เข้าสู่ระบบBab 113: Bersatu bersama warga perumahan. Matahari baru saja mengintip di ufuk timur, namun Bu Nur, pedagang sarapan keliling yang menjadi urat nadi informasi di Harmoni Residence, sudah memarkir gerobak dagangannya di persimpangan Blok C. Di atas gerobaknya yang panjangnya hampir dua meter, tertata rapi nasi uduk, lontong sayur, dan gorengan hangat. Namun, pagi ini, ada yang berbeda. Bu Nur tidak hanya membawa makanan; ia membawa "amunisi" informasi."Ayo, Bu RT, ini nasi uduknya. Masih anget seperti berita pagi ini," seru Bu Nur saat Bu RTmenghampiri.Ibu RT, yang dulu sempat sinis kepada Nadya namun kini telah "tobat" dan menjadi pendukung setia keluarga Pak Hardi, mendekat dengan wajah serius. "Sudah dengar kabar terbaru, Bu Nur? Katanya orang-orang Wijaya Kusuma itu mau nyogok orang kelurahan buat ngilangin arsip tanah kita?"Bu Nur mencondongkan tubuh, berbisik pelan sementara tangannya lincah membungkus lontong pecal. "Bukan cuma itu, Bu RT. Saya dapat info pas lagi bela
Bab 112: Riak di Balik Gerbang HarmoniSuasana meja makan di rumah Nadya yang kini juga menjadi rumah Pak Hardi pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Aroma nasi goreng mentega yang biasanya membangkitkan selera, seolah kehilangan daya tariknya bagi Tania. Gadis remaja itu hanya memainkan sendoknya, menatap hampa pada butiran nasi yang mulai mendingin."Kenapa kamu melamun, Tania?" tanya Nadya lembut, meski gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. Ia meletakkan segelas jeruk peras ditambah madu di samping piring putrinya. "Cepat habiskan sarapanmu, nanti terlambat sekolah."Tania menghela napas panjang, sebuah beban berat seolah keluar bersama karbondioksida dari parunya. "Tania malas ke sekolah, Ma. Di sekolah sudah banyak yang tahu tentang permasalahan yang dihadapi Bapak."Nadya tertegun. Ia tahu resiko menikahi tokoh publik seperti Pak Hardi, sang arsitek sekaligus pemilik Harmoni Residence yang kini tengah digoyang isu sengketa lahan oleh grup Wijaya Kusu
Bab 111: Perang AlgoritmaMatahari baru saja naik, tapi notifikasi di ponsel Pak Hardi sudah meledak. Suara denting pesan masuk terdengar bertubi-tubi seperti rentetan peluru. Hardi terbangun dengan dahi berkerut, meraih ponselnya di atas nakas. Begitu layar menyala, dadanya langsung sesak.Ada ratusan sebutan (mention) di akun Instagram pribadinya. Di aplikasi TikTok, sebuah video dengan caption bombastis sedang memuncaki daftar FYP (For Your Page)."TERBONGKAR! PENGUSAHA 'AGAMIS' SEROBOT TANAH WARGA UNTUK PROYEK ELIT!"Video itu memperlihatkan potongan gambar Pak Hardi yang sedang berdiskusi keras dengan Pak RT (yang sudah dipotong bagian konteksnya), ditambah narasi suara AI yang terdengar sangat provokatif. Di kolom komentar, ribuan akun yang sebagian besar terlihat seperti akun bodong atau buzzer menghujatnya habis-habisan."Mas, jangan buka Facebook dulu," suara Nadya terdengar gemetar dari arah dapur. Ia datang membawa tabletnya. "Grup komunitas perumahan kita sedang 'dig
Bab 110: Awal kemenangan. Matahari mulai meninggi di atas langit kompleks perumahan Harmoni Residence, namun udara dingin sisa hujan semalam masih terasa menggigit. Setelah keluarga besar membubarkan diri dari teras Bude Ijum untuk menjalankan peran masing-masing, Pak Hardi masih terdiam di kursi kayu itu. Di depannya, tas cokelat yang menjadi incaran Wijaya tergeletak. Sebuah benda kusam yang ternyata menyimpan sejarah besar—bukan hanya soal batas tanah, tapi soal kehormatan ayahnya."Mas, jangan terlalu banyak melamun," suara lembut Nadya memecah keheningan. Ia mengusap bahu Pak Hardi yang masih kaku. "Lenganmu harus diganti perbannya. Darahnya merembes lagi."Pak Hardi menoleh, tersenyum tipis. "Aku hanya sedang berpikir, Nad. Ayah dulu mempertaruhkan segalanya untuk menjaga makam keramat itu agar tidak digusur Wijaya. Sekarang, aku harus menjaga amanah ini untuk masa depan kita, dan juga warga di sini."Di sisi lain kota, Bu Fatma tidak membuang waktu. Dengan setelan blazer f
Bab 109: Permainan dimulai. Kota masih terlelap dalam pelukan fajar yang dingin, namun di sebuah Griya Tawang (penthouse) mewah di pusat kota, suasana justru mencekam. Pria itu, Wijaya, berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota yang mulai memudar. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi cairan amber digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.Wijaya bukanlah orang sembarangan. Ia adalah "pemain lama" di dunia properti yang dikenal dengan julukan Si Pemotong Kompas. Strateginya selalu sama: mencari lahan-lahan sengketa, membiayai salah satu pihak untuk memicu konflik horizontal, lalu masuk sebagai "penyelamat" dengan harga murah setelah warga kelelahan bertikai. Baginya, tanah bukan soal tempat tinggal, tapi soal angka-angka di atas kertas sertifikat."Gagal?" suara Wijaya berat dan dingin, memecah kesunyian ruangan."Maaf, Pak. Tedi tertangkap. Warga di sana ternyata jauh lebih militan dari yang kita perkirakan. Hardi... dia punya
Bab 108: Kemenangan. Pesta pernikahan yang seharusnya penuh gelak tawa itu kini menyisakan aroma amis darah dan debu aspal yang pekat. Meskipun musik rebana kembali terdengar sayup-sayup untuk mencairkan suasana, ketegangan masih menggantung di udara seperti kabut tipis. Pak Hardi duduk di kursi pelaminan, membiarkan Nadya membersihkan luka sayatan di lengannya dengan kapas dan alkohol."Pelan-pelan, Mas," bisik Nadya, matanya masih sembab. "Untung pisaunya tidak kena urat nadi."Hardi hanya tersenyum tipis, meski pikirannya melayang pada pesan ancaman di ponselnya. Ia melirik ke arah gerbang, di mana Pak RT masih berdiri terpaku, dikelilingi oleh beberapa tokoh masyarakat. Namun, pandangan Hardi teralihkan oleh sosok wanita yang berjalan mendekat dengan langkah gontai dan kepala tertunduk dalam.Itu adalah Bu RT.Wanita yang biasanya tampil paling mentereng dengan perhiasan emas yang mencolok dan gaya bicara yang merendahkan itu, kini tampak sangat kerdil. Kebaya mahalnya terlih







