Home / Romansa / ASAL TARIK JADI MENIKAH / Bertemu Orang Tua Sebastian

Share

Bertemu Orang Tua Sebastian

Author: SweetWater
last update publish date: 2026-09-30 15:14:12

Sebastian mengangkat sebelah alis. “Kamu bahkan belum mulai bekerja.”

Aluna menggigit bagian dalam bibirnya. Sebenarnya Aluna juga merasa tidak enak meminta uang secepat itu. Ia bahkan baru saja menandatangani kontrak. Tapi mau bagaimana lagi? Ia memang sedang membutuhkan uang sekarang. Dan hanya Sebastian lah satu-satunya harapannya.

“Kalau nggak bisa…” Aluna menarik napas. “Aku minta DP-nya dulu aja. Bisa dikirim ke rekeningku sekarang?”

Tanpa menunggu jawaban, Aluna menyebutkan nomor rekeningnya.

Sebastian tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya berpindah dari Aluna ke layar ponselnya.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara notifikasi dari ponsel Aluna.

Transfer masuk.

Aluna buru-buru memeriksa layar ponselnya. Matanya langsung berbinar ketika melihat nominal yang baru saja masuk.

“Terima kasih.”

Tanpa banyak bicara, Aluna memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berbalik hendak pergi.

Namun, baru selangkah, ia sempat melirik Sebastian. Pria itu justru tengah menatapnya dengan senyum miring yang sulit diartikan.

Aluna mengernyit. Entah kenapa, senyum itu membuatnya merasa ada sesuatu yang salah.

***

Begitu sampai di kos, Aluna langsung menghubungi Dion.

“Dion, uang yang Kakak kirim tadi udah masuk belum?”

“Udah, Kak.” Dion terdengar heran. “Tapi apa nggak kebanyakan?”

Aluna terdiam sesaat. “Sekali-kali kirim banyak nggak masalah, kan? Kebetulan Kakak baru dapat bonus dari tempat kerja.”

Aluna terpaksa berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan dari mana sebenarnya uang itu berasal.

“Yang penting gunakan dengan baik. Buat biaya berobat Ibu dan kebutuhan sekolahmu.”

“Iya, Kak.”

Aluna tersenyum kecil. “Maaf ya, Dion. Kakak belum bisa pulang buat jenguk Ibu.”

“Nggak apa-apa. Ibu juga bilang Kakak nggak perlu khawatir. Fokus kerja aja dulu. Nanti kalau ada waktu, baru pulang.”

“Hmm. Besok Kakak juga masih ada kerjaan.”

Pekerjaan yang dimaksud adalah pergi ke rumah orang tua Sebastian dan kembali memainkan perannya sebagai tunangan pura-pura pria itu.

Setelah panggilan berakhir, Aluna merebahkan tubuhnya di kasur.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bisa tidur dengan tenang malam ini. Masalah uangnya setidaknya sudah teratasi untuk sementara.

Namun, baru saja memejamkan mata, wajah Sebastian tiba-tiba terlintas di pikirannya.

Aluna langsung membuka mata.

Astaga. Kalau begini, pupus sudah harapan Aluna untuk bisa tidur nyenyak. Yang ada justru mimpi buruk!

***

Sore itu, tiba-tiba Sebastian sudah muncul di depan pintu kamar kos Aluna. Ia bahkan tidak sempat memikirkan dari mana pria itu tahu alamat kosnya karena terlalu syok.

“Siap-siap. Kita pergi sekarang,” ujar Sebastian singkat.

“Ke mana?” Aluna mengernyit keheranan.

“Salon.” Hanya itu jawaban Sebastian.

Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di sebuah salon ternama di ibu kota. Aluna langsung merasa canggung begitu melihat interiornya yang mewah. Ia bahkan tidak sanggup membayangkan seberapa mahal biaya perawatan di salon tersebut.

“Kamu yakin nyuruh aku masuk ke salon ini?” Tanya Aluna ragu.

Bertepatan dengan itu, ponsel Sebastian berdering.

“Kamu masuk aja dulu. Aku harus angkat telepon.”

Aluna hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam salon seorang diri.

Namun, baru beberapa langkah, sebuah suara yang begitu dikenalnya membuat langkah Aluna terhenti.

“Aluna?”

Gadis itu menoleh dan mendapati Risa, rekan kerja Aluna di perusahaan lama yang ternyata sudah berdiri tidak jauh di belakangnya.

Risa memang tidak pernah menyukainya. Sejak dulu, Risa selalu bersikap sinis karena pria yang diincarnya justru lebih sering memperhatikan Aluna.

Risa melirik Aluna dari atas sampai bawah, lalu tersenyum mengejek.

“Sejak kapan kamu bisa masuk salon mahal seperti ini?”

Aluna mengernyit. “Maksud kamu?”

“Bukannya kamu dulu selalu bilang gajimu pas-pasan?” Risa terkekeh. “Kenapa sok-sok an pergi ke salon mahal segala? Jangan bilang, kamu cuma mau lihat-lihat. Soalnya kalau mau perawatan di sini, harganya nggak murah. Jelas kamu nggak akan sanggup.”

