ANMELDEN119Aditya mengusap punggung adiknya yang tengah terisak-isak dalam pelukan. Pria berjaket biru itu membaca doa tanpa suara, lalu meniupkan napasnya ke puncak kepala Asmiratih,Aditya mengurai pelukan dan mengecup dahi adiknya. Aditya memaksakan senyuman, sebelum membujuk gadis berkulit putih itu untuk berhenti menangis. Aditya melepaskan Asmiratih dan bergeser ke kanan. Dia menyalami Ferlita, lalu mengusap lengan kanan gadis itu sambil memberikan banyak wejangan, yang dibalas Ferlita dengan anggukan. Pria berambut lebat tersebut berpindah untuk menyalami Chyou dan semua adiknya, serta tim CJC dan PBK wilayah China. Aditya menitipkan Asmiratih dan Ferlita pada Sha Jun Hui serta Tang Jason. Kemudian direktur utama TOPAZ dan BKD itu bergabung dengan kelompoknya, yang hendak bertolak kembali ke Indonesia. Tim pimpinan Herjuno itu memberi hormat pada semua pengantar. Lalu mereka berbalik dan jalan keluar ruang tunggu menuju pesawat Adhitama, sambil menjinjing tas masing-masing. Han Su
118 Aditya terhenyak, sesaat setelah mendengarkan penjelasan psikiater, yang telah menangani adiknya pada 2 jam lalu. Aditya merutuki dirinya yang kurang peka dengan suasana hati Asmiratih, hingga gadis itu lepas kendali tempo hari.Aditya akhirnya sadar, jika beberapa minggu terakhir Asmiratih memang sering dipergoki tengah melamun. Aditya ingat cerita istrinya, yang juga kesulitan mengorek informasi dari Asmiratih.Belasan menit terlewati. Aditya telah berada di mobil MPV putih yang dikemudikan Zikria. Aditya menimbang-nimbang sesaat dalam hati, sebelum memutuskan untuk menerangkan semuanya pada Zikria. Pria berkumis tipis itu telah menjadi sahabat Asmiratih sejak lama. Terutama, karena mereka sering bekerjasama untuk mengawal Vanetta, jika tengah syuting. Selain itu, Zikria yang cukup menguasai wilayah China, sering berkunjung ke negara itu dan bisa membantu Aditya dalam mengawasi adiknya, selama setahun ke depan."Abang nggak tahu, kalau dia pacaran sama cowok itu?" tanya Zikria
117*Tim PBK dan CJC* To Mu : Siapa yang punya ide naruh ular di dekat dedaunan? Harzan : Girish, @Koko To Mu. Jianzhen : Idenya bagus.Syafid : Kriminal itu.Chyou : yang ditaruh pun jenis ular berbisa. Lakhsyan : Kacau emang Girish. Yuze : Ular apa? Shen : Ular daun, yang hijau kecil itu. Xiuhuan : Ada berapa ekor? Yichen : 30, dan semuanya baru netas.Tang Jason : Dia pintar. Yang ditaruh itu telur, bukan anak ular. Rebecca : Tapi, hebat, loh. Girish bisa tahu kalau ular itu sudah mau netas. Zhu Hadwin : Dia pakar ular. Gwenyth ; Yoih. Lulusan Universitas Sydney. Sha Jun Hui : Baru ingat aku. Girish sempat tugas di sana 3 tahun.Hana : Dia itu pengendali ular. Donnie : Siluman ular. Asmiratih : Pacarnya Nyai Centini. Liu Bin : Harusnya yang ditaruh itu ular derik. Seng Esther : Mana ada ular derik di sini. Chen Wayne : Ada, tapi mahal. Xi Madison : Aku merinding.Chang Guo : Sini, @Maddie. Kupeluk, supaya hangat. Sha Guan Lin : Chang Guo, modus! Chao Gabby : Mes
116"Huang Miller!" seru Aditya. Pria yang disebut itu melengos. "Kenapa kamu terus yang jadi lawanku?" tanyanya. "Mungkin Tuhan ingin aku menghajarmu lagi." "Jangan mimpi! Kemampuanku sudah jauh lebih tinggi daripada dulu." "Yeah, aku pun begitu." Huang Miller menatap tajam pria yang diketahuinya sebagai direktur operasional PBK. "Apa kamu masih jadi kacung 4 klan?" celanya. "Aku tidak pernah jadi kacung. Mereka adalah keluargaku." Huang Miller berdecih. "Aku heran. Kenapa kamu bisa bertahan kerja sama orang-orang sombong itu?" "Aku juga heran. Kenapa kamu masih akrab sama orang-orang tolol, yang cuma memamerkan otot, tapi otaknya kosong?" "Kami tidak tolol! Kamu, Setan!" "Jangan memaki diri sendiri, Babi!" Huang Miller memelototi lelaki yang tengah berdiri tegak sembari memasang tampang selembe. Huang Miller mengangkat pedang di tangan kanannya, lalu menyerang Aditya sembari berteriak. Huang Miller kaget, ketika Aditya maju menyongsongnya dan meninju berulang kali. Belum
