登入"Tidak! Jangan menyerah!" jerit Vanya, memecah keputusasaan yang mulai menyelimuti ruangan. Ia mendorong mundur perawat dan maju mendekati kepala Devan. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini luruh membasahi masker hijaunya. "Vanya, secara medis dia sudah—" "Aku bilang tidak, dokter Nathan! Mas Devan belum mati!" potong Vanya histeris. Mengabaikan semua pandangan sedih para tim medis. Vanya menangkup wajah Devan dengan kedua tangannya. Kulit pria itu terasa begitu dingin di bawah telapak tangannya, membuat seluruh jiwa Vanya menjerit kesakitan. "Mas Devan, buka matamu! Aku mohon, bangun!" Vanya mengguncang bahu Devan dengan putus asa, menyalurkan seluruh kehangatan dan cintanya yang tersisa ke dalam tubuh kaku itu. "Kamu berjanji akan melindungiku, kan? Kamu bilang kamu tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhku! Lalu kenapa kamu tidur di sini sekarang?BANGUN MAS!" "Vanya, lepaskan... biarkan dr. Devan pergi dengan tenang," lirih Siska yang ikut menangis di samping saha
"Mas Devan, bertahanlah... aku mohon, bertahanlah!" Isak tangis Vanya tak kunjung reda sejak tubuh Devan dilarikan ambulans menuju rumah sakit. Adam dan kedua orang bayarannya kini telah berhasil diringkus oleh pihak kepolisian, berkat tindakan cepat Devan. Rupanya, sebelum turun dari mobil untuk menyelamatkan Vanya, Devan sempat mengirimkan koordinat lokasi dan permintaan bantuan darurat kepada Henry Harrington. "Vanya, tolong berhentilah menangis. Devan masih hidup, jantungnya masih berdetak," ucap Henry berusaha menenangkan putrinya yang terus menggenggam erat tangan Devan dan menolak untuk melepaskannya sedetik pun. Suara sirine ambulan yang meraung membelah kemacetan, mendadak senyap saat roda-rodanya berhenti di lantai lobi IGD Rumah Sakit Medika Center. Begitu pintu belakang ambulan dibuka paksa oleh petugas, ketegangan langsung merebak di udara. Vanya melompat turun terlebih dahulu, wajahnya sembap dan kacau. Tangannya yang gemetar masih setia mencengkeram ujung br
Sentakan suara itu seketika memutus niat buruk Adam di atas sofa. Gerakan tangan Adam terhenti kaku di udara. Pria berkumis itu tersentak, lalu dengan cepat memutar tubuhnya ke arah datangnya suara. Di bawah cengkeramannya, Vanya yang sudah menangis histeris langsung membuka mata, menatap ke depan dengan penuh harapan telah datang pertolongan untuknya. "Mas Devan...!" pekik Vanya lirih, air matanya luruh kian deras melihat siluet tegap yang sangat ia kenali berdiri dibalik pilar. Devan melangkah keluar dari balik pilar beton dengan langkah yang tenang namun tidak menyembunyikan amarah, melihat sosok buronan yang selama ini ia cari. Di tangan kanan Devan, sebatang besi dongkrak berlumur debu terseret di atas lantai tanah, menciptakan bunyi gesekan yang menyayat gendang telinga. "Jauhkan tangan kotormu dari calon istriku, Adam," desis Devan. Suaranya tidak meninggi, hanya nada dingin yang keluar dari mulutnya. Adam perlahan bangkit berdiri dari atas sofa, merapikan kem
Sedan hitam milik Devan membelah jalanan tanah berbatu di area perkebunan dengan kecepatan sedang. Ban mobilnya tergelincir beberapa kali, melemparkan kerikil dan debu tebal ke udara. Sorot matanya lurus menatap perkebunan di depannya. Layar GPS di dasbor masih menyala redup, menampilkan titik koordinat terakhir yang menunjukkan posisi Vanya. Devan mengerutkan kening dalam-dalam. Semakin ia mendekat, hatinya dipenuhi oleh rasa heran dan cemas yang bercampur aduk. "Kenapa Vanya ada di tempat seperti ini?" gumamnya. Ini adalah kawasan industri terbengkalai, jauh dari keramaian, jauh dari akses publik. Tidak ada alasan logis bagi Vanya untuk berada di tengah perkebunan ini sendirian. Firasat buruk yang tadi sempat mengusiknya kini berubah menjadi ketakutan. Devan yakin, Vanya tidak sedang menghindarinya, tapi gadis itu seperti dibawa paksa menuju tempat ini. Devan menginjak rem dengan sentakan dalam saat melihat siluet sebuah gudang beton tua yang ada di balik rimbunnya pepoh
