Share

Ingatan Luka

Author: Red Ruby
last update publish date: 2022-10-13 19:50:26

Krieeett. Blam!

Pintu kamar Rain terbuka dan menutup kembali dengan cukup keras usai wanita cantik bergaun putih masuk. Netranya basah, hidungnya memerah. Meski bibirnya terkatup, raut wajahnya cukup menggambarkan jika ia sedang tidak baik-baik saja.

Rain yang duduk di sebuah kursi hanya diam menatapnya, tak tahu harus berkata apa. Hening sejenak, hingga wanita itu melirik tas berukuran sedang yang teronggok di sudut kamar bernuansa coklat muda itu.

"Kamu mau pergi?" tanya wanita itu. Air matanya kembali berlinang, membasahi pipi putih mulus yang terawat.

"Jangan seperti ini, Amethyst," ucap Rain akhirnya. Pria itu bangkit dari kursi dan berjalan menuju balkon. Kamarnya yang berada di lantai dua memudahkannya melihat pemandangan perbukitan sore itu.

Sikap Rain tampak dingin, bahkan seolah tak peduli pada wanita berambut panjang itu. Posisinya yang membelakangi hanyalah cara untuk menghindari tatapan sendu milik Amethyst. Cuma ia saja yang tahu jika saat ini hatinya juga hancur.

"Bukankah kamu mencintaiku?" Amethyst bersuara setelah hening selama beberapa saat. Suasana di ruangan tiga kali empat meter itu tiba-tiba membuat Rain teringat masa lalu yang kelam.

Alih-alih menjawab, Rain justru membalikkan badan. Kini mereka saling berhadapan dan pria itu mendekat. Senyum kecilnya terbit. Tangan kanannya terangkat, menyeka bulir bening yang sedari tadi turun dari netra cantik Amethyst.

'Tentu saja, aku mencintaimu. Tidak ada yang mencintaimu lebih dari aku.' Rain mengucapkan kalimat itu dalam hati.

"Rain! Jawab!!" seru Amethyst lagi. Kini emosinya mulai tak terkendali.

"Semesta tak mengijinkan kita bersama. Orang tuamu benar, aku tak pantas untukmu."

"Lalu apa makna semua lily putih yang selama ini kamu berikan setiap pagi? Dan juga untuk apa malam itu kamu menciumku?" Pertanyaan yang Amethyst lontarkan keluar dari dalam hati.

Mendengarnya, sinar di mata Rain meredup. Sebelum menjauh, ia mengungkapkan hal yang akan menghancurkan hati Amethyst hingga tak tersisa.

"Sepertinya kau salah paham, hubungan kita sekedar guru dan murid. Lagipula aku mencintai orang lain," ujar Rain dengan nada tenang seperti biasa. Ia kembali membelakangi wanita itu, menyembunyikan kebohongan yang disengaja.

Tak perlu menunggu waktu lama, langkah kaki Amethyst mundur teratur. Dengan penuh kecewa, wanita itu keluar kamar, meninggalkan Rain yang hanya bisa menghela napas berat.

Bukan perkara mudah bagi Rain untuk mengalah. Amethyst adalah satu-satunya cinta dalam hidupnya. Tapi jika saja tidak ada siklus terkutuk itu, ia dengan senang hati membawa Amethyst pergi.

Malam ini adalah pertunangan Amethyst dengan seseorang. Pria yang cakap dan mapan, pilihan orang tua wanita itu. Dan hari ini juga adalah ulang tahun Amethyst yang ke dua puluh.

Rain tersenyum miris, mengingat takdir mereka yang kejam. Berkali ia telah melihat wanita cantik itu harus kehilangan nyawa. Yang paling menyakitkan, ia tak bisa berbuat apa-apa.

"Maaf, Amethyst. Dengan ini, kuharap kutukan kita akan berakhir." Lagi, Rain menghela napas berat setelah memandang kalender selama beberapa saat. Dua puluh empat Maret. Ia sangat berharap hari ini tidak akan ada hal buruk yang terjadi.

Usai memastikan semua barangnya tidak ada yang tertinggal, Rain membawa tas berwarna hitam yang tampak senada dengan pakaiannya. Satu hal yang akan ia lakukan adalah pergi menemui ayah Amethyst untuk berpamitan.

"Selamat siang, Tuan Redo." Rain memberi salam pada pria paruh baya dengan penampilan rapi.

