Share

Bab 05

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2025-12-11 13:01:46

05

Hari berganti dengan cepat hingga minggu terlewati. Ramzi dan Aditya sama-sama menarik gugatan dari kantor polisi. Mereka dan semua pihak yang terlibat, sepakat untuk berdamai. 

Pagi itu, puluhan orang berkumpul di ruang rapat kantor firma hukum B&C. Mereka menjadi saksi surat perjanjian perdamaian antara kedua belah pihak. Ramzi, Darius, Nolan, dan ketujuh rekan mereka, menandatangani beberapa lembar kertas secara bergantian. 

Aditya dan keenam ajudan muda maju beberapa langkah. Demikian pula dengan Alodita dan Larasati. Mereka membubuhkan tanda tangan di berkas itu. Lalu Syawal memberikan tumpukan kertas itu pada kedua pengacara PBK, dan tim lawyer pihak lawan, guna diperiksa keabsahannya. 

Puluhan menit berlalu, rombongan Indonesia telah berada di bus yang menuju bandara. Aditya dan yang lainnya sudah diizinkan polisi untuk pulang ke Indonesia, karena kasus mereka dianggap selesai, sesuai dengan perjanjian tadi. 

"Kata Asmi, keluarga kita sudah nyampe di rumah Abang," ujar Narapati, yang duduk berdampingan dengan abangnya. 

"Bilang ke Asmi, jangan bilang kalau aku sempat nginap di sel," pinta Aditya. 

"Sudah. Dia dan teman-temannya kompak tutup mulut, karena sudah diwanti-wanti Kak Utari dan Naysila." 

"Kedua bersaudara itu memang bisa diandalkan. Begitu juga suami mereka." Aditya melirik Hisyam dan Yusuf yang duduk di deretan kursi sebelah kiri. "Aku bersyukur punya sahabat kayak mereka. Begitu juga dengan yang lainnya. Terutama para bos," lanjutnya. 

"Ya, mereka sigap semua. Termasuk bosku dan bosnya Wara." 

"Pak Tian ada nelepon aku. Kalau Koko Jianzhen, tiap malam ngirim chat aneh-aneh." 

"Aneh, gimana?" 

"Foto-foto cewek baju kekurangan bahan." 

Narapati tersenyum. "Kocak emang dia." 

"Aku curiganya, itu kerjaan Yuze." 

"Bisa jadi. Dia, kan, biang kerok 4 klan." 

"Hu um. Sama Calvin, dan Myron." 

"Trio Kwek-kwek." 

Sementara itu di unit apartemen milik kantor BM Grup, Ramzi tengah duduk di sofa tunggal. Dia meremas-remas rambut, sembari menggerutu dalam hati. 

Ramzi tidak suka terkalahkan oleh siapa pun. Namun, kali itu dia tidak bisa berkutik, karena power PG dan PBK lebih kuat. Ramzi juga tidak bisa menggunakan nama ayahnya, Sartono Indraharja. 

Ramzi teringat beberapa kasus serupa yang pernah membelitnya di masa silam, di mana dia bisa lolos dengan mudah, karena ayahnya ikut turun tangan.

Ramzi menyesalkan ayahnya yang seorang mantan pejabat polisi, karena tidak lagi bisa membantunya lepas dari kerumitan. Sejak pensiun, kekuasaan Sartono berkurang, dan itu menjadikan Ramzi kesal. 

"Kita diminta pulang sama dirut," papar Nolan, seusai menerima telepon dari atasannya. 

"Siapa yang ngasih tahu dia?" tanya Ramzi. 

"Enggak tahu. Mungkin, Pak Tristan. Dia, kan, mantan atasannya bos." 

Ramzi berdecih. "Kuat banget jaringannya PG sialan itu!" 

"Mau gimana lagi? Mereka pebisnis kelas berat semua. Bos kita aja, bergantung dari Cyrus Grup. Kalau nggak, kita pasti nggak dapat proyek besar." 

"Kita salah memilih lawan kali ini," sela Nolan, sembari meletakkan ketiga kaleng minuman ke meja. 

"Aku nggak nyangka, dia bakal ngekorin Dita," tutur Ramzi. 

"Yang paling kacau, orang-orang sewaan kita, ternyata cuma gede badan, doang. Tapi, dungu," timpal Darius. 

"Kontak pimpinan mereka, bilang, aku komplain, karena yang dikirim itu kelas teri," lontar Ramzi. "Sekalian minta mereka bayar ganti rugi kerusakan kursi taman. Itu di luar tanggungan kita," sambungnya. 

*** 

Kedatangan rombongan pimpinan Mahesa, disambut pelukan keluarga belasan ajudan yang sudah habis masa tugasnya di Kanada. 

Aditya dan Narapati, serta Mahesa, mendatangi Sultan Pramudya dan Gustavo Dimitrio Baltissen, untuk menyalami mereka dengan takzim. 

