Home / Rumah Tangga / AMBISI IBU MERTUA / Bab 17: Berusaha mengambil hati Wanda.

Share

Bab 17: Berusaha mengambil hati Wanda.

Author: Putrisyamsu
last update Last Updated: 2025-10-01 09:31:57

Bab 17: Berusaha mengambil hati Wsnda.

“Kenapa tadi kamu tidak melabrak menantu mu? Apa kamu takut?” tanya Mak Yeyen setelah mereka selesai minum es teler.

“Aku tidak bisa membayangkan seandainya tadi kamu melabrak Nadya. Pasti akan menjadi berita seru. Dan kamu akan jadi semakin terkenal,” ucapnya lagi, membuat Mak Onah geram karena diremehkan temannya sendiri.

“Apa, kamu kira aku takut? Memangnya kamu sudah lupa siapa aku!” bentak Mak Onah tidak terima karena merasa disepelekan.

“Aku tidak mau gegabah, kali ini aku akan bermain cantik. Sekarang yang terpenting bagaimana caranya aku mengambil hati anakku kembali. Karena saat ini aku merasa Wanda itu memusuhiku. Padahal sebenarnya dia anak yang berbakti dan penurut. Gara-gara perempuan celaka itu sekarang anakku jadi pembangkang,” ucapnya sewot.

Keduanya kembali fokus memperhatikan Nadya bersama seorang lelaki yang mereka pastikan bukan warga di kawasan tempat tinggal mereka.

“Ayo,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 101: Rencana licikPak RT.

    Bab 101: Rencana licik Pak RTKegelisahan itu seperti kabut tebal yang enggan beranjak dari hati Nadya. Sejak Pak Hardi mengungkapkan niatnya secara terbuka beberapa hari lalu, ketenangan Nadya menguap. Pagi itu, ia duduk di tera. Sebuah ruang tamu terbuka yang dirancang khusus oleh Pak Hardi agar Nadya, sebagai seorang janda, bisa menerima klien dengan leluasa tanpa memicu fitnah tetangga.​Di depannya, laptop menyala menampilkan timeline video iklan pesanan klien. Namun, fokus Nadya tercerai-berai. Matanya justru terpaku pada pagar kokoh yang baru saja diselesaikan oleh Pak Hardi dan timnya. Pagar itu bukan sekadar pembatas fisik, tapi bukti perhatian pria itu yang begitu detail.​Kini, setelah proyek pagar selesai, rumah itu terasa senyap secara mendadak. Tak ada lagi suara palu yang beradu atau deru mesin potong besi. Tak ada lagi sosok tegap Pak Hardi yang mondar-mandir dengan peluh di dahi. Ditambah lagi, besok Akmal, putra bungsunya, akan berangkat ke pondok pesantren. Kesepian

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 100: Pak RT tidak tahu malu

    Bab 100: Pak RT tidak tahu malu. Hati Wanda seketika menciut saat melihat sosok Pak Hardi berdiri tegak di dalam kamar rawat itu. Wibawa pria itu seolah membungkam keberanian Wanda yang sedari tadi ia kumpulkan.​"Aku... aku ingin menjenguk Nadya," ucap Wanda terbata, suaranya hampir menyerupai bisikan.​"Papa..." Akmal bergumam. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk segera menghampiri dan mencium tangan ayahnya. Namun, melihat tubuh ibunya yang masih lemah di atas ranjang, Akmal mengurungkan niat. Ia memilih tetap berada di sisi Nadya, menjaga benteng pertahanan terakhir ibunya.​Wanda tak berani melangkah lebih dalam. Ia terpaku di ambang pintu, merasa seperti orang asing yang tak diinginkan. Hanya Feri dan Rina yang melangkah maju mendekati ranjang.​"Bagaimana keadaanmu, Nadya?" tanya Rina lembut, matanya menyiratkan simpati yang mendalam.​Keheningan itu pecah saat petugas keamanan masuk dan meminta sebagian pembesuk untuk keluar demi ketenangan pasien. Di dalam ruangan, kini ha

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 99: Ketakutan.

