INICIAR SESIÓNAKAN KUTUNGGU
- 3 Kecewa "Berapa harus kubayar? Aku nggak ingin berhutang sama kamu." Nindiya menghampiri Khaisar yang menyusulnya ke kantor polisi. Mendengar ucapan itu, Khai tersenyum samar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Ia berdiri tegak di depan Nindiya. "Bagaimana urusan kantor polisi?" "Akan kuselesaikan sendiri. Bagaimana keadaan Bapak tadi?" tanya Nindiya dengan sikap angkuh. Meski dari lubuk hati terdalam, jiwanya berontak. Sedih. Kenapa Khai tetap bersikap baik padanya. Kenapa tiap ada kesulitan, pria itu yang membantunya. Bukan Indra. Kenapa Khai tak menjauh saja dan membencinya. Bukankah dirinya sudah dicap sebagai perempuan pengkhianat? "Bapak itu sudah pulang dijemput keluarganya. Beliau tidak mengalami cedera yang serius kata dokter. Aku sudah memberinya uang, termasuk untuk memperbaiki motornya. Bapak itu bilang kalau memang dirinya yang salah." "Akan kuganti semuanya. Berapa?" Nindiya gugup sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ia membuka aplikasi i-banking. "Berapa?" tanyanya lagi sambil mendongak memandang wajah itu. Namun tak bisa lama. Tatapan tajam Khai selalu membuat jiwanya tidak tenang. Khai tersenyum samar. "Simpan uangmu. Lain kali hati-hati." Selesai bicara pria itu melangkah cepat meninggalkan Nindiya. Membuat wanita itu terdiam dengan hati bergemuruh dan sesak. Matanya terasa memanas. Perlahan dia mundur dan duduk di bangku logam yang ada di tempat itu. 🖤LS🖤 "Kamu nggak apa-apa?" Pintu ruangan Nindiya tiba-tiba terbuka dan muncul sosok pria memakai jas abu-abu di sana. Indra menghampiri istrinya dengan langkah tergesa-gesa. Matanya menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan tubuh itu dengan raut cemas yang tampak begitu meyakinkan. "Kenapa nggak nelepon untuk ngasih tahu? Aku tahunya saat nelepon Nety tadi." Nety adalah tangan kanan Nindiya di butik. Wanita yang sangat dipercaya untuk membantunya mengurusi DIYA BOUTIQUE, sekaligus tempat di mana Indra biasanya mencari tahu informasi tentang istrinya jika Nindiya sulit dihubungi. "Aku nggak apa-apa," jawab Nindiya pendek. Ia sengaja mengalihkan pandangan, kembali fokus ke layar laptopnya seolah-olah grafik penjualan bulanan butiknya jauh lebih menarik daripada kehadiran sang suami. Hatinya terasa sangat perih, seperti disayat sembilu yang tak kasat mata. Indra menghela napas lega, tapi ia belum puas. "Bagaimana orang yang kamu tabrak tadi? Ada yang luka parah? Perlu aku urus ke kantor polisi atau rumah sakit?" "Nggak apa-apa. Semuanya sudah selesai," jawab Nindiya datar. Ia sengaja menahan ucapannya. Nindiya sama sekali tidak menceritakan bahwa orang yang membantunya menyelesaikan urusan kecelakaan itu adalah Khai. Mantan kekasihnya yang memiliki tatapan tajam tapi sarat akan luka. Nindiya tahu betul, jika nama Khai sampai disebut, Indra pasti akan mengamuk hebat. Pria itu selalu mengagungkan standar ganda dalam pernikahan mereka. Merasa bebas berjalan dengan wanita lain dengan alasan pekerjaan atau ikatan keluarga, tetapi Nindiya tidak boleh melakukan hal yang sama sedikit pun. Ruang geraknya dibatasi, sementara Indra melangkah tanpa batas. Ketika Indra hendak bicara lagi, ponsel di saku jas abu-abunya berdering. Pria itu merogoh sakunya, melihat layar, lalu mendesah pelan. Asisten pribadinya menelepon. Indra memandang Nindiya dengan perasaan bersalah yang terasa hambar di mata istrinya. Ia melangkah mendekat, membungkuk sedikit, lalu mengecup kening Nindiya dengan lembut. "Aku harus pergi sekarang, ada rapat mendadak dengan investor. Nanti malam aku urus soal perbaikan mobilmu, ya? Biar orangku yang membawanya ke bengkel." Nindiya menggeleng pelan tanpa menatap Indra. "Nggak perlu, Mas. Aku sudah mengurusnya sendiri tadi. Ini hanya hal remeh," ucapnya dingin. Mendengar penolakan itu, Indra terdiam. Dahinya berkerut samar, tapi karena desakan waktu, ia tidak sempat bertanya lebih jauh. Ada rasa perih yang mendadak menyengat hatinya melihat benteng tinggi yang kini dibangun Nindiya. "Aku kembali ke kantor." Indra berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan keheningan di ruangan istrinya. Setelah pintu kembali tertutup, Nindiya menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, mencoba