Compartir

3. Kecewa

last update Fecha de publicación: 2026-08-28 20:23:27

AKAN KUTUNGGU

- 3 Kecewa

"Berapa harus kubayar? Aku nggak ingin berhutang sama kamu." Nindiya menghampiri Khaisar yang menyusulnya ke kantor polisi.

Mendengar ucapan itu, Khai tersenyum samar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Ia berdiri tegak di depan Nindiya. "Bagaimana urusan kantor polisi?"

"Akan kuselesaikan sendiri. Bagaimana keadaan Bapak tadi?" tanya Nindiya dengan sikap angkuh. Meski dari lubuk hati terdalam, jiwanya berontak. Sedih. Kenapa Khai tetap bersikap baik padanya. Kenapa tiap ada kesulitan, pria itu yang membantunya. Bukan Indra. Kenapa Khai tak menjauh saja dan membencinya. Bukankah dirinya sudah dicap sebagai perempuan pengkhianat?

"Bapak itu sudah pulang dijemput keluarganya. Beliau tidak mengalami cedera yang serius kata dokter. Aku sudah memberinya uang, termasuk untuk memperbaiki motornya. Bapak itu bilang kalau memang dirinya yang salah."

"Akan kuganti semuanya. Berapa?" Nindiya gugup sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ia membuka aplikasi i-banking. "Berapa?" tanyanya lagi sambil mendongak memandang wajah itu. Namun tak bisa lama. Tatapan tajam Khai selalu membuat jiwanya tidak tenang.

Khai tersenyum samar. "Simpan uangmu. Lain kali hati-hati." Selesai bicara pria itu melangkah cepat meninggalkan Nindiya. Membuat wanita itu terdiam dengan hati bergemuruh dan sesak. Matanya terasa memanas. Perlahan dia mundur dan duduk di bangku logam yang ada di tempat itu.

🖤LS🖤

"Kamu nggak apa-apa?" Pintu ruangan Nindiya tiba-tiba terbuka dan muncul sosok pria memakai jas abu-abu di sana.

Indra menghampiri istrinya dengan langkah tergesa-gesa. Matanya menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan tubuh itu dengan raut cemas yang tampak begitu meyakinkan. "Kenapa nggak nelepon untuk ngasih tahu? Aku tahunya saat nelepon Nety tadi."

Nety adalah tangan kanan Nindiya di butik. Wanita yang sangat dipercaya untuk membantunya mengurusi DIYA BOUTIQUE, sekaligus tempat di mana Indra biasanya mencari tahu informasi tentang istrinya jika Nindiya sulit dihubungi.

"Aku nggak apa-apa," jawab Nindiya pendek. Ia sengaja mengalihkan pandangan, kembali fokus ke layar laptopnya seolah-olah grafik penjualan bulanan butiknya jauh lebih menarik daripada kehadiran sang suami. Hatinya terasa sangat perih, seperti disayat sembilu yang tak kasat mata.

Adrian menghela napas lega, tapi ia belum puas. "Bagaimana orang yang kamu tabrak tadi? Ada yang luka parah? Perlu aku urus ke kantor polisi atau rumah sakit?"

"Nggak apa-apa. Semuanya sudah selesai," jawab Nindiya datar.

Ia sengaja menahan ucapannya. Nindiya sama sekali tidak menceritakan bahwa orang yang membantunya menyelesaikan urusan kecelakaan itu adalah Khai. Mantan kekasihnya yang memiliki tatapan tajam tapi sarat akan luka. Nindiya tahu betul, jika nama Khai sampai disebut, Indra pasti akan mengamuk hebat.

Pria itu selalu mengagungkan standar ganda dalam pernikahan mereka. Merasa bebas berjalan dengan wanita lain dengan alasan pekerjaan atau ikatan keluarga, tetapi Nindiya tidak boleh melakukan hal yang sama sedikit pun. Ruang geraknya dibatasi, sementara Indra melangkah tanpa batas.

Ketika Indra hendak bicara lagi, ponsel di saku jas abu-abunya berdering. Pria itu merogoh sakunya, melihat layar, lalu mendesah pelan. Asisten pribadinya menelepon.

Indra memandang Nindiya dengan perasaan bersalah yang terasa hambar di mata istrinya. Ia melangkah mendekat, membungkuk sedikit, lalu mengecup kening Nindiya dengan lembut. "Aku harus pergi sekarang, ada rapat mendadak dengan investor. Nanti malam aku urus soal perbaikan mobilmu, ya? Biar orangku yang membawanya ke bengkel."

Nindiya menggeleng pelan tanpa menatap Indra. "Nggak perlu, Mas. Aku sudah mengurusnya sendiri tadi. Ini hanya hal remeh," ucapnya dingin.

