Home / Romansa / AKAN KUTUNGGU / 4. Kembali Terluka

Share

4. Kembali Terluka

last update publish date: 2026-08-28 20:23:54

AKAN KUTUNGGU

- 4 Kembali Terluka

"Mama begitu akrabnya dengan Lara," seloroh Khai saat sang mama melangkah mendekatinya di lobi kantor. Pria itu baru saja mengamati dari kejauhan bagaimana Bu Juliana tertawa hangat bersama Lara, istri dari sepupunya Khai.

Bu Juliana menghentikan langkah, menatap putranya yang berdiri tegap dalam balutan setelan kemeja hitam. Kedua tangan Khai terbenam di saku celananya, menonjolkan posturnya yang menjulang berwibawa.

"Mama mau akrab dengan mantu perempuan juga belum punya. Sebab anakku yang paling gagah dan tampan ini masih sibuk dengan dunianya sendiri," sungut sang mama mendengkus halus, lalu melangkah pergi meninggalkan aroma parfum bunganya yang lembut. Wanita itu berbelok menuju lift VIP untuk menemui suaminya di lantai atas.

Khai mematung. Kata-kata sang mama menggema di kepalanya. Di balik meja resepsionis, dua staf wanita mendadak kaku dan pura-pura sibuk menatap layar monitor. Telinga mereka mendengar dan saling melempar lirikan sarat arti. Namun tak satu pun dari mereka berani mendongak atau bertatap mata langsung dengan bos mudanya. Takut dikuliti hidup-hidup oleh sepasang manik cokelat gelap khas keturunan Mediterania yang siap mengintimidasi.

Setelah membeku beberapa detik, Khai mengembuskan napas berat dan melangkah keluar menembus pintu kaca otomatis. Angin siang yang panas menyapa wajah berahang tegasnya saat mobil hitam mewah sudah siap menunggunya di drop-off zone. Siang ini, jadwal rapat bersama investor asing sudah menanti di kalendernya.

Pintu kendaraan ditutup rapat, menyisakan keheningan dalam kabin yang sejuk. Sepanjang perjalanan membelah kemacetan kota, pikiran Khai mendadak melenceng jauh. Bayangan Nindiya kembali menyeruak tanpa permisi.

Setiap kali mereka tanpa sengaja bertemu, wanita itu selalu mengambil jarak. Mantan kekasihnya itu tak pernah lagi bersikap ramah, mengikis habis jejak kehangatan yang dulu selalu tersisa untuknya. Namun naluri Khai menolak percaya. Ada retakan tak kasat mata pada raut wajah wanita itu yang tidak bisa dibohongi. Ada cemas yang disembunyikan dan luka yang diredam Khai dalam-dalam. Nindiya yang dikenalnya bukanlah sosok yang dingin dan penuh jarak. Dia periang dan cerdas. Dan hubungan mereka dulu begitu hangat.

"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku?" tanya Khai dalam hati sambil fokus pada kemudi dan jalanan kota Surabaya yang sibuk.

Rahangnya mengeras. Sampai detik ini, teka-teki itu masih membelenggu dadanya. Ia tidak pernah benar-benar tahu alasan sebenarnya mengapa Nindiya memutuskan hubungan mereka secara sepihak dua tahun lalu, menyisakan kehampaan, lalu mendadak bersanding di pelaminan bersama Indra. Ada misteri yang belum terurai, dan Khai bersumpah tak akan berhenti sebelum menemukan kebenarannya.

🖤LS🖤

"Tapi kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Erni memperhatikan tubuh Nindiya. Saat itu mereka berdua sedang makan siang berdua di kafe yang tidak jauh kantor Erni. Nindiya menceritakan kejadian yang menimpanya tadi pagi. Termasuk cerita kalau Khai yang menolongnya.

Dua wanita itu sudah bersahabat semenjak sama-sama duduk di bangku SMP.

"Aku nggak apa-apa. Yang jelas kaget, Er. Tapi aku tenang karena bapak itu nggak apa-apa," jawab Nindiya sambil menyesap jus wortel.

Erni menghela napas panjang. "Khai masih peduli padamu."

