INICIAR SESIÓNAKAN KUTUNGGU
- 4 Kembali Terluka "Mama begitu akrabnya dengan Lara," seloroh Khai saat sang mama melangkah mendekatinya di lobi kantor. Pria itu baru saja mengamati dari kejauhan bagaimana Bu Juliana tertawa hangat bersama Lara, istri dari sepupunya Khai. Bu Juliana menghentikan langkah, menatap putranya yang berdiri tegap dalam balutan setelan kemeja hitam. Kedua tangan Khai terbenam di saku celananya, menonjolkan posturnya yang menjulang berwibawa. "Mama mau akrab dengan mantu perempuan juga belum punya. Sebab anakku yang paling gagah dan tampan ini masih sibuk dengan dunianya sendiri," sungut sang mama mendengkus halus, lalu melangkah pergi meninggalkan aroma parfum bunganya yang lembut. Wanita itu berbelok menuju lift VIP untuk menemui suaminya di lantai atas. Khai mematung. Kata-kata sang mama menggema di kepalanya. Di balik meja resepsionis, dua staf wanita mendadak kaku dan pura-pura sibuk menatap layar monitor. Telinga mereka mendengar dan saling melempar lirikan sarat arti. Namun tak satu pun dari mereka berani mendongak atau bertatap mata langsung dengan bos mudanya. Takut dikuliti hidup-hidup oleh sepasang manik cokelat gelap khas keturunan Mediterania yang siap mengintimidasi. Setelah membeku beberapa detik, Khai mengembuskan napas berat dan melangkah keluar menembus pintu kaca otomatis. Angin siang yang panas menyapa wajah berahang tegasnya saat mobil hitam mewah sudah siap menunggunya di drop-off zone. Siang ini, jadwal rapat bersama investor asing sudah menanti di kalendernya. Pintu kendaraan ditutup rapat, menyisakan keheningan dalam kabin yang sejuk. Sepanjang perjalanan membelah kemacetan kota, pikiran Khai mendadak melenceng jauh. Bayangan Nindiya kembali menyeruak tanpa permisi. Setiap kali mereka tanpa sengaja bertemu, wanita itu selalu mengambil jarak. Mantan kekasihnya itu tak pernah lagi bersikap ramah, mengikis habis jejak kehangatan yang dulu selalu tersisa untuknya. Namun naluri Khai menolak percaya. Ada retakan tak kasat mata pada raut wajah wanita itu yang tidak bisa dibohongi. Ada cemas yang disembunyikan dan luka yang diredam Khai dalam-dalam. Nindiya yang dikenalnya bukanlah sosok yang dingin dan penuh jarak. Dia periang dan cerdas. Dan hubungan mereka dulu begitu hangat. "Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku?" tanya Khai dalam hati sambil fokus pada kemudi dan jalanan kota Surabaya yang sibuk. Rahangnya mengeras. Sampai detik ini, teka-teki itu masih membelenggu dadanya. Ia tidak pernah benar-benar tahu alasan sebenarnya mengapa Nindiya memutuskan hubungan mereka secara sepihak dua tahun lalu, menyisakan kehampaan, lalu mendadak bersanding di pelaminan bersama Indra. Ada misteri yang belum terurai, dan Khai bersumpah tak akan berhenti sebelum menemukan kebenarannya. 🖤LS🖤 "Tapi kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Erni memperhatikan tubuh Nindiya. Saat itu mereka berdua sedang makan siang berdua di kafe yang tidak jauh kantor Erni. Nindiya menceritakan kejadian yang menimpanya tadi pagi. Termasuk cerita kalau Khai yang menolongnya. Dua wanita itu sudah bersahabat semenjak sama-sama duduk di bangku SMP. "Aku nggak apa-apa. Yang jelas kaget, Er. Tapi aku tenang karena bapak itu nggak apa-apa," jawab Nindiya sambil menyesap jus wortel. Erni menghela napas panjang. "Khai masih peduli padamu." "Dia hanya kebetulan lewat saja," sahut Nindiya pelan sambil membuang pandang ke luar kafe. Erni memperhatikan wajah yang tak bisa membohonginya. Raut wajah Nindiya menggambarkan kepedihan hatinya. Dua orang itu masih saling mencintai, tapi entahlah. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Nindiya selalu terbuka padanya. Selalu berbagi cerita tentang apapun. Bahkan tentang hubungannya dengan Indra sekarang ini. Namun ia bungkam tentang Khaisar Luca. Kalau ditanya hanya menjawab tidak ada apa-apa. "Aku dan Khai nggak berjodoh. Makanya aku menerima lamaran Indra, Er. Antara aku dan Khai sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi," jawab Nindiya dulu. "Suamimu tahu kalau kamu kena musibah?" "Tahu dari Nety." "Dia peduli?" "Dia menemuiku di kantor tadi." "Kamu akan bertahan seperti ini? Mau sampai kapan?" Nety menahan sebak dalam dadanya. Ia tahu, sikap Indra membuat Nindiya tidak bahagia dalam pernikahan mereka. Tapi ia heran, kenapa pria itu menikahi Nindiya? Sebenarnya ada misteri apa di lingkungan orang-orang kelas atas itu. "Nin." "Aku nggak mikir ini sampai kapan. Aku jalani saja, Net." Nindiya menjawab dengan nada datar. Namun sarat akan beban yang tersimpan. "Kamu tersenyum pada semua orang, tapi kamu lupa tersenyum pada dirimu sendiri." Hening. Ucapan Nety mengena di hati Nindiya. Temannya itu benar. Jika dalam kesendirian, yang ada hanya perih yang menyayat hati. Dan seakan ia tidak punya pilihan untuk mengambil keputusan pergi. "Ayo, kita pulang. Sudah hampir senja," ajak Nindiya sambil meraih tali tasnya. Nety bangkit juga dari duduknya. Mereka keluar beriringan dan masuk ke mobil. Nindiya akan mengantarkan sahabatnya pulang. 