LOGIN06
Malam itu, seusai bersantap, Aditya mengajak ayahnya keluar. Mereka menaiki motor milik Nareswara, Adik Aditya dan Narapati, lalu menjauhi kediaman direktur operasional PBK tersebut.
Aditya melajukan kendaraan menuju area depan kompleks perumahan kelas menengah ke atas, yang dibangun PT. BHANDIT, milik Baskara Gardapati Ganendra, Heru Pranadipa Dewawarman, Artio Laksamana Pramudya, Arrivan Qaiz Latief, Axelle Dante Adhitama, Hadrian Danadyaksha, dan Tristan Cyrus.
Rumah Aditya dan banyak rekannya sesama pengawal lapis 3 hingga 10, berada di cluster 7. Begitu pula dengan rumah Wirya, yang memborong banyak unit, hingga rumah barunya itu lebih besar daripada rumah lamanya, yang berada di cluster 5.
Yoga, dan tim Power Rangers lainnya, masih menempati rumah mereka di cluster 5, yang berdekatan dengan rumah lama Wirya, yang telah dialihfungsikan sebagai mess para pengawal.
Setibanya di deretan rumah toko, Aditya menghentikan motor di depan salah satu warung makan. Dia memasang standar yang otomatis memadamkan mesin motor. Kemudian Aditya dan ayahnya turun.
Keduanya jalan memasuki tempat yang tampak lengang. Seusai memesan makanan dan minuman, Aditya mengajak sang ayah menempati kursi ujung kanan.
"Siapa nama perempuan ini?" tanya Syahban Bryatta, sembari memandangi foto perempuan berjilbab ungu, di layar ponsel putranya.
"Haifa Maira," jawab Aditya. "Manis, kan, Yah?" tanyanya.
"Menurut Ayah, dia bukan manis, tapi cantik."
Aditya tersenyum. "Tipe kesukaan Ayah ternyata."
"Enggak. Favorit Ayah cuma ibumu."
Senyuman Aditya melebar. "Kenapa aku nggak bisa bucin kayak Ayah, ya?"
"Abang bisa, cuma sering ragu-ragu. Akhirnya nggak keluar."
"Hmm, ya."
"Haifa Maira, namanya bagus. Orang mana dia?"
"Dia lahir dan besar di Cibinong. Ayahnya orang Banjarmasin. Ibunya, campuran Jawa dan Sunda."
"Umur?"
"27, mau 28."
"Pendidikan?"
"Sarjana ekonomi. Manajemen."
"Kerja di mana?"
"Kantor temannya Kak Leni. Jadi staf umum."
Syahban manggut-manggut. "Terus, Abang minat?"
"Belum tahu. Mesti ketemu dan ngobrol dulu."
"Jangan terlalu banyak milih. Kalau diajak ngobrol sudah nyambung, langsung lamar aja."
"Enggak bisa, gitu. Aku mesti punya rasa ke dia. Kalau nggak ada, aku mungkin sulit buat bertahan dengannya. Nikah, kan, bukan cuma setahunan. Maunya, sekali aja nikah. Kayak Ayah dan Ibu."
"Ya, itu benar. Tapi, kalau soal rasa sayang, itu bisa ditumbuhkan pelan-pelan. Sukai satu hal dari dia. Lainnya menyusul."
"Ucapan Ayah sama kayak Pak Sultan."
"Ayah memang nyomot dari beliau. Tiap ada ajudan nikahan, beliau sering nyeritain tentang usahanya buat menjodohkan Marley dan Gayatri, dengan cara itu, ternyata berhasil."
"Usiamu sudah sangat dewasa. Desember nanti, 36. Sudah nggak bisa kebanyakan milih. Apalagi nyari sosok kayak almarhumah dulu. Itu sangat sulit, Bang," pungkas Syahban yang menjadikan putranya termangu.
***
Alodita mengetik pesan panjang, tetapi kemudian dihapusnya. Perempuan berbibir penuh itu kembali mengetik, tetapi batal dikirimkan.
Alodita meletakkan ponsel ke sofa. Dia mengubah posisi badan ke kiri dan menempelkan tangan kirinya ke sandaran sofa. Tatapan kosong diarahkan Alodita ke langit sore, di mana lembayung senja terlihat memukau.
Ingatan Alodita kembali melayang ke beberapa bulan belakang. Dimulai dari dirinya berangkat ke Vancouver. Terus berlanjut hingga hari di mana Alodita terbangun di rumah sakit.
