LOGIN05
Hari berganti dengan cepat hingga minggu terlewati. Ramzi dan Aditya sama-sama menarik gugatan dari kantor polisi. Mereka dan semua pihak yang terlibat, sepakat untuk berdamai.
Pagi itu, puluhan orang berkumpul di ruang rapat kantor firma hukum B&C. Mereka menjadi saksi surat perjanjian perdamaian antara kedua belah pihak. Ramzi, Darius, Nolan, dan ketujuh rekan mereka, menandatangani beberapa lembar kertas secara bergantian.
Aditya dan keenam ajudan muda maju beberapa langkah. Demikian pula dengan Alodita dan Larasati. Mereka membubuhkan tanda tangan di berkas itu. Lalu Syawal memberikan tumpukan kertas itu pada kedua pengacara PBK, dan tim lawyer pihak lawan, guna diperiksa keabsahannya.
Puluhan menit berlalu, rombongan Indonesia telah berada di bus yang menuju bandara. Aditya dan yang lainnya sudah diizinkan polisi untuk pulang ke Indonesia, karena kasus mereka dianggap selesai, sesuai dengan perjanjian tadi.
"Kata Asmi, keluarga kita sudah nyampe di rumah Abang," ujar Narapati, yang duduk berdampingan dengan abangnya.
"Bilang ke Asmi, jangan bilang kalau aku sempat nginap di sel," pinta Aditya.
"Sudah. Dia dan teman-temannya kompak tutup mulut, karena sudah diwanti-wanti Kak Utari dan Naysila."
"Kedua bersaudara itu memang bisa diandalkan. Begitu juga suami mereka." Aditya melirik Hisyam dan Yusuf yang duduk di deretan kursi sebelah kiri. "Aku bersyukur punya sahabat kayak mereka. Begitu juga dengan yang lainnya. Terutama para bos," lanjutnya.
"Ya, mereka sigap semua. Termasuk bosku dan bosnya Wara."
"Pak Tian ada nelepon aku. Kalau Koko Jianzhen, tiap malam ngirim chat aneh-aneh."
"Aneh, gimana?"
"Foto-foto cewek baju kekurangan bahan."
Narapati tersenyum. "Kocak emang dia."
"Aku curiganya, itu kerjaan Yuze."
"Bisa jadi. Dia, kan, biang kerok 4 klan."
"Hu um. Sama Calvin, dan Myron."
"Trio Kwek-kwek."
Sementara itu di unit apartemen milik kantor BM Grup, Ramzi tengah duduk di sofa tunggal. Dia meremas-remas rambut, sembari menggerutu dalam hati.
Ramzi tidak suka terkalahkan oleh siapa pun. Namun, kali itu dia tidak bisa berkutik, karena power PG dan PBK lebih kuat. Ramzi juga tidak bisa menggunakan nama ayahnya, Sartono Indraharja.
Ramzi teringat beberapa kasus serupa yang pernah membelitnya di masa silam, di mana dia bisa lolos dengan mudah, karena ayahnya ikut turun tangan.
Ramzi menyesalkan ayahnya yang seorang mantan pejabat polisi, karena tidak lagi bisa membantunya lepas dari kerumitan. Sejak pensiun, kekuasaan Sartono berkurang, dan itu menjadikan Ramzi kesal.
"Kita diminta pulang sama dirut," papar Nolan, seusai menerima telepon dari atasannya.
"Siapa yang ngasih tahu dia?" tanya Ramzi.
"Enggak tahu. Mungkin, Pak Tristan. Dia, kan, mantan atasannya bos."
Ramzi berdecih. "Kuat banget jaringannya PG sialan itu!"
"Mau gimana lagi? Mereka pebisnis kelas berat semua. Bos kita aja, bergantung dari Cyrus Grup. Kalau nggak, kita pasti nggak dapat proyek besar."
"Kita salah memilih lawan kali ini," sela Nolan, sembari meletakkan ketiga kaleng minuman ke meja.
"Aku nggak nyangka, dia bakal ngekorin Dita," tutur Ramzi.
"Yang paling kacau, orang-orang sewaan kita, ternyata cuma gede badan, doang. Tapi, dungu," timpal Darius.
"Kontak pimpinan mereka, bilang, aku komplain, karena yang dikirim itu kelas teri," lontar Ramzi. "Sekalian minta mereka bayar ganti rugi kerusakan kursi taman. Itu di luar tanggungan kita," sambungnya.
