Home / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 36 KETULUSAN YANG TIDAK BISA DIBELI

Share

BAB 36 KETULUSAN YANG TIDAK BISA DIBELI

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-03-18 12:13:11

"Maaf, kamu siapa, Nak?" suara lemah namun ramah itu keluar dari mulut Kemuning saat ia membuka pintu jati di depan rumahnya yang asri.

​"Saya Aurelia, Bu. Temannya Vanya," jawab Aurel dengan nada yang dijaga setenang mungkin.

​Kemuning sedikit terperanjat, matanya yang mulai sayu tampak berbinar. "Nak Aurel temannya Vanya?" tanyanya sekali lagi, seolah ingin memastikan bahwa wanita cantik dengan pembawaan anggun di depannya ini benar-benar mengenal putri kesayangannya.

​Aurelia tersenyum le
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ANESTESI RINDU   BAB 90 "IBUKU, NAOMI HARRINGTON."

    ​"Kalian lihat berita kemarin?" tanya salah satu perawat dengan nada berbisik namun antusias. ​"Istri Henry Harrington terbukti menukar anak kandungnya dengan anak kandung Tuan Henry sendiri," sahut seorang residen sambil menatap layar ponselnya. ​"Maksudnya... Evelyn bukan anak kandung Henry Harrington?" ​"Ternyata putri kandungnya itu Vanya—" ​"Gila! Benar-benar seperti cerita dalam sinetron, putri yang ditukar." ​Seorang perawat lain menimpali, "Dan ini terjadi pada teman kita sendiri. Pantas saja dr. Devan meninggalkan Evelyn. Ternyata dia lebih memilih anak kandung Harrington yang sebenarnya." ​"Iya, kalian benar. Itulah alasannya Mas Devan meninggalkan aku." Suara angkuh dan sinis itu mendadak terdengar dari balik punggung para residen dan perawat yang tengah asyik bergosip. Seketika, suasana IGD yang bising menjadi hening setelah kedatangan Evelyn. ​"Evelyn!" seru mereka hampir bersamaan. Wajah mereka pucat pasi mendapati Evelyn sudah berdiri di sana dengan tatapan tajam

  • ANESTESI RINDU   BAB 89 VONIS SIDANG SHINTA

    Ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dipenuhi oleh ketegangan. Dinginnya pendingin ruangan tidak mampu meredakan hawa panas yang terpancar dari barisan kursi pengunjung. Di sisi kanan, Henry Harrington duduk dengan punggung tegak, namun guratan di wajahnya tidak bisa menyembunyikan kehancuran hatinya. Di sampingnya, Frans datang menemani Henry mengikuti persidangan Shinta dengan rahang mengeras. ​Di kursi pesakitan, Shinta Harrington duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada lagi keanggunan nyonya besar yang biasanya ia pamerkan. Dengan memakai kemeja putih dan rok hitam, kondisinya terlihat sungguh memprihatinkan. Di sayap kiri bangku pengunjung, terlihat Dr. Gunawan, adik kandung Shinta datang bersama beberapa anggota keluarga untuk memberi dukungan agar kakaknya tidak merasa sendirian. Apalagi, sejak Devan berhasil membongkar rahasia dua puluh enam tahun silam, Evelyn tidak mau lagi menemui mamanya di penjara. ​"Terdakwa Shinta Harrington," suara berat Hakim Ketua mem

  • ANESTESI RINDU   BAB 88 SIAPA KENAN?

    Langkah kaki Devan yang panjang dan tergesa membuat Vanya hampir kehilangan keseimbangan saat mereka memasuki area nurse station IGD yang mulai sepi. Tanpa mempedulikan tatapan bertanya-tanya dari Siska yang masih berjaga, Devan menarik Vanya menuju ruangan residen. Vanya membuka pintu ruang residen dengan keras. Beberapa residen yang sedang beristirahat di dalam terkejut dan memandang kearah pintu. "Malam, dr. Devan," sapa beberapa residen yang melihat Devan berdiri di belakang Vanya. "Malam," sahutnya datar melanjutkan langkahnya mengikuti Vanya ke meja kerjanya yang ada di sudut ruangan. Bisikan-bisikan para residen yang melihat kebersamaan mereka terdengar mengiringi langkah Devan saat masuk kedalam. "Sttt, bukannya dr. Devan itu tunangan Evelyn ya?" "Kamu belum tahu? dr. Devan sudah mengakhiri hubungan mereka." "Yang benar?" "Ah masa? padahal sebentar lagi kabarnya mereka akan menikah." "Terus sekarang malah pacaran dengan Vanya? Apa hubungan mereka berakhir karena Vanya

