Home / Sci-Fi / AETHERITH: Perang Planet Astarhea / Chapter 50: Teror Hydraphoon

Share

Chapter 50: Teror Hydraphoon

Author: YRD20
last update publish date: 2026-07-03 21:49:22
Ting.

Suara logam itu menghantam tepat ke dalam celah kristal. Dalam sekejap, energi biru meledak hebat. Megafort Judgement berguncang keras hingga lantai geladak terbelah. Dari pusaran air di bawah, sembilan kepala Hydraphoon melesat keluar, menabrak lambung kapal dengan kekuatan yang menghancurkan.

Lambung Benteng Terbang itu menjerit, terkelupas, dan jatuh berserakan sebagai puing panas yang menimpa geladak. Semburan elemen dari kepala naga itu menghantam instalasi pipa bahan bakar, menyu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 52: Sanctuarium Keheningan

    - Istana Bulu Phoenix, Kota Bulu Phoenix -Sementara itu, di Kekaisaran Phoenix. Takumi Jupiter menelusuri koridor megah Istana Bulu Phoenix dengan langkah yang terukur dan tampak lunglai. Bahunya sedikit merosot; wajahnya dirias dengan ekspresi duka yang mendalam—sebuah pertunjukan aristokratis yang sempurna bagi setiap pelayan atau pengawal yang berpapasan dengannya. Berita perihal kondisi Ratu Aruna dan Putri Akari yang kritis memberikan justifikasi yang cukup kuat untuk menunjukkan keterpurukan emosionalnya di hadapan publik.​Begitu ia mencapai pintu kayu cendana di kediaman pribadinya dan memastikan pintu tersebut terkunci rapat, topeng duka itu seketika luruh. Sorot matanya yang tadi tampak sayu berubah drastis menjadi tajam, dingin, dan sarat dengan kalkulasi strategis.​Ia melangkah menuju cermin besar berbingkai emas di sudut ruangan. Dengan satu sentuhan biometrik pada ukiran bingkai, dinding di belakang cermin bergeser tanpa suara, menyingkap akses menuju Sanctuarium—ruang

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 51: Di Antara Omegafort dan Misi Bunuh Diri

    Gerbang Luminion tidak lagi seperti sedia kala. Di pusat pusaran kehancuran itu, Omegafort berdiri sebagai sosok Titan Katedral yang masif. Sosoknya bukan lagi sekadar struktur logam, melainkan perwujudan teknologi kuno yang menghidupkan kembali mitos Klan Kolosus. Di dalam ruang kendali, Luviel memejamkan mata. Holy Rune yang terukir di dahinya berdenyut dengan ritme keemasan, selaras dengan detak resonansi inti Titan tersebut.​Di hadapannya, Hydraphoon sedang memusatkan delapan elemen dasar yang bergejolak di sekitar—api, air, tanah, udara, cahaya, kegelapan, petir, dan kehampaan—semuanya tersedot paksa ke dalam inti di dadanya. Delapan aliran energi purba itu melebur, memadat menjadi sebuah proyektil elementalis yang berdenyut tidak stabil. Serapan energi itu melahap sisa-sisa cahaya di medan tempur, menciptakan dengung frekuensi rendah yang membuat udara di sekitar Omegafort bergetar hebat. Ancaman itu kian nyata—sebuah proyektil kehancuran mutlak yang siap dilepaskan untuk melen

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 50: Teror Hydraphoon

    Ting. Suara logam itu menghantam tepat ke dalam celah kristal. Dalam sekejap, energi biru meledak hebat. Megafort Judgement berguncang keras hingga lantai geladak terbelah. Dari pusaran air di bawah, sembilan kepala Hydraphoon melesat keluar, menabrak lambung kapal dengan kekuatan yang menghancurkan. Lambung Benteng Terbang itu menjerit, terkelupas, dan jatuh berserakan sebagai puing panas yang menimpa geladak. Semburan elemen dari kepala naga itu menghantam instalasi pipa bahan bakar, menyulut kobaran api yang langsung melahap koridor-koridor kapal. "Brengsek! Obeng itu benar-benar membangunkan monster kiamat!" teriak Pedang Bayangan sambil menancapkan Eclipse Blade-nya ke geladak untuk menjaga keseimbangan. Kageyama tidak menyia-nyiakan waktu. Ia melesat, menyalurkan chakra ke Tekno-Kote—pelindung pergelangan tangan berteknologi tinggi—yang ia kenakan. "Skill: Katon — Steel-Grinder Flare!" Aliran energi plasma terpancar dari telapak tangannya, membungkus tinjunya dengan a

