LOGINMatahari Astarhea yang meredup menggantung rendah di cakrawala gurun, mewarnai hamparan batu dan pasir dengan gradasi oranye dan merah darah yang muram. Di bawah langit yang begitu luas dan tak acuh, tim kecil pimpinan Jae-won bergerak maju. Mereka adalah sisa-sisa kesetiaan yang tak tergoyahkan: Jae-won sendiri, sang Panglima yang kini dicap pengkhianat; Kapten Ji-hoon, pengemudi andal dengan kesetiaan membaja; Mayor Hyun-woo, hantu infiltrasi yang bergerak di antara bayang-bayang; dan Kapten Min-seo, pilot Soldierid yang berani. Kendaraan pengangkut lapis baja mereka, yang tua namun telah dimodifikasi dengan susah payah, mendaki jalur kuno yang jarang dilalui—sebuah urat nadi perdagangan dari era lampau, kini sarang bagi bahaya dan ketidakpastian.
Setiap derit roda, setiap embusan angin gurun yang dingin, membawa serta ketegangan yang lebih pekat daripada debu yang terangkat. Kesadaran pahit meresap ke dalam tulang mereka: mereka adalah buruan paling dicari di seluruh Olympia, seolah setiap bayangan adalah mata yang mengintai, setiap hembusan angin adalah bisikan tuduhan. Tiba-tiba, suara alarm mengoyak keheningan di dalam kokpit kendaraan. Ji-hoon berteriak, suaranya tercekat di tenggorokan. "Panglima, jebakan di depan! Bandit-bandit! Jumlah mereka... jauh lebih banyak dari perkiraan!" Dari balik bukit pasir yang tandus dan reruntuhan menara komunikasi yang telah lama tumbang, puluhan figur bayangan melesat maju. Mereka adalah Bandit Gurun, para serigala tanpa loyalitas, yang hidup dari menjarah jalur-jalur sepi ini. Mereka menunggangi hoverbike yang dimodifikasi, meluncur di atas tanah dengan kecepatan mengerikan, memuntahkan rentetan laser dan roket. Bau mesiu dan ozon yang terbakar memenuhi udara gurun yang kering, menandai dimulainya pertempuran yang tak terhindarkan. "Pertahankan formasi!" perintah Jae-won, suaranya dingin, namun penuh otoritas, naluri Panglima-nya yang sudah teruji kembali mengambil alih. Ia mencabut dua pistol plasma ikoniknya dari sarung pinggang, senjata yang telah menjadi perpanjangan tangannya selama bertahun-tahun pertempuran. Energi biru yang mematikan mulai berdenyut dari larasnya, sebuah pemandangan yang dikenal dan ditakuti oleh banyak musuh di Federasi. "Min-seo, lindungi sayap kanan! Hyun-woo, siapkan tembakan balasan dari belakang! Ji-hoon, fokus pada kemudi, jangan sampai kita terhenti!" Pertempuran pecah dengan ganas. Jae-won, kini tanpa perlindungan Soldierid pribadinya, melesat ke sisi kendaraan pengangkut yang terbuka. Ia menembakkan dua pistol plasma-nya secara berirama, sebuah simfoni tembakan energi yang mematikan. Tembakan energi biru melesat, membelah udara, meledakkan kokpit hoverbike bandit satu per satu dengan presisi yang hanya bisa dimiliki oleh sang Panglima. Tubuhnya bergerak lincah, menghindar dari tembakan balasan musuh sambil terus menghujani mereka dengan plasma. Sementara itu, Min-seo, di dalam kokpit Soldierid-nya yang lincah, menari di udara, menjadi perisai bergerak yang gesit, membalas tembakan dengan akurasi mematikan, menembak jatuh target yang mencoba mendekat. Ledakan demi ledakan mengguncang gurun, pasir dan baja terlempar ke udara, menciptakan kawah-kawah kecil di medan pertempuran. Hyun-woo, sang ahli stealth, mengambil posisi rentan di atap kendaraan lapis baja yang bergerak. Dengan senapan sniper yang dimodifikasi, ia menembak bukan untuk membunuh, tetapi untuk melumpuhkan; setiap peluru menembus mesin hoverbike