Teilen

Bab 07

last update Veröffentlichungsdatum: 02.01.2026 10:40:21

07 

*Grup PBK KomDirManAst*

Zulfi : Bule! Iseng pisan bikin grup baru. 

Andri : Aku salfok sama nama grupnya. 

Haryono : Artine opo? 

Alvaro : Komisaris, Direktur, Manajer, dan Asisten. 

Wirya : Singkatannya, KDMA. Jadi kayak nama gubernur. 

Hisyam : Ditukar aja posisinya. Jadi DMAK. 

Jeffrey : Lebih bagus, MAKD.

Zulfi ; D-nya digeser. Dari kata direktur, kita ambil huruf E. Jadi, grup ini namanya EMAK.

Wirya : FANS EMAK OY. 

Yoga : Setuju! 

Jauhari : Yes, i do. 

Aditya : Accepter. 

Yusuf : Agree. 

Mukti : You got it.

Fikri : My thoughts exactly.

Chairil : Definitely.

Fawwaz : Absolutely!

Nanang : Sepakat.

Qadry : Sependapat. 

Ibrahim : Idem. 

Lazuardi : Mattaku sono tori desu.

Kimora : Ne, majayo.

Dimas : Apa itu artinya? @Neng Kim. 

Kimora : Ya, Anda benar. 

Syuja : Kimora ngomong bahasa Korea, aku langsung ngebayangin dia pakai baju khas Korea. 

Hasbi : Hanbok? 

Syuja : Yups.

Gumelar : Cocok emang Kimora pakai itu. 

Andara : Teh Kim juga pas jadi orang Jepang. 

Syafid : Thailand. 

Puspa : China. 

Ruben : Mongolia. 

Gwenyth : Uzbekistan.

Taylor : Kazakhstan. 

Marlina : Kirgistan.

Girish : Tajikistan.

Cahyaning : Myanmar. 

Bunji : Laos. 

Naisha : Kamboja. 

Harshil : Vietnam. 

Wening : Sudah jelas, Teh Kimora itu dari negara Bandung. 

Mahesa : Baru tahu aku. Bandung itu negara. 

Hamdiyah : Iyain aja, @Bang Mahesa. 

Bhumi : Ladies jangan dibantah. 

Farhadi : Didebat. 

Lakhsyan : Dikasih tahu. 

Najmi : Diberi solusi. 

Yazan : Diarahin. 

Radeya : Ditunjukin. 

Krisda : Harusnya, disayangi. 

Trisda : Dikasihi. 

Zakaria : Dipelukin. 

Singgih : Dibelai. 

Banyu : Pandangin penuh cinta. 

Yovhi : Sambil sodorin piring. 

Nurikmas : Tambahin nasinya, Neng. 

Eijaz : Aa' mau tumis waluh. 

Zidni : Daging domba. 

Raffan : Bebek, lebih empuk. 

Kelvan : Peteuy, raos pisan. 

Fazwan : Jengki. 

Yahya : Kecimpring. 

Justin : Leunca. 

Ikmal : Buncis. 

Wisam : Kemangi. 

Angga : Timun.

Jafan : Kol. 

Faisal : Sambal bawang. 

Bakti : Sambal hejo. 

Jariz : Sambal teri. 

Teguh : Sambal udang.

Ryan : Sambal mangga. 

Jahfal : Sambal buatan Mbak Sekar. 

Arthan : Berdenging telingaku makan sambal buatan bundanya Denzel itu. 

Kukuh : Aku langsung diare. Kapok nyoba lagi. 

Hisyam : Cuma Yusuf yang kuat makan itu. Aku, nyerah. 

Zulfi : Aku lambai bendera putih. 

Wirya : Aku lambai kutang. 

Alvaro : @W, kamu dicariin Emak OY. 

Yanuar : Apa? Wirya nyuri kutang Emak OY? 

Yoga : W, pelanggaran! 

Andri : Baek-baek bukunya Wirya langsung ditamatin sama Emak. 

Wirya : Memang sudah harus tamat.

Jauhari : Daily sudah beres? @Bang W. 

