Share

BAB 143

Penulis: Rosa santika
last update Tanggal publikasi: 2026-04-28 10:34:06

"Rafi! Berhenti dong! Cukup ya! Kakak bukan boneka yang bisa kamu atur seenak jidat kamu sendiri!"

Teriakan keras dan penuh emosi itu menggema keras di sepanjang koridor sekolah yang sedang ramai saat jam istirahat.

Aisyah Wijaya berhenti berjalan mendadak. Kakinya menghentak lantai dengan kuat. Ia memutar tubuhnya cepat, menatap tajam ke arah adik laki-lakinya yang berjalan santai di belakangnya, seolah tidak terjadi apa-apa.

Wajah cantik Aisyah memerah menahan amarah yang sudah menggelegak s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG MEMBENCIKU    BAB 181

    Malam itu, suasana di ruang makan utama rumah besar keluarga Wijaya terasa begitu hangat, hidup, dan penuh dengan gelak tawa yang lepas. Suasana yang dulu selalu dingin, kaku, dan penuh tembok pembatas, kini telah berubah total. Ruangan itu tidak hanya diisi oleh Reza dan Kalia, tapi juga Tuan Mahendra beserta istrinya yang kini duduk berdampingan dengan sangat akrab dan santai. Tidak ada lagi jarak yang memisahkan. Tidak ada lagi kecanggungan yang menyiksa. Tidak ada lagi tatapan curiga atau benci. Yang ada hanyalah dua keluarga besar yang kini bersatu, menikmati makan malam bersama, layaknya saudara darah daging yang sudah lama terpisah dan akhirnya dipertemukan kembali. Reza duduk dengan tenang di kursi utamanya, tepat di samping Kalia. Di bawah meja, tangan mereka saling menggenggam erat, seakan tak ingin melepaskan satu sama lain lagi selamanya. Mata mereka berdua berkeliling mengamati pemandangan indah di hadapan ini, dan di sudut mata mereka, terbit rasa haru yang begitu

  • AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG MEMBENCIKU    BAB 180

    Pagi harinya, sinar matahari pagi menyelinap lembut masuk melalui celah tirai jendela ruang kerja. Cahaya keemasan itu menyentuh lantai marmer, seakan ikut membersihkan aura gelap yang selama ini menghuni ruangan tersebut. Suasana yang semalam begitu berat, penuh air mata dan keputusasaan, kini telah berganti menjadi sebuah ketenangan yang aneh namun sangat damai. Hati yang tadinya sesak oleh dendam, kini terasa lega, seakan beban berton-ton telah diangkat dari bahu sang pemiliknya. Reza Wijaya duduk tegak di kursi kerjanya yang besar. Wajahnya memang masih terlihat sedikit lelah. Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya, bukti bahwa semalam dia hampir tidak memejamkan mata, sibuk meraba ulang seluruh ingatan dan sejarah hidupnya. Tapi tatapan matanya sama sekali berbeda. Dia menatap layar komputer sejenak, lalu dengan tangan yang mantap, dia menekan tombol interkom. "Siapkan mobil. Aku mau keluar," perintah Reza singkat, padat, dan tegas. Tidak ada nada marah, tidak ada nada d

  • AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG MEMBENCIKU    BAB 179

    Ruangan itu kembali hening, sunyi senyap. Hanya suara napas mereka berdua yang terdengar, bercampur dengan detak jarum jam yang seakan berjalan semakin lambat, seakan memberi waktu bagi Reza Wijaya untuk mencerna semua informasi yang baru saja meledak di kepalanya. Reza menatap layar laptop itu dengan pandangan yang kosong. Matanya bergerak lambat, membaca ulang baris demi baris data, angka, dan bukti yang ditunjukkan Rafi. Otaknya yang biasa bekerja cepat dan logis kini seakan macet, berusaha menerima kenyataan pahit yang bertolak belakang dengan apa yang dia yakini selama puluhan tahun. Selama ini... Selama ini dia hidup dengan api kebencian yang membara di dada. Dia membangun tembok setinggi langit antara dirinya dan keluarga Mahendra. Tembok yang begitu tinggi dan tebal, tak ada satupun yang bisa menembusnya. Dia menyiksa diri sendiri dengan rasa dendam. Dia menyiksa dengan kecurigaan dan kemarahan. Dia bahkan hampir membuat hubungan dengan anak-anaknya retak. Semuanya... s

  • AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG MEMBENCIKU    BAB 178

    Malam semakin larut, namun cahaya lampu kristal di ruang kerja pribadi Reza Wijaya masih menyala terang. Suasana di ruangan itu terasa begitu berat, sunyi, dan penuh dengan tekanan. Hanya suara detak jarum jam dinding yang terdengar jelas, seakan menghitung mundur waktu sebelum badai pecah. Reza duduk tegak di kursi kerjanya yang besar dan mewah. Wajahnya datar, tak ber ekspresi, namun sorot matanya tajam menusuk, menatap lurus ke arah putranya, Rafi, yang berdiri kokoh di hadapan meja kerja itu. Di tangan Rafi, tergenggam sebuah laptop dan setumpuk berkas tebal yang terikat rapi, bukti-bukti yang telah dia kumpulkan dengan susah payah. "Jadi, apa yang mau kamu bicarakan sampe segitunya, Fi?" tanya Reza akhirnya. Suaranya dingin, datar, namun menyiratkan wibawa yang menakutkan. "Kamu mau minta izin supaya Papa biarin Aisyah terus pacaran sama anak Mahendra itu? Kamu tau kan sejarahnya? Keluarga mereka benci kita sama kayak kita benci mereka." Rafi menggeleng pelan. ia mengumpulkan

  • AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG MEMBENCIKU    BAB 177

    Siang itu, di taman belakang sekolah yang cukup sepi dan teduh. Angin berhembus pelan membelai dedaunan. Namun suasana di sana terasa begitu tegang. Bukan ketegangan yang mau berkelahi, tapi ketegangan karena momen yang sangat jarang terjadi, dan sangat penting bagi masa depan mereka. Aisyah berdiri di samping Rafi, tangannya sedikit mencengkeram lengan baju adiknya, penuh harap. Sementara di hadapan mereka, beberapa meter jauhnya, berdiri Arkana. Cowok itu menatap mereka dengan tatapan waspada. Dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang dia tahu, Rafi selama ini adalah musuh terbesarnya. Jadi dia siap mental kalau tiba-tiba Rafi akan memaki, menghina, atau bahkan menyerangnya lagi. Tapi hari ini... Ada yang berbeda. Sangat berbeda. Rafi menatap Arkana lekat-lekat. Matanya tajam, menyelidik, meneliti setiap inci wajah cowok di depannya itu. Dulu... Tatapan itu penuh api kebencian, penuh curiga, dan penuh keinginan untuk menghancurkan. Tapi hari ini... Tatapan itu dingi

  • AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG MEMBENCIKU    BAB 176

    Pagi harinya, matahari bersinar lebih terang dari biasanya. Tapi bukan cuma karena cuaca, tapi karena suasana di meja makan keluarga Wijaya pagi itu terasa sangat berbeda. Udara yang selama ini terasa kaku, dingin, dan penuh ketegangan. Kini perlahan berganti menjadi hangat dan tenang. Aisyah duduk di tempat biasa. Tapi kali ini, dia tidak lagi memasang wajah datar atau mengabaikan keberadaan Rafi. Saat Rafi menarik kursi dan duduk di hadapannya. Aisyah perlahan menoleh. Dan di bibirnya terukir sebuah senyum tipis. Bukan senyum palsu. Bukan senyum sinis. Itu adalah senyum yang tulus, lembut, dan penuh makna. Rafi tersentak kaget melihatnya. Jantungnya berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena takut atau marah. Melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Dengan ragu tapi bahagia, Rafi pun membalas senyum itu. "Pagi, Kak," sapa Rafi pelan, suaranya terdengar lembut. "Pagi, Fi," jawab Aisyah dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Makasih ya, buat datanya kemaren.

  • AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG MEMBENCIKU    BAB 135

    Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan di atas bara api bagi Aisyah. Bekerja sama dengan Arkana ternyata jauh lebih melelahkan dan menguras emosi daripada yang ia bayangkan. Cowok itu adalah perfeksionis tingkat dewa, sangat kritis, tidak pernah mau mengalah, dan seolah-olah standarnya selalu

  • AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG MEMBENCIKU    BAB 125

    Malam itu berjalan sangat indah dan sempurna. Mereka makan malam bersama, tertawa lepas bersama keluarga, dan bersenda gurau dengan teman-teman terdekat. Aisyah dan Rafi yang sudah dibangunkan sebentar ikut meramaikan acara. Aisyah dengan gaun pesta kecilnya menari-nari lucu di lantai dansa, semen

  • AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG MEMBENCIKU    BAB 118

    "Bahagia? Kalia... kata bahagia itu rasanya kurang cukup banget buat menggambarkan apa yang aku rasain sekarang." Suara Reza terdengar dalam dan tulus. "Aku dulu hidup di dalam kegelapan yang panjang, penuh dengan dendam, penuh dengan ambisi yang kosong dan hampa. Aku punya semuanya di dunia in

  • AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG MEMBENCIKU    BAB 117

    "Kamu... kamu bilang apa tadi, sayang?"Suara Reza terdengar bergetar, tubuhnya terdiam kaku seolah terpaku. Matanya terbelalak menatap wajah istrinya yang masih terlihat pucat namun bersinar. Mulutnya terbuka sedikit, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar melayang di udara."Ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status