เข้าสู่ระบบBegitu pintu ruangan Direktur Kampus tertutup rapat, suasana di luar langsung pecah oleh luapan amarah yang sejak tadi ditahan.Plak!"Kamu bener-bener gak punya otak, Arhan!" maki ayahnya dengan suara berbisik namun penuh penekanan yang tajam. Beliau menunjuk-nunjuk wajah anak laki-lakinya itu dengan jari yang gemetar. "Mau ditaruh di mana muka Ayah, hah?! Untung suaminya Bu Alia itu orangnya berjiwa besar. Kalau tidak, kamu sudah membusuk di penjara! Kamu sudah menghancurkan nama baik keluarga kita!"Arhan hanya bisa berdiri mematung. Kepalanya menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatunya sendiri. Tidak ada lagi sisa-sisa keberanian atau ketengilan yang biasa ia pamerkan. Di depan ayahnya, Arhan kembali menjadi seorang anak yang tak berdaya."Ayah tidak mau tahu," lanjutnya, "Selesaikan semua urusan administrasimu di sini sekarang juga. Setelah itu, kamu langsung pulang ke rumah! Jangan berani-berani keluyuran lagi, atau Ayah sendiri yang akan menyeretmu pulang ke kampung!"Setelah
Ruangan Direktur Kampus siang itu terasa seperti ruang sidang pengadilan yang kedap udara. Di balik meja kayu, Direktur Kampus duduk dengan wajah yang dingin. Di tangannya, selembar kertas berisi cetakan foto skandal Alia dan Arhan tercengkeram erat hingga agak kusut.Alia duduk di salah satu kursi di sana, kepalanya menunduk dalam-dalam. Tangannya yang dingin saling bertautan di atas pangkuan, meremas kain roknya dengan sangat kuat. Di sebelahnya, Arhan duduk dengan tubuh kaku. Di samping Arhan, seorang pria paruh baya dengan kemeja batik yang rapi duduk dengan napas yang memburu menahan amarah yang luar biasa. Dia adalah ayah kandung Arhan, yang baru saja tiba di kampus setelah mendapat telepon darurat dari pihak rektorat."Jadi, bagaimana kalian menjelaskan ini?" Direktur kampus membuka suara, nadanya berat dan. Dia melempar kertas foto itu ke atas meja. "Bu Alia, Anda adalah seorang dosen. Anda memegang kode etik akademik yang sangat ketat. Dan kamu, Arhan, kamu adalah mahasiswa b
Ruang tengah itu mendadak terasa seperti kehabisan seluruh udaranya. Kata 'berselingkuh' yang keluar dari mulut Alia menggantung di udara dengan sangat pekat, menusuk indra pendengaran Rendra seperti belati yang berkarat."Aku pernah tidur dengan Arhan," lanjut Alia, suaranya tetap stabil meskipun hatinya sendiri rasanya seperti sedang diiris. Dia harus mengatakan ini, dia harus memperjelas semuanya agar tidak ada lagi ruang untuk bernegosiasi. "Kami melakukannya di rumahnya. Dan ya... kemungkinan besar, janin yang ada di dalam perutku sekarang ini adalah anak dari bocah itu. Anak dari Arhan. Bukan anakmu, dan gak bakal pernah menjadi anakmu."Detik itu juga, waktu seolah-olah berhenti.Rendra mendadak diam membatu. Seluruh tubuhnya kaku, matanya yang tadi penuh dengan tangisan memohon kini melebar, menatap Alia dengan tatapan kosong. Melihat reaksi diam Rendra, Alia melangkah cepat menuju pintu utama rumah. Tangannya yang gemetar meraih tas tangan kecilnya yang tergeletak di atas mej
"Aku tahu saat itu kamu mencintaiku," bisik Rendra lagi, "Tapi aku memilih diam. Kenapa? Karena sejak kecil, Ibu selalu mendidikku bahwa dunia romantis, cinta, dan perasaan seperti itu hanya akan membuat seorang pria menjadi lemah. Ibu bilang, cinta itu fana dan hanya akan membuatku tidak fokus mengurus perusahaan. Jadi, aku membunuh perasaanku sendiri. Aku mengunci diriku dalam karakter pria dewasa yang kaku, karena aku pikir itu cara terbaik untuk menjagamu dan pernikahan kita."Mendengar pengakuan itu, dada Alia terasa seperti dihantam ombak besar."Lalu kamu pikir aku ini apa, Rendra?! Pajangan?!" teriak Alia, suaranya meninggi, memecah keheningan rumah itu. Air matanya kembali tumpah dengan deras. "Aku sudah menahan semua yang aku alami selama lima tahun ini! Aku menahan diri menghadapi sindiran Ibu kamu yang selalu menuntut cucu, aku menahan diri hidup berdampingan dengan pria yang memperlakukanku seperti rekan kerja di atas ranjang! Selama lima tahun, aku tidak pernah mendengar
Seorang Rendra, pria yang dibesarkan di lingkungan keluarga konglomerat yang keras, pria yang selalu diajarkan untuk menyembunyikan emosi dan selalu dituntut menjadi sosok yang sempurna, kini memperlihatkan air matanya untuk pertama kali di depan Alia. Selama lima tahun pernikahan mereka, melewati berbagai macam pertengkaran dan ego keluarga, Alia tidak pernah sekalipun melihat suaminya ini meneteskan air mata. Rendra selalu menjadi tembok batu yang kokoh dan tidak tersentuh. Namun malam ini, tembok itu telah hancur lebur."Apa memang benar... di antara kita berdua sudah tidak ada perasaan lagi, Alia?" tanya Rendra lagi, dia menatap Alia dengan pandangan yang penuh luka dan keputusasaan yang teramat mendalam.Rendra terkekeh getir, sebuah tawa tanpa rasa humor yang terdengar sangat menyedihkan. Dia menundukkan kepalanya, menatap kedua telapak tangannya sendiri yang terbuka di atas lutut."Selama ini, aku selalu berusaha menjadi apa yang Ibu inginkan, apa yang dunia inginkan dari seoran
Di bawah keteduhan pohon mangga, Arhan masih berdiri mematung. Tatapannya kosong, menatap lurus ke arah pintu kaca yang tertutup rapat. Kata-kata Rendra yang menghujamnya bertubi-tubi tadi rupanya tidak langsung menguap begitu saja. Kalimat demi kalimat itu justru mengendap, merayap masuk ke dalam kepalanya, dan mulai mengacak-acak logikanya."Arhan," panggil Alia pelan. Suaranya agak serak, mencoba memecah keheningan yang mendadak terasa aneh ini.Namun, cowok jangkung di hadapannya tidak merespons. Apa memang benar aku sudah menghancurkan rumah tangga orang lain? Apa aku ini memang penjahat seperti yang dibilang pria itu? Lalu, bagaimana dengan karma? Apa hidupku bakal hancur setelah ini? Segala macam prasangka buruk berputar-putar di otaknya seperti komidi putar yang hilang kendali."Arhan!"Suara Alia yang sedikit meninggi akhirnya berhasil menarik Arhan kembali ke alam realitas. Cowok itu tersentak pelan, lalu menatap Alia dengan sepasang mata yang mendadak kelihatan sangat lelah