Wirya : Ya. Cukuplah, 3 bulan daily. Lagi pula, kalau novelku nggak tamat, Emak nggak bisa fokus ngetik buku Aditya ini.

Aditya : Sebutin lagi judulnya, @Bang W. Sama buku Satya. Allah Bodyguard The Series. 

Wirya : Bukuku, judulnya, Running Away, BTS 9. Buku Satya, Sang Pewaris. BTS 10.

Aditya : Urutan waktunya? Karena semua buku Emak settingnya nyambung, kan? 

Wirya : Betul. BTS 1, My Handsome Bodyguard. 2, Penjaga Hati. 3, Tawanan Cinta Nona CEO. 4, Pabeulit Cinta Akang. 5, My Lovely Bodyguard. 6, Jaring Cinta Sang Bodyguard. 7, Terjerat Daun Muda. 8, Cutie Bodyguard. 9, Running Away. 10, Sang Pewaris. 11, buku ini, Ajudan Selembe. 

Aditya : Pembaca tersayang, mampir ke semua buku Emak OY di Goodnovel, ya. BTS 5, 6, 7, 8, dan 11, tayang di sini. Dijamin, seru! 

*** 

Aditya memasuki restoran khas Korea di kawasan Dago. Dia celingukan mencari Alodita, kemudian Aditya mengayunkan tungkai menyambangi perempuan tersebut. 

Sudut bibir Aditya mengukir senyuman saat berjabatan dengan Alodita. Setelahnya, Aditya menarik kursi di seberang sang gadis dan duduk dengan santai.

"Langsung dimakan, Bang. Sudah matang," tutur Alodita sambil menunjuk panggangan di hadapannya. 

"Jadi nggak enak aku. Datang telat, tapi langsung makan," sahut Aditya.

"Enggak apa-apa. Cuma telat 10 menit." 

"Sorry. Tadi Pak Linggha ngajak ngobrol lama. Kagok aku mau pamitan." 

"It's okay. Paham aku." Alodita mengangkat daging yang sudah matang dan meletakkannya di mangkuk Aditya. "Makan," cetusnya. 

Selama belasan menit berikutnya, mereka bersantap tanpa saling bicara. Alodita tercenung, karena gaya makan Aditya yang cepat. Gadis bergaun tosca itu melirik mangkuk Aditya yang telah kosong. 

"Mau tambah nasi?" tanya Alodita. 

"Enggak, sudah cukup," tolak Aditya. "Aku mau nyoba desertnya," sambungnya. 

"Ini, paling enak." Alodita menunjuk mangkuk lonjong di tepi kanan. "Gimana?" tanyanya sembari memerhatikan Aditya yang tengah menikmati Bingsu.

"Ya, enak. Kayak es serut." 

"Memang es serut. Teksturnya lebih lembut dari es serut ala Indonesia." 

"Hu um. Aku suka kacang merahnya." Aditya memindai sekitar meja. "Yang ini, apa namanya?" tanyanya. 

"Hwajeon. Sejenis pancake." 

"Hiasan bunganya, bagus. Jadi nggak tega makannya." 

Alodita tersenyum. "Difoto dulu, baru dimakan." 

"Kamu benar." 

Alodita mengawasi Aditya yang sibuk memotret kue itu dari berbagai sudut. Tanpa sadar dia terus mengamati, saat pria berkemeja hijau muda itu mulai menyantap hidangan penutup keduanya. 

"Kamu mandangin, gitu. Aku jadi salting," seloroh Aditya. 

Alodita tersenyum malu-malu. "Cara Abang makan, kayaknya enak banget." 

"Kamu orang ke-99 yang ngomong gitu." 

"Genapin jadi 100." 

"Boleh. Aku ngorek celengan dulu." 

Alodita terkekeh sesaat, kemudian dia menghentikan tawa. Alodita menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Dia menunggu Aditya usai bersantap, sembari menyusun kata-kata di dalam benaknya. 

"Aku belum ngucapin makasih, karena Abang sudah menyelamatkanku," ucap Alodita. "Kalau saja Abang nggak buntutin aku, mungkin ceritanya akan berbeda," lanjutnya. 

