Beranda / Romansa / AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG / Bab 43 Melompat ke Jurang

Share

Bab 43 Melompat ke Jurang

Penulis: Lyren Kael
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 21:39:14

Malam menua dalam diam. Di ruang kerja, Tama duduk menatap layar laptop yang redup. Huruf-huruf di sana seakan menari tanpa makna. Kepalanya berat, dadanya sesak. Ia tahu betul apa yang sedang menghantamnya, kesepian yang lama ia anggap sebagai pemahaman “dewasa”.

Pintu diketuk pelan. Raisha muncul kembali dengan piyama tipis abu-abu muda, rambutnya setengah basah, ia membawa segelas susu hangat.

“Mas belum tidur juga?” suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

“Masih kerja,” jawab Tama tanpa menoleh.

Raisha menaruh gelas itu di meja.

“Kalau mata Mas terus dipaksa melek kayak gitu, nanti malah nggak bisa lihat yang penting.”

Tama mendongak, keningnya berkerut.

“Maksudmu?”

Raisha menatapnya lama. “Aku cuma lihat, Mas udah nggak bahagia. Bukan karena pekerjaan, tapi karena nggak punya tempat buat nyandarin kepala.”

Kata-katanya sederhana, tapi tepat di titik paling lemah. Tama diam. Sudah lama tak ada yang berkata seperti itu padanya, bukan dengan nada menghakimi, tapi empati yang nyari
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 66 Publik Mulai Bertanya

    Di tempat lain, Tama duduk sendirian di rumah lamanya. Rumah yang terlalu besar untuk satu orang, tapi cukup sunyi untuk berpikir jernih.Di meja makan, ada map hasil pemeriksaan kesehatannya sendiri. Semua berlabel hijau, yang berarti layak dan siap ke tahap berikutnya.Ia teringat hari-hari saat obseevasi, dokter menyebut kemungkinan transplantasi. Bukan dengan nada darurat. Tapi dengan kepastian ilmiah yang dingin.“Ini soal kapan, bukannya apa.”Saat itu, Tama tidak ragu. Ia tidak bertanya apa dampaknya pada karier, reputasi, atau masa depannya. Ia hanya bertanya satu hal.“Apakah anak saya bisa hidup normal?”Dokter mengangguk. “Peluangnya besar, Pak.”Dan sejak saat itu, semuanya menjadi seperti gangguan suara.Ponselnya bergetar. Notifikasi datang bawa berita baru. Beberapa judul mulai berubah arah. Tidak membela Ravika. Tapi mulai mempertanyakan Alya.“Kontradiksi Pernyataan dalam Kasus Istri CEO, Publik Mulai Bertanya.”Diamnya Ravika tidak menciptakan simpati massal. Tapi ia

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 65 Keraguan yang Tak Terduga

    Keraguan yang pertama itu justru tidak datang dari Ravika. Ia datang dari orang-orang yang selama ini merasa aman berada di sisi cerita yang ramai.Pagi itu, sebuah akun analis media mengunggah sebuah utas pendek. Bukan berisi pembelaan. Bahkan tidak menyebut nama Ravika secara eksplisit. Hanya berupa tampilan grafik durasi tayang.Nama Alya muncul secara konsisten. Komentar emosionalnya dipotong rapi. Narasi ia sebagai "korban" dibingkai dengan jelas.Di sisi lain, nama Ravika hanya muncul sebagai subjek pasif. Tidak ada kutipan langsung. Tidak ada satu suara pun yang keluar darinya. Di bawah grafik itu, ada satu kalimat pendek yang ditulis dengan jelas, "Diam yang terlalu lama biasanya menandakan dua hal, ketakutan atau keyakinan." Tayangan itu tidak meledak. Apalagi sampai viral besar. Tapi cukup untuk terlihat oleh orang-orang yang terbiasa membaca di antara baris kebohongan.Beberapa jam kemudian, satu pembawa acara televisi yang biasanya agresif malah terdengar ragu saat meny