Gadis bermata besar itu merunut kesaksian Aditya pada polisi, yang telah mengikuti mobil Alodita dari rumah dinas mereka, hingga tiba di Vila Lily. Alodita menggerutu, karena dia telah salah langkah dan menyebabkan kerumitan bagi orang lain. Terutama Aditya dan rekan-rekannya.
Alodita menggigit bibir bawah. Dia sangat malu, karena Aditya telah melihat kondisi bajunya yang berantakan. Namun, hingga detik itu, Aditya tidak pernah menyinggung tentang hal tersebut pada Alodita.
Ponsel yang bergetar mengagetkan gadis berkaus biru. Dia mengambil telepon genggam, dan segera mengangkat panggilan dari orang yang tengah dipikirkannya.
"Assalamualaikum," sapa Alodita.
"Waalaikumsalam," sahut Aditya. "Di mana, Ta?" tanyanya.
"Di rumah. Abang, di mana?"
"Depan rumahmu."
"Ha?"
Alodita melongok ke jendela dan seketika tertegun melihat Aditya keluar dari mobil MPV biru tua, bersama asistennya. Alodita berdiri dan segera keluar tanpa memutus sambungan.
Setibanya di lantai 1, Alodita meminta Bi Sarni untuk membuatkan minuman buat kedua tamu. Kemudian Alodita bergegas membukakan pintu utama.
Gadis yang menggerai rambutnya itu melangkah ke pagar, yang telah dibukakan sopir keluarga. Alodita mengulaskan senyuman, sembari menyalami kedua tamu.
"Masuk, Bang," ajak Alodita.
"Enggak usah. Aku cuma nganterin titipan Bang Varo, buat Satria," terang Aditya sembari mengulurkan paper bag merah.
"Aku sudah minta Bibi bikin minuman. Nanti dia ngambek, kalau bikinannya nggak diminum."
"Ehm, ya, sebentar aja. Aku sudah ditunggu Bang Zein di rumahnya."
Ketiga orang tersebut mengayunkan tungkai melintasi pekarangan luas. Mereka memasuki ruang tamu bernuansa gading yang terlihat mewah. Lalu Alodita mempersilakan kedua pria itu untuk duduk.
"Abang, tumben ke Bandung," ujar Alodita.
"Besok pagi mau meeting di kantor Pangestu. Jadi berangkat sekarang aja, supaya nggak telat besok," jelas Aditya.
"Nginap di rumah Bang Zein?"
"Ya."
"Pasti bos lainnya pada ikutan nimbrung."
"Yoih. Kata Bang Zein, tim HWZ sudah datang. Keluarga Janardana, Bramanty, Rafardhan, Kagendra, Hartadi, dan Suwardana, lagi otw."
"Abang kayaknya akrab sama banyak bos PC."
"Ya. Dulu, aku sering nemenin Bang Yoga ngumpul sama para bos PC. Aku juga pernah jadi pengawas area Jawa Barat. Berbagi tugas sama Yusuf, Ari, dan Harun. Jadinya cukup akrab sama mereka."
"Hmm, ya, baru ingat aku. Abang dulu sebulan sekali kontrol ke sini."
"Betul." Aditya memerhatikan sekeliling. "Orang rumah, ke mana?" desaknya.
"Papa sama Mama, masih di Tasik. Biasa, kalau ada kerabat yang nikahin anaknya, itu jadi ajang kumpul keluarga."
"Satria dan Raska?"
"Lembur di kantor."
Aditya manggut-manggut, lalu melirik arloji di tangan kiri. "Sudah jam setengah 6. Aku mesti segera nongol di rumah Bang Z. Kalau nggak, dia bakal ceramahin aku semalaman."
"Ehm, ya."
"Salam buat keluargamu, dan makasih atas minumannya."
"Oke."
Aditya dan Kelvan serentak berdiri. Mereka menyalami Alodita, sebelum memutar tubuh dan beranjak ke pintu. Alodita berpikir sesaat, lalu menarik lengan kanan Aditya yang terpaksa berhenti.
"Bang, besok habis meeting, ada acara?" tanya Alodita dengan suara pelan, agar tidak terdengar Kelvan yang telah berada di teras.
"Aku mau ke tempat Pak Mulyadi," ungkap Aditya.
"Guru olah napas?"
"Ya."
"Habis itu, mau ke mana?"
"Pulang."