"Dia hanya kebetulan lewat saja," sahut Nindiya pelan sambil membuang pandang ke luar kafe. Erni memperhatikan wajah yang tak bisa membohonginya. Raut wajah Nindiya menggambarkan kepedihan hatinya. Dua orang itu masih saling mencintai, tapi entahlah. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Nindiya selalu terbuka padanya. Selalu berbagi cerita tentang apapun. Bahkan tentang hubungannya dengan Indra sekarang ini. Namun ia bungkam tentang Khaisar Luca. Kalau ditanya hanya menjawab tidak ada apa-apa. "Aku dan Khai nggak berjodoh. Makanya aku menerima lamaran Indra, Er. Antara aku dan Khai sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi," jawab Nindiya dulu.

"Suamimu tahu kalau kamu kena musibah?"

"Tahu dari Nety."

"Dia peduli?"

"Dia menemuiku di kantor tadi."

"Kamu akan bertahan seperti ini? Mau sampai kapan?" Erni menahan sebak dalam dadanya. Ia tahu, sikap Indra membuat Nindiya tidak bahagia dalam pernikahan mereka. Tapi ia heran, kenapa pria itu menikahi Nindiya? Sebenarnya ada misteri apa di lingkungan orang-orang kelas atas itu.

"Nin."

"Aku nggak mikir ini sampai kapan. Aku jalani saja, Net." Nindiya menjawab dengan nada datar. Namun sarat akan beban yang tersimpan.

"Kamu tersenyum pada semua orang, tapi kamu lupa tersenyum pada dirimu sendiri."

Hening. Ucapan Erni mengena di hati Nindiya. Temannya itu benar. Jika dalam kesendirian, yang ada hanya perih yang menyayat hati. Dan seakan ia tidak punya pilihan untuk mengambil keputusan pergi.

"Ayo, kita pulang. Sudah hampir senja," ajak Nindiya sambil meraih tali tasnya. Erni bangkit juga dari duduknya. Mereka keluar beriringan dan masuk ke mobil. Nindiya akan mengantarkan sahabatnya pulang.

🖤LS🖤

Nindiya yang baru selesai mandi, menoleh saat pintu kamar terbuka perlahan. Indra melangkah masuk dengan wajah tampannya yang tampak letih.

"Kubuatin teh sekalian nyiapin makan malam, Mas?" ujar Nindiya seraya bangkit dari duduknya.

Indra memijat pangkal hidungnya sambil duduk di tepi pembaringan. "Minta tolong buatkan wedang jahe panas saja, Nin. Tenggorokanku gatal, badanku rasanya meriang."

"Oke." Nidiya melangkah keluar kamar. Menuruni tangga menuju dapur. Ia merajang jahe lalu merebusnya bersama gula jawa hingga aroma rempah yang hangat memenuhi ruangan. Di meja makan, ia menata lauk sederhana yang tadi dimasak oleh pembantu paruh waktu.

Indra menyusul tak lama kemudian, mengambil tempat duduk di hadapan Nindiya. Suasana makan malam berlangsung dalam hening, hanya diselingi denting sendok yang beradu dengan piring.

"Dari sore tadi kepalaku sudah mulai berat," keluh Indra. Dia tak lagi menanyakan kecelakaan yang menimpa istrinya tadi pagi.

"Habiskan makanannya, lalu langsung minum obat," tutur Nindiya menatap suaminya sekilas.

Beberapa saat setelah selesai makan mereka ke kamar. Dengan telaten, jemari lentiknya membaluri punggung dan dada sang suami menggunakan minyak kayu putih, membiarkan aroma hangatnya meresap ke kulit. Lalu memberikan sebutir obat penurun panas dan segelas air putih. "Sekarang istirahat saja. Jangan main ponsel dulu."

Indra mengangguk lantas memejamkan mata di balik selimut tebal. Namun saat jarum jam menunjuk angka setengah sepuluh malam. Ponsel Indra di atas nakas bergetar nyaring. Pria itu terbangun seketika dan meraih ponselnya. Layar menyala menampilkan satu nama. Begitu panggilan diangkat, suara kepanikan histeris terdengar samar dari seberang.

Seketika rasa sakit di tubuh Indra seolah menguap. Pria itu terburu-buru bangun dari pembaringan, menyambar jaket di atas kursi tanpa peduli tubuhnya yang masih teraba hangat oleh demam.

"Mau ke mana, Mas? Kamu kan sedang sakit," tanya Nindiya pelan, duduk kaku di tepi ranjang.