"Oh. Rain? Kau sudah akan pergi?" Pria itu menatapnya lurus.

Ditanya seperti itu, Rain hanya mengangguk. Sekilas ia mengingat jika pria itu pula yang telah membawanya ke villa putih ini sebagai guru piano privat untuk putri tunggalnya, Amethyst.

"Kau tidak ingin menghadiri acara pertunangan Amethyst malam nanti?" Pria yang merupakan pemilik perkebunan teh ratusan hektare itu bertanya lagi.

"Tidak, Tuan. Saya akan pergi sekarang juga," jawab Rain dengan tatapan datar.

"Jangan khawatir tentang ucapan istriku. Aku tahu kau bukan orang seperti itu. Tapi jika kau benar ingin pergi, aku tidak akan melarang lagi. Ini gaji terakhirmu." Tuan Redo mengeluarkan amplop berisi beberapa lembar uang bernominal tidak sedikit.

Belum sempat Rain memberi respon, seseorang memaksa masuk ke dalam ruangan dengan peluh di dahi yang tak lain adalah salah satu pelayan keluarga kaya itu.

"Tuan! Nona Amethyst. Dia ... dia ...." Pria dengan setelan khusus pelayan hitam itu tampak kesulitan menjelaskan. Tapi wajahnya mencerminkan jika ada hal buruk yang terjadi. Mendengar nama Amethyst disebut, Rain bergegas keluar dan berlari.

"Kenapa kau ini? Katakan dengan jelas," tutur Tuan Redo. Alisnya terangkat sebelah menyadari betapa anehnya sikap Rain.

"N-nona Amethyst berada di balkon lantai tiga. Dia ingin melompat, Tuan ...."

"Apa?!" Tuan Redo bangkit dengan cepat dan menuju titik tempat putri tercintanya kini berada sesuai arahan si pelayan.

Sedangkan di halaman samping villa, terpampang pemandangan horor. Amethyst berdiri pada luar pagar pembatas balkon. Tangannya masih berpegangan. Namun jika jemari lentik itu lelah atau berkeringat, maka dengan mudah tubuh ramping nan ringkih itu terjun bebas.

Lebih dari lima orang pelayan meminta putri dari majikan mereka untuk turun. Beberapa meter dari Amethyst juga nampak wanita cantik blasteran yang adalah ibunya.

"Kemari, Sayang. Ibu akan membatalkan pertunanganmu dengan Bastian jika memang itu yang kamu inginkan," bujuknya dengan air mata berlinang. Tetapi Amethyst menggeleng.

"Terlambat, Ibu. Dia menolakku. Dia ingin meninggalkanku," racau Amethyst dengan tatapan kosong. Ia mendengarkan panggilan dari kematian yang terasa begitu dekat.

"Amethyst!" Rain tiba-tiba sudah ada di samping Nyonya Redo.

Si pemilik nama menoleh. Bibirnya membentuk senyum yang terlihat aneh. Rain maju selangkah demi selangkah, berharap bisa menghentikan niat Amethyst untuk mengakhiri hidup.

"Berhenti, Rain! Berhenti atau aku akan lompat sekarang juga!" ancam Amethyst yang seketika membuat langkah Rain membeku.

"Kamu ingin pergi, bukan? Silahkan. Aku tidak akan menghalangimu. Pergi saja. Kejar wanita yang kamu cintai itu," ucap Amethyst. Air matanya berderai.

Kali ini Rain tak bisa menyembunyikan kesedihannya lagi. Netranya juga basah dan satu bulir bening menetes.

"Aku mencintaimu," ucap Rain.

Amethyst tergelak lemah mendengar pengakuan itu. Baginya sekarang, Rain tengah mengejeknya. Ia yakin Rain berkata demikian hanya untuk membujuknya.

"Bohong! Kamu tidak mencintaiku!" Amethyst berseru dengan putus ada sebelum akhirnya suaranya melemah. "Selamat tinggal ...."

Detik berikutnya, Amethyst benar-benar melepas pegangan. Tubuh itu tampak melayang sebelum mendarat dengan keras pada halaman samping yang sebagian telah dipaving. Darah segar mengalir deras dari bagian kepala.

"Amethyst!" teriak Nyonya Redo.