Satria, Alodita dan Larasati turut menyambangi kedua pengusaha senior itu. Seusai bersalaman, mereka berbincang sesaat, lalu membubarkan diri. 

Aditya dan kedua saudaranya menghampiri keluarga Bryatta yang datang dengan personel lengkap. Aditya memaksakan senyuman agar kedua orang tuanya bisa tenang. 

Aditya berpindah ke kanan untuk mendekap Asmiratih yang seketika terisak-isak. Aditya menenangkan Adik bungsunya itu, agar yang lainnya tidak curiga dengan tangisan Asmiratih. 

Panggilan beberapa orang menjadikan Aditya melepaskan adiknya, dan bergegas mendatangi sekelompok pria di sisi kanan ruangan. Aditya menyalami semua seniornya dengan takzim, kemudian dia memeluk Jauhari. 

"Aku takut, kamu bakal dihukum lama," cakap Jauhari seusai menjauhkan diri. 

"Aku juga sempat mikir, gitu," jawab Aditya. "Untungnya dia mau damai dan urusan kami selesai," lanjutnya. 

"Perasaanku masih nggak nyaman." 

"Sama." 

"Semoga nggak ada masalah lagi ke depannya." 

"Aamin." 

"Kamu cuti berapa lama, Dit?" tanya Beni, ketua tim pengajar PBK. 

"Sebulan," seloroh Aditya. "Tugasku dialihkan ke Lazuardi," tambahnya. 

"Pantesan Ardi tegang banget," cetus Harun, ketua pengajar tim PB. 

"Adit cuma bercanda. Cutinya, 2 minggu," sela Jeffrey, direktur umum PBK. 

"Aku beneran mau nambah cuti, Jeff. Di luar tanggungan, nggak apa-apa," balas Aditya. 

"Bang, tolong jangan terlalu lama liburnya. Nanti aku jadi zombie," rengek Lazuardi, manajer operasional PBK. 

"Belajar jadi direktur, Di. Persiapan kamu naik jabatan nanti," ujar Aditya. 

"Aku juga mau cuti," celetuk Yusuf. 

"Yok! Kita holiday ke Karimun Jawa," ajak Aditya. 

"Siap. Jadi bujangan seminggu, bolehlah," imbuh Yusuf. 

"Aku ikut," celoteh Jauhari. 

"Aku juga," tambah Jeffrey. "Dan kalian bertiga yang ambil alih tugas kami berempat," ungkapnya sembari memandangi Lazuardi, Fikri dan Mukti. 

"Kimora, nggak?" tanya Fikri, manajer umum PBK. 

"Dia lagi promil. Jangan dikasih beban kerjaan berat," jelas Yusuf. 

"Tenang, Gaes. Ada Hisyam yang stand by di kantor dirut," tukas Jauhari. 

"Ehh, nggak ada! Aku ikut liburan juga!" sungut Hisyam. 

"Penggantimu nggak ada, Syam," goda Beni. 

"Kamu aja yang jadi penjabat dirut," cetus Hisyam. 

"Enggak mau. Posisi itu khusus buat robot," kilah Beni. 

"Kalian pergi aja. Urusan kantor, serahkan pada Wirya," sela Yoga. 

"Kok, aku?" tanya Wirya Arudji Kartawinata, komisaris 6 PB dan PBK. 

"Kamu, kan, lagi dipingit si bule. Jadi kamu turun gunung, W. Menjabat dirut lagi sampai mereka balik liburan," terang Yoga, yang merupakan komisaris 8.

"Aku setuju," beber Zulfi Hamizhan, sang komisaris 7.

"Idem," sahut Andri Kaushal, komisaris 9.

"Me too," balas Haryono Abhisatya Putra Daryana, komisaris 10. 

"So do i," ungkap Yanuar Kaisar, komisaris 5. 

Wirya memandangi kelima sahabatnya di sekitar. "Kalian kompak ngerjain aku!" geramnya. 

"Jangan marah. Ini sesuai perintah Mas Tio," goda Yanuar. 

"Harusnya kamu, Yan, yang turun jabatan. Aku lagi repot sangat," sanggah Wirya. 

"Sorry, Besan. Aku ditugaskan Bang bule buat gantiin tugasmu ngawas area Australia dan New Zealand. Jadi, aku nggak bisa stand by." 

"Bentar, besan opo, toh?" tanya Haryono. 

"Aku sudah melamar Neng Leqa, buat Harraz," beber Yanuar. 

"Besanannya sama Hendri. Bukan aku," ujar Wirya. 

"Kata Hendri, semuanya anak Ayah W," kukuh Yanuar. 

"Anakku cuma 4. Lainnya ponakan." 

"Mereka manggil kamu Ayah, berarti anakmu." 