"Aku mau ngajak Abang makan. Buat ungkapan terima kasihku sudah ditolongin."
Aditya tertegun. Dia saling menatap dengan Alodita, kemudian Aditya mengangguk mengiakan. "Boleh. Tentukan aja lokasinya. Aku susul ke sana."
"Sip."
"Kalau bisa, sore aja, Ta. Habis magrib, aku mau langsung pulang. Lusa, aku mau berangkat sama teman-teman."
"Ke mana?"
"Resor HWZ di Karimun Jawa."
"Ikut."
"Ehm, ini khusus ajudan cowok. Nggak ada ceweknya."
"Ehm, iya, deh."
Aditya melirik lengannya yang masih dipegangi sang gadis. "Aku mau pergi."
"Hu um."
"Aku nggak bisa pergi, kalau kamu nggak ngelepas tanganku."
Alodita tersentak dan segera menarik tangannya. "Udah."
Aditya tersenyum. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Alodita mengikuti langkah Aditya dan baru berhenti di teras. Perempuan berhidung bangir tersebut menunggu mobil MPV biru tua itu menjauh, lalu dia berbalik dan jalan ke sofa panjang.
Alodita duduk dan memandangi kursi seberang yang tadi ditempati Aditya. Gadis itu tercenung, karena seolah-olah melihat pria tersebut masih berada di sana, dan tengah memandanginya seraya tersenyum.
104 Pagi di hari Iedul Fitri pertama, disambut gembira seluruh umat muslim di dunia. Mereka berbondong-bondong menuju masjid besar ataupun tempat-tempat khusus, yang disediakan pemerintah kota, guna menunaikan salat Iedul Fitri. Begitu pula yang dilakukan oleh Alodita dan Aditya. Bersama keluarga besar Bryatta, mereka turut menunaikan ibadah dengan khusyuk, di masjid besar pusat Kota Ciledug. Seusai salat, mereka bergegas menuju mobil supaya bisa segera pulang. Namun, karena banyaknya orang dan kendaraan lainnya, perjalanan itu sempat terhambat. Setibanya di rumah Syahban, Alodita segera menaiki tangga ke lantai 2. Dia menyambar handuknya dari gantungan di balkon, lalu memasuki toilet untuk membersihkan diri.Belasan menit berlalu, Alodita telah bergabung dengan keluarga Bryatta di ruang tengah. Alodita menyambangi suaminya, lalu menyalami Aditya dengan takzim. Perempuan bergamis biru muda itu menegakkan badan, kemudian memeluk lelakinya yang balas mendekap Alodita dengan erat. B
103 Ruang rapat di kantor GUNZ siang itu tampak ramai orang. Mereka bergantian membacakan laporan proyek pegangan masing-masing, sampai tuntas. Aditya memegangi lehernya yang terasa kering. Meskipun di dalam ruangan itu sejuk, karena adanya AC, tetapi tetap kalah dingin daripada Toronto. Aditya mengedarkan pandangan ke sekeliling, sebelum tersenyum, karena rekan-rekannya juga turut memegangi leher masing-masing. Pertanda jika mereka juga kehausan. "Sudah semua, kan?" tanya Wirya yang menempati kursi di dekat ujung kanan meja oval. "Sudah," jawab beberapa orang di sekitar."Kalian ini. Lemas amat," ledek Wirya. "Kami masih manusia, Bang. Bukan robot, kayak Abang," kilah Jauzan Rengku Madhani, direktur utama WAR. "Aku juga manusia. Makannya kupat sama sate. Atau roti cane gulai daging. Minumnya, es teler dan es campolai," goda Wirya "Gusti! Malah disebutin," keluh Arudra, yang menjabat sebagai direktur utama JVS. "W, tolong kasihanilah mualaf ini," bujuk Sebastian, sang direktur