"Aku juga mau minta maaf, karena sudah membantah Abang. Terus, aku pun minta maaf buat banyak perbedaan pendapat kita, selama 8 bulan terakhir." 

"Aku akui, sempat kesal, karena Abang banyak melarangku buat melakukan ini itu. Tapi, setelah kejadian itu, aku dinasihati Papa dan Mama. Mereka juga memberikan pemahaman, jika sikap Abang yang keras itu, sebagai bentuk tanggung jawab Abang, yang telah dititipi aku, oleh Papa dan Kang Satria." 

"Sekali lagi, aku minta maaf, Bang." Alodita mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Ke depannya, aku janji, nggak akan membantah dan pasti menuruti semua arahan Abang," sambungnya. 

Aditya tercenung. Dia tidak menduga bila gadis keras kepala di hadapannya itu, akhirnya bisa menyadari kesalahannya, dan mau meminta maaf.

"Kamu nggak sepenuhnya salah, Ta. Aku juga turut andil, karena terlalu keras ke kamu," cakap Aditya. "Aku lupa, kamu bukan Asmi, ataupun para adikku, baik yang kandung, sepupu, atau angkat. Mereka sudah paham karakterku dan nggak keberatan kalau aku rada pengatur," sambungnya. 

"Sebetulnya, aku nggak berniat ngatur kamu. Tapi, karena kamu jadi tanggung jawabku, tanpa sadar aku jadi over protektif," cetus Aditya. "Aku juga minta maaf, Ta. Sering ngebentak kamu di depan banyak orang. Padahal aku nggak bermaksud begitu," tambahnya. 

"Aku ada curhat ke Three Cutie Bodyguard sok cakep itu, tapi bukannya dibelain, mereka malah ngejitak dan ninju bahuku. Hisyam bahkan nyekik aku, karena kesal aku berlaku kurang sopan ke kamu." 

"Aku senang, kamu mau menyadari kekhilafan. Aku pun takjub, karena kamu mau minta maaf. Itu hal yang sangat luar biasa," puji Aditya yang memancing senyuman Alodita tercipta. 

Aditya mengulurkan tangan kanannya. "Kita salaman dan berdamai," ujarnya. 

Alodita menjabat tangan pria itu dengan tegas. "Semoga ke depannya, kita bisa jadi teman." 

"Tentu saja." Aditya menarik tangannya. "Tapi, nanti kamu didampingi pengawas lain, karena aku nggak berangkat lagi ke Kanada," akunya. 

"Kenapa?" 

"Aku sudah bolak-balik ke sana selama 5 tahun terakhir. Cukuplah," terang Aditya. "Sekarang, aku mau stay di sini, dan fokus cari istri. Supaya nggak jadi bujang karatan," bebernya yang menjadikan Alodita terpegun. 

Olivia Yoyet

Emak promosi semua novel BTS. Baca yang di Goodnovel, yak. Keren semua.

| 4
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 125

    125*Grup Petinggi 1st, 2nd, & 3rd Generation* Yanuar : @Abang bule. Kenapa mobil baru gue belum dikirim? Alvaro : Gue sudah bilang ke Ardianto. Mobil itu jangan dikirim dulu, sebelum 2 mobil lama elu laku, @Sipitih. Yanuar : Tega amat! Alvaro ; Kalau nggak gitu, yang 2 itu cuma jadi barang rongsokan. Andri : Sayang banget itu mobil, jadi pajangan, doang. Zulfi : Sarang tikus.Fajar : Penghuni abadi garasi PB. Nugraha : Menuh-menuhin. Mardi : Nyemak-nyemakin. Aswin : Aku mau parkir mobil operasional pun nggak bisa. Qadry : Sekarang aman, @Bang Aswin. Chairil : Dua garasi sudah kosong. Nanang : Aku nggak lihat motor gedenya Bang Yan. Fawwaz : Disita Bang W, karena Bang Yan mundur dari tender di Swedia. Ibrahim : Motornya ada di garasi kantor baru. Hisyam : Kantor mana?Dimas : Banyak kantor baru. Bingung aku. Jauhari : Di gedung punya 3 robot. Hasbi : Tuls. Deretan itu semua motor para Power Rangers. Zulfi : Mau dilelang semuanya. Ada yang minat? Dedi : Aku mau motorn