melonggarkan sesaknya dada. Setetes air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipi. Apapun yang terjadi sekarang, Nindiya tidak akan pernah lagi meminta tolong pada sang suami. Pikirannya melayang pada kejadian menyakitkan beberapa minggu lalu. Ingatannya masih sangat segar tentang bagaimana Indra membentaknya malam itu. Disaat ada seorang pria asing yang tampak stres dan mabuk nekat melompat masuk ke pagar rumah mereka. Nindiya yang ketakutan setengah mati mengunci diri di kamar dan menelepon Indra yang belum pulang. Bukannya ketenangan yang didapat, Indra justru menghardiknya di telepon. "Kenapa kamu malah telepon aku? Kenapa nggak nelepon satpam kompleks lebih dulu? Kamu tahu kan aku masih sibuk di luar, malah mengganggu dengan urusan seperti ini. Belajarlah mandiri, Nin. Ada hal kecil yang bisa kamu bereskan sendiri. Saat itu dengan suara bergetar karena tangis dan ketakutan, Nindiya hanya bisa menjawab, "Kupikir kamu sudah mau sampai rumah, Mas." Dan pada akhirnya, kebenaran yang menyakitkan terungkap keesokan harinya. Nindiya mengetahui dari salah satu sopir kantor bahwa malam itu Indra sama sekali tidak sedang rapat. Dia justru mengantarkan sepupunya yang bernama Cinda untuk berbelanja barang-barang mewah di salah satu mal terbesar di Surabaya. Cinda memang baru pindah ke apartemennya. Nindiya mengingat dengan jelas bagaimana Indra memperingatkannya dengan nada keras setelah kejadian itu terbongkar. "Jangan pernah mencurigai aku dengan Cinda, Nin. Tolong buang pikiran kotormu itu. Kami ini sepupu, meskipun ibunya Cinda hanya adik angkat Papaku. Dia tidak punya siapa-siapa lagi sekarang setelah kedua orang tuanya meninggal. Wajar kalau aku sebagai saudaranya peduli." Ingat itu Nindiya memejamkan mata erat-erat. Hatinya seperti diremas. Apanya yang wajar?Tidak ada yang wajar dalam hal itu. Kenapa seorang suami lebih mementingkan sepupunya daripada istri sendiri. Benarkah semua perhatian berlebih itu hanya sekedar hubungan antar saudara? Atau itu hanyalah topeng dari sebuah pengkhianatan yang terstruktur rapi? Satu hal yang pasti, Nindiya kini merasa benar-benar sendirian di dalam sangkar emas yang dibangun oleh suaminya sendiri. Makanya ada apapun, ia tidak pernah minta tolong pada suaminya. Bisa tidak bisa ditanganinya sendiri. Indra terlalu menyepelekan tentang orang stres yang menerobos masuk rumahnya malam itu. Padahal keselamatan istrinya terancam. Next ....Itu adalah penyesalan terdalam dalam hidup Indra. Dulu ia terlalu buta oleh ego dan godaan luar hingga mengabaikan kerapuhan istrinya. "Andai saja anak itu hadir dan selamat, pasti hubungan kami masih bisa diselamatkan. Nindiya pasti bersedia memaafkanku demi anak kami," batinnya meraung hampa.Namun benaknya mendadak menangkap satu hal yang mengusik. Nindiya pasti sudah sadar kalau dirinya sedang hamil saat proses perceraian mereka bergulir di Pengadilan Agama. Namun wanita itu memilih bungkam, tidak memberitahunya, dan sama sekali tak berniat mencabut gugatan. Nindiya justru membiarkan persidangan yang melelahkan itu berlanjut hingga tujuh kali sidang sampai ketukan palu hakim resmi memutus hubungan pernikahan mereka.Indra menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya. Sebuah ironi yang menyiksa. Kenapa rasa cintanya pada Nindiya justru kian menggila dan membakar jiwanya saat wanita itu benar-benar telah pergi."Lalu bagaimana sekarang dengan Cinda?" tanya Hari memecah keheningan
Padahal sejak awal mereka telah sepakat untuk menunda momongan selama satu tahun ke depan. Hal itu demi memulihkan kondisi fisik Nindiya pasca keguguran, memberi ruang baginya untuk kembali merintis karier, serta menjaga kerahasiaan pernikahan mereka untuk sementara.Begitu keheningan kembali menyergap ruangan, Nindiya yang baru tersadar langsung berbisik parau. "Mas, aku ke kamar mandi sebentar, ya."Padahal Khaisar masih ingin merengkuh dan mendekap tubuh istrinya. Namun Nindiya dengan tergesa meraih pakaian di lantai, mengenakannya seadanya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.Beberapa menit berlalu, Nindiya belum juga keluar. Khaisar mulai merasa khawatir. Dengan cemas, ia turun dari pembaringan tanpa mengenakan atasan dan mengetuk pintu itu. "Honey, kamu tidak apa-apa?" teriak Khaisar dari luar."Aku tidak apa-apa, Mas! Ini aku mau keluar," sahut Nindiya dari dalam.Pintu terkuak pelan. Dua pasang mata itu saling bertumpu tepat di ambang pintu. Nindiya sempat terpana menden