🖤LS🖤 Nindiya yang baru selesai mandi, menoleh saat pintu kamar terbuka perlahan. Indra melangkah masuk dengan wajah tampannya yang tampak letih. "Kubuatin teh sekalian nyiapin makan malam, Mas?" ujar Nindiya seraya bangkit dari duduknya. Indra memijat pangkal hidungnya sambil duduk di tepi pembaringan. "Minta tolong buatkan wedang jahe panas saja, Nin. Tenggorokanku gatal, badanku rasanya meriang." "Oke." Nidiya melangkah keluar kamar. Menuruni tangga menuju dapur. Ia merajang jahe lalu merebusnya bersama gula jawa hingga aroma rempah yang hangat memenuhi ruangan. Di meja makan, ia menata lauk sederhana yang tadi dimasak oleh pembantu paruh waktu. Indra menyusul tak lama kemudian, mengambil tempat duduk di hadapan Nindiya. Suasana makan malam berlangsung dalam hening, hanya diselingi denting sendok yang beradu dengan piring. "Dari sore tadi kepalaku sudah mulai berat," keluh Indra. Dia tak lagi menanyakan kecelakaan yang menimpa istrinya tadi pagi. "Habiskan makanannya, lalu langsung minum obat," tutur Nindiya menatap suaminya sekilas. Beberapa saat setelah selesai makan mereka ke kamar. Dengan telaten, jemari lentiknya membaluri punggung dan dada sang suami menggunakan minyak kayu putih, membiarkan aroma hangatnya meresap ke kulit. Lalu memberikan sebutir obat penurun panas dan segelas air putih. "Sekarang istirahat saja. Jangan main ponsel dulu." Indra mengangguk lantas memejamkan mata di balik selimut tebal. Namun saat jarum jam menunjuk angka setengah sepuluh malam. Ponsel Indra di atas nakas bergetar nyaring. Pria itu terbangun seketika dan meraih ponselnya. Layar menyala menampilkan satu nama. Begitu panggilan diangkat, suara kepanikan histeris terdengar samar dari seberang. Seketika rasa sakit di tubuh Indra seolah menguap. Pria itu terburu-buru bangun dari pembaringan, menyambar jaket di atas kursi tanpa peduli tubuhnya yang masih teraba hangat oleh demam. "Mau ke mana, Mas? Kamu kan sedang sakit," tanya Nindiya pelan, duduk kaku di tepi ranjang. "Aku harus pergi sebentar, Nin," sahut Indra panik sambil menautkan resleting jaketnya dengan jemari yang agak gemetar. "Cinda telepon. Dia bilang ada orang asing yang gedor-gedor pintu apartemennya. Mantannya mengacaunya lagi." Nindiya kaget dengan tubuh yang gemetar. Lalu menyunggingkan senyum pahit sambil membuang pandang ke arah sudut kamar yang temaram. Dulu ketika dirinya berada dalam ancaman bahaya saat rumah mereka disatroni orang gila, Indra justru meremehkannya dan menudingnya berlebihan. Kini di saat tubuhnya sendiri sedang demam, panggilan dari Cinda sanggup membuatnya berpacu dengan waktu tanpa ragu. Inikah yang dinamakan demi sepupu? Next ....AKAN KUTUNGGU- 5 Demi Perempuan Itu "Nin, aku pergi dulu." Indra berhenti di pintu dan menoleh karena sang istri belum menjawab ucapannya. "Terserah kamu, Mas," jawab Nindiya sambil memejam. Ia enggan sekadar mengalihkan pandangan untuk menatap punggung pria itu meski hanya sejenak.Indra menutup pintu lantas melangkah cepat menuruni tangga. Bersamaan dengan itu air mata Nindiya luruh tak terbendung. Rasa sakit kembali menghujam dadanya begitu dalam. Suaminya lupa menanyakan keadaannya paska terjadi srempetan tadi pagi, tapi dia begitu tergesa saat mendengar Cinda dalam masalah. Begitu ya? Nindiya menarik napas dalam-dalam sambil mengubah posisi. Memandang langit-langit kamar yang temaram."Mereka nggak ada hubungan apa-apa, Nin. Percaya sama Mama. Indra hanya kasihan pada Cinda saja," begitulah mama mertuanya selalu menenangkannya tiap kali ia mempertanyakan kedekatan sang suami dengan sepupunya itu. Wanita paruh baya itu selalu meyakinkan bahwa ikatan di antara Indra dan Cind
AKAN KUTUNGGU - 4 Kembali Terluka"Mama begitu akrabnya dengan Lara," seloroh Khai saat sang mama melangkah mendekatinya di lobi kantor. Pria itu baru saja mengamati dari kejauhan bagaimana Bu Juliana tertawa hangat bersama Lara, istri dari sepupunya Khai.Bu Juliana menghentikan langkah, menatap putranya yang berdiri tegap dalam balutan setelan kemeja hitam. Kedua tangan Khai terbenam di saku celananya, menonjolkan posturnya yang menjulang berwibawa."Mama mau akrab dengan mantu perempuan juga belum punya. Sebab anakku yang paling gagah dan tampan ini masih sibuk dengan dunianya sendiri," sungut sang mama mendengkus halus, lalu melangkah pergi meninggalkan aroma parfum bunganya yang lembut. Wanita itu berbelok menuju lift VIP untuk menemui suaminya di lantai atas.Khai mematung. Kata-kata sang mama menggema di kepalanya. Di balik meja resepsionis, dua staf wanita mendadak kaku dan pura-pura sibuk menatap layar monitor. Telinga mereka mendengar dan saling melempar lirikan sarat arti.