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 124

    124Dua pekan seusai dilahirkan, acara akekahan Nuh dan Hud dilangsungkan di kediaman Bahir. Halaman luas dan jalan depan rumah yang ditutupi tenda biru campur putih, ternyata tidak mampu menampung seluruh tamu, yang jumlahnya membludak dan di luar perkiraan. Edelweiss memerintahkan tim dekorasi guna memasang tenda tambahan di jalan sisi kiri. Puluhan ajudan muda membantu semua pekerja EO M&E. Hingga tidak sampai setengah jam kemudian, tenda biru itu telah berdiri tegak. Banyak karpet yang dipinjam dari tetangga sekitar, dihamparkan di bawah tenda baru. Supaya semua tamu bisa duduk dengan santai. Tenda ketiga dibangun di sisi kanan, dan segera ditempati para ajudan muda. Acara pengajian dimulai. Fikri yang menjadi MC, mempersilakan Zikria untuk bertugas sebagai qori. Sedangkan Hana menjadi saritilawah. Setelahnya, seorang Ustaz kenamaan memberikan tausiah yang diselipi candaan, hingga hadirin berulang kali terbahak. Tawa khalayak mengencang ketika sang ustaz menggoda Aditya serta A

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 123

    123Jalinan waktu terus bergulir. Bulan demi bulan berlalu dengan cepat, tanpa sanggup dicegah siapa pun dan apa pun. Musim kemarau telah berganti ke musim hujan. Udara panas turut bertukar menjadi lebih sejuk. Aditya mengusap rambut istrinya yang tengah mengatur napas. Aditya menoleh ke kiri saat Alodita kembali mengejan, guna melahirkan anak-anaknya. Aditya terus menembakkan tenaga dalam ke perut Alodita, guna melancarkan proses itu. Begitu pula yang dilakukan rekan-rekannya sesama anggota paguyuban olah napas Margaluyu, yang berada di depan ruang bersalin. Jeritan tertahan Alodita mengiringi meluncurnya seorang bayi mungil, yang dipegangi dokter dengan hati-hati. Setelah memindahkan sang bayi ke perawat, dokter itu bersiap-siap guna memegangi bayi kedua."Ayo, Bun. Dikit lagi," ujar Aditya guna menyemangati istrinya yang tengah ngos-ngosan. Alodita tidak menyahut, karena tengah berkonsentrasi. Kala kontraksi kian mengencang, Alodita menarik napas dan mengejan kuat. Seorang bay

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 122

    122 Raut wajah tegang yang semula ditampilkan Zikria, seketika berubah semringah, sesaat setelah mendengar ucapan Syahban. Zikria menghela napas lega, karena keluarga Bryatta menyambut baik keinginannya untuk menjalin hubungan serius dengan Asmiratih. Aditya dan kedua saudaranya yang juga berada di ruang kerja, turut senang dengan keputusan Ayah mereka. Begitu pula dengan Natarina dan Alodita. Kedua perempuan berbeda generasi itu saling melirik, sebelum sama-sama tersenyum. Wirya yang diminta Zikria untuk menjadi wakil keluarganya, mengulaskan senyuman, sembari mengucap syukur dalam hati. Pria paruh baya itu sangat berharap hubungan Zikria dan Asmiratih bisa berhasil. Supaya mantan asistennya itu bisa segera melepas masa lajangnya. Sekian menit berlalu, semua orang telah keluar dan berpindah ke ruang tengah. Aditya berbaring di kasur lipat sambil memandangi Shahzain, yang sedang menyusu dari botol. Aditya tersenyum menyaksikan mata Shahzain yang telah nyaris menutup, sedangkan mu

