共有

Bab 06

作者: Olivia Yoyet
last update 最終更新日: 2026-01-01 09:07:07

06 

Malam itu, seusai bersantap, Aditya mengajak ayahnya keluar. Mereka menaiki motor milik Nareswara, Adik Aditya dan Narapati, lalu menjauhi kediaman direktur operasional PBK tersebut. 

Aditya melajukan kendaraan menuju area depan kompleks perumahan kelas menengah ke atas, yang dibangun PT. BHANDIT, milik Baskara Gardapati Ganendra, Heru Pranadipa Dewawarman, Artio Laksamana Pramudya, Arrivan Qaiz Latief, Axelle Dante Adhitama, Hadrian Danadyaksha, dan Tristan Cyrus. 

Rumah Aditya dan banyak rekannya sesama pengawal lapis 3 hingga 10, berada di cluster 7. Begitu pula dengan rumah Wirya, yang memborong banyak unit, hingga rumah barunya itu lebih besar daripada rumah lamanya, yang berada di cluster 5.

Yoga, dan tim Power Rangers lainnya, masih menempati rumah mereka di cluster 5, yang berdekatan dengan rumah lama Wirya, yang telah dialihfungsikan sebagai mess para pengawal. 

Setibanya di deretan rumah toko, Aditya menghentikan motor di depan salah satu warung makan. Dia memasang standar yang otomatis memadamkan mesin motor. Kemudian Aditya dan ayahnya turun. 

Keduanya jalan memasuki tempat yang tampak lengang. Seusai memesan makanan dan minuman, Aditya mengajak sang ayah menempati kursi ujung kanan. 

"Siapa nama perempuan ini?" tanya Syahban Bryatta, sembari memandangi foto perempuan berjilbab ungu, di layar ponsel putranya. 

"Haifa Maira," jawab Aditya. "Manis, kan, Yah?" tanyanya. 

"Menurut Ayah, dia bukan manis, tapi cantik." 

Aditya tersenyum. "Tipe kesukaan Ayah ternyata." 

"Enggak. Favorit Ayah cuma ibumu." 

Senyuman Aditya melebar. "Kenapa aku nggak bisa bucin kayak Ayah, ya?" 

"Abang bisa, cuma sering ragu-ragu. Akhirnya nggak keluar." 

"Hmm, ya." 

"Haifa Maira, namanya bagus. Orang mana dia?" 

"Dia lahir dan besar di Cibinong. Ayahnya orang Banjarmasin. Ibunya, campuran Jawa dan Sunda." 

"Umur?" 

"27, mau 28." 

"Pendidikan?" 

"Sarjana ekonomi. Manajemen." 

"Kerja di mana?" 

"Kantor temannya Kak Leni. Jadi staf umum." 

Syahban manggut-manggut. "Terus, Abang minat?" 

"Belum tahu. Mesti ketemu dan ngobrol dulu." 

"Jangan terlalu banyak milih. Kalau diajak ngobrol sudah nyambung, langsung lamar aja." 

"Enggak bisa, gitu. Aku mesti punya rasa ke dia. Kalau nggak ada, aku mungkin sulit buat bertahan dengannya. Nikah, kan, bukan cuma setahunan. Maunya, sekali aja nikah. Kayak Ayah dan Ibu." 

"Ya, itu benar. Tapi, kalau soal rasa sayang, itu bisa ditumbuhkan pelan-pelan. Sukai satu hal dari dia. Lainnya menyusul." 

"Ucapan Ayah sama kayak Pak Sultan." 

"Ayah memang nyomot dari beliau. Tiap ada ajudan nikahan, beliau sering nyeritain tentang usahanya buat menjodohkan Marley dan Gayatri, dengan cara itu, ternyata berhasil."

"Usiamu sudah sangat dewasa. Desember nanti, 36. Sudah nggak bisa kebanyakan milih. Apalagi nyari sosok kayak almarhumah dulu. Itu sangat sulit, Bang," pungkas Syahban yang menjadikan putranya termangu. 

*** 

Alodita mengetik pesan panjang, tetapi kemudian dihapusnya. Perempuan berbibir penuh itu kembali mengetik, tetapi batal dikirimkan. 

Alodita meletakkan ponsel ke sofa. Dia mengubah posisi badan ke kiri dan menempelkan tangan kirinya ke sandaran sofa. Tatapan kosong diarahkan Alodita ke langit sore, di mana lembayung senja terlihat memukau. 

