet Astarhea / Chapter 28: Dua Wajah, Satu Tim

Share

Chapter 28: Dua Wajah, Satu Tim

Author: YRD20
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-27 01:04:27

​Di dalam Gudang Arsip, bau besi tua dan kertas lama tercium kuat. Suara benturan pedang sangat keras dan memekakkan telinga. Pedang Bayangan dan Kageyama bertarung dengan sangat cepat, nyaris tak terlihat oleh mata biasa.

​Kageyama, menggunakan jurus Bulan Sabit yang Brutal, menendang tumpukan arsip usang hingga menciptakan awan debu. Ia lalu melompat mundur, menghindari tebasan Pedang Bayangan, dan mendarat di atas rak besi yang berderit.

​“Kamu hanya Bayangan yang takut gelap,” teriak Kageya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 46: Harapan Di Ujung Tanduk

    Langkah kaki bot militer bergema di sepanjang lorong logam Menara Babelia yang terletak di pinggiran Benua Genevivre. Sersan Rebirtha memimpin tim medisnya menembus sisa-sisa aroma ozon dan debu reruntuhan yang menyesakkan indra penciuman. Di dinding-dinding menara, bekas sayatan bilah pedang dan hantaman sihir hitam menjadi saksi bisu betapa brutalnya serangan Sekte Rembulan Merah yang baru saja berhasil dihancurkan. ​Saat mereka merangsek masuk ke aula utama, langkah tim terhenti seketika. Di tengah aula yang dingin, Argentum—naga perak raksasa—berdiri tegak. Sayap logamnya yang lebar membentang luas, membungkus tubuh Udzhur yang tergeletak di lantai, melindunginya layaknya sebuah perisai hidup yang tak tertembus. ​"Tahan senjata kalian!" perintah Rebirtha dengan tegas. Ia melangkah maju secara perlahan sembari merapalkan Vital-Resonance. Frekuensi energi hijau lembut terpancar dari telapak tangannya, menyentuh sisik sang naga untuk membuktikan bahwa ia adalah kawan. Argentum men

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chpater 45: Kesaksian Di Balik Debu

    Gurun Babelia mendadak senyap. Keheningan yang menyelimuti kawasan itu terasa amat pekat, seolah-olah atmosfer di sekitar menara raksasa tersebut membeku di bawah bayang-bayang pilar baja purba yang baru saja bangkit dari masa persemayamannya. Pintu hidrolik besar di pangkal kaki Babelia bergeser terbuka, mengiringi desisan uap panjang yang memecah kesunyian, menyemburkan hawa dingin yang kontras dengan udara gurun yang membara di luar. ​Jae-won melangkah keluar dengan langkah yang terasa seberat timah. Setiap inci pergerakannya menuntut sisa stamina yang nyaris punah. Jubah biru tua miliknya tampak compang-camping; rona warnanya memudar di bawah lapisan debu tebal dan bercak darah yang telah mengering akibat pertempuran sebelumnya. Ia tidak menggenggam senjata apa pun; hanya sarung tangan baja biru tua yang membungkus tangannya, memantulkan cahaya mentari sore yang menyengat pada permukaan logam yang kusam. Di balik celah logam sarung tangan itu, pendaran biru keemasan dari Rune m

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 44: Benteng Petra Valis

    ​Gurun Babelia yang biasanya sunyi kini bergetar di bawah otoritas baru yang mengerikan.Di kejauhan, tepat di garis perbatasan yang memisahkan padang pasir tak bertuan dengan kedaulatan Domain Pasir Putih, berdiri sebuah pos pengawas legendaris yang dikenal sebagai Petra Valis.Benteng itu dibangun di celah tebing batu merah yang menjulang, berfungsi sebagai gerbang utama sekaligus benteng pertahanan terakhir bagi rakyat di balik gurun.​Di puncak menara tertinggi Petra Valis, Kapten Varick menatap layar monitor seismik dengan mata terbelalak. Jarum-jarum analog di meja kerjanya bergerak liar, menari-nari tanpa henti seolah-olah bumi sedang mengalami serangan jantung.​"Lapor, Kapten! Sensor panas mendeteksi lonjakan energi masif di sektor nol-sembilan!" teriak seorang operator muda dengan suara gemetar. "Ini bukan badai pasir biasa. Ini adalah aktivitas 9 mekanis... berskala kolosal."​Varick tidak menjawab. Ia meraih teleskop optik jarak jauh yang terpasang di balkon menara pandang

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 43: Waktunya Berburu!

