Masuk"Salah kita sih, ya. Harusnya jujur saja. Khai nggak mungkin nolak. Dia sudah begitu dekat dengan Mara," ujar Bu Giska yakin.Bu Juliana mengangguk samar. Bu Giska dan Pak Gilang tidak tahu penolakan Khaisar yang sebenarnya. Wanita itu makin geram lantas menghampiri putri sulungnya yang sedang menikmati hidangan di meja VIP bersama suaminya. "Raya, coba kamu telepon adikmu. Mama telepon nggak bisa.""Iya, Ma." Raya mencoba menekan nomor adiknya, tapi hasilnya tetap nihil. "Nggak bisa, Ma. Langsung masuk kotak suara. Khai kalau lagi nggak mau diganggu memang suka matiin ponsel."Bu Juliana berdecak jengkel, kemudian kembali ke mejanya. Empat orang tua itu akhirnya tak berkutik. Kejutan manis yang digadang-gadang akan menjadi sorotan utama gala dinner itu hancur berantakan. Pak Gilang terpaksa mengalihkan pembicaraan di panggung tanpa menyebut-nyebut soal pertunangan, mengucapkan permintaan maaf karena kejutannya tak bisa disampaikan malam itu.Amara yang menyadari pembatalan mendadak
"Kamu tidak lupa 'kan? Malam ini ada acara makan malam di rumah Om Agra. Kamu harus datang.""Iya, Ma. Aku ingat. Habis ini aku langsung pulang ke rumah Mama," sahut Indra parau. Kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi.Sesampainya di kediaman sang mama, langkah Indra terlihat layu. Bu Cahya yang sedang merapikan vas bunga di ruang tamu langsung menghentikan kegiatannya, menatap pada putranya yang tampak begitu kusut. "Indra, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," tegur Bu Cahya cemas."Tak apa-apa, Ma. Cuma agak capek saja," jawab Indra pendek. "Aku mau tiduran sebentar di kamar sebelum kita berangkat.""Kamu masih sibuk mengikuti Nindiya?" Pertanyaan Bu Cahya menghentikan langkah Indra."Kalian sudah resmi berpisah, Ndra. Ingat itu."Indra tak menjawab. Kemudian melangkah gontai meninggalkan mamanya. 🖤LS🖤Malam itu untuk pertama kalinya Indra bertemu lagi dengan Cinda setelah sepupunya dipindahkan ke Gresik.Sama sekali Indra tak memandangnya apalagi mendekat. Cinda juga
AKAN KUTUNGGU- 34 GagalRona jingga menghiasi birunya langit menjelang sore. Di balkon lantai dua yang lengang Khaisar duduk termenung. Membiarkan angin kencang menyapa tubuhnya. Jemarinya mengepal kaku di atas pembatas logam. Dadanya masih terasa begitu sesak, bergemuruh hebat seolah dihantam gelombang kekecewaan yang tak kunjung usai.Ia masih tak habis pikir, bagaimana mungkin sosok mama yang selama ini ia agungkan begitu menghancurkan hati putranya sendiri. Memaksa Nindiya pergi dari hidupnya.Bayangan paras cantik Nindiya mendadak berputar liar. Kenangan manis di masa lalu menembus pertahanan batinnya. Saat-saat sederhana sewaktu Nindiya masih menjadi gadis magang di kantornya. Ia teringat betapa riangnya tawa wanita itu saat mereka menyantap bekal nasi kotak di sudut taman kota. Atau ketika ucapan tulus Nindiya menenangkannya usai rapat yang panjang."Besok hari terakhir aku magang, Mas," ucap Nindiya siang itu."Kita masih bisa bertemu akhir pekan. Kupastikan kamu masuk kantor
Khaisar menyandarkan punggung, memasang wajah sedingin es. "What is it about, Pa?"Pak Hangga berdeham pelan, menatap putranya dengan sorot mata penuh ketegasan. "Ini tentang kelanjutan perjodohanmu dengan Amara. Papa tidak mau kamu terus-terusan mengulur waktu. Lebih baik disegerakan saja.""Betul, Khai," sela Bu Juliana cepat. Menyunggingkan senyum manis yang kini justru terlihat begitu culas di mata Khaisar. "Amara itu gadis yang sangat baik, cantik, dan terpelajar. Latar belakang keluarganya setara dengan kita. Jika kalian bersatu, kalian bisa jadi partner yang sangat solid untuk membesarkan perusahaan."Khaisar tersenyum sinis sambil menyilangkan kakinya. "Kami tidak saling mencintai. Bagaimana mungkin aku menikahi wanita yang sama sekali tidak ada di dalam hatiku?"Bu Juliana tersenyum. "Cinta itu akan datang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, Khai. Yang paling utama sekarang adalah stabilitas. Kita butuh aliansi strategi yang kuat untuk tetap mempertahankan dan mema
Jika saja tidak terhalang oleh aturan masa iddah, ingin rasanya detik ini juga ia merengkuh Nindiya, membawanya ke dokter spesialis terbaik di negeri ini untuk mengembalikan seluruh ingatannya. Ia ingin Nindiya ingat betapa indahnya ikatan cinta yang pernah mereka rajut bersama. Kemudian mereka bisa kembali melanjutkan hubungan yang pernah hancur.Andai ia tahu alasan yang membuat Nindiya pergi, tentu dia tak akan membiarkan Nindiya meninggalkannya waktu itu. "Kenapa saat itu Nin tidak mau jujur saja setelah diancam mama," gumam Khaisar penuh penyesalan.Erni tersenyum getir. "Nindiya mana mungkin berani, Mas. Dia takut Mas Khai musuhan dengan orang tua. Nindiya takut Mas Khai bakalan mengamuk dan menentang orang tua. Nindiya juga memikirkan kesehatan ayahnya saat itu."Napas Khaisar terdengar begitu berat. Matanya memerah menahan sakit dan murka. Sekalipun sudah tahu hal yang sebenarnya, Khaisar tidak mungkin konfrontasi dengan sang mama. Ini akan membahayakan Nindiya. Mungkin saja
AKAN KUTUNGGU - 33 NinTubuh Khaisar seketika menegang saat mendengar nama mamanya disebut. Tatapannya tajam yang dipenuhi ketidakpercayaan. Selama ini sang Mama sosok yang begitu lembut, hangat, dan tak pernah sekali pun menunjukkan tanda-tanda menentang hubungannya dengan Nindiya."Ini serius, Er?" tanya Khaisar dengan suara bergetar.Erni mengangguk mantap. "Nindiya nggak mungkin bohong tentang hal ini, Mas. Waktu itu dia diajak ketemuan di sebuah kafe oleh Bu Juliana. Di sana dia diperingatkan secara tegas untuk menjauhi kamu. Bu Juliana jujur kalau selama ini beliau sebenarnya nggak suka sama Nindiya dan nggak pernah merestui hubungan kalian. Bagi beliau, Nindiya sama sekali nggak sepadan untuk bersanding denganmu, dan kamu berhak mendapatkan gadis dari kelas sosial yang setara."Tangan Khaisar yang berada di atas meja mulai gemetar hebat. Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Menahan gejolak amarah yang memuncak. Antara percaya dan tidak, memori tentang sikap sang Mama berputar l