102Alodita menciumi dahi dan kedua pipi Adyata dalam gendongannya. Alodita berusaha keras menahan tangis, karena sedih berpisah dengan bayi yang sudah diasuhnya selama dua bulan terakhir.Aditya turut menciumi anak angkatnya, lalu dia memandangi Adyata yang balas menatapnya penuh minat. Aditya mengusap rambut Adyata, sambil menahan sesak dalam dada. "Sehat terus ya, Nak," ucap Aditya. "Kalau Bunda sudah kuat, kami akan ke Semarang buat jenguk kamu," lanjutnya. "Kami tunggu, Dit," sahut Raka yang datang untuk menjemput keluarganya. "Mas, kalau dinas ke sini, kabarin. Kusamperin," terang Aditya. "InsyaAllah. Aku memang berencana buat mutasi. Semoga ada celah di sini," ungkap Raka. "Syukurlah. Kalau Mas stay di sini, bisa jadi partner PB dan PBK." "Itu memang tujuanku, sesuai arahan Bang Varo." "Titip salam buat Bapak dan Ibu," sela Alodita, sembari menyerahkan Adyata."Ya, Ta. InsyaAllah, kami sampaikan," jawab Devianti. "Salam juga buat keluarga kalian. Kalau bisa ke sini, aku
101Dahi Hisyam berkerut, karena sedang berpikir keras tentang daftar nama ajudan lapis 21 dan 22, yang akan disebar ke Eropa, serta Kanada, guna menggantikan tugas para senior mereka di kedua benua itu. Selain Hisyam, Jauhari dan Fikri juga terlihat sibuk dalam mengkalkulasi semua biaya operasional. Sedangkan Kimora dan Deswin tengah menyusun berbagai bahan proposal marketing baru, yang sesuai dengan perkembangan di luar negeri.Hanya Zikria yang tampak tenang. Dia membuat daftar orang-orang yang telah lulus diklat 4 angkatan ajudan terbaru, yang akan diserahkan pada Wirya, guna menentukan siapa saja yang masuk tim lapisan 26 hingga 28. "Zik, sudah beres?" tanya Hisyam, seusai memandangi pria berkumis tipis di kursi seberang. "Sudah," sahut Zikria. "Bantuin aku. Lieur." Zikria mengulum senyuman. "Abang nggak sabaran. Jadi kesal sendiri." Hisyam mendengkus pelan. "Nyusun beginian, langsung berdenyut kepalaku. Adit lebih sabar ngerjain kayak gini." "Dia sudah sibuk pegang operasi
100Semua pasang mata mengarah pada layar televisi besar, di sisi kanan tenda. Mereka mendengarkan tausiah singkat dari Haikal, yang menerangkan makna puasa dan fungsinya bagi tubuh, menggunakan bahasa Inggris fasih. Setelah 15 menit berkhotbah, Haikal mengadakan sesi tanya jawab selama 10 menit. Lalu dia menutup acara dengan untaian doa dalam bahasa Arab, yang diamini semua orang di bawah tenda, termasuk yang non muslim. "Dit, bayaran ane, jangan lupa," seloroh Haikal. "Ya, Bang. Nanti kutransfer ke rekening Abang," jawab Aditya. "Jangan ke rekening ane, tapi ke rekening Bariq. Buat tambahan dia masuk kuliah tahun ini." Aditya tertegun sesaat. "MasyaAllah. Bariq sudah mau jadi mahasiswa. Kirain masih SD." "Ane aja masih kaget. Tau-tau dia membesar dan menjulang. Bawa pacar ke rumah, tapi habis itu putus nggak jelas." "Astaga!" "Ane bilang, dia kudu belajar kesetiaan dari ane, ente, dan banyak Om lainnya. Jangan ikut aliran Hans, Arudra, Biantara, Farzan, Farisyasa, Mas Baskar
99Waktu yang ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia, akhirnya tiba. Subuh itu, kediaman Aditya dipenuhi banyak orang yang semuanya muslim. Mereka melakukan sahur pertama sembari menonton berita channel Indonesia, yang waktunya lebih cepat 11 jam dari Toronto. Seusai bersantap, mereka bekerjasama membereskan perlengkapan makan, yang dilanjutkan dengan membersihkan rumah. Adyata yang ikut sahur, tampak gembira digendong banyak orang secara bergantian. Namun, ketika diletakkan di bouncher, karena yang lainnya hendak salat subuh, Adyata merengek. "Kugendong aja," cakap Aditya. "Nanti ganggu gerakan salat, Bang," cegah Ramzi. "Enggak. Gendong model kangguru," jelas Aditya sembari mengangkat kedua tangannya, dan Alodita segera memasangkan kain gendongan yang dimaksud. "Dulu, waktu ngasuh Qizar dan Ryker, aku begini juga. Aku salat, mereka malah tidur. Mungkin enak, kayak diayun," imbuh Aditya sambil berputar, supaya Alodita bisa melilitkan gendongan dengan sempurna. "Udah," tu