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 64 Diam yang Membara

    Malam itu, Ravika dan Tama berbicara lewat telepon. Obrolan yang tidak lama dan tanpa ada keluhan panjang.“Sekolah baru Elyra minta Elyra belajar dari rumah, Mas,” kata Ravika.Hening di seberang beberapa detik. “Alasannya?” tanya Tama kemudian. “Perlindungan semua pihak,” jawab Ravika singkat.Tama menghela napasnya. “Aku juga dibekukan total. Akses, dokumen, semuanya.”“Kita yang tidak pernah bersatu masih sedang dipisahkan pelan-pelan, Mas,” kata Ravika.“Iya, Vik,” sahut Tama. “Bukan dipukul. Tapi dipersempit.”Di kamar sebelah, Elyra sedang menggambar lagi. Kali ini bukan gambar rumah. Ia menggambar jalan yang panjang. Di ujungnya, ada tiga orang yang sedang berdiri berjajar.Ravika menutup panggilan itu dan masuk ke kamar.“Besok Ely sekolah kan, Ma?” tanya Elyra tanpa menoleh.Ravika berlutut. “Besok kita belajar di rumah dulu ya, Sayang.”“Karena Papa?”“Karena orang dewasa lagi semakin ribet.”Elyra mengangguk. “Nanti Papa marah, nggak?”“Enggak, Sayang,” kata Ravika. “Pap

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 63 Tekanan yang Tidak Pernah Berteriak

    Di sisi lain kota, tekanan bekerja dengan cara yang jauh lebih sunyi.Elyra duduk di bangku sekolahnya, kakinya menggantung sedikit karena kursinya masih ketinggian. Di papan tulis, gurunya menulis soal matematika seperti biasa.Yang tidak biasa di dalam ruang kelas itu adalah bisik-bisik yang berhenti setiap kali Elyra menoleh.Bukan ejekan. Atau mungkin saja belum terjadi.Hanya perubahan jarak duduk. Teman sebangkunya dipindahkan “sementara”. Ada undangan ulang tahun yang tidak jadi disampaikan kepada Elyra. Tatapan orang tua murid yang terlalu lama ketika menjemput anak-anaknya. Seorang anak laki-laki akhirnya bertanya dengan nada ingin tahu, yang belum belajar sopan santun. “Papa kamu yang di TV itu ya?”Elyra dengan polos mengangguk. “Iya.”“Katanya papa kamu jahat.”Elyra mengernyit. Ia tidak marah. Ia hanya bingung kenapa orang dewasa selalu memakai kata yang terlalu besar.“Papa aku baik,” katanya akhirnya. “Dia cuma lagi disalahpahami.”Anak itu diam. Tidak membantahnya. T

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 62 Rumah yang Riuh

    Sore itu hujan turun tanpa niat menghibur siapa pun. Hujan yang tidak deras, hanya gerimis panjang yang membuat dunia terlihat kusam dan sedikit malas bergerak.Ravika menutup jendela kamarnya setengah. Bukan karena dingin, tapi karena suara luar terasa terlalu ramai meski tak ada siapa-siapa yang berteriak.Marno sedang mengupas apel di dapur. Tangannya bergerak pelan, teratur, seperti orang yang sengaja memperlambat hidup agar tidak ikut terseret. Pisau kecil itu menari hati-hati, seolah satu gerakan ceroboh saja bisa memicu sesuatu yang lebih besar dari sekedar buah yang terpotong.Elyra duduk di lantai ruang tamu, ia sedang menggambar kesukaannya. Ia membuat rumah. Atapnya segitiga. Jendelanya dua. Pintu besar ada di tengah. Lalu menambahkan satu sosok tinggi di samping satu sosok yang lebih kecil.Ravika memperhatikannya dari sofa butut.“Papa lagi kerja ya?” tanya Elyra tanpa menoleh.Pertanyaan itu tidak mengandung kecemasan. Tidak ada nada mencari pembenaran. Hanya fakta yang

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 61 Cinta di Bawah Sorotan

    Pagi itu Ravika tidak langsung menyadari bahwa dunianya sudah berubah.Ia masih bangun di jam yang sama. Masih menyeduh teh dengan takaran yang sama. Ia juga masih mengecek tas mengajarnya, memastikan spidol cadangannya ada, buku absensi tidak tertinggal. Hidupnya, setidaknya di dapur sempit rumah sewaan baru itu, semuanya masih berjalan lurus.Yang berubah justru cara sunyi yang menyelinap.Teleponnya bergetar sejak subuh. Ia membiarkannya. Bukan karena tidak peduli, tapi karena sudah belajar lebuh tegar, kabar buruk selalu merasa sok penting.Ketika akhirnya ia membuka layar, tidak ada pesan panjang. Tidak ada kata-kata yang kasar. Hanya satu tautan yang dikirimkan berulang oleh nomor berbeda.Judulnya pendek. Terlalu rapi.“Direktur DharmaLux Terseret Isu Hubungan Gelap dengan Guru SD”Ravika menatap layar itu lama. Tidak ada reaksi spontan. Tidak kaget dan tiada rasa marah. Tubuhnya hanya terasa sedikit lebih dingin, seperti seseorang yang baru sadar hujan sudah turun sejak tadi.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status