"Yan, kamu minta dicekek?" 

"Kagak. Aku mau digendong aja. Ala bride style." 

"Patah nanti pinggangku." 

"Renta." 

"Daripada kamu, pikuners." 

"Tapi, aku masih ingat kisah cinta semalam kita, W." 

"Mana ada! Pacarmu itu, si ubur-ubur." 

"Ternyata kamu sudah melupakan cinlok kita. Aku sedih." 

"Drama!" 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 125

    125*Grup Petinggi 1st, 2nd, & 3rd Generation* Yanuar : @Abang bule. Kenapa mobil baru gue belum dikirim? Alvaro : Gue sudah bilang ke Ardianto. Mobil itu jangan dikirim dulu, sebelum 2 mobil lama elu laku, @Sipitih. Yanuar : Tega amat! Alvaro ; Kalau nggak gitu, yang 2 itu cuma jadi barang rongsokan. Andri : Sayang banget itu mobil, jadi pajangan, doang. Zulfi : Sarang tikus.Fajar : Penghuni abadi garasi PB. Nugraha : Menuh-menuhin. Mardi : Nyemak-nyemakin. Aswin : Aku mau parkir mobil operasional pun nggak bisa. Qadry : Sekarang aman, @Bang Aswin. Chairil : Dua garasi sudah kosong. Nanang : Aku nggak lihat motor gedenya Bang Yan. Fawwaz : Disita Bang W, karena Bang Yan mundur dari tender di Swedia. Ibrahim : Motornya ada di garasi kantor baru. Hisyam : Kantor mana?Dimas : Banyak kantor baru. Bingung aku. Jauhari : Di gedung punya 3 robot. Hasbi : Tuls. Deretan itu semua motor para Power Rangers. Zulfi : Mau dilelang semuanya. Ada yang minat? Dedi : Aku mau motorn

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 124

    124Dua pekan seusai dilahirkan, acara akekahan Nuh dan Hud dilangsungkan di kediaman Bahir. Halaman luas dan jalan depan rumah yang ditutupi tenda biru campur putih, ternyata tidak mampu menampung seluruh tamu, yang jumlahnya membludak dan di luar perkiraan. Edelweiss memerintahkan tim dekorasi guna memasang tenda tambahan di jalan sisi kiri. Puluhan ajudan muda membantu semua pekerja EO M&E. Hingga tidak sampai setengah jam kemudian, tenda biru itu telah berdiri tegak. Banyak karpet yang dipinjam dari tetangga sekitar, dihamparkan di bawah tenda baru. Supaya semua tamu bisa duduk dengan santai. Tenda ketiga dibangun di sisi kanan, dan segera ditempati para ajudan muda. Acara pengajian dimulai. Fikri yang menjadi MC, mempersilakan Zikria untuk bertugas sebagai qori. Sedangkan Hana menjadi saritilawah. Setelahnya, seorang Ustaz kenamaan memberikan tausiah yang diselipi candaan, hingga hadirin berulang kali terbahak. Tawa khalayak mengencang ketika sang ustaz menggoda Aditya serta A

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 123

    123Jalinan waktu terus bergulir. Bulan demi bulan berlalu dengan cepat, tanpa sanggup dicegah siapa pun dan apa pun. Musim kemarau telah berganti ke musim hujan. Udara panas turut bertukar menjadi lebih sejuk. Aditya mengusap rambut istrinya yang tengah mengatur napas. Aditya menoleh ke kiri saat Alodita kembali mengejan, guna melahirkan anak-anaknya. Aditya terus menembakkan tenaga dalam ke perut Alodita, guna melancarkan proses itu. Begitu pula yang dilakukan rekan-rekannya sesama anggota paguyuban olah napas Margaluyu, yang berada di depan ruang bersalin. Jeritan tertahan Alodita mengiringi meluncurnya seorang bayi mungil, yang dipegangi dokter dengan hati-hati. Setelah memindahkan sang bayi ke perawat, dokter itu bersiap-siap guna memegangi bayi kedua."Ayo, Bun. Dikit lagi," ujar Aditya guna menyemangati istrinya yang tengah ngos-ngosan. Alodita tidak menyahut, karena tengah berkonsentrasi. Kala kontraksi kian mengencang, Alodita menarik napas dan mengejan kuat. Seorang bay

