Home / Rumah Tangga / AMBISI IBU MERTUA / Bab 35: Berita dari kampung.

Share

Bab 35: Berita dari kampung.

Author: Putrisyamsu
last update Huling Na-update: 2025-10-25 17:57:46

Bab 35: Berita dari kampung.

Wanda melirik kearah Mak Onah yang berdiri di teras. Tatapannya begitu tajam. Membuat Mak Onah salah tingkah. Merasa dicurigai oleh Wanda wanita tua itu berusaha menghindar. Perlahan seolah tidak terjadi apa-apa Mak Onah melangkah kearah pintu.

Tunggu, Mak!” seru Wanda. Ia berjalan kearah Mak Onah yang tiba-tiba mematung. Sementara jantungnya berdegup dengan kencang.

Hening. Tak ada yang bersuara. Wanda tidak langsung bertanya pada ibunya. Ia malah menatap tajam wanita tua di hadapannya. Berusaha mendapatkan keterangan dari mimik wajahnya maupun bahasa tubuh perempuan tua itu.

“Sejak kapan Mak Cik Nasrul datang kesini?” tanya Wanda. Tapi bagi Mak Onah pertanyaan itu tak ubahnya bagai peluru senapan yang memberondong kearahnya.

Karena telah memberikan surat tanah warisan suaminya pada Pak Nasrul tanpa lebih dulu berunding dengan anak-anaknya tiba-tiba membuat hatinya didera rasa takut.

“Dia han
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 110: Awal kemenangan.

    ​Bab 110: Awal kemenangan. Matahari mulai meninggi di atas langit kompleks perumahan Harmoni Residence, namun udara dingin sisa hujan semalam masih terasa menggigit. Setelah keluarga besar membubarkan diri dari teras Bude Ijum untuk menjalankan peran masing-masing, Pak Hardi masih terdiam di kursi kayu itu. Di depannya, tas cokelat yang menjadi incaran Wijaya tergeletak. Sebuah benda kusam yang ternyata menyimpan sejarah besar—bukan hanya soal batas tanah, tapi soal kehormatan ayahnya.​"Mas, jangan terlalu banyak melamun," suara lembut Nadya memecah keheningan. Ia mengusap bahu Pak Hardi yang masih kaku. "Lenganmu harus diganti perbannya. Darahnya merembes lagi."Pak ​Hardi menoleh, tersenyum tipis. "Aku hanya sedang berpikir, Nad. Ayah dulu mempertaruhkan segalanya untuk menjaga makam keramat itu agar tidak digusur Wijaya. Sekarang, aku harus menjaga amanah ini untuk masa depan kita, dan juga warga di sini."​Di sisi lain kota, Bu Fatma tidak membuang waktu. Dengan setelan blazer f

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 109: Permainan dimulai.

    Bab 109: Permainan dimulai. Kota masih terlelap dalam pelukan fajar yang dingin, namun di sebuah Griya Tawang (penthouse) mewah di pusat kota, suasana justru mencekam. Pria itu, Wijaya, berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota yang mulai memudar. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi cairan amber digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.​Wijaya bukanlah orang sembarangan. Ia adalah "pemain lama" di dunia properti yang dikenal dengan julukan Si Pemotong Kompas. Strateginya selalu sama: mencari lahan-lahan sengketa, membiayai salah satu pihak untuk memicu konflik horizontal, lalu masuk sebagai "penyelamat" dengan harga murah setelah warga kelelahan bertikai. Baginya, tanah bukan soal tempat tinggal, tapi soal angka-angka di atas kertas sertifikat.​"Gagal?" suara Wijaya berat dan dingin, memecah kesunyian ruangan.​"Maaf, Pak. Tedi tertangkap. Warga di sana ternyata jauh lebih militan dari yang kita perkirakan. Hardi... dia punya

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 108: Kemenangan.

    Bab 108: Kemenangan. Pesta pernikahan yang seharusnya penuh gelak tawa itu kini menyisakan aroma amis darah dan debu aspal yang pekat. Meskipun musik rebana kembali terdengar sayup-sayup untuk mencairkan suasana, ketegangan masih menggantung di udara seperti kabut tipis. Pak Hardi duduk di kursi pelaminan, membiarkan Nadya membersihkan luka sayatan di lengannya dengan kapas dan alkohol.​"Pelan-pelan, Mas," bisik Nadya, matanya masih sembab. "Untung pisaunya tidak kena urat nadi."​Hardi hanya tersenyum tipis, meski pikirannya melayang pada pesan ancaman di ponselnya. Ia melirik ke arah gerbang, di mana Pak RT masih berdiri terpaku, dikelilingi oleh beberapa tokoh masyarakat. Namun, pandangan Hardi teralihkan oleh sosok wanita yang berjalan mendekat dengan langkah gontai dan kepala tertunduk dalam.​Itu adalah Bu RT.​Wanita yang biasanya tampil paling mentereng dengan perhiasan emas yang mencolok dan gaya bicara yang merendahkan itu, kini tampak sangat kerdil. Kebaya mahalnya terlih

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 107: Pesta yang berdarah.