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 121

    121Alodita mengulum senyuman ketika mendengar percakapan satu arah Aditya, dengan janin dalam perutnya. Alodita terkekeh kala Aditya menjanjikan berbagai barang yang akan dibelikan olehnya, jika bayi mereka lahir kelak. Alodita memandangi saat Aditya mengecup perutnya, lalu menempelkan telinga kanan. Alodita kembali tersenyum, ketika Aditya heboh saat merasakan pergerakan dari dalam perutnya. "Enggak sabar pengen ketemu mereka," cakap Aditya sembari menegakkan badan. "Aku malah nggak sabar buat belanja," sahut Alodita. "Belum boleh, ya?" "Hu um. Tunggu nyampe 7 bulan." Aditya memindai sekitar. "Kayaknya dinding harus dijebol." "Buat apa?" "Bikin pintu, buat nyambungin kamar sebelah ke sini." "Enggak usah. Di sini muat, kok. Cuma tambah kasur dan laci kabinet. Bisa taruh di situ." Alodita menunjuk sisi kiri. "Sofanya dipindah ke dekat pintu," lanjutnya. "Sempit, Bun. Kasurnya, kan, dua." "Satu aja, yang gede." "Nanti cuma kepake sebentar. Mending langsung 2." "Pertumbuhan

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 120

    120Suara berisik dari luar rumah menyebabkan Aditya terbangun. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menggeliat hingga tulangnya berderak. Aditya memandangi langit-langit kamar sembari mengumpulkan nyawanya yang sempat berserakan. Pria berkaus hijau itu bangkit duduk dengan bertumpu pada kedua siku. Dia berdiam diri sesaat, kemudian beringsut ke tepi kasur dan menapakkan kaki ke lantai. Puluhan menit terlewati, Aditya telah berada di ruang makan. Dia menikmati lontong sayur sambil mendengarkan ocehan Alodita. Aditya manggut-manggut tanpa menyela. Dia baru urun suara, setelah Alodita berhenti berceloteh. "Habis berapa beli antaran buat lamaran?" tanya Aditya. "Sekitar 30 juta," jawab Alodita. "Banyaknya?" "Isinya komplet, Yah. Sama sepaket perhiasan lengkap." Alodita memandangi lelakinya yang tengah menyeruput kopi. "Ratifa, kan, yatim. Jadi aku pikir, kita mesti ngasih banyak untuk membuat dia dan keluarganya senang," lanjutnya. "Hmm, berarti buat akadnya aku mesti nambah l

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 74

    74 Waktu terus berjalan. Seusai beristirahat tiga hari di kediaman keluarga Janitra di tepi Kota Vancouver, Rabu pagi itu Aditya mengunjungi kantor cabang PB dan PBK di pusat kota tersebut. Aditya mengumpulkan semua staf dan ketua regu, guna mendengarkan berbagai hal tentang pekerjaan di seputar

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-29
  • AJUDAN SELEMBE    Bab 67

    67 Kepala polisi wilayah Gold Coast, memandangi beberapa orang di kursi seberang. Dia nyaris tersenyum, karena kesombongan orang-orang itu seketika lenyap. Pada awalnya, pengacara, Ayah, dan kedua Paman Malcolm, terlihat sangat garang dan bersemangat untuk menuntut agar Wirya ditangkap, lalu dije

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-28
  • AJUDAN SELEMBE    Bab 69

    69Sudut bibir Alodita mengukir senyuman, kala melihat suaminya tengah jalan menuju ruang tunggu ruang khusus pesawat pribadi dan carteran, di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Alodita mengamati para bocah yang menyambut Ayah masing-masing dengan penuh kerinduan. Alodita turut mendekati Ir

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-28
  • AJUDAN SELEMBE    Bab 66

    66 Rangga menengadah, ketika tangan kirinya ditepuk dari atas.Rangga mengamati Wirya yang mengucapkan sesuatu tanpa suara, kemudian pria berambut tebal itu mengangguk paham."Abang nggak perlu khawatir, Cici nggak tahu tentang ini," jelas Rangga. "Semuanya kompak menutupi dan nggak ada yang cerit

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-28
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status