Mendengar penolakan itu, Indra terdiam. Dahinya berkerut samar, tapi karena desakan waktu, ia tidak sempat bertanya lebih jauh. Ada rasa perih yang mendadak menyengat hatinya melihat benteng tinggi yang kini dibangun Nindiya.

"Aku kembali ke kantor." Indra berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan keheningan di ruangan istrinya.

Setelah pintu kembali tertutup, Nindiya menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, mencoba melonggarkan sesaknya dada. Setetes air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipi.

Apapun yang terjadi sekarang, Nindiya tidak akan pernah lagi meminta tolong pada sang suami.

Pikirannya melayang pada kejadian menyakitkan beberapa minggu lalu. Ingatannya masih sangat segar tentang bagaimana Indra membentaknya malam itu. Disaat ada seorang pria asing yang tampak stres dan mabuk nekat melompat masuk ke pagar rumah mereka. Nindiya yang ketakutan setengah mati mengunci diri di kamar dan menelepon Indra yang belum pulang.

Bukannya ketenangan yang didapat, Indra justru menghardiknya di telepon. "Kenapa kamu malah telepon aku? Kenapa nggak nelepon satpam kompleks lebih dulu? Kamu tahu kan aku masih sibuk di luar, malah mengganggu dengan urusan seperti ini. Belajarlah mandiri, Nin. Ada hal kecil yang bisa kamu bereskan sendiri.

Saat itu dengan suara bergetar karena tangis dan ketakutan, Nindiya hanya bisa menjawab, "Kupikir kamu sudah mau sampai rumah, Mas."

Dan pada akhirnya, kebenaran yang menyakitkan terungkap keesokan harinya. Nindiya mengetahui dari salah satu sopir kantor bahwa malam itu Indra sama sekali tidak sedang rapat. Dia justru mengantarkan sepupunya yang bernama Cinda untuk berbelanja barang-barang mewah di salah satu mal terbesar di Surabaya. Cinda memang baru pindah ke apartemennya.

Nindiya mengingat dengan jelas bagaimana Indra memperingatkannya dengan nada keras setelah kejadian itu terbongkar. "Jangan pernah mencurigai aku dengan Cinda, Nin. Tolong buang pikiran kotormu itu. Kami ini sepupu, meskipun ibunya Cinda hanya adik angkat Papaku. Dia tidak punya siapa-siapa lagi sekarang setelah kedua orang tuanya meninggal. Wajar kalau aku sebagai saudaranya peduli."

Ingat itu Nindiya memejamkan mata erat-erat. Hatinya seperti diremas. Apanya yang wajar?Tidak ada yang wajar dalam hal itu. Kenapa seorang suami lebih mementingkan sepupunya daripada istri sendiri. Benarkah semua perhatian berlebih itu hanya sekedar hubungan antar saudara? Atau itu hanyalah topeng dari sebuah pengkhianatan yang terstruktur rapi? Satu hal yang pasti, Nindiya kini merasa benar-benar sendirian di dalam sangkar emas yang dibangun oleh suaminya sendiri.

Makanya ada apapun, ia tidak pernah minta tolong pada suaminya. Bisa tidak bisa ditanganinya sendiri. Indra terlalu menyepelekan tentang orang stres yang menerobos masuk rumahnya malam itu. Padahal keselamatan istrinya terancam.

Next ....

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • AKAN KUTUNGGU    5. Demi Perempuan Itu

    AKAN KUTUNGGU- 5 Demi Perempuan Itu "Nin, aku pergi dulu." Indra berhenti di pintu dan menoleh karena sang istri belum menjawab ucapannya. "Terserah kamu, Mas," jawab Nindiya sambil memejam. Ia enggan sekadar mengalihkan pandangan untuk menatap punggung pria itu meski hanya sejenak.Indra menutup pintu lantas melangkah cepat menuruni tangga. Bersamaan dengan itu air mata Nindiya luruh tak terbendung. Rasa sakit kembali menghujam dadanya begitu dalam. Suaminya lupa menanyakan keadaannya paska terjadi srempetan tadi pagi, tapi dia begitu tergesa saat mendengar Cinda dalam masalah. Begitu ya? Nindiya menarik napas dalam-dalam sambil mengubah posisi. Memandang langit-langit kamar yang temaram."Mereka nggak ada hubungan apa-apa, Nin. Percaya sama Mama. Indra hanya kasihan pada Cinda saja," begitulah mama mertuanya selalu menenangkannya tiap kali ia mempertanyakan kedekatan sang suami dengan sepupunya itu. Wanita paruh baya itu selalu meyakinkan bahwa ikatan di antara Indra dan Cind

