INICIAR SESIÓNAKAN KUTUNGGU
- 5 Demi Perempuan Itu "Nin, aku pergi dulu." Indra berhenti di pintu dan menoleh karena sang istri belum menjawab ucapannya. "Terserah kamu, Mas," jawab Nindiya sambil memejam. Ia enggan sekadar mengalihkan pandangan untuk menatap punggung pria itu meski hanya sejenak. Indra menutup pintu lantas melangkah cepat menuruni tangga. Bersamaan dengan itu air mata Nindiya luruh tak terbendung. Rasa sakit kembali menghujam dadanya begitu dalam. Suaminya lupa menanyakan keadaannya paska terjadi srempetan tadi pagi, tapi dia begitu tergesa saat mendengar Cinda dalam masalah. Begitu ya? Nindiya menarik napas dalam-dalam sambil mengubah posisi. Memandang langit-langit kamar yang temaram. "Mereka nggak ada hubungan apa-apa, Nin. Percaya sama Mama. Indra hanya kasihan pada Cinda saja," begitulah mama mertuanya selalu menenangkannya tiap kali ia mempertanyakan kedekatan sang suami dengan sepupunya itu. Wanita paruh baya itu selalu meyakinkan bahwa ikatan di antara Indra dan Cinda tak pernah lebih dari sebatas saudara. Bu Cahya, mama mertuanya kerap mengelus punggung Nindiya penuh rasa sayang sambil mendoakan. "Semoga kalian segera diberikan momongan lagi ya, Nin. Semoga kalian segera mendapatkan gantinya setelah keguguran." Nindiya memang keguguran lima bulan yang lalu. Namun benteng kepercayaan Nindiya hancur saat sebuah ketidaksengajaan membongkar segalanya minggu lalu. Di balik pintu ruang kerja yang renggang, Nindiya mendengar sendiri bagaimana Bu Cahya menegur putranya dengan suara bergetar menahan amarah. "Jaga jarak dari Cinda, Indra. Nggak usah berlebihan seperti ini. Kamu sudah punya istri, jaga perasaan Nindiya." Bu Cahya marah besar hari itu pada putra bungsunya. Wanita itu memang teramat baik dan adil. Tidak peduli pada anak sendiri, kalau salah pasti dimarahi. Namun kemarahan sang mertua justru menjadi konfirmasi paling pahit bagi Nindiya. Seakan memberikan petunjuk, bahwa memang ada sesuatu di antara Indra dan Cinda seperti yang ia duga. Meski suaminya mengelak. Entah jam berapa Nindiya baru bisa terlelap. Dan saat itu suaminya belum juga pulang. Saat Nindiya terbangun untuk menunaikan salat Subuh, tubuh tinggi Indra sudah terbaring di sebelahnya. Pria itu tidur begitu pulas dengan deru napas yang teratur. Entah pukul berapa ia kembali dari apartemen sepupunya itu. Tanpa niat sedikit pun untuk memeriksa apakah tubuh suaminya masih demam atau tidak, Nindiya langsung menyibak selimut dan turun dari pembaringan. Usai salat subuh, Nindiya melangkah ke dapur yang sepi. Ia meracik sarapan sekadarnya. Membuat nasi goreng. Jam tujuh pagi nanti, ART paruh waktu baru datang untuk membersihkan rumah dan memasak. Tanpa berniat membangunkan suaminya, Nindiya segera bersiap untuk pergi. Hari ini ia akan mengantarkan mobilnya ke bengkel untuk perbaikan akibat bekas benturan keras di bagian depan atas ban sebelah kanan. Suasana rumah sudah sepi ketika Indra melenguh dan membuka matanya yang berat. Samar-samar aroma parfumnya Nindiya masih tertinggal lembut di dalam kamar, membelai indra penciumannya yang tersumbat. Di atas meja rias ada segelas wedang jahe yang sudah hangat. "Jam berapa sekarang?" gumam Indra serak. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha menfokuskan pandangan pada jam dinding di tembok depannya. Pukul tujuh lebih seperempat. Indra mengerang pelan, bangkit dari pembaringan dengan seluruh sendi yang terasa pegal. Efek meriang belum hilang. Setelah menyeruput wedang jahe, ia beranjak untuk turun ke dapur. "Buk Sum, Mbak Nin berangkat jam berapa?" ART yang hendak mengurus cucian baju itu menoleh. "Wah, kurang tahu pasti, Mas. Waktu Saya sampai sini jam tujuh pas, Mbak Nindiya sudah nggak tidak di rumah. Mobilnya juga sudah tidak ada di garasi." Indra memijat pelipisnya yang mendenyut tajam. Kepala bahagian belakangnya terasa dipukul-pukul. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan ponselnya. Panggilan pertama. Nada sambung berdering panjang, tapi tak ada tanggapan. Panggilan kedua tetap sama. Panggilan ketiga masih hening. "Kenapa nggak diangkat," desis Indra kesal, melemparkan ponselnya ke atas meja makan hingga menimbulkan bunyi benturan yang nyaring. Rasa bersalah yang sempat merayap di dadanya kini menguap, berganti menjadi kejengkelan yang menyulut emosi. 