bandit, menjatuhkannya ke pasir tanpa suara. Setiap tembakannya efisien, menunjukkan penguasaan medan yang sempurna dan ketenangan yang luar biasa di tengah kekacauan. Ji-hoon, di balik kemudi, mengemudi dengan agresif, bermanuver di antara bebatuan dan reruntuhan, menghindari tembakan musuh dengan keterampilan pilot ulung, membuat kendaraan mereka melaju tanpa henti. Mereka berhasil memukul mundur gelombang pertama. Para bandit, terkejut dengan perlawanan sengit dan keahlian Jae-won yang legendaris, mulai menarik diri ke kejauhan. Namun, kemenangan ini terasa pahit. Kendaraan mereka rusak parah, asap mengepul dari mesin yang kepanasan, dan Min-seo melaporkan kerusakan serius pada sistem navigasinya. "Sial! Kita butuh perbaikan, Panglima," keluh Ji-hoon, memukul konsol yang berasap dengan frustrasi. "Jalur evakuasi ini tidak akan bertahan lama." Ketika mereka bersembunyi di balik tebing yang menjulang, mencoba memperbaiki kerusakan darurat, alarm Hyun-woo berbunyi lagi, kali ini lebih mendesak, lebih menakutkan. "Panglima, unit musuh mendekat dari arah selatan. Bukan bandit. Ini... Faksi Naga Hijau. Lebih dari satu peleton, dengan Soldierid berat dan unit infanteri." Wajah Jae-won mengeras, urat-urat menonjol di pelipisnya. Hyeong-jun tidak membuang waktu. Pelacakannya begitu efisien, sebuah bukti bahwa Hyeong-jun menggunakan semua sumber daya Federasi untuk memburu mereka tanpa ampun. "Mereka pasti menyisir rute lama untuk mencari kita," gumam Jae-won, matanya menyapu medan. Min-seo bersiap, Soldierid-nya berderak, mesinnya meraung kecil. "Kita tidak bisa bertarung frontal, Panglima. Mereka terlalu banyak, dan kita... kita perlu perbaikan." Jae-won menatap medan pertempuran. Tebing curam, beberapa reruntuhan kuno yang menawarkan perlindungan. Sebuah ide terlintas di benaknya. "Ji-hoon, coba hidupkan kembali komunikasi dengan Hutan Jaya. Kirim sinyal darurat, sekecil apapun itu. Hyun-woo, siapkan jebakan di sana." Ia menunjuk ke celah sempit di antara dua tebing yang dikenal sebagai 'Gerbang Air Mata', sebuah lorong berbahaya yang hanya bisa dilewati oleh yang paling berani. "Min-seo, kau akan menjadi umpan." "Umpan, Panglima?" tanya Min-seo, terkejut, tetapi tidak gentar. "Ya. Kau akan terbang rendah, memancing mereka ke dalam celah itu. Hyun-woo akan menunggu. Aku dan Ji-hoon akan memberikan tembakan pengalih perhatian dari atas." Min-seo mengangguk, kekhawatiran digantikan oleh determinasi baja. "Siap, Panglima." Min-seo meluncur dengan Soldierid-nya, terbang rendah dan cepat di atas kepala, tembakan laser Faksi Naga Hijau meledak di sekelilingnya, hampir mengenainya. Ia berhasil memancing unit-unit musuh masuk ke dalam celah yang sempit itu. Begitu mereka masuk, Hyun-woo, yang bersembunyi di puncak tebing, menjatuhkan ranjau EMP dan peledak kinetik yang ia miliki. Ledakan dahsyat mengguncang tebing, menjatuhkan beberapa Soldierid musuh ke tanah berbatu. Namun, musuh terlalu banyak dan terlalu kuat. Unit-unit infanteri Faksi Naga Hijau, yang dipimpin oleh seorang komandan kejam dengan baju zirah gelap, memanjat tebing, berusaha mengepung Hyun-woo. Jae-won dan Ji-hoon, dari posisi tinggi di kendaraan, menembak tanpa henti. Dua pistol plasma Jae-won memuntahkan tembakan biru, membelah formasi infanteri yang mencoba naik. Pertempuran berubah menjadi kacau, dengan ledakan dan teriakan perang bergema di celah sempit itu. Hyun-woo terpaksa mundur, bersembunyi di antara reruntuhan, mengandalkan