AKAN KUTUNGGU - 3 Kecewa "Berapa harus kubayar? Aku nggak ingin berhutang sama kamu." Nindiya menghampiri Khaisar yang menyusulnya ke kantor polisi.Mendengar ucapan itu, Khai tersenyum samar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Ia berdiri tegak di depan Nindiya. "Bagaimana urusan kantor polisi?""Akan kuselesaikan sendiri. Bagaimana keadaan Bapak tadi?" tanya Nindiya dengan sikap angkuh. Meski dari lubuk hati terdalam, jiwanya berontak. Sedih. Kenapa Khai tetap bersikap baik padanya. Kenapa tiap ada kesulitan, pria itu yang membantunya. Bukan Indra. Kenapa Khai tak menjauh saja dan membencinya. Bukankah dirinya sudah dicap sebagai perempuan pengkhianat?"Bapak itu sudah pulang dijemput keluarganya. Beliau tidak mengalami cedera yang serius kata dokter. Aku sudah memberinya uang, termasuk untuk memperbaiki motornya. Bapak itu bilang kalau memang dirinya yang salah.""Akan kuganti semuanya. Berapa?" Nindiya gugup sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ia membuk
AKAN KUTUNGGU- 2 Bau Busuk"Siapa perempuan yang bersamanya itu?" tanya Edi."Sepupunya," jawab Khai pendek. Rahang tegasnya masih mengeras dengan tatapan tajam seakan menembus kaca hingga ke dalam sana. "Sepupu? Kenapa sikap mereka keliatan beda gitu." Insting Edi bekerja dan cukup peka.Khai tersenyum sinis.Di balik jendela besar kafe, tampak Indra suami Nindiya sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Mereka ngobrol begitu akrab dan tak seperti sepupu yang sewajarnya."Apa mereka selingkuh?" Edi memastikan, tatapannya masih ke dalam.Khai mengisap kembali rokoknya. Sorot mata tajamnya berkilat sangat berbahaya karena amarah. "Menurutmu bagaimana?" tanya Khai balik."Terasa ganjil kalau akrabnya beda gitu. Apa kira-kira Nindi tahu hal itu?" tanya Edi lagi."Aku tak tahu." Ia memang tidak tahu apakah Nindiya sudah mengendus kebusukan suaminya atau belum. Namun tangan besarnya di atas meja kini mengepal kuat. Amarah yang bergemuruh di dadanya terasa begitu panas. Pria yang di
AKAN KUTUNGGU - 1 Patah Hati "Kenapa kamu bilang nggak ada pikiran untuk menikah? Rugi Bro, ketampanan dan kegagahanmu nggak berfungsi, sia-sia. Kekayaanmu juga untuk siapa. Ayolah, banyak yang mengantri untukmu," ujar Edi pada sahabat baik yang duduk merokok di depannya. Mereka baru saja membahas tentang sahabat mereka yang baru menikah hari ini. Dan mereka baru pulang dari menghadiri resepsinya. Di antara lingkaran pertemanan mereka, hanya Khai yang masih betah sendirian. Teman-teman se-geng mereka sudah menikah semua."Wanita yang kucintai sudah menikah," jawab Khai datar dengan tatapan dingin sambil mengembuskan asap rokok ke udara. Pria berahang tegas yang ditumbuhi cambang tipis itu menatap langit malam yang kelam. Sekelam sorot matanya.Edi menghela napas panjang, bersandar pada kursi kayu kafe outdoor yang cukup ramai malam itu. "Perempuan di dunia ini bukan cuma dia saja, Khai. Bumi nggak selebar daun kelor. Kenapa kamu nggak sedikit saja mempertimbangkan gadis yang hendak