🖤LS🖤 "Nin, kenapa mobilmu? Nabrak apa itu," seloroh Bu Mira sambil memperhatikan bagian depan mobil anaknya. Saat pagi itu Nindiya mampir ke rumah orang tuanya. Kebetulan sang ibu sedang menyapu di halaman rumah. "Hanya benturan kecil, Bu. Nanti mau kubawa ke bengkel." "Kamu sudah sarapan?" "Aku bawa bekal. Nanti kumakan di butik." Nindiya melangkah dan duduk di teras. Bu Mira mengikuti. "Ada apa, kamu kelihatan suntuk begitu." Nindiya tersenyum samar. Dia memang tidak pernah menceritakan bagaimana keresahan hatinya. Tentang Indra dan rumah tangganya. Sebab ayahnya sedang sakit. Jangan sampai permasalahannya bisa mengejutkan dan memperparah sakit sang ayah. "Kemarin waktu ibu nganterin ayahmu check up ke dokter di klinik, dompet ibu terjatuh, Nin. Ibu nyadarnya waktu mau bayar. Eh, ternyata dompet sudah nggak ada." "Lalu ...." Nindiya terlihat cemas. Bu Mira diam beberapa saat, baru memandang Nindiya. "Waktu Ibu panik, Khaisar menghampiri dan membayarnya. Kebetulan dia ada di sana, hendak menyambagi rekannya yang opname. Ibu bilang kalau nanti uangnya mau Ibu ganti, dia bilang tidak perlu." Hening. Ibu dan anak itu saling pandang sejenak. Mata mereka sama-sama menyiratkan luka. Bagi Bu Mira, Khaisar adalah pria yang baik. Meski sudah putus dari Nindiya, pria itu tetap baik dan ramah saat tak sengaja bertemu dirinya dan sang suami. "Berapa uang Khaisar yang dipakai untuk menebus obat Ayah?" Bu Mira menyebutkan nominal. Kemudian mereka kembali hening. "Dompet apa yang hilang? Apa disitu ada surat atau kartu penting milik Ibu?" Nindiya buru-buru menepis keheningan sejenak tadi. "Alhamdulillah. Nggak ada. Itu dompet berisi uang saja. Tapi sudah hilang. Nggak apa-apa Ibu ikhlas." "Nanti kuganti uang punya Ibu." "Nggak usah. Masmu sudah ngirim uang kemarin sore." "Baiklah. Aku mau ketemu Ayah, Bu." Nindiya masuk ke rumah. Bu Mira melangkah mengikuti. Sejak Pak Tirto pensiun dan usaha dagang mereka mulai menurun, kehidupan keluarga Nindiya tak seperti dulu lagi. Terlebih ayahnya sekarang sakit-sakitan dan butuh pengobatan secara berkelanjutan. Setelah melihat kondisi sang ayah dan ngobrol sejenak, Nindiya pamitan. Dia hendak ke bengkel dulu sebelum ke butik. 🖤LS🖤 "Net, ponsel butik mana. Saya pinjam sebentar. Belum live, kan?" Nindiya menghampiri orang kepercayaannya yang sedang bersiap-siap untuk promosi di media sosial. "Belum, Mbak. Lima belas menit lagi. Ini." Nety menyodorkan ponsel pada Nindiya. Wanita itu melangkah keluar butik untuk menelepon. Ia menekan nomer yang masih dihafalnya. "Halo, selamat pagi." Terdengar suara Khaisar di seberang. Membuat dada Nindiya berdebar. "Pagi, Mas. Aku mau ngembaliin uang yang kamu pakai untuk membayar obat ayahku di klinik." "Tak perlu, Nin." Pria di seberang langsung mengenali suaranya. "Kirimkan nomer rekening, Mas. Biar aku transfer," desak Nindiya. "Tidak usah." Khaisar bicara tegas. "Aku nggak mau dikira manfaatin kamu. Kemarin kamu sudah nolongin aku juga. Aku nggak ingin mendengar kata-kata itu lagi." "Siapa yang bilang kamu manfaatin aku? Aku tidak pernah bicara seperti itu." Suara di seberang terdengar lebih keras. "Nin, bilang siapa yang bicara seperti itu?" Next ....AKAN KUTUNGGU- 5 Demi Perempuan Itu "Nin, aku pergi dulu." Indra berhenti di pintu dan menoleh karena sang istri belum menjawab ucapannya. "Terserah kamu, Mas," jawab Nindiya sambil memejam. Ia enggan sekadar mengalihkan pandangan untuk menatap punggung pria itu meski hanya sejenak.Indra menutup pintu lantas melangkah cepat menuruni tangga. Bersamaan dengan itu air mata Nindiya luruh tak terbendung. Rasa sakit kembali menghujam dadanya begitu dalam. Suaminya lupa menanyakan keadaannya paska terjadi srempetan tadi pagi, tapi dia begitu tergesa saat mendengar Cinda dalam masalah. Begitu ya? Nindiya menarik napas dalam-dalam sambil mengubah posisi. Memandang langit-langit kamar yang temaram."Mereka nggak ada hubungan apa-apa, Nin. Percaya sama Mama. Indra hanya kasihan pada Cinda saja," begitulah mama mertuanya selalu menenangkannya tiap kali ia mempertanyakan kedekatan sang suami dengan sepupunya itu. Wanita paruh baya itu selalu meyakinkan bahwa ikatan di antara Indra dan Cind
AKAN KUTUNGGU - 4 Kembali Terluka"Mama begitu akrabnya dengan Lara," seloroh Khai saat sang mama melangkah mendekatinya di lobi kantor. Pria itu baru saja mengamati dari kejauhan bagaimana Bu Juliana tertawa hangat bersama Lara, istri dari sepupunya Khai.Bu Juliana menghentikan langkah, menatap putranya yang berdiri tegap dalam balutan setelan kemeja hitam. Kedua tangan Khai terbenam di saku celananya, menonjolkan posturnya yang menjulang berwibawa."Mama mau akrab dengan mantu perempuan juga belum punya. Sebab anakku yang paling gagah dan tampan ini masih sibuk dengan dunianya sendiri," sungut sang mama mendengkus halus, lalu melangkah pergi meninggalkan aroma parfum bunganya yang lembut. Wanita itu berbelok menuju lift VIP untuk menemui suaminya di lantai atas.Khai mematung. Kata-kata sang mama menggema di kepalanya. Di balik meja resepsionis, dua staf wanita mendadak kaku dan pura-pura sibuk menatap layar monitor. Telinga mereka mendengar dan saling melempar lirikan sarat arti.
