MasukDi sela kesibukannya, Nindiya sesekali berkomunikasi dengan Erni. Mereka saling sapa lewat panggilan video, bercerita tentang bayi laki-laki mereka. Erni melahirkan putranya tidak berselang lama dari kelahiran si kembar. Gelak tawa kecil dan obrolan hangat seputar dinamika menjadi ibu baru mengalir ceria di antara mereka.Dan untuk Khaisar, sekarang lebih tenang. Pria itu kini jauh lebih leluasa menghabiskan waktu di apartemen, leluasa bermalam tanpa kucing-kucingan, dan kembali pulang ke rumah utama dengan kepala tegak tanpa beban kebohongan. Meski masih ada ketegangan antara dirinya dan sang mama."Bagaimana kabarnya Abe dan Ale?" tanya Pak Hangga usai meeting dengan Khaisar. Di ruangan itu tinggal mereka berdua saja.Dada Khaisar mendadak bergetar. Pertanyaan sederhana itu menghadirkan kelegaan luar biasa di relung hatinya. Sebuah tanda bahwa sang papa mulai melunak."Mereka baik-baik saja, Pa," jawab Khaisar dengan suara yang begitu lega. "Sekarang sudah jarang ngajak begadang kal
AKAN KUTUNGGU- 66 Sudah SiapKhaisar sama sekali tidak terkejut mendengar tebakan sang kakak. Sebaliknya Edi yang malah tersentak kaget hingga tubuhnya menegang. Namun kedua pria itu tetap memilih bergeming dalam diam."Mbak nanya serius, Khai. Jawab Mbak, apa dia benar-benar Nindiya?" desak Raya sekali lagi dengan nada lebih serius.Khaisar menghela napas, lalu mengangguk mantap. "Ya," jawabnya singkat tapi tegas. Ia sadar, cepat atau lambat rahasia ini memang harus dibongkar di hadapan keluarganya. Karena Raya sudah berhasil menebak dengan tepat, Khaisar memilih untuk tidak lagi menutup-nutupi kebenarannya.Raya tertegun mendengar jawaban jujur itu. Ia terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca, menatap ke arah langit kota Surabaya. "Kenapa harus dirahasiakan hingga sejauh ini?" tanyanya lirih."Kalau dari awal aku jujur pada keluarga, kalian pasti akan langsung menentang habis-habisan," jawab Khaisar tenang. "Sebab papa, mama, dan Mbak, tahu sendiri bagaim
Meski terik matahari luar biasa membakar kota di luar sana, pendingin ruangan di kamar itu menciptakan kesejukan yang sempurna bagi mereka untuk menuntaskan kerinduan yang terpendam.Begitu Khaisar memulai, akal sehatnya seolah terbang melayang. Dunia seakan berhenti berputar. Yang tersisa di dalam ruangan itu hanya alunan napas yang menderu, gesekan kulit yang hangat, serta penyatuan dua jiwa yang saling merindukan. Kemesraan itu mengalir tanpa batas. Khaisar dan Nindiya benar-benar menyempurnakan hari bahagia mereka.🖤LS🖤"Mbak, jam berapa Mas Khai pulang ke rumah tadi malam?" tanya Bu Juliana saat melangkah masuk ke area dapur, menatap ke arah para asisten rumah tangga yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi.Dua orang pelayan muda yang berdiri di dekat meja mendadak salah tingkah, saling berpandangan dengan cemas. Sementara Mbok Jum, kepala ART yang sudah lama bekerja di keluarga itu, tetap tenang membalik potongan ayam di atas wajan penggorengan.Akhirnya salah seorang pelay
Nindiya begitu lega setelah Khaisar kembali bersama putra kembar mereka. Saat sang suami pergi tadi, hati Nindiya tidak tenang. Apa yang terjadi setelah Khaisar pulang ke rumah membawa anak-anaknya. Terbayang bagaimana wajah Bu Juliana kaget lalu murka.Wanita itu menciumi si kembar bergantian. Matanya berkaca-kaca. Bu Mira mengambil Abe dari gendongan baby sitter. Sedangkan Nindiya mengambil Ale."Bagaimana, Mas?" tanya Nindiya setelah mereka duduk di sofa. "Tenang saja, tidak seperti yang kita khawatirkan. Papa dan Mama memang kaget, Nin. Tapi mereka tersentuh juga dengan melihat cucunya," jawab Khaisar dengan tenang, agar istri dan mertuanya tidak khawatir. Dalam perjalanan tadi Khaisar sudah mewanti-wanti pada dua baby sitter-nya, supaya tidak menceritakan ketegangan yang terjadi. Nanti pelan-pelan, Khaisar sendiri yang akan bicara dengan sang istri."Syukurlah, Nak Khai," jawab Bu Mira lega. Pak Tirto yang duduk di sana pun juga merasa tenang. Semuanya memang tidak mudah, tapi
AKAN KUTUNGGU- 65 Lupakan Dia Indra merasakan dadanya kian sesak, menghimpit napasnya hingga terasa begitu menyiksa. Rasa perih yang teramat sangat menusuk ulu hatinya bertubi-tubi, menghadirkan kesadaran yang terlambat dan terasa begitu telak. Semuanya sudah berakhir. Nindiya kini telah sepenuhnya menjadi milik orang lain. Bahkan mungkin sekarang ini, wanita itu sudah melahirkan buah hatinya bersama pria lain.Untuk waktu yang cukup lama, Indra hanya bisa terduduk lemas di balik kemudi. Pertahanan jiwanya runtuh seketika. Air mata penyesalan mengalir deras. Ia merutuki kebodohannya di masa lalu. Sejak awal jalannya memang sudah salah. Niat busuknya dulu hanyalah ingin merebut Nindiya semata-mata demi menghancurkan Khaisar. Namun bayangan malam pertama mereka kembali berkelebat di kepalanya. Malam di mana ia mendapati Nindiya masih seorang perawan. Kenyataan itu membuktikan bahwa hubungan Khaisar dan Nindiya di masa lalu adalah hubungan yang bersih dan tulus, sementara dirinyalah y
"Apa maumu?" teriak Indra menggelegar.Tubuh Cinda gemetar hebat melihat kilas amarah di mata mantan kekasihnya itu. "Mas, kamu kenapa kasar begini?" cicit Cinda ketakutan.Indra mendekat, mencengkeram tepi meja dengan napas memburu. "Jangan coba-coba main-main denganku lagi, Cinda. Sekarang setelah aku kehilangan Nindiya, aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti. Sekali pun aku harus masuk penjara karena menghabisimu sekarang, aku tidak peduli!"Cinda semakin menciut dan gemetar hebat. Air matanya langsung tumpah membasahi pipi. Ketakutannya kian menjadi-jadi jika ingat akhir-akhir ini ia sering membaca berita tentang orang-orang nekat yang menghabisi orang lain akibat gelap mata dan khilaf."Jawab aku!" bentak Indra tanpa ampun, menunjuk tepat ke wajah wanita itu. "Apa benar aku meniduri kamu malam itu? Hanya kamu yang tahu kejadian sebenarnya. Jangan pernah berani membohongiku."Cinda kaku, napasnya memburu ketakutan. Ia terdiam bisu, mencerna ancaman maut dari pria di ha