***
Kedatangan rombongan pimpinan Mahesa, disambut pelukan keluarga belasan ajudan yang sudah habis masa tugasnya di Kanada.
Aditya dan Narapati, serta Mahesa, mendatangi Sultan Pramudya dan Gustavo Dimitrio Baltissen, untuk menyalami mereka dengan takzim.
Satria, Alodita dan Larasati turut menyambangi kedua pengusaha senior itu. Seusai bersalaman, mereka berbincang sesaat, lalu membubarkan diri.
Aditya dan kedua saudaranya menghampiri keluarga Bryatta yang datang dengan personel lengkap. Aditya memaksakan senyuman agar kedua orang tuanya bisa tenang.
Aditya berpindah ke kanan untuk mendekap Asmiratih yang seketika terisak-isak. Aditya menenangkan Adik bungsunya itu, agar yang lainnya tidak curiga dengan tangisan Asmiratih.
Panggilan beberapa orang menjadikan Aditya melepaskan adiknya, dan bergegas mendatangi sekelompok pria di sisi kanan ruangan. Aditya menyalami semua seniornya dengan takzim, kemudian dia memeluk Jauhari.
"Aku takut, kamu bakal dihukum lama," cakap Jauhari seusai menjauhkan diri.
"Aku juga sempat mikir, gitu," jawab Aditya. "Untungnya dia mau damai dan urusan kami selesai," lanjutnya.
"Perasaanku masih nggak nyaman."
"Sama."
"Semoga nggak ada masalah lagi ke depannya."
"Aamin."
"Kamu cuti berapa lama, Dit?" tanya Beni, ketua tim pengajar PBK.
"Sebulan," seloroh Aditya. "Tugasku dialihkan ke Lazuardi," tambahnya.
"Pantesan Ardi tegang banget," cetus Harun, ketua pengajar tim PB.
"Adit cuma bercanda. Cutinya, 2 minggu," sela Jeffrey, direktur umum PBK.
"Aku beneran mau nambah cuti, Jeff. Di luar tanggungan, nggak apa-apa," balas Aditya.
"Bang, tolong jangan terlalu lama liburnya. Nanti aku jadi zombie," rengek Lazuardi, manajer operasional PBK.
"Belajar jadi direktur, Di. Persiapan kamu naik jabatan nanti," ujar Aditya.
"Aku juga mau cuti," celetuk Yusuf.
"Yok! Kita holiday ke Karimun Jawa," ajak Aditya.
"Siap. Jadi bujangan seminggu, bolehlah," imbuh Yusuf.
"Aku ikut," celoteh Jauhari.
"Aku juga," tambah Jeffrey. "Dan kalian bertiga yang ambil alih tugas kami berempat," ungkapnya sembari memandangi Lazuardi, Fikri dan Mukti.
"Kimora, nggak?" tanya Fikri, manajer umum PBK.
"Dia lagi promil. Jangan dikasih beban kerjaan berat," jelas Yusuf.
"Tenang, Gaes. Ada Hisyam yang stand by di kantor dirut," tukas Jauhari.
"Ehh, nggak ada! Aku ikut liburan juga!" sungut Hisyam.
"Penggantimu nggak ada, Syam," goda Beni.
"Kamu aja yang jadi penjabat dirut," cetus Hisyam.
"Enggak mau. Posisi itu khusus buat robot," kilah Beni.
"Kalian pergi aja. Urusan kantor, serahkan pada Wirya," sela Yoga.
"Kok, aku?" tanya Wirya Arudji Kartawinata, komisaris 6 PB dan PBK.
"Kamu, kan, lagi dipingit si bule. Jadi kamu turun gunung, W. Menjabat dirut lagi sampai mereka balik liburan," terang Yoga, yang merupakan komisaris 8.
"Aku setuju," beber Zulfi Hamizhan, sang komisaris 7.
"Idem," sahut Andri Kaushal, komisaris 9.
"Me too," balas Haryono Abhisatya Putra Daryana, komisaris 10.
"So do i," ungkap Yanuar Kaisar, komisaris 5.
Wirya memandangi kelima sahabatnya di sekitar. "Kalian kompak ngerjain aku!" geramnya.