keahlian stealth-nya. Min-seo, dengan Soldierid yang rusak, nyaris jatuh dari langit yang penuh asap. Pada puncaknya, Jae-won melihat komandan Faksi Naga Hijau itu mencoba menanam bahan peledak di dasar tebing—tujuannya jelas: untuk menjatuhkan tebing itu, mengubur Min-seo dan para sandera yang mereka bawa! "Hyun-woo! Min-seo! Mundur! Kita tidak bisa membiarkan mereka mengepung!" Jae-won berteriak, suaranya nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk pertempuran. Dalam momen putus asa, Jae-won mengambil keputusan berisiko. Ia melesat keluar dari kendaraan, dua pistol plasma di tangannya memuntahkan tembakan tanpa henti saat ia bergerak cepat di antara reruntuhan, mengandalkan pengalaman bertahun-tahun dalam pertempuran infanteri dan keahliannya yang tak tertandingi dengan senjata tersebut. Sebuah pertarungan brutal dan pribadi terjadi. Jae-won yang bersenjata ringan, namun mematikan, melawan prajurit Faksi Naga Hijau yang bersenjata lengkap dan Soldierid yang masih tersisa. Saling tembak, manuver mematikan, percikan api beterbangan di udara yang pekat dengan debu dan asap. Dengan dua pistol plasmanya menari di tangannya, Jae-won berhasil melumpuhkan komandan itu dan beberapa unit infanteri di sekitarnya. Namun, kini ia sendiri berada dalam posisi yang sangat berbahaya, terjebak di antara reruntuhan, sementara unit-unit Faksi Naga Hijau yang tersisa masih banyak dan mulai mengarahkan semua tembakan mereka ke arahnya. "Panglima!" teriak Ji-hoon, yang masih mencoba memperbaiki kendaraan mereka, suaranya penuh keputusasaan. "Panglima, saya akan kembali!" Min-seo mencoba memutar Soldierid-nya yang rusak parah, tetapi mesinnya macet. "Jangan bodoh, Min-seo! Selamatkan diri kalian!" Jae-won berteriak, tahu bahwa ia mungkin tidak akan selamat. Hyun-woo, yang baru saja melumpuhkan beberapa unit infanteri, melihat situasi kritis Jae-won. Ia tahu jika Jae-won jatuh, semuanya berakhir. Dia membuat keputusan sepersekian detik. "Aku akan mengulur waktu!" Hyun-woo melesat, bergerak di antara tebing, menembakkan sisa-sisa amunisinya, menciptakan gangguan maksimal, berusaha menarik perhatian musuh dari Jae-won. Tapi jelas, itu adalah misi bunuh diri, sebuah tindakan pengorbanan yang heroik. Jae-won melihat Hyun-woo mempertaruhkan nyawanya untuknya. Api tembakan laser menyambar-nyambar di sekitar Hyun-woo. Jae-won terjebak, kedua pistol plasmanya mulai kehabisan energi. Min-seo putus asa, Ji-hoon mencoba menghidupkan mesin. Tiba-tiba, dari bayangan di atas reruntuhan, sebuah kilatan perak melesat dengan kecepatan yang tak masuk akal. Bukan peluru, bukan laser, melainkan shuriken energi kinetik yang membelah udara dengan dengungan tajam. Whizz! Shuriken itu menancap di kepala Soldierid Faksi Naga Hijau yang mengincar Hyun-woo, menonaktifkannya seketika dengan sebuah ledakan kecil. Sosok itu muncul dari kegelapan seolah materi itu sendiri membengkok di sekelilingnya. Itu adalah seorang prajurit, mengenakan pakaian gelap ramping yang memungkinkannya menyatu dengan bayangan, dengan pisau energi yang bisa muncul dari lengan dan mata yang tajam, memindai medan pertempuran dengan kecepatan pikiran. Dengan kemampuan parkour dan akrobatik yang luar biasa, dia melompat dari tebing ke tebing, bergerak senyap seperti hantu, melumpuhkan beberapa prajurit Faksi Naga Hijau dengan gerakan cepat dan mematikan. Dia adalah Kageyama, seorang Ninja Futuristik dari Klan Jaring Angin. Kageyama adalah salah satu agen