  • ANESTESI RINDU   BAB 87 MISTERI KALUNG

    "Jangan bercanda Deline. Ini masalah serius. Lagipula, aku penasaran, ada hubungan apa antara Kenan dengan kalian sampai dia mencelakai Rossa." Desis Devan dengan rahang mengeras. Deline semakin terisak seiring dengan suara detak jantung di layar monitor yang terdengar berirama cepat. Menyadarkan Devan untuk kembali pada situasi Deline saat ini. "Deline, sudah cukup. Jangan pikirkan apa-apa dulu. Jangan pikirkan hal-hal yang berat." Ucap Devan menurunkan nada suaranya. "Tapi aku takut, Mas." Lirihnya berbisik. "Jangan takut. Aku akan menjagamu di luar pintu ICU malam ini. Besok, kamu akan bergabung di kamar perawatan Tifani dan Jesi." Devan terus mencoba menenangkan Deline agar jantungnya kembali stabil. Ia terpaksa memberikan obat penenang ringan melalui aliran infus Deline. Cairan bening itu mengalir perlahan, masuk ke dalam pembuluh darah untuk meredam kepanikan yang nyaris membuat ritme jantung gadis itu kacau. ​"Tidur, Del. Aku di sini," bisik Devan sambil mengatur k

  • ANESTESI RINDU   BAB 86 RAHASIA DELINE

    Suara tetesan cairan infus dan mesin pemantau tanda vital menjadi satu-satunya suara yang memecahkan kesunyian di ruang perawatan VIP nomor 103. Setelah melewati jam-jam kritis di ruang ICU pasca operasi tiga hari lalu, Tifani dan Jessi akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan. Meski kondisi mereka sudah stabil, sisa-sisa trauma kecelakaan masih terlihat jelas pada tubuh yang kini terbalut perban dan gips itu. ​Tifani, wanita berambut pendek sebahu, terbaring di bed sebelah kanan, dadanya masih dibalut kencang untuk menstabilkan flail chest yang dialaminya, sementara luka trauma abdomennya menuntutnya untuk tetap dalam posisi diam, tidak boleh banyak bergerak. Di ranjang kiri, Jessi tampak lebih terjaga meski wajahnya pucat pasi. Kaki kanannya yang mengalami fraktur femur terbuka kini terpasang sistem traksi skeletal. Sebuah pin logam tipis namun kuat telah menembus bagian bawah tulang paha Jessi melalui prosedur bedah, dan di ujung pin tersebut, terikat sebuah tali nilon yang te

  • ANESTESI RINDU   BAB 85 CEO MERLION CAPITAL

    "Bagaimana menurutmu? Putraku meminta agar Vanya sembuh total dan benar-benar bisa menerima statusnya sebagai putri kandungmu sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Lagipula, masalah putri pertamaku dengan suaminya pun belum menemukan titik temu." ​Henry meletakkan cangkir porselen mewah itu di atas tatakannya dengan denting pelan yang terdengar elegan. ​"Aku setuju dengan Devan," ucap Henry sambil menyandarkan punggungnya pada sofa yang empuk. "Sampai saat ini pun, aku masih tidak tahu bagaimana caranya membuat putriku mau memelukku dan memanggilku Papa," lirihnya sedih, mengusap titik air mata yang merembes di sudut matanya. ​Frans bergeser mendekat. Tangannya terangkat, mengusap punggung Henry dengan gerakan perlahan guna menyalurkan kekuatan bagi calon besannya itu. "Aku pun merasakannya, Henry. Melihat Aurel menderita di tangan Farel saja sudah cukup membuatku merasa gagal sebagai ayah," sahut Frans dengan suara yang berat oleh rasa bersalah. "Kita terlalu sibuk memba

  • ANESTESI RINDU   BAB 16 PERSETUJUAN KELUARGA ALARIC

    "​Ayah memintamu datang ke rumah sebelum kita berangkat ke Singapura." ​Evelyn muncul di ambang pintu ruang kerja Devan pagi itu. Langkahnya ringan, namun suaranya membawa perintah yang tidak bisa diabaikan. Devan yang tengah bersiap untuk pulang hanya terdiam. Ia tampak sibuk melipat lengan kemej

  • ANESTESI RINDU   BAB 14 RASA DIHATI DEVAN

    Malam ini, rumah sakit mulai meredup. Suasana sunyi hanya dipecah oleh suara langkah sepatu yang sesekali lewat di koridor. Di perpustakaan medis yang terletak di lantai paling atas, Vanya masih berkutat dengan tumpukan jurnal dan data statistik di laptopnya. ​"Data mortalitas kasus emboli di Asia

  • ANESTESI RINDU   BAB 13 PERTUNANGAN SETELAH SINGAPURA

    Wajah Evelyn yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi pias saat Vanya keluar dari ruangan Devan membawa map penugasan yang sama. Sejak mendengar Devan memanggil Vanya ke ruangannya, Evelyn langsung membuntuti dan mencoba mendengarkan percakapan keduanya. Walaupun pintu ek besar itu telah meredam

  • ANESTESI RINDU   BAB 12 BERANGKAT KE SINGAPURA

    Kamar kos berukuran empat kali empat meter itu terasa jauh lebih sempit dan menyesakkan daripada biasanya. Pagi ini, Vanya hanya duduk bersandar di kepala tempat tidur, menatap nanar pada tas punggungnya yang masih tergeletak di lantai sejak kemarin, tanda kepulangannya yang tidak disambut oleh siap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status