  • AKAN KUTUNGGU    4. Kembali Terluka

    AKAN KUTUNGGU - 4 Kembali Terluka"Mama begitu akrabnya dengan Lara," seloroh Khai saat sang mama melangkah mendekatinya di lobi kantor. Pria itu baru saja mengamati dari kejauhan bagaimana Bu Juliana tertawa hangat bersama Lara, istri dari sepupunya Khai.Bu Juliana menghentikan langkah, menatap putranya yang berdiri tegap dalam balutan setelan kemeja hitam. Kedua tangan Khai terbenam di saku celananya, menonjolkan posturnya yang menjulang berwibawa."Mama mau akrab dengan mantu perempuan juga belum punya. Sebab anakku yang paling gagah dan tampan ini masih sibuk dengan dunianya sendiri," sungut sang mama mendengkus halus, lalu melangkah pergi meninggalkan aroma parfum bunganya yang lembut. Wanita itu berbelok menuju lift VIP untuk menemui suaminya di lantai atas.Khai mematung. Kata-kata sang mama menggema di kepalanya. Di balik meja resepsionis, dua staf wanita mendadak kaku dan pura-pura sibuk menatap layar monitor. Telinga mereka mendengar dan saling melempar lirikan sarat arti.

  • AKAN KUTUNGGU    3. Kecewa

    AKAN KUTUNGGU - 3 Kecewa "Berapa harus kubayar? Aku nggak ingin berhutang sama kamu." Nindiya menghampiri Khaisar yang menyusulnya ke kantor polisi.Mendengar ucapan itu, Khai tersenyum samar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Ia berdiri tegak di depan Nindiya. "Bagaimana urusan kantor polisi?""Akan kuselesaikan sendiri. Bagaimana keadaan Bapak tadi?" tanya Nindiya dengan sikap angkuh. Meski dari lubuk hati terdalam, jiwanya berontak. Sedih. Kenapa Khai tetap bersikap baik padanya. Kenapa tiap ada kesulitan, pria itu yang membantunya. Bukan Indra. Kenapa Khai tak menjauh saja dan membencinya. Bukankah dirinya sudah dicap sebagai perempuan pengkhianat?"Bapak itu sudah pulang dijemput keluarganya. Beliau tidak mengalami cedera yang serius kata dokter. Aku sudah memberinya uang, termasuk untuk memperbaiki motornya. Bapak itu bilang kalau memang dirinya yang salah.""Akan kuganti semuanya. Berapa?" Nindiya gugup sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ia membuk

  • AKAN KUTUNGGU    2. Bau Busuk

    AKAN KUTUNGGU- 2 Bau Busuk"Siapa perempuan yang bersamanya itu?" tanya Edi."Sepupunya," jawab Khai pendek. Rahang tegasnya masih mengeras dengan tatapan tajam seakan menembus kaca hingga ke dalam sana. "Sepupu? Kenapa sikap mereka keliatan beda gitu." Insting Edi bekerja dan cukup peka.Khai tersenyum sinis.Di balik jendela besar kafe, tampak Indra suami Nindiya sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Mereka ngobrol begitu akrab dan tak seperti sepupu yang sewajarnya."Apa mereka selingkuh?" Edi memastikan, tatapannya masih ke dalam.Khai mengisap kembali rokoknya. Sorot mata tajamnya berkilat sangat berbahaya karena amarah. "Menurutmu bagaimana?" tanya Khai balik."Terasa ganjil kalau akrabnya beda gitu. Apa kira-kira Nindi tahu hal itu?" tanya Edi lagi."Aku tak tahu." Ia memang tidak tahu apakah Nindiya sudah mengendus kebusukan suaminya atau belum. Namun tangan besarnya di atas meja kini mengepal kuat. Amarah yang bergemuruh di dadanya terasa begitu panas. Pria yang di

  • AKAN KUTUNGGU    1. Patah Hati

    AKAN KUTUNGGU - 1 Patah Hati "Kenapa kamu bilang nggak ada pikiran untuk menikah? Rugi Bro, ketampanan dan kegagahanmu nggak berfungsi, sia-sia. Kekayaanmu juga untuk siapa. Ayolah, banyak yang mengantri untukmu," ujar Edi pada sahabat baik yang duduk merokok di depannya. Mereka baru saja membahas tentang sahabat mereka yang baru menikah hari ini. Dan mereka baru pulang dari menghadiri resepsinya. Di antara lingkaran pertemanan mereka, hanya Khai yang masih betah sendirian. Teman-teman se-geng mereka sudah menikah semua."Wanita yang kucintai sudah menikah," jawab Khai datar dengan tatapan dingin sambil mengembuskan asap rokok ke udara. Pria berahang tegas yang ditumbuhi cambang tipis itu menatap langit malam yang kelam. Sekelam sorot matanya.Edi menghela napas panjang, bersandar pada kursi kayu kafe outdoor yang cukup ramai malam itu. "Perempuan di dunia ini bukan cuma dia saja, Khai. Bumi nggak selebar daun kelor. Kenapa kamu nggak sedikit saja mempertimbangkan gadis yang hendak

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status