Rain terduduk lemas. Semua hiruk pikuk yang terjadi setelahnya terdengar bagai dengungan untuknya. Sekali lagi, Amethyst-nya telah direnggut. Satu hal yang pasti, ia telah gagal menghentikan siklus.

Cklek.

"Rain!" Kemunculan Gideon yang telah kembali ke wujud manusia secara mendadak membuyarkan lamunan Rain tentang kejadian dua puluh tahun silam.

"Baguslah jika kau belum tidur. Ikut aku, ada sesuatu yang mungkin harus kau lihat," lanjut pria itu.

Tanpa bicara, Rain mengikuti langkahnya. Keluar dari rumah Tuan Tino, dua pria jalan beriringan. Mereka menuju satu pohon besar tak jauh dari kawasan taman kota. Situasi di sekitarnya sepi. Maklum saja, ini nyaris pukul satu lewat tengah malam.

"Aku merasakan energi tak biasa saat mendekati pohon ini," ujar Gideon.

Rain maju dan menyentuh permukaan pohon tua. Ia pun merasakan energi aneh. Pohon ini bukan pohon biasa.

"Pohon ini pernah menjadi pintu portal. Tapi sepertinya ada yang telah menyegelnya," terang Rain.

"Ck. Ternyata benar dugaanku. Tapi siapa yang melakukannya?" Gideon terlihat gemas.

Rain menggeleng singkat. Ia pun tidak tahu. Dua pria itu belum menyadari jika ada sesuatu yang tengah mengawasi gerak-gerik mereka.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Saatnya Pulang

    Rain menatap lurus ke dalam netra Emilia, memberikan tatapan perpisahan yang dingin sebelum akhirnya melemparkan pil keabadian itu ke udara. "Ambil itu!" serunya singkat.Seketika, keserakahan meledak di dalam gua. Emilia, Mark, dan seluruh anggota tim ekspedisi melompat secara bersamaan, tangan-tangan mereka terjulur ke atas berusaha menggapai pendaran biru tersebut. Namun, pil itu tidak jatuh. Seolah menolak hukum gravitasi, pil sebesar kelereng itu berhenti di udara, berputar dengan kecepatan tinggi hingga menciptakan pusaran cahaya biru yang menyilaukan.WUUUUUUUUUUUUUUUU—Suara dengung frekuensi tinggi yang memekakkan telinga mendadak muncul, menghantam dinding-dinding kristal dan memantulkannya kembali ke arah mereka. Suaranya begitu menyakitkan, seolah-olah ribuan kaca pecah secara bersamaan di dalam kepala."Argh!" Emilia jatuh berlutut sambil menutup telinganya rapat-rapat.Gideon pun tak luput dari serangan suara itu. Sambil tetap memapah tubuh Amy yang lunglai, ia berusaha

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Gua Kristal

    Gideon menyadari atmosfer yang menjadi canggung sejak Rain masuk ke dalam gua. Untuk mencairkan suasana, ia mengeluarkan sebuah dadu segi delapan berwarna perak dari saku celananya. Dengan lihai, ia memainkan lempar-tangkap, membuat dadu itu berputar di udara sebelum mendarat sempurna di ujung jarinya."Ayolah, Amy. Jangan memasang wajah seperti sedang menunggu hukuman mati begitu," goda Gideon sambil mengerlingkan mata. "Rain itu lebih keras dari batu gua ini. Dia akan baik-baik saja, bahkan jika ular itu mengajak teman-temannya untuk makan malam."Amy tidak menyahut. Ia memilih duduk di sebuah batu besar yang permukaannya rata, menatap nanar ke arah kegelapan mulut gua. Pikirannya masih dipenuhi rasa bersalah karena telah mengabaikan bantuan Rain di jembatan tadi, namun rasa cemasnya jauh lebih mendominasi."Heei, kau dengar tidak? Bagaimana kalau kita bertaruh? Jika dadu ini berhenti di angka delapan, kau harus berhenti cemberut," Gideon mencoba lagi, namun suaranya perlahan memuda

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Kembalinya si Penguasa Hutan