Ingatan Alodita kembali melayang ke beberapa bulan belakang. Dimulai dari dirinya berangkat ke Vancouver. Terus berlanjut hingga hari di mana Alodita terbangun di rumah sakit. 

Gadis bermata besar itu merunut kesaksian Aditya pada polisi, yang telah mengikuti mobil Alodita dari rumah dinas mereka, hingga tiba di Vila Lily. Alodita menggerutu, karena dia telah salah langkah dan menyebabkan kerumitan bagi orang lain. Terutama Aditya dan rekan-rekannya. 

Alodita menggigit bibir bawah. Dia sangat malu, karena Aditya telah melihat kondisi bajunya yang berantakan. Namun, hingga detik itu, Aditya tidak pernah menyinggung tentang hal tersebut pada Alodita. 

Ponsel yang bergetar mengagetkan gadis berkaus biru. Dia mengambil telepon genggam, dan segera mengangkat panggilan dari orang yang tengah dipikirkannya. 

"Assalamualaikum," sapa Alodita. 

"Waalaikumsalam," sahut Aditya. "Di mana, Ta?" tanyanya. 

"Di rumah. Abang, di mana?" 

"Depan rumahmu." 

"Ha?" 

Alodita melongok ke jendela dan seketika tertegun melihat Aditya keluar dari mobil MPV biru tua, bersama asistennya. Alodita berdiri dan segera keluar tanpa memutus sambungan. 

Setibanya di lantai 1, Alodita meminta Bi Sarni untuk membuatkan minuman buat kedua tamu. Kemudian Alodita bergegas membukakan pintu utama. 

Gadis yang menggerai rambutnya itu melangkah ke pagar, yang telah dibukakan sopir keluarga. Alodita mengulaskan senyuman, sembari menyalami kedua tamu. 

"Masuk, Bang," ajak Alodita. 

"Enggak usah. Aku cuma nganterin titipan Bang Varo, buat Satria," terang Aditya sembari mengulurkan paper bag merah. 

"Aku sudah minta Bibi bikin minuman. Nanti dia ngambek, kalau bikinannya nggak diminum." 

"Ehm, ya, sebentar aja. Aku sudah ditunggu Bang Zein di rumahnya." 

Ketiga orang tersebut mengayunkan tungkai melintasi pekarangan luas. Mereka memasuki ruang tamu bernuansa gading yang terlihat mewah. Lalu Alodita mempersilakan kedua pria itu untuk duduk. 

"Abang, tumben ke Bandung," ujar Alodita. 

"Besok pagi mau meeting di kantor Pangestu. Jadi berangkat sekarang aja, supaya nggak telat besok," jelas Aditya. 

"Nginap di rumah Bang Zein?" 

"Ya." 

"Pasti bos lainnya pada ikutan nimbrung." 

"Yoih. Kata Bang Zein, tim HWZ sudah datang. Keluarga Janardana, Bramanty, Rafardhan, Kagendra, Hartadi, dan Suwardana, lagi otw." 

"Abang kayaknya akrab sama banyak bos PC." 

"Ya. Dulu, aku sering nemenin Bang Yoga ngumpul sama para bos PC. Aku juga pernah jadi pengawas area Jawa Barat. Berbagi tugas sama Yusuf, Ari, dan Harun. Jadinya cukup akrab sama mereka."

"Hmm, ya, baru ingat aku. Abang dulu sebulan sekali kontrol ke sini." 

"Betul." Aditya memerhatikan sekeliling. "Orang rumah, ke mana?" desaknya. 

"Papa sama Mama, masih di Tasik. Biasa, kalau ada kerabat yang nikahin anaknya, itu jadi ajang kumpul keluarga." 

"Satria dan Raska?" 

"Lembur di kantor." 

Aditya manggut-manggut, lalu melirik arloji di tangan kiri. "Sudah jam setengah 6. Aku mesti segera nongol di rumah Bang Z. Kalau nggak, dia bakal ceramahin aku semalaman." 

"Ehm, ya." 

"Salam buat keluargamu, dan makasih atas minumannya." 

"Oke." 

Aditya dan Kelvan serentak berdiri. Mereka menyalami Alodita, sebelum memutar tubuh dan beranjak ke pintu. Alodita berpikir sesaat, lalu menarik lengan kanan Aditya yang terpaksa berhenti. 

"Bang, besok habis meeting, ada acara?" tanya Alodita dengan suara pelan, agar tidak terdengar Kelvan yang telah berada di teras. 

"Aku mau ke tempat Pak Mulyadi," ungkap Aditya. 

"Guru olah napas?" 

"Ya." 

