مشاركة

Kontrak Kerjasama

مؤلف: SweetWater
last update تاريخ النشر: 2026-09-30 14:54:52

Pria itu menghentikan langkah dan menoleh. Sebelah alisnya terangkat ketika melihat Aluna yang datang terengah-engah. Senyum tipis yang menyebalkan pun muncul di wajahnya.

Aluna mendengus. Ia masih berusaha mengatur napas sebelum kemudian berdiri tegak di hadapan Sebastian.

“Soal tawaranmu tadi …” Aluna diam sejenak, tampak ragu untuk melanjutkan. “Apa masih berlaku?”

Sebastian mengangkat sebelah alisnya, lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Lima menit lagi nggak berlaku”

Aluna nyaris berdecak kesal, tapi akhirnya ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengepalkan kedua tangannya untuk menguatkan diri.

“Aku mau jadi tunangan pura-puramu.” Aluna menatap Sebastian mantap. “Jadi, aku harus lakuin apa sekarang?”

Sebastian tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat, membuat jantung Aluna perlahan berdetak lebih cepat.

Tiba-tiba Sebastian tersenyum miring. “Baguslah.”

Aluna mengerjapkan mata.

Hanya begitu? Itu tidak menjawab pertanyaannya!

Aluna sempat mengira Sebastian akan mengatakan sesuatu yang membuatnya kesal, atau setidaknya mencemoohnya karena berubah pikiran begitu saja. Namun, ternyata jawabannya sesederhana itu.

Justru karena terlalu mudah, Aluna merasa ada sesuatu yang mencurigakan.

Sebastian kemudian menarik tangan Aluna dan membawanya masuk ke dalam lift.

“Ih, lepas! Bisa gak kamu ini gak usah narik-narik kayak gitu?!” Aluna langsung menarik tangannya dan memilih berdiri agak jauh dari Sebastian.

Sembari mengusap lengannya, Aluna melirik Sebastian sebal. Kenapa sih pria itu suka sekali menarik tangannya sejak tadi? Memangnya ia ini kambing yang perlu ditarik kesana-kemari?

Ck! Benar-benar seenaknya saja!

Di tengah hati Aluna yang terus sibuk menggerutu. Pintu lift akhirnya terbuka di lantai lima puluh. Aluna pun langsung mengikuti langkah Sebastian yang membawanya menuju ruangan kerja pria itu.

Begitu sampai di ruang kerja mewah itu, sejenak Aluna memang menganga. Bagaimanapun juga, ini adalah kali pertama bagi gadis itu masuk ke ruang kerja semewah ini.

“Duduk,” titah Sebastian sambil menunjuk sofa yang ada di tengah ruangan, sementara ia melangkah ke arah meja kerja dan mengambil tabnya.

Aluna menghembuskan napas panjang lalu mendaratkan diri di sofa empuk tersebut. Matanya tak bisa menahan diri untuk kembali menyapu ruangan yang penuh dinding kaca raksasa dengan pemandangan kota dari lantai 50 dan interior serba mahal ini benar-benar membuat matanya terpana.

Namun, rasa kagum itu langsung buyar saat derap langkah Sebastian mendekat. Pria itu berdiri tegap di hadapannya, lalu meletakkan tablet tipis di atas meja kaca.

"Aku udah siapin kontrak untuk hubungan ini," ucap Sebastian tenang, suaranya terdengar begitu mutlak. “Kamu baca aja sendiri.”

Aluna membeku. Matanya mengerjap, menatap layar tablet yang sudah menampilkan barisan poin perjanjian. Kurang lebih isinya sama dengan yang sudah Sebastian katakan tadi. Ia akan digaji, harus siap menjalankan perannya kapanpun dibutuhkan, dan tidak boleh menjalin hubungan dengan siapapun selama kontrak berlangsung.

Dan bagian yang paling membuat Aluna bergidik adalah denda sebesar lima ratus juta rupiah jika ia melanggar salah satu ketentuannya.

Aluna refleks menelan ludah. Ia lalu beralih menatap raut dingin pria di depannya. Apa pria itu mabuk saat menulis angka dendanya?

Benar-benar di luar nalar jumlahnya.

“Tunggu …” ujar Aluna ketika menyadari sesuatu di dalam kontrak tersebut. Ia menatap Sebastian dengan tidak percaya. “Kok jangka waktu kontraknya kayak gini? Harusnya kan ada waktu yang jelas dong!”

Memang, di kontrak itu Sebastian menuliskan jangka waktu kontrak akan berakhir ketika orang tua Sebastian berhenti menjodohkannya dengan wanita-wanita aneh pilihan ibunya.

“Dimana letak nggak jelasnya itu?” Sebastian duduk di sofa seberang Aluna, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.

