LOGIN“Reza…?”Suara Kalia hampir tidak keluar.Ia berdiri kaku di depan gedung. Matanya membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.Reza berdiri beberapa meter darinya. Wajahnya serius, napasnya sedikit terengah, seolah baru saja berlari.Galang langsung menoleh. Matanya menyipit.“Kamu cepat juga,” katanya dingin.Kalia menoleh ke Galang. “Kamu tahu dia akan datang?”Galang tersenyum tipis. “Aku berharap begitu.”Reza berjalan mendekat. Tatapannya tidak lepas dari Kalia.“Kamu baik-baik saja?” suaranya rendah.Kalia masih membeku. “Kamu… bukannya di Surabaya?”“Aku bilang aku akan menunggumu,” jawab Reza.“Kamu mengejarku.”“Aku tidak mengejar,” katanya pelan. “Aku datang.”Galang tertawa kecil. “Bedanya apa?”Reza menoleh tajam. “Jauhkan dirimu darinya.”“Kamu tidak punya hak lagi,” balas Galang santai.Udara langsung menegang. Kalia menatap keduanya bergantian. Dadanya semakin sesak.“Kenapa kamu di sini?” tanya Kalia pelan pada Reza.Reza berhenti tepat di depannya. “Kar
“Tidak mungkin…” Reza memperbesar foto itu dengan tangan yang gemetar. Wajah pria di sebelah Kalia terlihat sangat jelas. Itu… Galang. Mantan kekasih Kalia. Rahang Reza langsung mengeras. Dadanya seperti dihantam sesuatu yang berat. “Kenapa dia…” bisiknya pelan. Lift sudah turun. Kalia sudah pergi. Reza langsung berlari ke arah tangga darurat. Ia menuruni tangga dua anak tangga sekaligus. Ponselnya kembali bergetar. Pesan baru. "Jangan ikuti. Kami melihatmu." Reza tidak berhenti. Ia keluar dari tangga darurat dan langsung menuju lobi hotel. Namun begitu sampai disana, mobil hitam sudah melaju keluar dari area parkir. Reza berhenti mendadak. Ia hanya sempat melihat siluet Kalia di kursi belakang. Mobil itu menghilang di jalan raya. Reza mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun. Ia menatap layar ponsel lagi. Lokasi yang dikirim masih terbuka. Alamat di Jakarta. Artinya… mereka membawa Kalia ke Jakarta malam ini juga. Reza langsung menekan nomor asistennya. “Siapkan
“Aku harus pergi.”Kalimat itu terdengar pelan, tapi menghantam Reza lebih keras dari apa pun.“Tidak.”Reza langsung memegang pergelangan tangan Kalia. “Kamu tidak akan keluar, dan tidak akan pergi kemana-mana.”“Dia mengancam ayahku, Reza.” Suara Kalia bergetar. “Aku tidak punya pilihan lain.”Ketukan di pintu kembali terdengar.Tok. Tok. Tok.“Nona Kalia. Kami menunggu.”Reza menarik napas dalam. Rahangnya mengeras. Ia menatap pintu seolah ingin merobohkannya.“Kita tidak tahu siapa mereka,” katanya tegas. “Kalau kamu keluar, kamu akan masuk ke perangkap mereka.”“Kalau aku tidak keluar, ayahku.....”“Tidak akan terjadi apa-apa,” potong Reza cepat.“Kamu tidak bisa menjamin itu!”Sunyi.Kalia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya masih gemetar menggenggam ponsel.Pesan terakhir masih terpampang jelas di layar."Keluarlah sekarang. Atau aku akan matikan alat bantu napas ayahmu."Reza menatap layar itu lama. Dadanya terasa sesak.Ia tahu… Kalia tidak akan tinggal diam.Dan i
Kalia perlahan mengangkat kepalanya. Matanya membesar. Karena saat itu.... Bayangan seseorang terlihat di kaca balkon. Tepat di belakang Reza. Bayangan itu bergerak. Kalia refleks menarik tubuh Reza. “Reza, turun!” Reza langsung membungkuk. Sesuatu melintas cepat di depan kaca balkon. Seperti kilatan kecil. BRAK! Sebuah benda menghantam pintu kaca balkon. Kalia menjerit pelan dan mundur. Reza langsung berdiri di depannya, melindungi tubuhnya. “Sembunyi ke belakangku,” katanya tegas. Kalia menggenggam lengan Reza tanpa sadar. Tangannya dingin. Reza melangkah mendekati balkon dengan hati-hati. Tirai masih bergerak pelan. Jantung Kalia berdegup keras. Di lantai balkon… ada batu kecil. Terikat kertas. Reza membuka kunci, lalu membuka sedikit pintu balkon. Ia mengambil batu itu dan langsung mengunci kembali. Kalia menatapnya cemas. “Reza, itu apa?” Reza membuka kertas tersebut. Wajahnya langsung berubah. “Kalia…” suaranya pelan. Kalia mendekat. “Ada apa?” Reza menyer
Pintu terbuka.Kalia refleks mundur dan memegang tangan Reza dengan erat.Namun tidak ada siapa pun.Lorong kosong.Hanya lampu redup dan suara angin dari ujung koridor.Reza langsung melangkah pergi keluar. “Tunggu di dalam.”“Reza, jangan,” Kalia menarik lengannya.Reza menatap tangannya yang digenggam Kalia. Ia berhenti.Biasanya ia akan tetap pergi. Tapi kali ini ia menghela napas dan berkata pelan,“Baik. Kita cek sama-sama.”Kalia sedikit terkejut.Reza tidak memaksakan diri.Ia malah berdiri di depannya, melindunginya.Mereka keluar perlahan.Koridor sunyi.Namun, di lantai depan pintu kamar mereka ada sesuatu.Amplop putih.Kalia menegang. “Itu… dari dia?”Reza mengangguk pelan. Ia mengambil amplop itu, lalu kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu.Ia tidak langsung membukanya.Sebaliknya, ia menoleh ke Kalia.“Kamu siap?”Pertanyaan itu membuat Kalia terdiam.Reza… bertanya.Bukan memutuskan sendiri seperti biasanya.Kalia mengangguk pelan. “Buka saja.”Reza membuka amplop
Pria itu menatap Reza. “Karena… yang memesan… adalah…” Monitor jantung tiba-tiba berbunyi keras. Bip....Bip....Bip... Garis di layar mulai melemah. Dokter masuk dengan ekspresi panik. “Pasien drop! Harap semua mundur!” Kalia mundur dengan wajah yang pucat. Namun sebelum kehilangan kesadaran, pria itu berbisik satu kata terakhir. Nama seseorang. Dan nama itu membuat Kalia dan Reza membeku bersamaan. “—Ibu Reza…” Suara pria itu nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat dunia Kalia runtuh. Matanya membesar. “Apa…?” Reza juga membeku. “Tidak mungkin…” Monitor jantung berbunyi panjang. Biiiiiiiiip— Dokter langsung mendorong mereka keluar. “Pasien kritis! Semua harap keluar sekarang!” Pintu ICU ditutup. Kalia berdiri kaku. Nafasnya tercekat. Kata terakhir itu masih bergema di telinganya. Ibu Reza. “Dia… menyebut mama?” suara Reza berat. Kalia menatapnya. “Aku juga dengar itu.” Reza menggeleng pelan. “Tidak mungkin… mama tidak mungkin terlibat







