LOGIN"Vanya," lirih Devan menatap wajah pucat itu dengan penuh harap mendengar nama yang keluar dari bibir tipis itu. Ia berjalan cepat menghampiri, namun Adam menahan tubuh Devan dengan kuat. "Kau tidak dengar? Namaku yang keluar dari mulutnya. Di saat sakit pun hanya aku yang dia ingat!" Dada Devan bergemuruh hebat, rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya sekaligus. Cengkeraman tangan Adam di bahunya terasa seperti besi panas yang mengunci gerakannya, namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa nama pria itulah yang pertama kali terucap dari bibir Vanya setelah berhari-hari dalam kegelapan. "Aku justru curiga! kondisi yang dialami Vanya dan satu nama yang ia ingat, bisa disebabkan karena otaknya memblokir ingatan yang menyakitkan sebagai pertahanan diri. Dia mungkin melupakan segalanya kecuali satu orang yang dianggap sebagai pelindung, atau sebaliknya... yaitu orang yang menjadi pusat dari trauma yang ia alami saat ini!" desis Devan dengan suara rendah ya
"Tahu nggak kepala departemen bedah yang baru? benar-benar tampan." "dr. Devan? Kemarin aku mencarinya untuk menandatangani dokumen-dokumen kepindahan, dan itu benar." "Oh, ya? setampan dokter Adam yang baru datang juga?" "Menurutku dr. Devan lebih tampan, dan katanya di rumah sakit sebelumnya dia dokter yang cerdas dan diandalkan." "Justru itu dia dipindahkan ke rumah sakit besar ini dan diangkat jadi kepala departemen bedah diusia muda karena prestasinya." "Salah satu kesuksesannya waktu menghadiri seminar di Singapura beberapa waktu lalu." "Tapi dr. Devan itu calon menantu pak Henry Harrington si pemilik rumah sakit ini. Jadi dia di beri jabatan Kepala departemen karena prestasi atau karena calon menantu?" Berita-berita dan obrolan ditiap sudut rumah sakit Wellness tentang kedatangan Devan dan Adam di rumah sakit itu terus terdengar hampir setiap hari. Dua orang dokter muda dan tampan, membuat semua orang hampir membicarakan tentang mereka. Seperti pagi ini, saat De
Devan terpaku. Sejak kemarin, ia memang agak sedikit penasaran, kenapa ibu Kemuning selalu gelisah mendengar nama keluarga Harrington. "Ibu, kenal dengan keluarga Harrington?" Kemuning membelalakan kedua matanya. "Sa—saya—" "Sepertinya memang ibu mengenal keluarga Harrington." potong Devan, tidak ingin berlama-lama. Kemuning menunduk dalam, jari-jemarinya yang keriput saling bertaut dengan gelisah. "Ti—tidak, dok. Saya tidak mengenal keluarga Harrington." "Bu... tolong jangan menutupi apa pun dari saya," desak Devan dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Keamanan Vanya adalah prioritas saya sekarang. Jika Ibu mengenal Henry Harrington, saya harus tahu kapasitas hubungan itu agar saya bisa memasang keamanan yang tepat di rumah sakit ini." Kemuning menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia baru saja hendak membuka bibirnya yang pucat untuk memberikan pengakuan, namun ketukan keras di pintu kayu jati ruang VVIP itu menyentak kesadar
Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram, seolah turut merasakan kelelahan jiwa dari penghuni kediaman Alaric. Devan terbangun dengan rasa mual yang melilit perutnya. Setiap jengkal kulitnya terasa kotor, kejadian semalam terasa seperti peristiwa yang menyesakkan paru-parunya. Semalam, tanpa sepatah kata pun pada Evelyn yang masih terlelap, ia bergegas meninggalkan apartemen Evelyn dan kembali kerumah tanpa pamit. Devan mengusap kasar wajah nya yang terlihat lelah dan berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membasuh semua jejak yang Evelyn tinggalkan di tubuhnya. Teringat akan Vanya, Devan mengakhiri aktivitasnya di kamar mandi dan berpakaian dengan terburu-buru lalu segera melesat menuju rumah sakit tempat Vanya dirawat. Pagi ini, ia akan menemui ibu Kemuning terlebih dahulu untuk meminta persetujuan pemindahan Vanya dari sana. untung saja, jalanan pagi ini tidak terlalu buruk, membuatnya cepat tiba di rumah sakit. Setelah mendapatkan parkir untuk mobilnya yang bukan
"Aku mau kamu melupakan Vanya malam ini dan hanya melihatku," bisik Evelyn serak, gairah yang coba ia buat membuat nafas mereka beradu. Evelyn kembali mendekatkan tubuhnya, mencari sela untuk membelitkan jemarinya di tengkuk Devan. Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di rahang dan leher Devan yang mengeras, berusaha menggoyahkan pertahanannya. Devan memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena cinta, melainkan karena insting seorang laki-laki yang bertarung dengan rasa muak di dalam dadanya. Setiap sentuhan Evelyn telah berhasil membangkitkan gairahnya. Namun, sisi hatinya yang lain, kembali mengingatkan Devan akan bayangan wajah Vanya yang pucat di bangsal ICU dan menunggu pertolongannya. "Eve..." geram Devan rendah dengan mata terpejam, sebuah peringatan sekaligus tanda bahwa ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri karena gadis itu terus mencium lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Evelyn menyeringai tipis di balik bahu De
"Kamu gila, Mas! Bagaimana kalau aku hamil?" Evelyn berteriak sambil mendorong kasar tubuh kekar laki-laki yang masih berada tepat di atasnya. Napasnya memburu, karena kepanikan yang tiba-tiba menyergap setelah gairah yang baru saja tercipta. "Kenapa waktu itu kamu tidak menikah denganku saja, Eve? Aku benar-benar mencintaimu," sahut laki-laki itu dengan suara serak, matanya menatap Evelyn dengan pemujaan yang mendalam. "Sinting!" Evelyn mendesis, segera meraih pakaian miliknya yang berserakan di lantai marmer apartemen mewah itu. "Lebih baik kamu pergi sekarang. Sebentar lagi tunanganku akan datang, dan aku tidak mau dia melihatmu di sini!" Laki-laki itu bangkit, menatap punggung cantik Evelyn dengan kilat amarah di matanya. Dengan gerak gontai, ia memungut kemejanya yang tergeletak di lantai, lalu melangkah mendekati Evelyn yang sedang sibuk merapikan diri di depan cermin besar. "Apa lagi? Cepat pergi sekarang!" bentak Evelyn tanpa menoleh. Bukannya melangkah pergi, la