Aluna mendadak merasa sedikit bergetar melihat tatapan Sebastian yang terasa lebih menusuk.

“I–itu gak ada waktu yang pasti! Misalnya kayak satu bulan atau dua bulan gitu,” protes Aluna dengan sedikit keraguan, matanya bahkan berkedip cepat beberapa kali.

“Lebih cepat kamu buat orang tuaku percaya kalau kita pasangan, lebih cepat juga kontrak berakhir, kan?” Sebastian justru balik bertanya.

Aluna terdiam sejenak.

Kalau dipikir-pikir, benar juga. Kalau orang tua Sebastian percaya mereka pasangan kekasih, pasti Sebastian tidak akan dijodoh-jodohkan lagi, kan?

“Sekarang cepat tanda tangani,” perintah Sebastian. “Kamu bisa bawa salinannya nanti kalau berkasnya udah jadi.”

Dengan berat hati, Aluna membubuhkan tanda tangannya pada perjanjian yang telah dibuat Sebastian.

Begitu tanda tangan itu tergores di layar, Aluna menatapnya selama beberapa detik. Mulai saat ini, ia benar-benar terikat kontrak dengan pria menyebalkan di hadapannya.

Aluna mengembuskan napas panjang. Entah keputusan ini akan menyelamatkan hidupnya atau justru membuat hidupnya semakin kacau. Yang jelas, ia hanya bisa berharap semoga keputusan ini tidak menjadi sesuatu yang akan ia sesali di kemudian hari.

“Nih!” Aluna langsung mengembalikan tablet itu dengan wajah masam.

Astaga! Gila! Apa yang sebenarnya sedang Aluna lakukan? Ia tak menyangka dirinya benar-benar berani menandatangani kontrak seperti ini.

Aluna menggerutu dalam hati.

Sebastian menerima tabletnya kembali dengan wajah datar. “Besok malam, aku akan ngenalin kamu ke orang tuaku.”

“Harus besok, ya?”

Sebastian menaikkan sebelah alis.

Aluna mendesah. “Apa nggak bisa diganti hari lain? Selain besok pokoknya. Aku takut orang tuamu nggak suka sama aku. Tadi aja Mama kamu kelihatan nggak percaya gitu.”

“Tugasmu cuma menuruti perintahku. Nggak perlu mikirin yang lain,” ujar Sebastian lugas.

“Ya, tetap aja kepikiran.” Aluna mengerucutkan bibir. “Terus gimana kalau nanti orang tuamu tiba-tiba ngusir aku? Marahin aku sambil bilang supaya aku nggak deket-deket sama kamu. Terus mereka ngehina aku miskin dan nggak cocok sama kamu. Terus—“

“Aluna.” Sebastian memijat pangkal hidungnya sebentar sebelum kembali menatap perempuan itu. “Kamu kebanyakan nonton drama.”

Aluna langsung mendelik. Bibirnya masih terus menggerutu. “Namanya juga antisipasi.”

“Antisipasi atau kebanyakan imajinasi?”

Aluna terdiam sesaat.

Sebastian menyandarkan tubuhnya. “Udahlah. Kamu bisa pergi sekarang.”

Aluna mendengkus. Ia tidak menjawab dan langsung berdiri. Lagipula, ia juga sudah tidak tahan berlama-lama di ruangan yang sama dengan pria menyebalkan itu.

Namun, baru beberapa langkah menuju pintu, Aluna tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh kembali.

Sebastian yang menyadari gerakannya langsung menatapnya dengan tatapan bertanya.

“Sebelum itu…” Aluna tampak ragu sejenak. “Boleh aku minta gajiku bulan ini dibayar di muka?”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Tuntutan Nikah Mendadak

    Belum sempat Papa Sebastian melanjutkan pertanyaannya, Sarah tiba-tiba muncul dari arah ruang makan dengan senyum lebar. “Aluna! Akhirnya datang juga.” Wanita itu langsung menghampirinya dan menggenggam tangannya. “Saya pikir, kamu tidak jadi datang malam ini.” Aluna hanya bisa tersenyum kaku. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mungkin ia mengatakan terus terang bahwa dirinya datang hanya karena tergiur dengan uang yang ditawarkan Sebastian? “Kamu pasti lapar. Ayo, kita makan malam dulu.” Sarah kembali bersuara. Aluna hanya mengangguk, lalu mengikuti Sarah yang membawanya menuju ruang makan. Awalnya suasana berlangsung cukup tenang. Makan di selingi obrolan ringan dari kedua orang tua Sebastian. Namun, baru beberapa suapan masuk ke mulut Aluna, Papa Sebastian yang bernama Julian itu sudah mulai bertanya. “Jadi, kamu ini benar-benar kekasihnya Sebastian kan, Aluna?” Aluna hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. “Tentu saja.” Sebastian yang menjawab. Julian lalu mena