AKAN KUTUNGGU- 48 Malam Deluxe room itu menjadi satu-satunya kamar yang bisa dipesan dadakan sore tadi oleh Khaisar. Sebuah jendela kaca berukuran besar membentang langsung menghadap ke arah pantai. Di dalam ruangan, hembusan pendingin udara bekerja maksimal membalut kehangatan pasangan yang baru saja mengikat janji suci.Usai merampungkan salat Isya berdua, Nindiya melangkah mendekati jendela kaca. Di bawah sana, pendar lampu-lampu taman dan dermaga kelap-kelip begitu indah menembus pekatnya malam.Khaisar baru saja hendak melangkah mendekatinya ketika dering ponsel di atas meja menghentikan. Nama mamanya tertera di layar. Sebelum menggeser tombol hijau, Khaisar sempat bertukar pandang dengan Nindiya sejenak."Halo, Ma," sapa Khaisar tenang."Where are you, Khai? Di telepon dari tadi malam tidak diangkat. Pagi tadi malah mematikan ponsel. Mama khawatir," cecar Bu Juliana dari seberang sana dengan nada gusar campur cemas."Aku baik-baik saja, Ma. Tidak perlu khawatir," balas Khaisar
"Pasti, Pak. Saya janji akan menjaga Nin dengan seluruh hidup saya," jawab Khaisar mantap, menyalami dan mencium tangan bapak mertuanya penuh hormat. Setelah prosesi akad usai dan para undangan dipersilakan menikmati hidangan sederhana yang disajikan, keluarga inti Nindiya bersama keluarga Rio berkumpul di depan pelaminan kecil untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka melalui kamera pribadi. Senyum bahagia akhirnya terbit sempurna di wajah Khaisar dan Nindiya. Dua hati yang kini telah resmi menyatu dalam ikatan suci. 🖤LS🖤 Setelah setengah hari dihabiskan bersama keluarga, menjelang sorenya Khaisar dan Nindiya bersiap untuk keluar. Mereka akan ke pantai Matras. Jaraknya sekitar tujuh kilometer dari rumah Nila. "Kalian mau menginap di sana malam ini?" tanya Nila lirih pada adiknya. "Mas Khai nggak bilang ngajak nginap, Mbak." "Oke, bawa ini. Hadiah dari Mbak." Nindiya memegang pemberian kakaknya yang masih terbungkus rapi di dalam goodie bag lalu membawanya ke kamar.
MUA langganan Nila juga telah datang sejak habis subuh. Sepasang busana pengantin adat Jawa berwarna putih bersih yang dipesan Nila ternyata sangat pas di tubuh kedua calon mempelai. Hanya saja, kebaya yang dikenakan Nindiya terasa sedikit longgar di bagian pinggang."Kamu agak kurusan ya, Nin?" tanya Nila seraya merapikan lipatan kain kebaya di punggung adiknya.Nindiya menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. "Iya, Mbak. Bobotku turun dua kilo belakangan ini.""Nanti setelah nikah harus digemukkan lagi sedikit. Biar kelihatan lebih segar dan berisi," saran Nila.Bu Mira yang menghampiri ikut menimpali sambil mengelus bahu putrinya. "Adikmu ini memang sering sekali begadang kalau malam, La. Lagi ngebut menyelesaikan desain-desain bajunya sampai lupa waktu.""Mbak tahu kamu sedang memulai semuanya, Nin. Tapi tetap tahu waktu. Semoga kamu sukses dengan apa yang telah kamu rencanakan.""Aamiin. Makasih, Mbak." Nindiya membalas tatapan kakaknya dengan lembut.Sementara itu di kamar
AKAN KUTUNGGU- 47 Ikatan Pesawat terbang dari Bandara Juanda tepat pukul 18.00 WIB. Dari dalam kabin pesawat, Nindiya memandangi pendar lampu Kota Surabaya yang perlahan mengecil di balik jendela."Kita mungkin baru sampai di sana tengah malam, Mas. Belum tahu berapa lama kita transit di Jakarta nanti. Waktu Ibu terbang kemarin, sampai di Bandara Depati Amir sudah jam satu siang karena lamanya transit," kata Nindiya memandang pria di sampingnya.Khaisar tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nin. Ini akan menjadi perjalanan panjang kita."Dada Nindiya berdebar. Memikirkan betapa ajaibnya takdir membawanya kembali pada Khaisar. Pria yang harus ia lupakan semenjak ia memutuskannya. Mengingat begitu banyak yang mereka lalui, membuat sekujur tubuh Nindiya terasa panas dingin oleh debar membuncah. Demi bisa bersama, mereka harus menikah di tempat yang jauh dari Surabaya. Melakukan perjalanan panjang.Dari Surabaya memang tidak ada jalur penerbangan langsung menuju Pulau Bangka. Mereka harus tr