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 122

    122 Raut wajah tegang yang semula ditampilkan Zikria, seketika berubah semringah, sesaat setelah mendengar ucapan Syahban. Zikria menghela napas lega, karena keluarga Bryatta menyambut baik keinginannya untuk menjalin hubungan serius dengan Asmiratih. Aditya dan kedua saudaranya yang juga berada di ruang kerja, turut senang dengan keputusan Ayah mereka. Begitu pula dengan Natarina dan Alodita. Kedua perempuan berbeda generasi itu saling melirik, sebelum sama-sama tersenyum. Wirya yang diminta Zikria untuk menjadi wakil keluarganya, mengulaskan senyuman, sembari mengucap syukur dalam hati. Pria paruh baya itu sangat berharap hubungan Zikria dan Asmiratih bisa berhasil. Supaya mantan asistennya itu bisa segera melepas masa lajangnya. Sekian menit berlalu, semua orang telah keluar dan berpindah ke ruang tengah. Aditya berbaring di kasur lipat sambil memandangi Shahzain, yang sedang menyusu dari botol. Aditya tersenyum menyaksikan mata Shahzain yang telah nyaris menutup, sedangkan mu

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 121

    121Alodita mengulum senyuman ketika mendengar percakapan satu arah Aditya, dengan janin dalam perutnya. Alodita terkekeh kala Aditya menjanjikan berbagai barang yang akan dibelikan olehnya, jika bayi mereka lahir kelak. Alodita memandangi saat Aditya mengecup perutnya, lalu menempelkan telinga kanan. Alodita kembali tersenyum, ketika Aditya heboh saat merasakan pergerakan dari dalam perutnya. "Enggak sabar pengen ketemu mereka," cakap Aditya sembari menegakkan badan. "Aku malah nggak sabar buat belanja," sahut Alodita. "Belum boleh, ya?" "Hu um. Tunggu nyampe 7 bulan." Aditya memindai sekitar. "Kayaknya dinding harus dijebol." "Buat apa?" "Bikin pintu, buat nyambungin kamar sebelah ke sini." "Enggak usah. Di sini muat, kok. Cuma tambah kasur dan laci kabinet. Bisa taruh di situ." Alodita menunjuk sisi kiri. "Sofanya dipindah ke dekat pintu," lanjutnya. "Sempit, Bun. Kasurnya, kan, dua." "Satu aja, yang gede." "Nanti cuma kepake sebentar. Mending langsung 2." "Pertumbuhan

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 120

    120Suara berisik dari luar rumah menyebabkan Aditya terbangun. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menggeliat hingga tulangnya berderak. Aditya memandangi langit-langit kamar sembari mengumpulkan nyawanya yang sempat berserakan. Pria berkaus hijau itu bangkit duduk dengan bertumpu pada kedua siku. Dia berdiam diri sesaat, kemudian beringsut ke tepi kasur dan menapakkan kaki ke lantai. Puluhan menit terlewati, Aditya telah berada di ruang makan. Dia menikmati lontong sayur sambil mendengarkan ocehan Alodita. Aditya manggut-manggut tanpa menyela. Dia baru urun suara, setelah Alodita berhenti berceloteh. "Habis berapa beli antaran buat lamaran?" tanya Aditya. "Sekitar 30 juta," jawab Alodita. "Banyaknya?" "Isinya komplet, Yah. Sama sepaket perhiasan lengkap." Alodita memandangi lelakinya yang tengah menyeruput kopi. "Ratifa, kan, yatim. Jadi aku pikir, kita mesti ngasih banyak untuk membuat dia dan keluarganya senang," lanjutnya. "Hmm, berarti buat akadnya aku mesti nambah l

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 46

    46"Mohon maaf, Hadirin. Tim penari dan musik telah selesai perform," ungkap Akhtar. "Kita kasih kesempatan buat mereka untuk beristirahat," sahut Hana. "Betul. Mereka pasti kelelahan, karena pertunjukan tadi menghabiskan waktu lebih dari setengah jam," papar Akhtar. "Beneran waktunya segitu?"

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • AJUDAN SELEMBE    Bab 41

    41Aditya tidak jadi melanjutkan ucapannya, karena pintu kamar dibuka dengan cara didorong keras. Ketiga bocah laki-laki memasuki kamar dan langsung mendekap Aditya, yang balas memeluk mereka, lalu menciumi pipi Renze, Qizar, dan Ryker, secara bergantian. Alodita mengulaskan senyuman saat Aditya m

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • AJUDAN SELEMBE    Bab 40

    40 Pagi menjelang dengan bunyi musik dari depan rumah, yang mengejutkan Alodita. Dia bangkit dari kasur, lalu jalan ke dekat jendela. Alodita melongok keluar dan seketika terperangah. Alodita berbalik dan jalan cepat ke toilet. Dia menunda mandi dan hanya menggosok gigi serta mencuci muka. Kemudi

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • AJUDAN SELEMBE    Bab 43

    43Langit sudah gelap sepenuhnya, ketika Aditya dan Alodita tiba di kediaman mereka. Alodita bergegas mandi di toilet kamar utama, sedangkan Aditya membersihkan diri di bilik mandi dekat dapur. Belasan menit berlalu, pasangan tersebut menunaikan ibadah salat Magrib. Setelahnya mereka tetap duduk u

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status