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Bertemu Orang Tua Sebastian

    Sebastian mengangkat sebelah alis. “Kamu bahkan belum mulai bekerja.” Aluna menggigit bagian dalam bibirnya. Sebenarnya Aluna juga merasa tidak enak meminta uang secepat itu. Ia bahkan baru saja menandatangani kontrak. Tapi mau bagaimana lagi? Ia memang sedang membutuhkan uang sekarang. Dan hanya Sebastian lah satu-satunya harapannya. “Kalau nggak bisa…” Aluna menarik napas. “Aku minta DP-nya dulu aja. Bisa dikirim ke rekeningku sekarang?” Tanpa menunggu jawaban, Aluna menyebutkan nomor rekeningnya. Sebastian tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya berpindah dari Aluna ke layar ponselnya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara notifikasi dari ponsel Aluna. Transfer masuk. Aluna buru-buru memeriksa layar ponselnya. Matanya langsung berbinar ketika melihat nominal yang baru saja masuk. “Terima kasih.” Tanpa banyak bicara, Aluna memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berbalik hendak pergi. Namun, baru selangkah, ia sempat melirik Sebastian. Pria itu justru tengah menatapnya

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Kontrak Kerjasama

    Pria itu menghentikan langkah dan menoleh. Sebelah alisnya terangkat ketika melihat Aluna yang datang terengah-engah. Senyum tipis yang menyebalkan pun muncul di wajahnya. Aluna mendengus. Ia masih berusaha mengatur napas sebelum kemudian berdiri tegak di hadapan Sebastian. “Soal tawaranmu tadi …” Aluna diam sejenak, tampak ragu untuk melanjutkan. “Apa masih berlaku?” Sebastian mengangkat sebelah alisnya, lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Lima menit lagi nggak berlaku” Aluna nyaris berdecak kesal, tapi akhirnya ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengepalkan kedua tangannya untuk menguatkan diri. “Aku mau jadi tunangan pura-puramu.” Aluna menatap Sebastian mantap. “Jadi, aku harus lakuin apa sekarang?” Sebastian tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat, membuat jantung Aluna perlahan berdetak lebih cepat. Tiba-tiba Sebastian tersenyum miring. “Baguslah.” Aluna mengerjapkan mata. Hanya begitu? Itu tidak menjawab pertanyaannya! Alun

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Langsung Menerima Tawaran

    Mata Aluna langsung membelalak. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat tawaran seperti itu dari pria yang sejak dulu selalu berhasil membuat darahnya naik setiap kali mereka bertemu dalam kegiatan kuliah.Plak!Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Sebastian.“Dasar pria gila!” “Kamu berani menamparku?!” Sebastian memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Aluna. Matanya menatap sekeliling yang untungnya lobi dalam keadaan sepi.Aluna langsung berkacak pinggang. “Iya, kenapa? Lagipula kamu emang kayaknya perlu disadarin. Kamu pikir aku bakal segampang itu mau jadi tunangan pura-puramu?! Jangan harap!” Sebastian menggertakkan giginya, lalu menarik napas kasar. “Ikut aku.” “Ah— lepasin aku!” protes Aluna sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sebastian.Namun, pria itu sama sekali tidak peduli dan terus menarik Aluna menjauhi lobi hotel. begitu sampai di halaman samping hotel, Sebatian baru melepasnya.Aluna langsung mendengus kesal sambil mengusap-usap p

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Tawaran Kerja Tak Terduga

    BRAK!“Jaga mata Anda, dasar HRD mesum!” Pekik Aluna kesal sambil menggebrak meja.Gadis itu berdiri dari kursinya dengan wajah merah. Niatnya datang ke Hotel ini untuk wawancara pekerjaan, tapi lagi-lagi ia malah berurusan dengan orang mesum.Bukannya fokus dengan wawancara, pria yang menjadi pewawancara itu malah fokus pada dada Aluna sejak tadi. Aluna jelas mengetahui hal itu, awalnya ia pikir hanya kebetulan melihat ke arah sana, tapi setelah berkali kali dengan senyum aneh yang muncul di wajah pria itu, Aluna semakin yakin dengan pikirannya.Bukannya membela diri, pria itu malah terkekeh kecil. “Kalau tidak mau dilihat, ya jangan pakai baju seperti itu. Sok suci sekali. Pantas saja kerjaanmu sering pindah-pindah, sedikit-sedikit protes.” Aluna semakin geram. Bagaimana bisa pria itu menyalahkan pakaiannya? Ia bahkan mengenakan kemeja yang sopan dan longgar, sama sekali tidak ketat apalagi memperlihatkan lekuk tubuhnya. “Tidak ada yang salah dengan baju saya! Mata Anda saja yang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status