AKAN KUTUNGGU - 3 Kecewa "Berapa harus kubayar? Aku nggak ingin berhutang sama kamu." Nindiya menghampiri Khaisar yang menyusulnya ke kantor polisi.Mendengar ucapan itu, Khai tersenyum samar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Ia berdiri tegak di depan Nindiya. "Bagaimana urusan kantor polisi?""Akan kuselesaikan sendiri. Bagaimana keadaan Bapak tadi?" tanya Nindiya dengan sikap angkuh. Meski dari lubuk hati terdalam, jiwanya berontak. Sedih. Kenapa Khai tetap bersikap baik padanya. Kenapa tiap ada kesulitan, pria itu yang membantunya. Bukan Indra. Kenapa Khai tak menjauh saja dan membencinya. Bukankah dirinya sudah dicap sebagai perempuan pengkhianat?"Bapak itu sudah pulang dijemput keluarganya. Beliau tidak mengalami cedera yang serius kata dokter. Aku sudah memberinya uang, termasuk untuk memperbaiki motornya. Bapak itu bilang kalau memang dirinya yang salah.""Akan kuganti semuanya. Berapa?" Nindiya gugup sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ia membuk
AKAN KUTUNGGU- 2 Bau Busuk"Siapa perempuan yang bersamanya itu?" tanya Edi."Sepupunya," jawab Khai pendek. Rahang tegasnya masih mengeras dengan tatapan tajam seakan menembus kaca hingga ke dalam sana. "Sepupu? Kenapa sikap mereka keliatan beda gitu." Insting Edi bekerja dan cukup peka.Khai tersenyum sinis.Di balik jendela besar kafe, tampak Indra suami Nindiya sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Mereka ngobrol begitu akrab dan tak seperti sepupu yang sewajarnya."Apa mereka selingkuh?" Edi memastikan, tatapannya masih ke dalam.Khai mengisap kembali rokoknya. Sorot mata tajamnya berkilat sangat berbahaya karena amarah. "Menurutmu bagaimana?" tanya Khai balik."Terasa ganjil kalau akrabnya beda gitu. Apa kira-kira Nindi tahu hal itu?" tanya Edi lagi."Aku tak tahu." Ia memang tidak tahu apakah Nindiya sudah mengendus kebusukan suaminya atau belum. Namun tangan besarnya di atas meja kini mengepal kuat. Amarah yang bergemuruh di dadanya terasa begitu panas. Pria yang di
AKAN KUTUNGGU - 1 Patah Hati "Kenapa kamu bilang nggak ada pikiran untuk menikah? Rugi Bro, ketampanan dan kegagahanmu nggak berfungsi, sia-sia. Kekayaanmu juga untuk siapa. Ayolah, banyak yang mengantri untukmu," ujar Edi pada sahabat baik yang duduk merokok di depannya. Mereka baru saja membahas tentang sahabat mereka yang baru menikah hari ini. Dan mereka baru pulang dari menghadiri resepsinya. Di antara lingkaran pertemanan mereka, hanya Khai yang masih betah sendirian. Teman-teman se-geng mereka sudah menikah semua."Wanita yang kucintai sudah menikah," jawab Khai datar dengan tatapan dingin sambil mengembuskan asap rokok ke udara. Pria berahang tegas yang ditumbuhi cambang tipis itu menatap langit malam yang kelam. Sekelam sorot matanya.Edi menghela napas panjang, bersandar pada kursi kayu kafe outdoor yang cukup ramai malam itu. "Perempuan di dunia ini bukan cuma dia saja, Khai. Bumi nggak selebar daun kelor. Kenapa kamu nggak sedikit saja mempertimbangkan gadis yang hendak







