Share

Dilema

Ketika aku sedang memasak, tiba-tiba pak Pramono masuk ke dapur. Ia memberiku beberapa buah tas kertas yang berisi baju dan celana, alat kosmetik yang dari merknya pasti harganya mahal, parfum dan seikat uang.

Aku memang beberapa hari bersikap dingin kepada pak Pramono sejak ia merenggut kehormatanku. Ia sengaja memberikan hadiah itu, sepertinya untuk mengambil hatiku atau agar aku tutup mulut atas tindakan paksa dia menggagahiku.

Yah! Semenjak kejadian malam itu pak Pramono begitu perhatian kepadaku. Ia betul-betul menunjukkan rasa sayangnya  meski ketika di depan keluarganya ia berusaha menyembunyikannya.

Dari perilakunya terlihat Pak Pramono memang orang yang sangat bertanggung jawab. Ia juga selalu menanyakan kesehatanku. Menanyakan hobi dan kesukaanku, juga kerap memberikanku uang di luar gaji.

Seiring berjalannya waktu, hatiku mulai luluh dengan kebaikannya, dan jujur saja, ketampanan pak Pramono masih tergaris jelas di wajahnya meski sudah berumur 50 tahun. Jujur, aku dibuatnya tak mampu menolak keinginannya untuk tidur bersama ketika ia kerap menyelinap masuk ke dalam kamarku secara diam-diam.

Seiring waktu aku mulai terlena dengan kebaikannya, ketampanannya. Di dalam kamar pembantu yang pengap. Seandainya pun ia tak memberikan uang, sepertinya hatiku sudah luluh dan pasrah padanya.

Namun, pak Pramono memang sangat baik, bahkan uang yang kerap ia berikan kepadaku jumlahnya berkali-kali lipat dari gajiku sebagai pembantu. Hidupku pun mulai makmur dan aku tak pernah kekurangan uang. Sebab selain uang, pak Pramono sering membelikan aku makanan, jadi aku tidak pernah membeli jajan, uang gaji dan uang yang pak Pramono berikan utuh tak tersentuh karena pakaian dan alat kosmetik saja aku di belikan dan harganya mahal-mahal. Aku semakin terlena, dan apakah aku jatuh cinta kepada pak Pramono? huuff! pusing!

Disisi lain, sebenarnya aku sangat merasa bersalah kepada Bu Rosalinda. Aku telah merebut suaminya. Kalau hati, aku tahu persis jika pak Pramono masih sangat mencintai Bu Rosalinda.

Mungkin karena kebutuhan biologis yang sudah satu tahun lebih ia tak mereguknya. Akhirnya setelah kejadian itu pak Pramono mulai menikmati permainan penghianatannya denganku. Kasih sayangnya terhadap Bu Rosalinda terbagi denganku.

Selain itu, aku juga bingung, harus bersikap bagaimana dengan Reno. Ia sepertinya juga begitu menggebu ingin hidup bersamaku. 

Namun, disisi lain ada pak Pramono yang lebih dahulu meninggalkan bekas keringat di tubuhku yang rutin kami lakukan diam-diam di saat rumah lengang dan Bu Rosalinda sudah tertidur pulas sehabis minum obat.

Tidak mungkin 'kan aku menjadi menantu dari orang yang hampir tiap malam melakukan hal menjijikkan denganku.

"Maaf, mas Reno! Aku tidak bisa menerima cintamu," jawabku ketika ia kembali menanyakan kesediaanku untuk menjadi istrinya.

"Kenapa? Apakah kamu sudah punya kekasih?"

"Bukan, mas, tapi aku tidak pantas untukmu. Lebih baik mas Reno mencari wanita lain yang lebih pantas. Mas," ucapku dingin. 

Sejujurnya aku tidak sanggup menolaknya. Kalau mau mengakui, jujur saja, aku juga menyukai Reno. Siapa sih yang tidak mau bersanding dengan Reno Adian. Pria muda tampan rupawan, lagi anak seorang hartawan.

Tapi aku memutuskan untuk membuang jauh-jauh rasa ini semenjak kehadiran pak Pramono yang mengisi malam-malam ku di kamar pembantu.

Suatu ketika Bu Rosalinda kembali dirawat di rumah sakit. Pak Pramono menjaga siang malam istrinya hingga ia jarang di rumah. Di rumah aku kadang Hanya berdua dengan Reno bila ia pulang kerja atau sehabis menjenguk ibunya. Sementara adiknya masih melanjutkan kuliahnya di Jogja.

Malam itu kala hujan turun rintik-rintik, selesai membereskan kerjaan dapur aku menonton televisi di ruang keluarga. Rumah tampak lengang, pak Pramono juga berada di rumah sakit menunggui istrinya.

Bosan melihat televisi, aku beranjak mendekati jendela dan memandang rintik hujan yang membasahi bumi. Kenapa aku jadi merasa kesepian? Kenapa aku tiba-tiba rindu akan dekapan hangat pak Pramono? Pikiranku melayang membayangkan saat-saat kami berada di kamar pembantu.

Tiba-tiba aku merasakan ada pelukan mesra dari belakangku. Aku pikir itu pak Pramono. Tapi, bukankah pak Pramono di rumah sakit? Aku membalikkan badanku.

Degg!!

Ternyata Reno! Aku baru ingat jika di rumah ini hanya aku dan dia. 

Melihat aku berbalik menghadap tubuhnya. Reno langsung menyerangku. Tangannya memegang kepala dan pundakku.

Uffh!! Kemasukan setan apa nih, anak!

Reno yang begitu tampan membuat aku tak berdaya. Aku menyerah pasrah ketika ia membawaku ke dalam kamarnya yang luas dan kasur tidurnya yang empuk serta wangi.

Akhirnya malam itu kami satu ranjang bersama hingga pagi menjelang.

"Rini, Kamu begitu menakjubkan hingga pagi ini" ucap Reno pagi itu setelah melewati malam panjang.

Aku terdiam tidak menjawab. Malu! Tapi aku bahagia, siapa yang tidak bahagia? Mendapatkan kasih sayang dari pemuda tampan pujaan para gadis. Namun, aku kembali murung. Pak Pramono, --Ayahnya-- bagiamana? 

Uffhh!! Sungguh aku dilema dengan semua ini. Aku mencintai dan di cintai oleh bapak dan anaknya sekaligus.

Setelah kejadian itu, akhirnya aku menjalin hubungan gelap dengan pak Pramono sekaligus menjalin hubungan juga dengan Reno --anaknya--.

Gila Gak?!

****

"Rini ... Ini ada sertifikat rumah atas nama kamu. Nanti jika kamu benar hamil dan memiliki anak dariku. Kamu tempati rumah itu," ucap pak Pramono suatu ketika saat kami menghabiskan malam bersama sampai pagi, saat Reno sedang pergi tugas luar kota.

Mataku terbelalak, melihat sertifikat rumah atas namaku. Seperti mimpi rasanya memiliki rumah di perumahan yang terbilang elit di area Jakarta ini.

Yah, seperti yang pak Pramono bilang. Akhir-akhir ini aku sering pusing dan mual-mual. Apakah aku hamil? Kalau hamil, ini anak siapa? Tapi aku belum berani cek. Aku terlalu penakut untuk itu.  

Jika aku beneran hamil, aku harus harus bagaimana? Apa yang akan aku jelaskan kepada keluargaku? Apa yang harus aku jelaskan kepada pak Pramono dan Reno. Ini anak siapa?!.

Uufhh!! 

Kenapa hidupku kenapa selalu rumit begini!

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status