เข้าสู่ระบบSurat perpisahan itu disobek, Saintess memilih bertahan. Namun... waktu tidak memberi jeda padanya.
Dua pucuk surat tergeletak di atas meja kayu. Satu surat ditujukannya untuk Cessar, dan satu lagi ditulis khusus untuk Kael.Seraphina menatap untaian kata yang digoreskan oleh tangannya yang gemetar. Kalimat-kalimat pamit dan permohonan maaf yang tidak akan pernah sempat dia sampaikan secara langsung.“Hiduplah dengan bahagia bersama ibumu, Cessar.”“Maaf aku harus pergi tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.”“Jaga dirimu baik-baik, Kael.”“Jangan menyalahkan dirimu. Kepergian ini adalah takdirku sendiri.”Namun, belum sempat tinta di atas kertas itu benar-benar mengering, jemari Seraphina bergerak meremas keduanya. Dengan napas memburu, dia menyobek kertas-kertas itu menjadi serpihan kecil tak bermakna.Sreeek! Sreeek!Tidak. Belum sekarang.Dadanya kembang kempis menahan gejolak emosi yang meluap-luap. Jika masih ada satu petunjuk yang belum dibuka, Seraphina menolak menyerah pada kematian. Pada nasib tragis yang sudah digariskan oleh tempat terkutuk bernama gereja ini.Ia mena
Fajar mulai menyingsing ketika pintu biara tua kembali terbuka dengan derit pelan. Seraphina dan Kael melangkah keluar, diantar oleh Suster Agnes. Perempuan paruh baya itu menggenggam erat tangan Saintess yang dulu pernah dilayaninya dengan sepenuh hati. Sorot matanya memancarkan kecemasan yang begitu kentara. Meski semula rasa panik lebih dulu menyerang mentalnya ketika berjumpa lagi setelah sekian lama, rasa sayangnya pada Seraphina jauh lebih besar."Gereja mungkin telah rusak, namun saya percaya Seven Thrones senantiasa melindungi Anda, Yang Mulia," bisik Suster Agnes dengan suara bergetar.Seraphina hanya bisa tersenyum tipis mendengar perkataan itu. Ia tidak tega membantah perkataan seorang jemaat yang masih begitu tulus percaya pada Tuhannya. Biarlah keraguan dan sinisme terhadap Seven Thrones hanya bergaung di dalam benaknya sendiri. Sampai kebenaran sejati memilih untuk muncul tepat pada waktunya."Sampai jumpa lagi, Suster Agnes," ucap Seraphina lembut. Salam perpisahan itu m
"Ya-Yang Mulia Saintess...?" Suster Agnes melangkah mundur dengan lutut gemetar.Genggamannya pada wadah lilin mengencang, membuat lelehan lilin panas menetes ke jemarinya. "Tidak... Tidak mungkin. Anda sudah... Anda tidak seharusnya berada di sini! Pergi! Tolong pergi!"Agnes mencoba membanting kembali pintu ek tersebut, namun satu tangan kekar Kael menahannya dengan mudah. Pintu itu tetap terbuka lebar, memaksa sang biarawati mundur semakin jauh ke dalam aula biara yang temaram."Suster Agnes, tolong. Aku datang untuk mencari kebenaran," pinta Seraphina, melangkah maju dengan nada memohon. "Aku perlu tahu apa yang sudah gereja sembunyikan. Apakah kau tahu sesuatu?""Saya tidak tahu apa-apa!" Agnes menggeleng histeris, menyudutkan punggungnya pada pilar batu yang dingin. Kedua tangannya terangkat menutupi telinga. "Saya sudah bersumpah untuk bungkam! Tolong, jangan bunuh saya... Gereja akan melenyapkan saya jika saya membocorkannya! Pergi!"Melihat penolakan itu, rasa frustrasi mulai
Seraphina menahan napas saat bayangan dua penjaga berbaju zirah melintas hanya beberapa meter di depan mereka. Di balik pilar batu yang gelap, Kael merapatkan tubuh, menyembunyikan gadis itu sepenuhnya di balik punggung tegap dan jubah hitamnya.Suara dentang zirah para penjaga terdengar lambat, menyiksa akal sehat Seraphina yang kian tegang. Kompleks gereja ini layaknya labirin yang dipenuhi mata dan telinga. Satu langkah salah, mereka bisa ketahuan dan misi penyelinapan malam ini akan hancur berantakan.Kael melirik ke samping, menghitung detik dengan presisi seorang komandan. Begitu para penjaga berbelok di sudut koridor, Kael langsung menarik pergelangan tangan Seraphina."Sekarang," bisik Kael, sangat rendah hingga nyaris menyatu dengan angin malam.Mereka bergerak cepat menyusuri bayang-bayang dinding pembatas, lalu melompati jendela rendah di area belakang yang jarang dilewati. Langkah kaki mereka terus berpacu hingga akhirnya berhasil menembus sebuah gerbang besi kecil berkara
Aroma daun teh yang diseduh memenuhi ruangan, namun ketenangan sore itu sama sekali tidak menenangkan bagi Seraphina. Ia menyesap tehnya perlahan, meletakkan cangkir porselen itu ke tatakannya dengan denting halus yang disengaja. Di hadapannya, seorang pelayan muda berdiri dengan kepala sedikit tertunduk."Apakah ada surat untukku hari ini?" tanya Seraphina, berusaha menjaga nadanya tetap datar dan kasual.Pelayan itu mengerjap, tampak berpikir sejenak sebelum tersenyum sopan. "Surat, Yang Mulia Saintess? Jika yang Anda maksud adalah undangan pesta minum teh dari para bangsawan, pelayan di depan belum menerima—""Bukan undangan pesta murahan seperti itu," potong Seraphina tajam.Seraphina diam-diam mengaktifkan kemampuannya. Fokusnya menembus topeng formalitas si pelayan, membaca riak pikiran yang tersembunyi di balik mata itu.’Surat apa? Mana berani aku menyentuh surat-surat pribadinya. Lagi pula, bukankah semua surat untuknya harus disaring lebih dulu?’Mendengar suara batin itu, a
“Aku mulai mendengar suara dari altar…” Seraphina mengulang kalimat itu. Suaranya berbisik lirih, hampir tertelan oleh kesunyian kamar. Jemarinya yang gemetar menyentuh goresan tinta kaku di atas kertas yang mulai menguning. Noda samar di sudut halaman—mungkin bekas tetesan keringat atau air mata yang mengering—seakan memancarkan keputusasaan yang nyata.Di kamar luas yang kini terasa mencekam, hanya ada keheningan dan pendar temaram dari sebatang lilin yang mulai meleleh. Seraphina duduk dengan punggung tegak dan kaku. Detak jantungnya berpacu liar saat ia kembali memeriksa buku harian rahasia yang selama ini ia sembunyikan.Dengan napas tertahan, Seraphina membalik halaman berikutnya. Tulisan tangan di lembar-lembar baru ini tidak lagi rapi. Goresannya berantakan, mencerminkan kepanikan dan ketakutan hebat yang mencekik Seraphina asli semasa hidupnya.«“Suara itu bilang… jangan percaya gereja.”»Mata Seraphina membelalak. Ia menelan ludah, merasakan sensasi dingin merambat di tengk