Devan memasuki halaman parkir stasiun. Matanya menatap fokus kedepan mencari sosok Vanya, lalu meraih ponselnya dan membuka pesan dari gadis itu yang belum sempat dibukanya selama perjalanan. Pesan baru tentang titik lokasi terkini yang Vanya kirimkan beberapa menit lalu, menunjukkan posisinya yang bergerak menjauh dari stasiun. Devan mengerutkan keningnya tak mengerti. "Kemana dia?kenapa tidak menunggu di stasiun?" gumam Devan kesal karena Vanya pergi meninggalkan area stasiun tanpa menunggunya. "Apa mungkin Nathan menghubungi Vanya dan memintanya untuk segera meninggalkan stasiun?" Tanpa pikir panjang, Devan segera menekan tombol panggil pada nomor Vanya, namun panggilan itu berakhir tanpa mendapat respon dari Vanya. Devan mencoba sekali lagi, namun Vanya tetap tidak mau menerima panggilannya. "Brengsek!" geram Devan memukul kemudi dengan keras. Ia lalu mencoba menghubungi Nathan, berharap mendapatkan informasi apakah benar sahabatnya itu yang telah meminta Vanya untuk per
Begitu pintu kaca otomatis IGD bergeser menutup di belakangnya, Devan langsung melesat membelah koridor luar menuju area parkir khusus dokter. Ia menyentak ritsleting jaketnya ke atas sambil berjalan cepat, menyembunyikan kaos ketatnya yang tadi sempat membuat gaduh fokus para perawat. Langkah kakinya yang panjang terasa begitu ringan. Setidaknya, Nathan sudah berhasil ia kurung di dalam ruang operasi selama beberapa jam ke depan. Sambil melompat masuk ke balik kemudi sedan hitamnya, Devan menyalakan mesin. Raungan knalpot mobil itu menggema di area parkir saat ia memundurkan kendaraan dengan satu sentakan cepat, lalu melesat keluar dari gerbang rumah sakit. Ia segera menyalakan layar GPS di dasbor, menatap lekat-lekat satu titik merah yang dikirimkan oleh Vanya beberapa menit lalu. Stasiun Kereta Api. "Bodoh," umpat Devan pelan pada dirinya sendiri. Tangannya mencengkeram erat setir, memutar kemudi dengan lincah menyalip beberapa kendaraan di jalur cepat. "Kenapa aku
Dengan cepat Frans melangkah mendekati putranya yang diam mematung di depan pintu ruang operasi satu. PLAK! Tanpa basa basi, sebuah tamparan keras di pipi Devan membuat semua perawat yang berada di nurse station ruang operasi menutup mulut mereka, terkejut melihat amarah seorang Frans Alaric.
"Apa! Devan tidak datang ke butik?" Wajah murka Frans Alaric memenuhi ruang kerjanya saat asistennya memberi kabar, kalau Devan pergi dari rumah sakit dengan terburu-buru. "Hubungi anak itu! Sekarang!" Sang Asisten segera melaksanakan perintahnya dengan meraih ponsel dan menekan nomor Devan. "
Vanya menyentuh bibirnya tak percaya. "Kami berciuman?dokter Devan membalas ciumanku?" Gumamnya sambil terus berjalan meninggalkan ruang kerja Devan. Bibirnya membentuk senyum manis membayangkan kejadian yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan terjadi. Vanya terus berjalan dengan pikiran yan
"Dua hari lagi kita akan bertunangan," ujar Evelyn pagi ini dengan nada penuh penekanan saat mereka baru saja tiba di area parkir rumah sakit. Keduanya turun dari sedan hitam milik Devan. Pagi tadi, Frans dan Vida Alaric memberikan perintah yang tidak bisa dibantah. Devan wajib menjemput Evelyn s