"Habis itu, mau ke mana?" 

"Pulang." 

"Aku mau ngajak Abang makan. Buat ungkapan terima kasihku sudah ditolongin." 

Aditya tertegun. Dia saling menatap dengan Alodita, kemudian Aditya mengangguk mengiakan. "Boleh. Tentukan aja lokasinya. Aku susul ke sana." 

"Sip." 

"Kalau bisa, sore aja, Ta. Habis magrib, aku mau langsung pulang. Lusa, aku mau berangkat sama teman-teman." 

"Ke mana?" 

"Resor HWZ di Karimun Jawa." 

"Ikut." 

"Ehm, ini khusus ajudan cowok. Nggak ada ceweknya." 

"Ehm, iya, deh." 

Aditya melirik lengannya yang masih dipegangi sang gadis. "Aku mau pergi." 

"Hu um." 

"Aku nggak bisa pergi, kalau kamu nggak ngelepas tanganku." 

Alodita tersentak dan segera menarik tangannya. "Udah." 

Aditya tersenyum. "Assalamualaikum." 

"Waalaikumsalam." 

Alodita mengikuti langkah Aditya dan baru berhenti di teras. Perempuan berhidung bangir tersebut menunggu mobil MPV biru tua itu menjauh, lalu dia berbalik dan jalan ke sofa panjang. 

Alodita duduk dan memandangi kursi seberang yang tadi ditempati Aditya. Gadis itu tercenung, karena seolah-olah melihat pria tersebut masih berada di sana, dan tengah memandanginya seraya tersenyum. 

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 06

    06 Malam itu, seusai bersantap, Aditya mengajak ayahnya keluar. Mereka menaiki motor milik Nareswara, Adik Aditya dan Narapati, lalu menjauhi kediaman direktur operasional PBK tersebut. Aditya melajukan kendaraan menuju area depan kompleks perumahan kelas menengah ke atas, yang dibangun PT. BHANDIT, milik Baskara Gardapati Ganendra, Heru Pranadipa Dewawarman, Artio Laksamana Pramudya, Arrivan Qaiz Latief, Axelle Dante Adhitama, Hadrian Danadyaksha, dan Tristan Cyrus. Rumah Aditya dan banyak rekannya sesama pengawal lapis 3 hingga 10, berada di cluster 7. Begitu pula dengan rumah Wirya, yang memborong banyak unit, hingga rumah barunya itu lebih besar daripada rumah lamanya, yang berada di cluster 5.Yoga, dan tim Power Rangers lainnya, masih menempati rumah mereka di cluster 5, yang berdekatan dengan rumah lama Wirya, yang telah dialihfungsikan sebagai mess para pengawal. Setibanya di deretan rumah toko, Aditya menghentikan motor di depan salah satu warung makan. Dia memasang stand

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 05

    05Hari berganti dengan cepat hingga minggu terlewati. Ramzi dan Aditya sama-sama menarik gugatan dari kantor polisi. Mereka dan semua pihak yang terlibat, sepakat untuk berdamai. Pagi itu, puluhan orang berkumpul di ruang rapat kantor firma hukum B&C. Mereka menjadi saksi surat perjanjian perdamaian antara kedua belah pihak. Ramzi, Darius, Nolan, dan ketujuh rekan mereka, menandatangani beberapa lembar kertas secara bergantian. Aditya dan keenam ajudan muda maju beberapa langkah. Demikian pula dengan Alodita dan Larasati. Mereka membubuhkan tanda tangan di berkas itu. Lalu Syawal memberikan tumpukan kertas itu pada kedua pengacara PBK, dan tim lawyer pihak lawan, guna diperiksa keabsahannya. Puluhan menit berlalu, rombongan Indonesia telah berada di bus yang menuju bandara. Aditya dan yang lainnya sudah diizinkan polisi untuk pulang ke Indonesia, karena kasus mereka dianggap selesai, sesuai dengan perjanjian tadi. "Kata Asmi, keluarga kita sudah nyampe di rumah Abang," ujar Narap