"Jangan marah. Ini sesuai perintah Mas Tio," goda Yanuar.
"Harusnya kamu, Yan, yang turun jabatan. Aku lagi repot sangat," sanggah Wirya.
"Sorry, Besan. Aku ditugaskan Bang bule buat gantiin tugasmu ngawas area Australia dan New Zealand. Jadi, aku nggak bisa stand by."
"Bentar, besan opo, toh?" tanya Haryono.
"Aku sudah melamar Neng Leqa, buat Harraz," beber Yanuar.
"Besanannya sama Hendri. Bukan aku," ujar Wirya.
"Kata Hendri, semuanya anak Ayah W," kukuh Yanuar.
"Anakku cuma 4. Lainnya ponakan."
"Mereka manggil kamu Ayah, berarti anakmu."
"Yan, kamu minta dicekek?"
"Kagak. Aku mau digendong aja. Ala bride style."
"Patah nanti pinggangku."
"Renta."
"Daripada kamu, pikuners."
"Tapi, aku masih ingat kisah cinta semalam kita, W."
"Mana ada! Pacarmu itu, si ubur-ubur."
"Ternyata kamu sudah melupakan cinlok kita. Aku sedih."
"Drama!"
76*Fans Alvaro Handsome*Jauhari : Grup naon, iyeu, teh? Yoga : @Varo. Hobi banget bikin grup baru.Nanang : Hapeku langsung ngadat. Kebanyakan grup. Haryono : @Bule, aku keki baca nama grupnya! Ganti ke Fans HAPD. Jeffrey : Lebih rumit itu, @Mas Yono. Erni : Pelik. Qadry : Sulit. Zulfi : Aya deui grup anyar! Dimas : Anggotanya banyak dan dari semua lapisan. Gilang : Aku kaget. Kirain grup Power Rangers. Logonya sama.Yusuf : @Padre, usilnya kumat. Nugraha : Kacau ini si bule. Hisyam : Aku malah mikirnya, ini bukan Bang Varo yang bikin.Mardi : Sudah jelas dia yang jadi adminnya, @Hisyam.Hisyam : Ya, @Bang Mardi, tapi coba cek semua anggotanya. Sebagian besar adalah mantan asisten atau ajudan Padre.Chairil : Aku baru cek, dan itu benar, @Hisyam Jaka : Apakah hape Varo dibajak? Fawwaz : Dijambret? Salman : Dicuri? Gumelar : Dibegal? Satrio : Dirampok? Harun : Dipinjam? Said : Diperiksa Madre? Beni : Aku langsung deg-degan. Fajar : Aku sampai celingukan. Ngeri istr
75Awal pekan itu, Aditya dan tim telah berada di area proyek Toronto. Sebagai ketua pengawas sekaligus yang paling senior, Aditya mengarahkan semua junior. Terutama beberapa bos PCT dan PCE yang baru kali itu menjadi pengawas proyek luar negeri. Alodita yang ikut ke lokasi proyek, membaca semua detail keuangan buatan staf dari tim support, yang isinya adalah warga lokal. Alodita mengernyitkan kening, saat merasa ada yang tidak beres dengan laporan itu. Sebagai direktur keuangan Daryantha Company, Alodita sudah terbiasa membaca banyak laporan yang rumit. Hingga dia cukup hafal dengan berbagai trik para pencuri uang proyek, yang melampaui batas kewenangan mereka dalam memegang uang kas. Selama hampir 1 jam, Alodita memeriksa detail pengeluaran dari awal mula proyek itu dicanangkan tim pusat. Alodita mendengkus kesal, ketika menyadari celah kecil yang digunakan pencuri, guna mengambil dana proyek yang nyaris tidak terpantau. Alodita memanggil Yuniar dan membisikkan sesuatu. Sang bod
74 Waktu terus berjalan. Seusai beristirahat tiga hari di kediaman keluarga Janitra di tepi Kota Vancouver, Rabu pagi itu Aditya mengunjungi kantor cabang PB dan PBK di pusat kota tersebut. Aditya mengumpulkan semua staf dan ketua regu, guna mendengarkan berbagai hal tentang pekerjaan di seputar Kanada. Aditya mengangguk paham ketika Diaz dan rekan-rekannya membeberkan beberapa kendala, yang mereka hadapi di beberapa unit kerja PB, di mana mereka menjadi pengawasnya. Semua ajudan baru yang akan bertugas di sana, mencatat informasi penting yang disampaikan para senior. Pandu sempat berdiskusi dengan Diaz, untuk mencuri ilmu ketua pengawal lama tersebut. "Wakilmu, siapa, Du?" tanya Diaz, sesaat setelah rapat usai. "Harusnya Abang nanya ke Bang Adit. Aku nggak tahu siapa yang akan ditunjuk," terang Pandu. "Loh, belum ditentukan?" "Belum. Tim cenayang lagi sibuk di banyak proyek." "Tumben? Biasanya Bang W gercep." "Itu gara-gara Bang W nyerahin tugas memantau itu, ke Hisyam dan Q