"Aku harus pergi sebentar, Nin," sahut Indra panik sambil menautkan resleting jaketnya dengan jemari yang agak gemetar. "Cinda telepon. Dia bilang ada orang asing yang gedor-gedor pintu apartemennya. Mantannya mengacaunya lagi."

Nindiya kaget dengan tubuh yang gemetar. Lalu menyunggingkan senyum pahit sambil membuang pandang ke arah sudut kamar yang temaram. Dulu ketika dirinya berada dalam ancaman bahaya saat rumah mereka disatroni orang gila, Indra justru meremehkannya dan menudingnya berlebihan. Kini di saat tubuhnya sendiri sedang demam, panggilan dari Cinda sanggup membuatnya berpacu dengan waktu tanpa ragu.

Inikah yang dinamakan demi sepupu?

Next ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Leli Novita
Semoga Nindya segera berpisah dari Indra...
goodnovel comment avatar
thoriq fikri
sepupu rasa kekasih ini...
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
lalu kenapa masih bertahan?? ada rahasia apakah ?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • AKAN KUTUNGGU   129. Malam 3

    Itu adalah penyesalan terdalam dalam hidup Indra. Dulu ia terlalu buta oleh ego dan godaan luar hingga mengabaikan kerapuhan istrinya. "Andai saja anak itu hadir dan selamat, pasti hubungan kami masih bisa diselamatkan. Nindiya pasti bersedia memaafkanku demi anak kami," batinnya meraung hampa.Namun benaknya mendadak menangkap satu hal yang mengusik. Nindiya pasti sudah sadar kalau dirinya sedang hamil saat proses perceraian mereka bergulir di Pengadilan Agama. Namun wanita itu memilih bungkam, tidak memberitahunya, dan sama sekali tak berniat mencabut gugatan. Nindiya justru membiarkan persidangan yang melelahkan itu berlanjut hingga tujuh kali sidang sampai ketukan palu hakim resmi memutus hubungan pernikahan mereka.Indra menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya. Sebuah ironi yang menyiksa. Kenapa rasa cintanya pada Nindiya justru kian menggila dan membakar jiwanya saat wanita itu benar-benar telah pergi."Lalu bagaimana sekarang dengan Cinda?" tanya Hari memecah keheningan

  • AKAN KUTUNGGU   128. Malam 2

    Padahal sejak awal mereka telah sepakat untuk menunda momongan selama satu tahun ke depan. Hal itu demi memulihkan kondisi fisik Nindiya pasca keguguran, memberi ruang baginya untuk kembali merintis karier, serta menjaga kerahasiaan pernikahan mereka untuk sementara.Begitu keheningan kembali menyergap ruangan, Nindiya yang baru tersadar langsung berbisik parau. "Mas, aku ke kamar mandi sebentar, ya."Padahal Khaisar masih ingin merengkuh dan mendekap tubuh istrinya. Namun Nindiya dengan tergesa meraih pakaian di lantai, mengenakannya seadanya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.Beberapa menit berlalu, Nindiya belum juga keluar. Khaisar mulai merasa khawatir. Dengan cemas, ia turun dari pembaringan tanpa mengenakan atasan dan mengetuk pintu itu. "Honey, kamu tidak apa-apa?" teriak Khaisar dari luar."Aku tidak apa-apa, Mas! Ini aku mau keluar," sahut Nindiya dari dalam.Pintu terkuak pelan. Dua pasang mata itu saling bertumpu tepat di ambang pintu. Nindiya sempat terpana menden

  • AKAN KUTUNGGU   127. Malam 1

    AKAN KUTUNGGU- 48 Malam Deluxe room itu menjadi satu-satunya kamar yang bisa dipesan dadakan sore tadi oleh Khaisar. Sebuah jendela kaca berukuran besar membentang langsung menghadap ke arah pantai. Di dalam ruangan, hembusan pendingin udara bekerja maksimal membalut kehangatan pasangan yang baru saja mengikat janji suci.Usai merampungkan salat Isya berdua, Nindiya melangkah mendekati jendela kaca. Di bawah sana, pendar lampu-lampu taman dan dermaga kelap-kelip begitu indah menembus pekatnya malam.Khaisar baru saja hendak melangkah mendekatinya ketika dering ponsel di atas meja menghentikan. Nama mamanya tertera di layar. Sebelum menggeser tombol hijau, Khaisar sempat bertukar pandang dengan Nindiya sejenak."Halo, Ma," sapa Khaisar tenang."Where are you, Khai? Di telepon dari tadi malam tidak diangkat. Pagi tadi malah mematikan ponsel. Mama khawatir," cecar Bu Juliana dari seberang sana dengan nada gusar campur cemas."Aku baik-baik saja, Ma. Tidak perlu khawatir," balas Khaisar