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 04

    04Alodita bergegas mendatangi rombongan Indonesia yang baru turun dari bus hotel J&A, milik keluarga Janitra dan Aryeswara. Alodita mengulaskan senyuman, sebelum menyalami Benigno dan yang lainnya dengan takzim. Alodita berpindah untuk menyalami akangnya, kemudian dia mendekap Satria. Bulir bening luruh dari mata Alodita, karena dia menyesal telah menyebabkan situasi yang kurang nyaman, bagi tim Indonesia di Kanada. Seusai menjauhkan diri, Alodita mengusap pipinya dengan ujung jemari. Dia menggamit lengan kiri Satria dan melangkah bersama sang akang, untuk menyusul anggota rombongan lainnya yang tengah bergerak memasuki kantor polisi. Bentley dan Channing menyambut rekan-rekan mereka dengan ramah. Para lelaki itu duduk di banyak kursi sembari berbincang serius. Tidak berselang lama, ketujuh tahanan keluar untuk menemui tamu. Aditya mendekap Yoga sembari memejamkan mata. Kemudian dia melepaskan dekapan dan berpindah untuk memeluk adiknya, Narapati Bryatta.Setelahnya, Aditya beral

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 03

    03Wajah Aditya seketika merah padam, sesaat setelah mendengar penjelasan Bentley Green dan Channing Davies, kedua pengacara tim PBK di Kanada. Aditya mengeraskan rahang, sembari menahan diri untuk tidak mengumpat. Namun, akhirnya dia tidak kuat dan memaki Ramzi yang melaporkannya dengan tuduhan penganiayaan. Hasil visum Ranzi dan teman-temannya dijadikan alat bukti kuat oleh lawyer mereka, guna melaporkan balik tim PBK. Selain itu, pengelola vila juga turut melaporkan Aditya dan anak buahnya, dengan tuduhan pengrusakan pintu, meja, dan kursi-kursi di sekitar halaman belakang, serta di lantai dua vila.Kendatipun tim pengacara PBK juga memberikan banyak bukti, tetapi polisi tetap bersikukuh untuk menahan ketujuh ajudan Indonesia, guna pemeriksaan lebih lanjut. "Kami harus gimana, Pak?" tanya Aditya. "Kita ikuti semua prosedur. Supaya polisi yakin jika kita berniat untuk berkoordinasi dengan baik," jelas Bentley dengan bahasa Indonesia berlogat unik. Bentley dan Channing merupakan

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 02 - Maybe Dialah Jodohku

    02"Setan!" jerit Aditya seusai memasuki kamar. Ramzi terkejut melihat kedatangan musuhnya, dan segera bangkit dari kasur, di mana Alodita tengah berbaring dengan pakaian yang acak-acakan. Aditya maju dan menyerang Ramzi dengan tinjuan bertubi-tubi. Aditya kesal, karena Ramzi melawan dengan gerakan karate yang bagus. Fahreza dan Dzafri memasuki ruangan. Mereka langsung mengeroyok Ramzi, sedangkan Aditya mendatangi kasur untuk mengecek kondisi Adik Satria Daryantha tersebut. "Ta, bangun. Ta," panggil Aditya, tetapi Alodita bergeming. Aditya menarik selimut di ujung kasur guna membungkus tubuh Alodita. Dzafri meninggalkan Ramzi yang telah terkapar di lantai, lalu dia membantu Aditya yang hendak mengangkat dan menggendong Alodita. Aditya jalan secepat mungkin dengan disusul Dzafri. Sedangkan Fahreza memvideokan sekeliling, sebagai bukti atas kelakuan tidak senonoh Ramzi pada Alodita. Semua orang memandangi Aditya yang tengah menggendong Alodita. Dzafri berteriak agar para penonton

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 01 - Abang Pengatur dan Pemaksa

    01"Abang jangan mengaturku. Ingat, Abang bukan siapa-siapa buatku!" sentak Alodita Verlina Daryantha, sembari memelototi pria bertubuh tinggi di hadapannya. "Ya, aku memang bukan keluarga atau kerabatmu. Tapi, kakakmu sudah menitipkanmu padaku!" tegas Aditya Bryatta, sembari berusaha untuk tetap tenang. Alodita menggertakkan gigi. "Aku nggak peduli! Pokoknya jangan larang aku buat melakukan apa pun!" "Okay, fine! Silakan pergi, dan puasin pesta. Aku mau tidur!" desis Aditya, sebelum dia berbalik dan jalan menuju kamarnya di bagian depan rumah dinas itu. Alodita mencebik. Dia benar-benar kesal dengan sikap Aditya yang pengatur dan pemaksa. Alodita melirik asistennya, Larasati, dan memberi kode. Kemudian kedua perempuan itu bergegas keluar bangunan. Bunyi kendaraan yang bergerak menjauh, membuat Aditya menggerutu dalam hati. Dia mengintip melalui celah gorden, lalu Aditya berbalik dan jalan ke pintu. Lelaki beralis tebal itu menyambar jaket dan tas dari gantungan. Aditya membuka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status