    ​Di dalam Bunker Snow Fang, suasana terasa sangat kontras dengan badai salju yang ganas yang sedang mengamuk di atas permukaannya.Di balik dinding beton dan baja sedalam ratusan meter ini, Presiden Wei Shen berdiri mematung di depan kaca pengawas laboratorium pusat. Ia menatap jam hitung mundur di layar utama yang berkedip merah, selaras dengan denyut energi dari fasilitas rahasia yang dikenal sebagai Proyek Nexus Drive.​Di sana, sebuah struktur melingkar raksasa yang terbuat dari logam Aetherium hitam berdenyut dengan cahaya biru-kuning elektrik yang tidak stabil. Inilah Gerbang Teleportasi Massal—kunci bagi dominasi Republik untuk menghancurkan musuh-musuhnya.Setelah hampir berhasil menaklukan Kekaisaran Phoenix, mata sang Presiden kini tertuju pada mangsa berikutnya: Kerajaan Harimau Merah.​"Target kita bukan sekadar ekspansi," suara Wei Shen rendah, bergema di ruangan laboratorium yang steril. "Kita akan menghapus batas negara. Harimau Merah memiliki sumber daya kristal yang k

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 42: Gadis Berambut Biru

    Debu gurun yang pekat mulai turun ke bumi, ditarik oleh gravitasi yang perlahan kembali stabil setelah guncangan kolosal transformasi Babelia.Di bawah bayang-bayang sayap mekanis raksasa yang kini menjulang tinggi menembus awan tipis, sebuah keheningan yang menyesakkan sempat meraja.Keheningan itu hanya pecah oleh derit logam yang mendingin dan suara desisan uap dari sisa-sisa reaktor menara yang kini telah berubah bentuk menjadi raksasa yang hidup.​Dari balik gundukan pasir yang tercipta akibat hempasan energi tadi, sebuah tangan muncul ke permukaan. Enya terbatuk keras, memuntahkan butiran pasir dari mulutnya. Jubah merahnya yang biasanya anggun kini tercabik di beberapa bagian, namun matanya tetap tajam penuh waspada. Ia menoleh ke samping, melihat Pedang Bayangan sedang bangkit dengan gerakan yang masih sangat sigap. Pria itu segera menyarungkan pedangnya, meskipun matanya tak lepas dari sosok raksasa mekanis yang kini berdiri kokoh di belakang mereka.​"Kau tidak apa-apa, Enya

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 41: Kebangkitan Menara Babelia

    Jae-won tersentak. Telepati Udzhur yang menghantam batinnya terasa seperti sengatan listrik yang membakar saraf. Ia merasakan denyut panas yang tak terkendali menjalar dari telapak tangannya. Di sana, sebuah tato kuno berbentuk siluet naga mulai berpendar hebat, memancarkan cahaya biru keemasan yang menembus sela-sela sarung tangan zirahnya.Cahaya itu merambat cepat ke seluruh pelat zirah yang menyelimuti tubuhnya, membuat logam biru itu bergetar hebat dan mengeluarkan suara berdenging rendah yang selaras dengan detak jantung Jae-won.​Efek Overdrive dari kekuatan sebelumnya ternyata telah menghancurkan segel-segel kuno yang selama ini mengunci potensi sejati zirahnya melalui jalur energi di tangannya.Jae-won perlahan melepaskan dekapan Kartika. Ia berbalik sejenak, menatap mata Kartika yang masih basah. Melalui tatapan mata Jae-won yang kini biru berpendar emas, Kartika mengerti segalanya. Jae-won harus kembali ke mulut kematian demi mereka yang tertinggal.​Tanpa peringatan, Jae-w

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 40: Seseorang Yang Menjemput Pulang

    Sisa-sisa energi emas yang tadi membakar langit gurun perlahan memudar, menyisakan keheningan yang mencekam di hamparan pasir Genevivre.Di tengah padang yang kini menghitam karena panas Aether, Jae-won berdiri mematung. Ia menunduk dalam, sosoknya yang terbalut zirah naga tampak seperti monumen su

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 39: Keheningan Alam Bawah Sadar

    Dunia di luar Menara Babelia tidak lagi mengenal warna selain merah darah dan emas yang menyakitkan mata. Vane Thorsten, sang algojo Sekte Rembulan Merah yang beberapa menit lalu tertawa di atas penderitaan Babelia, kini merangkak di atas pasir yang mencair. Kapak raksasanya, The Northern Star, pata

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 38: Protokol Dewa Tanpa Jiwa

    Gemuruh di Level B1 bukan lagi sekadar getaran; itu adalah raungan kematian yang merobek fondasi sejarah. Menara Babelia, monumen pengetahuan yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad di jantung Gurun Genevivre, kini sedang dikoyak paksa oleh artileri frekuensi berat milik Sekte Rembulan Merah.

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 37: Harga Sebuah Takdir

    ​Udzhur berdiri dengan tenang di tengah taman zen bawah tanahnya. Di bahunya, Naga Argentum yang kini menyusut seukuran ular besar mendesis pelan, matanya yang berwarna perak cair menatap Jae-won dengan waspada. Aura Biru Safir dan Kuning Emas dari Rune di dahi Udzhur menciptakan pendaran yang menen

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status