    Bab 107 Pesta yang berdarah. ​Pria berjaket kulit hitam itu tidak membuang waktu. Dengan gerakan yang sangat terlatih. Terlalu rapi untuk sekadar maling kelas teri. Ia menyambar tas kulit coklat milik asisten Pak Hardi yang diletakkan di bawah meja administrasi. Tas itu bukan sekadar berisi uang tunai, melainkan seluruh nyawa dari proyek perumahan "Harmoni Residence" yang sedang dalam sengketa, serta buku nikah yang tinta tanda tangannya bahkan belum kering benar.​"Berhenti!" teriak Bang Didin. Niatnya untuk menebus kesalahan pada Pak Hardi memicu adrenalinnya. Ia mencoba menjegal kaki pria misterius itu saat ia berlari menuju pagar samping.​Namun, pria itu tidak menghindar. Dengan gerakan bahu yang efisien, ia menghantam dada Bang Didin hingga pria itu terjungkal ke barisan kursi plastik. Pria misterius itu terus berlari menuju tanah di samping rumah Nadya yang menjadi proyek Pak Hardi. Di bawah pohon matoa tempat motor matic tanpa plat nomor sudah menunggu dalam keadaan mesin men

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 106: Pak RT jadi malu sendiri.

    Bab 106: Pak RT Jadi malu. Pria tua itu melangkah tertatih, namun setiap ketukan tongkatnya di aspal terdengar seperti detak jantung yang memburu. Warga terperangah. Pak RT, yang tadinya congkak, mendadak lemas hingga harus berpegangan pada bahu Pak Asep.​"Mbah... Mbah Jono?" bisik Bu Nur, hampir tidak percaya. "Bukannya Mbah sudah pindah ke Jawa dan kabarnya sudah meninggal?"​Mbah Jono, mantan juru ukur tanah paling senior di daerah itu, menghentikan langkahnya tepat di antara Pak Hardi dan Pak RT. Matanya yang rabun namun tajam menatap Pak RT dengan penuh kekecewaan.​Rahasia di Balik Patok Tanah​"Paijo," suara Mbah Jono bergetar menyebut nama asli Pak RT. "Sudah puluhan tahun kamu memelihara api di dalam kepalamu. Ayahmu dulu bukan kalah karena dicurangi, tapi karena dia memang sudah menjual tanah itu secara sah kepada ayah Pak Hardi untuk biaya pengobatan ibumu."​Suasana mendadak hening sesaat, sebelum kemudian riuh oleh bisik-bisik warga. Pak RT menggeleng keras, wajahnya

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 105: Rencana tetap berjalan

    Bab 105: Rencana tetap berjalan. Pukul empat pagi. Kabut tipis masih menyelimuti kompleks, namun dapur umum di rumah Nadya sudah mengepulkan uap. Bu Nur, dengan mata yang masih sedikit sembab karena kurang tidur, mendadak mematung di depan kuali besar.​"Lho, Bu Nur? Kenapa diam saja? Itu santannya keburu pecah kalau tidak diaduk," tegur Bu Fatma sambil membawa nampan berisi gelas kopi untuk para bapak yang membantu.​Bu Nur tidak menjawab. Tangannya gemetar menunjuk ke arah deretan ember besar tempat daging kambing yang sudah dibumbui semalam disimpan. "Bu... Bu Fatma... lihat itu."​Bu Fatma mendekat. Bau menyengat menusuk hidung—bukan aroma prengus kambing yang khas, melainkan bau solar yang sangat tajam. Cairan hitam berminyak menggenang di permukaan bumbu kuning yang seharusnya menggugah selera. Lima ekor kambing yang sedianya akan disedekahkan telah dicemari.​"Astagfirullah! Siapa yang tega melakukan ini?!" pekik Bu Fatma hampir menjatuhkan nampan nya. Disisi lain perumahan.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status