tersembunyi dari Kekaisaran Timur yang kuat, kini sedang dalam misi pribadi melatih ilmu ninja dan bela dirinya di reruntuhan kuno yang terpencil ini—tak disangka, ia menyaksikan pertarungan epik yang memancingnya untuk ikut campur, nalurinya mendorongnya untuk mengintervensi demi keseimbangan. Gerakannya bukan gaya bertarung militer yang kaku, melainkan seni bela diri kuno yang disempurnakan dengan teknologi stealth mutakhir. Dia melesat, menghindari tembakan laser dengan kelenturan tubuh yang tak masuk akal, membalas dengan lemparan shuriken energi yang mengenai titik vital musuh atau menonaktifkan Soldierid dengan pukulan presisi ke sendi. Dia menjadi tornado bayangan dan kilatan pisau energi, membersihkan celah itu dari pasukan Faksi Naga Hijau. Satu per satu, prajurit Hyeong-jun tumbang, tak mampu melacak pergerakannya, seolah mereka melawan hantu. "Panglima, itu adalah... Kageyama dari Klan Jaring Angin Kekaisaran!" seru Hyun-woo, terkejut namun kagum, sebuah nama yang hanya dikenal dari desas-desus di kalangan elit militer Olympia. Kageyama, setelah melumpuhkan sebagian besar musuh, melesat ke dekat tim Jae-won. Wajahnya yang tanpa emosi kini menunjukkan sedikit urgensi. Dia tidak berbicara banyak, hanya menunjuk ke arah celah tersembunyi di samping tebing, yang tampaknya mustahil untuk dilewati bahkan oleh kendaraan. "Cepat," bisiknya, suaranya rendah dan serak, hampir seperti angin gurun. "Kita tidak punya banyak waktu. Lebih banyak unit akan datang." Jae-won mengangguk, tanpa pertanyaan, mempercayai naluri ninja itu sepenuhnya. Ia tahu ini adalah kesempatan satu-satunya mereka. "Ji-hoon, Min-seo, ikuti dia! Aku akan mengamankan bagian belakang!" Ji-hoon, dengan kendaraan yang mulai berasap dan berderak, memaksa mesinnya melewati celah sempit itu, dibantu oleh Min-seo yang menembak sisa-sisa musuh. Kageyama melesat di depan, menunjukkan jalur rahasia, memanjat dinding tebing yang curam dengan mudah, seolah gravitasi tidak memengaruhinya. Hyun-woo mengikutinya dengan stealth-nya, memberikan cover dari belakang, memastikan tidak ada yang tertinggal. Mereka bergerak cepat, melalui labirin ngarai tersembunyi yang hanya diketahui oleh Klan Jaring Angin. Tembakan laser dari Faksi Naga Hijau di belakang mulai mereda, mereka berhasil menciptakan jarak yang aman. Setelah beberapa menit yang menegangkan, mereka akhirnya keluar dari labirin bebatutan itu, memasuki dataran yang lebih luas, di mana udara terasa lebih bersih dan ancaman Hyeong-jun memudar di cakrawala. Mereka berhasil lolos, untuk sementara. Kageyama berhenti, menatap ke belakang sejenak, wajahnya menunjukkan evaluasi mendalam, lalu berbalik menghadap Jae-won. Tatapannya dingin, namun ada secercah keingintahuan yang membara. "Jalur ini akan membawa kalian ke gerbang Hutan Jaya. Aku telah menyelesaikan tugas ini." Jae-won, napasnya tersengal, menatap Kageyama. "Mengapa seorang agen Kekaisaran membantu kami, para buronan Federasi?" Ninja itu tidak menjawab secara langsung. "Klan Jaring Angin memiliki kewajiban untuk menjaga keseimbangan. Konflik kalian... hanya mempercepat kebangkitan yang lebih besar." Dia melirik ke arah holo-tablet Jae-won, seolah dapat membaca data yang terkunci di dalamnya. "Aku melihat potensi dalam dirimu, Panglima. Jangan sia-siakan." Sebelum Jae-won bisa bertanya lebih jauh tentang "kebangkitan" atau "keseimbangan" yang ia maksud, Kageyama melesat. Dengan gerakan secepat kilat, dia menghilang ke dalam