    Beberapa jam perjalanan melewati medan yang semakin curam membawa rombongan pada sebuah jembatan gantung tua. Jembatan itu tampak rapuh dengan tali tambang yang sudah berlumut, membentang di atas jurang dalam yang memisahkan dua tebing tinggi. Angin gunung yang kencang membuat struktur kayu itu berderit dan berayun pelan.Rain, sebagai yang paling ahli dalam navigasi, melangkah lebih dulu. Ia memeriksa setiap pijakan dengan teliti sebelum memberi isyarat agar rombongan mengikuti. Emilia berjalan tepat di belakangnya. Namun, saat mendekati ujung tebing seberang, sebuah kayu pijakan yang lapuk mendadak patah."Aaah!" Emilia memekik kecil saat tubuhnya limbung ke arah jurang.Dengan refleks secepat kilat, Rain berbalik dan menangkap tubuh Emilia. Ia merengkuh bahu dan pinggang gadis itu agar tidak terjatuh. Posisi mereka menjadi sangat dekat; wajah Emilia tersembunyi di ceruk leher Rain dan napas mereka menderu di udara yang dingin. Dari sudut pandang barisan di belakang—terutama dari po

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Ajakan Emilia

    Suasana makan siang di kamp terasa kontras. Di satu sisi, tim ekspedisi Emilia tampak tegang mempersiapkan perlengkapan, sementara di sudut lain, Amy duduk melingkar bersama teman-temannya di bawah naungan pohon besar.Velia menggigit apelnya dengan suara renyah, wajahnya tampak lesu. "Yah, petualangan ini seru, tapi kenyataan memanggil. Waktu cutiku berakhir besok. Kalau aku tidak kembali bekerja, bosku akan menggantungku di lobi kantor," keluhnya malas."Aku juga," timpal Davon sambil membersihkan sepatunya dari sisa tanah gua. "Ada agenda keluarga yang tidak bisa kutunda lagi. Sepertinya kita harus segera turun gunung."Amy hanya terdiam, jemarinya memutar-mutar gelas minumannya. Pikirannya melayang jauh. Ia sudah mengirimkan surat pengunduran diri dari kafe milik paman Tora tepat sebelum perjalanan ini dimulai. Ia merasa butuh awal yang baru, meski ia sendiri belum tahu akan ke mana kaki melangkah setelah angka di perutnya mencapai nol.Tora yang duduk di sampingnya terus mengunya

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Rute Baru

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah batu yang ditumbuhi lumut, menciptakan garis-garis emas di lantai ruangan utama. Sebelum Amy membuka mata, Rain sudah berada di ruang tengah, berdiri tegang di hadapan Gideon dan si peri hutan yang sedang menyeduh teh herbal."Jangan pernah bahas tentang solusi itu lagi di depan Amy," ujar Rain dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Biarkan dia percaya bahwa kita hanya sedang mencari jalan keluar dari hutan ini."Gideon, yang sedang menyandarkan punggungnya di rak buku, menaikkan satu alisnya. Ia menatap Rain dengan saksama, menyadari ada sesuatu yang berbeda dari aura sahabatnya itu. "Kau melakukannya, bukan?" bisik Gideon. "Kau menghapus ingatannya tentang semalam?"Rain hanya mengangguk pelan. Tidak ada rahasia di antara mereka, namun ada rasa bersalah yang tersembunyi di balik tatapan dingin Rain. Ia tahu menghapus memori adalah tindakan egois, tapi melihat angka di perut Amy merosot tajam semalam, ia tidak punya pilih

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Menghapus Ingatan

    Penjelasan si peri hutan sukses membuat tiga orang di depannya mematung seakan lupa cara bernapas. Udara di dalam ruangan yang tadinya terasa hangat kini mendadak membeku, lebih dingin daripada kabut di Hutan Rhae. Kata-kata itu menggantung di udara seperti vonis mati yang baru saja dijatuhkan.Gideon adalah yang pertama kali bersuara, suaranya parau dan penuh ketidakpercayaan. "Ini gila... benar-benar gila," gumamnya sambil mengusap wajah dengan kasar. "Setelah semua yang mereka lalui, takdir meminta mereka menciptakan nyawa hanya untuk dihancurkan? Itu bukan solusi, itu kekejaman yang baru!"Amy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. Tiba-tiba saja, ia ingin menangis sejadi-jadinya. Bayangan tentang seorang anak—buah cintanya dengan Rain yang selama ini hanya berani ia impikan dalam khayalan paling rahasia—kini berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Ia takkan mampu melakukan hal itu. Tidak akan pernah.Rain mengepalkan tangannya hingga kuku-kuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status