FAZER LOGIN116"Huang Miller!" seru Aditya. Pria yang disebut itu melengos. "Kenapa kamu terus yang jadi lawanku?" tanyanya. "Mungkin Tuhan ingin aku menghajarmu lagi." "Jangan mimpi! Kemampuanku sudah jauh lebih tinggi daripada dulu." "Yeah, aku pun begitu." Huang Miller menatap tajam pria yang diketahuinya sebagai direktur operasional PBK. "Apa kamu masih jadi kacung 4 klan?" celanya. "Aku tidak pernah jadi kacung. Mereka adalah keluargaku." Huang Miller berdecih. "Aku heran. Kenapa kamu bisa bertahan kerja sama orang-orang sombong itu?" "Aku juga heran. Kenapa kamu masih akrab sama orang-orang tolol, yang cuma memamerkan otot, tapi otaknya kosong?" "Kami tidak tolol! Kamu, Setan!" "Jangan memaki diri sendiri, Babi!" Huang Miller memelototi lelaki yang tengah berdiri tegak sembari memasang tampang selembe. Huang Miller mengangkat pedang di tangan kanannya, lalu menyerang Aditya sembari berteriak. Huang Miller kaget, ketika Aditya maju menyongsongnya dan meninju berulang kali. Belum
115Lembayung senja perlahan menghilang di garis cakrawala. Malam menjelang dengan kondisi langit yang gelap. Sekali-sekali terlihat petir di kejauhan, pertanda bila kemungkinan besar hujan akan segera turun.Aditya menengadah menatap langit. Dia berusaha menenangkan degup jantung yang menggila sejak tadi. Terutama saat mendengar informasi dari tim pengintai di radius 2 km dari area, yang menerangkan jika pasukan musuh mulai bergerak. Aditya mengalihkan pandangan ke sekeliling. Raut wajah tegang ditunjukkan semua orang di lobi utama gedung kantor. Seperti halnya Aditya, mereka juga cemas, karena mengetahui bila lawan yang akan dihadapi bukanlah preman biasa. Klan Ruan, Wang dan Jiang, telah membentuk aliansi baru. Jumlah pasukan mereka merupakan terbesar ketujuh di seluruh China, dan sebagian besarnya adalah para profesional. Tim CJC dan PBK sudah belasan kali berhadapan dengan kelompok itu, tetapi tetap saja mereka tidak bisa menganggap remeh lawan, karena pihak gangster memiliki
114 Ruang rapat Hotel CJC di Shanghai, siang itu dipenuhi banyak orang berseragam hitam dan biru. Mereka tengah mendengarkan strategi yang dipaparkan Zikria dalam bahasa Mandarin yang fasih.Pria berkulit putih itu tampak sangat tenang dalam memaparkan detail rencana yang dibuatnya bersama Deswin, Harzan, dan Girish. Zikria mempersilakan peserta rapat untuk bertanya, lalu dia menjawabnya dengan lugas. Setelah Zikria kembali menempati kursinya, Tang Jason berdiri dan berpindah ke dekat layar besar, yang memantulkan denah proyek hotel dan gedung perkantoran di wilayah Kunshan.Kota itu terletak di antara Shanghai dan Suzhou, serta merupakan kota industri maju. Proyek di tempat itu sejak awal memang sudah sering ditekan dari pihak triad, tetapi bisa dikendalikan para pengawas dan pihak keamanan gabungan CJC serta PB.Akan tetapi, seminggu lalu, sekelompok orang yang diduga merupakan anggota gangster lokal, mendatangi lokasi proyek guna memeras pengelola. Sempat terjadi perkelahian anta
113 Aditya meringis ketika Alodita memerintah Dante dengan santainya. Perempuan berkaus biru muda itu berulang kali menunjuk jambu yang diinginkannya, yang segera diambilkan Dante dengan galah. Selain sang pemilik rumah, Daiyan dan Radeya juga sibuk memetik mangga di pohon ujung kanan halaman. Sedangkan Yuniar dan Asmiratih, bertugas mencuci serta mengupas mangga dengan dibantu Edelweiss. Belasan menit terlewati. Kelompok kecil itu telah berpindah ke ruang tamu. Mereka menikmati rujak dan sambal buatan Edelweiss, yang tingkat kepedasannya telah disesuaikan. Tidak berselang lama, Yusuf, Jauhari dan Hisyam muncul. Disusul Harun, Sunardi, Gumelar dan Nanang. Para mantan ajudan Dante itu ikut merujak sambil berbincang tentang banyak hal. "Kapan kalian berangkat, Dit?" tanya Dante. "Senin malam, Pak," jawab Aditya. "Dita, ikut?" "Enggak. Dilarang Pak Ben, Kak Falea dan orang tua kami. Mereka ngeri Dita kenapa-kenapa. Apalagi unit proyek yang mau dikunjungi ini jauh dari pusat kota.