bayang-bayang gurun yang semakin gelap, seolah dia tidak pernah ada. Hanya angin yang berdesir, membawa bisikan misteri yang semakin mendalam. Tim Jae-won kini berdiri di ambang Hutan Jaya, selamat, tetapi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab dan firasat buruk yang mengganggu. Siapa Kageyama, sang Gunung Bayangan, dan apa sebenarnya yang diketahui Klan Jaring Angin tentang "keseimbangan" dan "kebangkitan" yang ia maksud? Apa hubungan Kekaisaran Timur dengan misteri yang menyelimuti Astarhea ini? Dan apa sebenarnya ancaman yang lebih besar itu, yang bahkan membuat ninja legendaris seperti Kageyama khawatir?. Jae-won dan timnya telah lolos dari cengkeraman Hyeong-jun dan para bandit, tetapi mereka baru saja mengintip ke dalam dunia yang jauh lebih kompleks dan berbahaya, yang melampaui konflik Federasi dan Republik. Misteri yang sebenarnya baru saja dimulai, dan nasib Astarhea kini terikat pada kebenaran yang harus mereka ungkap.Gurun Babelia yang biasanya sunyi kini bergetar di bawah otoritas baru yang mengerikan.Di kejauhan, tepat di garis perbatasan yang memisahkan padang pasir tak bertuan dengan kedaulatan Domain Pasir Putih, berdiri sebuah pos pengawas legendaris yang dikenal sebagai Petra Valis.Benteng itu dibangun di celah tebing batu merah yang menjulang, berfungsi sebagai gerbang utama sekaligus benteng pertahanan terakhir bagi rakyat di balik gurun.Di puncak menara tertinggi Petra Valis, Kapten Varick menatap layar monitor seismik dengan mata terbelalak. Jarum-jarum analog di meja kerjanya bergerak liar, menari-nari tanpa henti seolah-olah bumi sedang mengalami serangan jantung."Lapor, Kapten! Sensor panas mendeteksi lonjakan energi masif di sektor nol-sembilan!" teriak seorang operator muda dengan suara gemetar. "Ini bukan badai pasir biasa. Ini adalah aktivitas 9 mekanis... berskala kolosal."Varick tidak menjawab. Ia meraih teleskop optik jarak jauh yang terpasang di balkon menara pandang
Di dalam Bunker Snow Fang, suasana terasa sangat kontras dengan badai salju yang ganas yang sedang mengamuk di atas permukaannya.Di balik dinding beton dan baja sedalam ratusan meter ini, Presiden Wei Shen berdiri mematung di depan kaca pengawas laboratorium pusat. Ia menatap jam hitung mundur di layar utama yang berkedip merah, selaras dengan denyut energi dari fasilitas rahasia yang dikenal sebagai Proyek Nexus Drive.Di sana, sebuah struktur melingkar raksasa yang terbuat dari logam Aetherium hitam berdenyut dengan cahaya biru-kuning elektrik yang tidak stabil. Inilah Gerbang Teleportasi Massal—kunci bagi dominasi Republik untuk menghancurkan musuh-musuhnya.Setelah hampir berhasil menaklukan Kekaisaran Phoenix, mata sang Presiden kini tertuju pada mangsa berikutnya: Kerajaan Harimau Merah."Target kita bukan sekadar ekspansi," suara Wei Shen rendah, bergema di ruangan laboratorium yang steril. "Kita akan menghapus batas negara. Harimau Merah memiliki sumber daya kristal yang k
Debu gurun yang pekat mulai turun ke bumi, ditarik oleh gravitasi yang perlahan kembali stabil setelah guncangan kolosal transformasi Babelia.Di bawah bayang-bayang sayap mekanis raksasa yang kini menjulang tinggi menembus awan tipis, sebuah keheningan yang menyesakkan sempat meraja.Keheningan itu hanya pecah oleh derit logam yang mendingin dan suara desisan uap dari sisa-sisa reaktor menara yang kini telah berubah bentuk menjadi raksasa yang hidup.Dari balik gundukan pasir yang tercipta akibat hempasan energi tadi, sebuah tangan muncul ke permukaan. Enya terbatuk keras, memuntahkan butiran pasir dari mulutnya. Jubah merahnya yang biasanya anggun kini tercabik di beberapa bagian, namun matanya tetap tajam penuh waspada. Ia menoleh ke samping, melihat Pedang Bayangan sedang bangkit dengan gerakan yang masih sangat sigap. Pria itu segera menyarungkan pedangnya, meskipun matanya tak lepas dari sosok raksasa mekanis yang kini berdiri kokoh di belakang mereka."Kau tidak apa-apa, Enya