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 49: Gerbang Luminion

    Di hadapan Megafort Judgement, berdiri sisa-sisa keangkuhan dari era Kekaisaran Luminion yang telah hilang: Gerbang Luminion. Struktur jam raksasa itu kini terbelah dua secara vertikal, meninggalkan celah menganga selebar ratusan meter tepat di pusatnya. Retakan besar itu adalah luka mematikan; sebuah kehancuran fatal yang melumpuhkan fungsi utamanya sebagai Bendungan Raksasa Kekaisaran. Akibatnya, triliunan ton air yang dulunya dikelola sempurna, kini tumpah ruah secara liar. Air itu terjun bebas melalui celah retakan gerbang, menciptakan air terjun raksasa yang gemuruhnya mengguncang langit, seolah kemurkaan para dewa yang tak lagi terbendung. Uap air yang membubung menciptakan kabut abadi yang menyelimuti bagian dasar struktur logam purba tersebut. Di tengah pekatnya kabut uap itu, sebuah pelangi abadi melengkung pucat—hasil pembiasan cahaya putih-keemasan kristal AEC (Aether-Engine Crystals) yang terpecah oleh jutaan butiran air. Dua pahatan wajah kolosal yang menyangga lin

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 48: Kebangkitan Megafort Judgement

    Dengungan itu bukan lagi sekadar suara; ia adalah gema dari sebuah kisah kelam yang terkubur jutaan tahun. Ia adalah gaungan sejarah masa lalu Menara Babelia yang menyisakan lubang besar dalam ingatan dunia—sebuah misteri yang tidak pernah terpecahkan sampai saat ini tentang mengapa menara semegah itu bisa runtuh dan berada di Astarhea, tepatnya di Benua Genevivre. ​Para ilmuwan lintas generasi meyakini bahwa menara tersebut bukanlah berasal ataupun dibangun di Genevivre, melainkan sebuah anomali yang dipaksakan masuk ke dalam realitas mereka. ​Tepat saat Luviel menutup kedua telinganya sambil merintih di hadapan Kapten Varick, frekuensi purba itu menyerang dengan intensitas yang berbahaya. Gelombang suara itu merambat halus dan menghipnotis alam sadar Luviel sementara, menariknya ke dalam trans yang tak terelakkan. ​Atmosfer di aula Babelia mendadak berubah menjadi neraka gravitasi. Udara seolah memadat menjadi timah, menekan paru-paru Luviel hingga ia tersedak dalam oksigen

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 47: Harapan Akan Selalu Tetap Ada

    Harapan seolah sudah mati di dalam jantung raksasa Babelia. Aula yang sangat luas itu kini terasa hampa dan menekan, menciptakan suasana yang begitu berat bagi siapa pun yang berada di dalamnya. Tiang-tiang energi memancarkan cahaya putih yang terang, menciptakan bayangan panjang yang membeku seolah waktu berhenti berputar demi menghormati mereka yang berada di ambang maut. Di sudut aula, Jae-won masih terkapar kaku dalam dekapan Kartika, napasnya begitu tipis hingga nyaris tak terdengar. Tiba-tiba, realitas di tengah aula terbelah, menyemburkan pendaran cahaya galaksi yang sangat megah. Dari balik robekan dimensi itu, Leandris melangkah keluar. Kecantikannya begitu nyata hingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa seolah dunia di sekitar mereka telah lenyap, digantikan oleh keagungan kosmik. Ia melangkah mendekati Luviel dengan keanggunan yang tidak dimiliki siapa pun di dunia fana ini. Setiap pijakannya pada lantai logam tidak menghasilkan suara, namun meninggalkan jejak

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chpater 6: Dibawah Bintang-bintang

    Cahaya terakhir matahari telah memudar di balik punggung gurun yang kejam, digantikan oleh selimut malam yang dingin. Tim Jae-won akhirnya tiba di ambang batas Hutan Jaya, sebuah oase hijau yang menjanjikan perlindungan dari mata-mata Federasi dan bayang-bayang masa lalu mereka. Namun, memasuki huta

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 5: Bantuan Menuju Harapan

    Matahari Astarhea yang meredup menggantung rendah di cakrawala gurun, mewarnai hamparan batu dan pasir dengan gradasi oranye dan merah darah yang muram. Di bawah langit yang begitu luas dan tak acuh, tim kecil pimpinan Jae-won bergerak maju. Mereka adalah sisa-sisa kesetiaan yang tak tergoyahkan: Ja

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 4: Jalan Sang Pengkhianat

    Pintu bunker baja di bawah Markas Satuan Tugas Titan berderit membuka, mengeluarkan hawa dingin ke udara malam. Ini bukan pintu depan menuju koridor markas yang kini dikuasai Faksi Naga Hijau, melainkan jalur evakuasi rahasia yang mengarah langsung ke pegunungan terjal di luar wilayah inti Federasi.

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 3: Pembelotan Berdarah

    Tuduhan agresi ke Republik menyebar seperti api di seluruh Dewan Keamanan Astarhea. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah insiden Pos Frostfire, Federasi Militer Naga Biru secara politik terasingkan, dipandang sebagai agresor oleh kekuatan global. Tanpa bukti nyata yang dapat membantah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status