112*Grup Komisaris dan Petinggi PB-PBK*Yanuar : @Aditya, yang satu, buatku.Yoga : Enggak ada! Aku sudah deal dari dulu sama Adit. Andri : Aku malah sudah DP. Mobil baru Adit itu, aku yang beliin. Haryono : Opo, toh, Andri? Jelas-jelas Adit beli mobil itu pakai duitnya sendiri. Kimora : Buatku aja, atuh. Please, @Bang Aditya. Zulfi : Bentar lagi kamu juga akan hamil, @Kimora. Wirya : Yoih. Katepaan Dita. Deswin : Aku jadi bayangin, rumah Bang Adit nanti akan heboh, karena anak kembar identik itu biasanya sifat dan usilnya pun sama. Krisda dan Trisda, kan, gitu. Aditya : Mohon maaf @Bang Yanuar, @Bang Yoga, @Bang Andri. Istriku nggak mau ngasih anaknya. Kata dia, berani ngambil, mau di-dor. Aditya : @Kimora, mau coba ke dokter yang di Kanada? Mungkin bisa berhasil kayak kami. Aditya : @Deswin. Ya, pasti berantakan ini rumah. Tapi, nggak apa-apa. InsyaAllah, aku dan Dita kuat hati. Kimora : Mesti stay di sana, ya? @Bang AdityaAditya : Lebih bagusnya memang begitu. Minimal 3
111Ruang rapat di kantor TOPAZ, pagi menjelang siang itu terlihat banyak orang. Seorang pria bersetelan jas abu-abu muda, berdiri di depan dan membacakan laporan dari semua divisi. Sebab ketiga manajer lainnya telah dipindahkan ke perusahaan baru, hanya tersisa Giyan yang bertahan menjabat sebagai manajer operasional. Pria berkumis tipis itu tampak serius membaca detail laporan di kertas, hingga Giyan tidak menyadari bila tengah divideokan Devan. Seusai menuntaskan laporan, Giyan menengadah. Dia tertegun sesaat, sebelum berpose setelah mengetahui jika tengah direkam. Ledekan para peserta rapat tidak diindahkan Giyan yang masih terus bergaya. "Dit, anak buahmu, centil semua," kelakar Tristan. "Ya, Pak. Memang cuma aku yang kalem," sahut Aditya. "Jangan berkilah. Kamu juga sama," sela David. "Aku ketularan Yusuf," sanggah Aditya. "Dit, kita sudah lama nggak berantem," tukas Yusuf."Enggak mau. Aku nggak boleh lecet. Nanti istriku panik," ungkap Aditya. "Pret!" "Thanks." "Stop
42 Sepanjang pagi itu, Alodita masih terngiang ucapan Aditya. Perempuan bermata besar itu tidak menduga, bila pria tersebut berani mengungkapkan keinginannya untuk segera memiliki keturunan. Alodita menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya sekali waktu. Dia benar-benar belum siap untuk memiliki
44Hari berganti. Jumat sore, kediaman Wirya dipenuhi banyak orang berpakaian serba putih, atau biru muda. Mereka menghadiri acara akikahan Shahzain Cyrill Barayev, putra keempat Wirya dan Vanetta. Seusai pengajian, Aditya dan rekan-rekannya turut membantu membagikan bingkisan buat semua tamu umum,
37Matahari pagi sudah lewat sepenggalah, ketika pasangan pengantin baru muncul di restoran hotel. Keduanya melenggang menuju meja kosong sisi kanan, tanpa mengindahkan tatapan banyak orang. Yoga mengulum senyuman setelah menyaksikan rambut lembap Alodita, yang berada di meja samping kiri. Yogaber
43Langit sudah gelap sepenuhnya, ketika Aditya dan Alodita tiba di kediaman mereka. Alodita bergegas mandi di toilet kamar utama, sedangkan Aditya membersihkan diri di bilik mandi dekat dapur. Belasan menit berlalu, pasangan tersebut menunaikan ibadah salat Magrib. Setelahnya mereka tetap duduk u