73Kamis sore, kedua orang tua Alodita datang bersama Bahuraska. Disusul Syahban dan Natarina, hingga suasana kediaman Aditya sontak bertambah ramai. Menjelang magrib, ketiga Adik Aditya muncul sambil membawa banyak makanan yang dipesan sang abang. Natarina, Nerissa, Larasati, dan Yuniar, bergegas memindahkan aneka panganan ke banyak wadah makanan. Sedangkan Asmiratih, Nareswara dan Narapatih, bergantian mandi serta bertukar pakaian. Tepat seusai azan magrib, belasan orang itu menunaikan salat tiga rakaat di ruang tengah. Setelahnya, keenam perempuan itu berdiri dan beranjak menuju dapur, untuk menyiapkan minuman serta peralatan makan. Para lelaki bekerjasama mengemasi sajadah, lalu Narapati menumpuk semua sajadah itu di meja dalam kamarnya, yang berada di dekat ruang tengah. Keluarga tersebut mengambil ransum di meja makan, kemudian Aditya dan keempat adiknya berpindah ke sofa ruang tengah, sedangkan yang lainnya tetap di meja makan. "Bang, jadwal meeting TOPAZ, sudah ada?" tany
72 Kelompok pimpinan Chairil tiba di rumah duka di Purwakarta, sore menjelang magrib. Seusai bersalaman dan berbincang selama belasan menit, tim Utari dan anak-anak diantarkan sopir bus ke hotel di pusat kota. Aditya dan rekan-rekannya tetap bertahan di rumah almarhumah. Mereka bergantian mandi dan bertukar pakaian, lalu bergegas menuju masjid terdekat untuk menunaikan salat Magrib berjemaah. Seusai beribadah, puluhan pria itu kembali ke rumah keluarga Yoga. Para ajudan membantu menyiapkan acara takziah pertama, yang akan dilangsungkan ba'da Isya. Yoga memanggil para juniornya untuk bersantap malam. Mereka harus bergegas makan, karena sejumlah tamu yang akan mengikuti takziah telah datang, dan duduk di karpet bawah tenda besar yang dipasang menutupi area halaman, hingga jalan depan rumah. Selama puluhan menit berikutnya, Aditya terlihat khusyuk melantunkan ayat suci. Dia sempat menengadah kala mikrofon berpindah tangan dari Ustaz setempat, ke seseorang yang suaranya sangat dikena
71Angin laut malam itu yang cukup kencang, diabaikan Aditya dan Alodita yang tengah bersantai di teras belakang bungalo, yang mereka tempati sejak tiga hari silam. Pekikan Avreen dari cottage sebelah kiri, menjadikan Aditya dan Alodita serentak menoleh. Mereka kaget melihat bocah laki-laki terjun ke laut. Disusul Jauhari yang hendak menangkap putra sulungnya. Jeritan Qizar yang protes diangkat papinya menuju tangga, menyebabkan Aditya dan Alodita tersenyum. Keduanya tergelak, karena Qizar berhasil meloloskan diri dan kembali terjun ke laut. Beberapa bocah lainnya menyusul dari balkon bungalo masing-masing. Meskipun diteriaki para Bapak, tetapi Tazara, Ryker, Renze, Qizar, Yazdan, Pasaga, Fahrizal, dan Zifary, tetap berenang dengan gembira. Hanya Yatha yang tidak ikut rekan-rekannya berenang. Gadis kecil itu justru tengah sibuk makan bersama Widha, sambil menonton para bocah lainnya di lautan. "Gusti! Pening pala aing!" seru Hisyam yang menempati bungalo samping kanan. "Dek, nant