    Bab 99: Ketakutan. Sepeninggal kedua anaknya, Wanda duduk mematung di kursi teras yang kayu-kayunya mulai kusam. Tatapannya kosong, terpaku pada ujung jalan setapak di mana bayangan Akmal dan Tania perlahan lenyap ditelan tikungan. Itu adalah pertemuan singkat pertama setelah sekian lama perceraian memisahkan mereka—sebuah pertemuan yang bukannya menyembuhkan, justru meninggalkan lubang menganga di dadanya.​Suasana hatinya makin mencekam. Keheningan pagi itu terasa lebih menindas ketimbang saat Mak Omah, ibunya, menghembuskan napas terakhir tiga hari yang lalu. Kehilangan ibu adalah duka mendalam, namun melihat anak-anaknya pergi menjauh darinya dengan rasa canggung, adalah siksaan yang berbeda. Rasanya seperti mati berkali-kali dalam satu helaan napas.​Feri, saudara sulungnya, menyulut rokok dan menghembuskan asapnya ke udara yang lembab. Ia menatap Wanda dengan iba, namun nada bicaranya tetap tegas.​"Biarlah mereka hidup bahagia, Wanda. Jangan kau ganggu lagi ketenangan mereka.

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 98: Tania menjemput Akmal.

    Bab 98: Tania menjemput Akmal. Suasana kamar perawatan yang tadinya hangat dan penuh bunga-bunga asmara, mendadak berubah mencekam. Pak Hardi masih mematung dengan ponsel yang menempel di telinga. Kalimat ketus dari seberang telepon itu terus terngiang, seolah-olah sebuah garis pembatas yang tajam baru saja ditarik di antara dirinya dan masa depan yang baru saja ia impikan bersama Nadya.​"Ada apa, Pak? Siapa yang menelepon?" tanya Nadya sekali lagi. Nadya bisa merasakan ada sesuatu yang salah. Raut wajah Pak Hardi tidak bisa berbohong; ada kemarahan yang tertahan, namun ada juga keraguan yang menyelinap.​Pak Hardi menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu. "Hanya... masalah kecil di kantor, Bu Nadya. Saya harus keluar sebentar untuk menerima telepon ini dengan lebih jelas," dalihnya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Nadya yang masih lemah.​Pak Hardi melangkah keluar. Begitu pintu terbuka, Bu Retno, Bu Fatma, dan Bude Ijum hampir terjungkal karen

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 97: Penelepon tak dikenal.

    Bab 97: Penelepon tak dikenal. ​ wajah Nadya terasa panas seperti tersulut api. Di layar ponsel Bu Retno, ia melihat dirinya sendiri yang terkulai lemas, sementara Pak Hardi, sosok yang selama ini dikenal sebagai pria berwibawa dan sedikit cuek tampak begitu panik. Dalam video amatir yang diambil Bu Pipit itu, Pak Hardi dengan tangkas mengangkatnya dengan gerakan bridal style yang sangat protektif, lalu setengah berlari menuju mobil. ​“Aduh, Bu Retno... hapus saja videonya. Malu dilihat orang,” bisik Nadya dengan suara parau, berusaha menutupi wajahnya dengan bantal. ​“Hapus? Wah, tidak bisa, Bu! Ini adalah dokumen sejarah! Lihat wajah Pak Hardi, dia seperti mau kehilangan separuh jiwanya. Jarang-jarang kita lihat orang seperti Pak Hardi yang biasanya sok cuek jadi sekacau itu,” goda Bu Retno sambil tertawa kecil.​ Tania yang ikut mengintip layar ponsel hanya tersenyum simpul. “Mama cantik kok di situ, seperti putri tidur yang diselamatkan pangeran.” Tania

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 96: Mengapa Nadya jadi malu?

    Bab 96. Mengapa Nadya jadi malu? Nadya sudah berada di sebuah kamar yang nyaman. Hingga tidak terasa jika tempatnya berada saat itu adalah sebuah kamar perawatan di rumah sakit. Tepatnya seperti kamar hotel yang nyaman. Membuat Bu Retno tak henti-henti mengagumi. “Gila Pak Hardi. Pengorbanannya untuk wanita pujaannya lumayan juga. Beruntung sekali Bu Nadya. Semoga mereka secepatnya menikah. Tapi dasar Pak Hardi tidak peka dengan perempuan. Dia yang lama nembak Bu Nadya aku yang gregetan.”Bu Retno duduk di sebuah sofa yang disediakan rumah sakit untuk keluarga pasien sambil mengamati kamar rumah sakit yang sangat nyaman. Bu Retno tak henti menggerutu mengingat tingkah temannya. “Bude, apa Pak Hardi yang membawa saya ke rumah sakit?” tanya Nadya pada Bude Ijum yang duduk di samping tempat tidurnya. “Iya, Tadi dia yang membawa kamu ke sini. Dia begitu cemas begitu tahu kamu pingsan. Hingga tidak peduli dengan pekerjaanya. Nadya terdiam. Ada ra

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status