115Lembayung senja perlahan menghilang di garis cakrawala. Malam menjelang dengan kondisi langit yang gelap. Sekali-sekali terlihat petir di kejauhan, pertanda bila kemungkinan besar hujan akan segera turun.Aditya menengadah menatap langit. Dia berusaha menenangkan degup jantung yang menggila sejak tadi. Terutama saat mendengar informasi dari tim pengintai di radius 2 km dari area, yang menerangkan jika pasukan musuh mulai bergerak. Aditya mengalihkan pandangan ke sekeliling. Raut wajah tegang ditunjukkan semua orang di lobi utama gedung kantor. Seperti halnya Aditya, mereka juga cemas, karena mengetahui bila lawan yang akan dihadapi bukanlah preman biasa. Klan Ruan, Wang dan Jiang, telah membentuk aliansi baru. Jumlah pasukan mereka merupakan terbesar ketujuh di seluruh China, dan sebagian besarnya adalah para profesional. Tim CJC dan PBK sudah belasan kali berhadapan dengan kelompok itu, tetapi tetap saja mereka tidak bisa menganggap remeh lawan, karena pihak gangster memiliki
114 Ruang rapat Hotel CJC di Shanghai, siang itu dipenuhi banyak orang berseragam hitam dan biru. Mereka tengah mendengarkan strategi yang dipaparkan Zikria dalam bahasa Mandarin yang fasih.Pria berkulit putih itu tampak sangat tenang dalam memaparkan detail rencana yang dibuatnya bersama Deswin, Harzan, dan Girish. Zikria mempersilakan peserta rapat untuk bertanya, lalu dia menjawabnya dengan lugas. Setelah Zikria kembali menempati kursinya, Tang Jason berdiri dan berpindah ke dekat layar besar, yang memantulkan denah proyek hotel dan gedung perkantoran di wilayah Kunshan.Kota itu terletak di antara Shanghai dan Suzhou, serta merupakan kota industri maju. Proyek di tempat itu sejak awal memang sudah sering ditekan dari pihak triad, tetapi bisa dikendalikan para pengawas dan pihak keamanan gabungan CJC serta PB.Akan tetapi, seminggu lalu, sekelompok orang yang diduga merupakan anggota gangster lokal, mendatangi lokasi proyek guna memeras pengelola. Sempat terjadi perkelahian anta
50Aditya memasuki kamar utama yang sebagian lampunya telah padam. Dia bergegas menunaikan salat Isya, sebelum berpindah ke sofa dan mengaktifkan laptopnya. Aditya tenggelam dalam pekerjaan membaca laporan dari beberapa tempat proyek di dalam negeri, yang pengerjaannya hampir selesai. Aditya tidak
52Seorang perempuan memasuki ruangan ber-cat abu-abu muda, di seunit rumah dua lantai di kawasan Ciledug, Tangerang. Perempuan yang mengenakan blus sage, mengamati sekeliling yang nyaris tanpa hiasan dinding. Hanya ada satu pigura besar dan jam bulat yang tergantung di dinding. Perempuan bermata
49Sekelompok orang tengah berkumpul di sebuah ruangan, di salah satu gedung belasan lantai di kawasan Lebak Bulus. Ramzi, Darius, Nolan dan Adam, sedang mendengarkan ocehan seorang perempuan berkacamata, yang tampak sangat menguasai bidang hukum. Perempuan berjilbab marun itu berhenti mengoceh, ke
53 Alodita berusaha menyabarkan diri, saat menjadi pusat perhatian keluarga besar dari pihak Syahban dan Nararina. Alodita memahami rasa penasaran mereka, karena mereka memang baru kali itu berjumpa. Malam bergerak naik, dan Aditya akhirnya bertindak untuk menolong istrinya, yang sejak tadi menja