  • AKAN KUTUNGGU   126. Ikatan 3

    "Pasti, Pak. Saya janji akan menjaga Nin dengan seluruh hidup saya," jawab Khaisar mantap, menyalami dan mencium tangan bapak mertuanya penuh hormat. Setelah prosesi akad usai dan para undangan dipersilakan menikmati hidangan sederhana yang disajikan, keluarga inti Nindiya bersama keluarga Rio berkumpul di depan pelaminan kecil untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka melalui kamera pribadi. Senyum bahagia akhirnya terbit sempurna di wajah Khaisar dan Nindiya. Dua hati yang kini telah resmi menyatu dalam ikatan suci. 🖤LS🖤 Setelah setengah hari dihabiskan bersama keluarga, menjelang sorenya Khaisar dan Nindiya bersiap untuk keluar. Mereka akan ke pantai Matras. Jaraknya sekitar tujuh kilometer dari rumah Nila. "Kalian mau menginap di sana malam ini?" tanya Nila lirih pada adiknya. "Mas Khai nggak bilang ngajak nginap, Mbak." "Oke, bawa ini. Hadiah dari Mbak." Nindiya memegang pemberian kakaknya yang masih terbungkus rapi di dalam goodie bag lalu membawanya ke kamar.

  • AKAN KUTUNGGU   125. Ikatan 2

    MUA langganan Nila juga telah datang sejak habis subuh. Sepasang busana pengantin adat Jawa berwarna putih bersih yang dipesan Nila ternyata sangat pas di tubuh kedua calon mempelai. Hanya saja, kebaya yang dikenakan Nindiya terasa sedikit longgar di bagian pinggang."Kamu agak kurusan ya, Nin?" tanya Nila seraya merapikan lipatan kain kebaya di punggung adiknya.Nindiya menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. "Iya, Mbak. Bobotku turun dua kilo belakangan ini.""Nanti setelah nikah harus digemukkan lagi sedikit. Biar kelihatan lebih segar dan berisi," saran Nila.Bu Mira yang menghampiri ikut menimpali sambil mengelus bahu putrinya. "Adikmu ini memang sering sekali begadang kalau malam, La. Lagi ngebut menyelesaikan desain-desain bajunya sampai lupa waktu.""Mbak tahu kamu sedang memulai semuanya, Nin. Tapi tetap tahu waktu. Semoga kamu sukses dengan apa yang telah kamu rencanakan.""Aamiin. Makasih, Mbak." Nindiya membalas tatapan kakaknya dengan lembut.Sementara itu di kamar

  • AKAN KUTUNGGU   124. Ikatan 1

    AKAN KUTUNGGU- 47 Ikatan Pesawat terbang dari Bandara Juanda tepat pukul 18.00 WIB. Dari dalam kabin pesawat, Nindiya memandangi pendar lampu Kota Surabaya yang perlahan mengecil di balik jendela."Kita mungkin baru sampai di sana tengah malam, Mas. Belum tahu berapa lama kita transit di Jakarta nanti. Waktu Ibu terbang kemarin, sampai di Bandara Depati Amir sudah jam satu siang karena lamanya transit," kata Nindiya memandang pria di sampingnya.Khaisar tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nin. Ini akan menjadi perjalanan panjang kita."Dada Nindiya berdebar. Memikirkan betapa ajaibnya takdir membawanya kembali pada Khaisar. Pria yang harus ia lupakan semenjak ia memutuskannya. Mengingat begitu banyak yang mereka lalui, membuat sekujur tubuh Nindiya terasa panas dingin oleh debar membuncah. Demi bisa bersama, mereka harus menikah di tempat yang jauh dari Surabaya. Melakukan perjalanan panjang.Dari Surabaya memang tidak ada jalur penerbangan langsung menuju Pulau Bangka. Mereka harus tr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status