Jae-won tersentak. Telepati Udzhur yang menghantam batinnya terasa seperti sengatan listrik yang membakar saraf. Ia merasakan denyut panas yang tak terkendali menjalar dari telapak tangannya. Di sana, sebuah tato kuno berbentuk siluet naga mulai berpendar hebat, memancarkan cahaya biru keemasan yang menembus sela-sela sarung tangan zirahnya.Cahaya itu merambat cepat ke seluruh pelat zirah yang menyelimuti tubuhnya, membuat logam biru itu bergetar hebat dan mengeluarkan suara berdenging rendah yang selaras dengan detak jantung Jae-won.Efek Overdrive dari kekuatan sebelumnya ternyata telah menghancurkan segel-segel kuno yang selama ini mengunci potensi sejati zirahnya melalui jalur energi di tangannya.Jae-won perlahan melepaskan dekapan Kartika. Ia berbalik sejenak, menatap mata Kartika yang masih basah. Melalui tatapan mata Jae-won yang kini biru berpendar emas, Kartika mengerti segalanya. Jae-won harus kembali ke mulut kematian demi mereka yang tertinggal.Tanpa peringatan, Jae-w
Sisa-sisa energi emas yang tadi membakar langit gurun perlahan memudar, menyisakan keheningan yang mencekam di hamparan pasir Genevivre.Di tengah padang yang kini menghitam karena panas Aether, Jae-won berdiri mematung. Ia menunduk dalam, sosoknya yang terbalut zirah naga tampak seperti monumen sunyi di bawah taburan bintang yang mulai terlihat kembali.Dari kejauhan, di ambang kehancuran Menara Babelia, sebuah siluet bayangan muncul dari balik kepulan asap. Itu Kartika. Ia terbatuk, pakaiannya compang-camping dan wajahnya penuh debu, namun matanya hanya tertuju pada satu titik di tengah gurun.Kartika berlari. Kakinya terperosok ke dalam pasir yang masih hangat, namun ia tidak peduli. Ia berlari melintasi bangkai-bangkai prajurit dan puing-puing baja yang berserakan hingga akhirnya sampai di belakang sosok Jae-won yang membisu.Tanpa ragu, Kartika menghambur dan memeluk Jae-won dari belakang. Ia melingkarkan lengannya erat-erat di pinggang zirah Jae-won yang dingin, menyandarkan
Dunia di luar Menara Babelia tidak lagi mengenal warna selain merah darah dan emas yang menyakitkan mata. Vane Thorsten, sang algojo Sekte Rembulan Merah yang beberapa menit lalu tertawa di atas penderitaan Babelia, kini merangkak di atas pasir yang mencair. Kapak raksasanya, The Northern Star, patah menjadi dua—bukan karena benturan fisik, melainkan karena frekuensi energi Jae-won yang menghancurkan struktur atom baja tersebut. Jae-won melayang beberapa senti di atas permukaan gurun. Wajahnya tetap datar, namun matanya yang bersinar biru elektrik memproses ribuan data pembantaian dalam hitungan milidetik. Tidak ada amarah. Tidak ada dendam. Hanya ada kalkulasi. "Target teridentifikasi: Vane Thorsten. Status: Ancaman Level B. Keputusan: Eliminasi Mutlak." Suara Jae-won bukan lagi suara manusia. Itu adalah sinkronisasi ribuan mesin yang bicara dalam satu nada dingin. Ia mengangkat tangannya, dan partikel udara di depan Vane memadat, membentuk tombak-tombak plasma transparan yan