Aluna mengepalkan tangannya. Beberapa pegawai salon bahkan mulai melirik ke arah mereka.

“Kalau nggak punya uang, jangan sok—”

“Soal uang itu bukan urusanmu.”

Suara berat dari belakang membuat Risa langsung terdiam.

Aluna menoleh. Dan Sebastian sudah berdiri di sana dengan tatapan dingin.

“Kalau dia nggak mampu bayar, aku yang bayar.” Sebastian berhenti sejenak, lalu menatap Risa. “Atau … kamu mau aku bayarin sekalian?”

Wajah Risa seketika berubah. Wanita itu tampak menelan ludah saat menyadari siapa pria yang berdiri di hadapannya. “B-bukankah kamu Sebastian Narendra?“

Sebastian tidak menjawab. Tapi tatapan dingin pria itu sudah pasti menjawab rasa penasaran Risa.

“Aluna adalah tunanganku. Kalau kamu menghinanya itu berarti kamu menghinaku juga.”

“Apa?” Risa membelalak. “A-aku nggak bermaksud seperti itu,” ujarnya terbata.

Wajah Risa kini tampak resah sekaligus tidak percaya. Mungkin wanita itu tidak menyangka kalau sosok Sebastian bisa tiba-tiba muncul dan membela Aluna.

Akhirnya, Risa memilih pergi tanpa banyak bicara. Namun, sebelum meninggalkan mereka, ia sempat melemparkan tatapan tajam kepada Aluna.

Apa Aluna peduli? Tentu tidak.

Diam-diam Aluna justru tersenyum di tempatnya. Tadi saja sok-sok an menghinanya, sekarang ciut juga nyalinya? Ah, ternyata ada untungnya juga ya jadi tunangan pura-pura Sebastian. Aluna jadi bisa membuat orang-orang seperti Risa ini mati kutu.

Begitu mobil berhenti di depan rumah besar keluarga Narendra, Aluna masih memejamkan mata di kursi penumpang sambil memegangi kepalanya.

“Sebastian, sepertinya aku mabuk perjalanan,” keluhnya. “Bisa kasih aku waktu sebentar buat nenangin diri? Kayaknya nyawaku tertinggal di jalan tadi.”

Bukannya menjawab, Sebastian justru membuka pintu di sisinya dan berjalan memutari mobil.

“Kalau kamu udah selesai ngeluh, turun.”

Aluna belum sempat membalas ketika pria itu menarik lengannya hingga ia terpaksa keluar dari mobil.

“Kamu masih bisa berdiri, kan?”

Aluna mendengkus. Pria itu benar-benar tidak punya rasa kasihan.

Mereka kemudian masuk ke dalam rumah.

Begitu melewati pintu, Aluna langsung berhadapan dengan seorang pria paruh baya berwajah tegas yang berdiri tidak jauh dari sana.

Tatapan pria itu beralih kepadanya. Mengamatinya sejenak sebelum akhirnya bertanya,

“Jadi, kamu Aluna?”

Aluna menelan ludah. Ia segera mengangguk.

“Selamat malam, Om. Saya Aluna.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Tuntutan Nikah Mendadak

    Belum sempat Papa Sebastian melanjutkan pertanyaannya, Sarah tiba-tiba muncul dari arah ruang makan dengan senyum lebar. “Aluna! Akhirnya datang juga.” Wanita itu langsung menghampirinya dan menggenggam tangannya. “Saya pikir, kamu tidak jadi datang malam ini.” Aluna hanya bisa tersenyum kaku. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mungkin ia mengatakan terus terang bahwa dirinya datang hanya karena tergiur dengan uang yang ditawarkan Sebastian? “Kamu pasti lapar. Ayo, kita makan malam dulu.” Sarah kembali bersuara. Aluna hanya mengangguk, lalu mengikuti Sarah yang membawanya menuju ruang makan. Awalnya suasana berlangsung cukup tenang. Makan di selingi obrolan ringan dari kedua orang tua Sebastian. Namun, baru beberapa suapan masuk ke mulut Aluna, Papa Sebastian yang bernama Julian itu sudah mulai bertanya. “Jadi, kamu ini benar-benar kekasihnya Sebastian kan, Aluna?” Aluna hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. “Tentu saja.” Sebastian yang menjawab. Julian lalu mena

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Bertemu Orang Tua Sebastian

    Sebastian mengangkat sebelah alis. “Kamu bahkan belum mulai bekerja.” Aluna menggigit bagian dalam bibirnya. Sebenarnya Aluna juga merasa tidak enak meminta uang secepat itu. Ia bahkan baru saja menandatangani kontrak. Tapi mau bagaimana lagi? Ia memang sedang membutuhkan uang sekarang. Dan hanya Sebastian lah satu-satunya harapannya. “Kalau nggak bisa…” Aluna menarik napas. “Aku minta DP-nya dulu aja. Bisa dikirim ke rekeningku sekarang?” Tanpa menunggu jawaban, Aluna menyebutkan nomor rekeningnya. Sebastian tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya berpindah dari Aluna ke layar ponselnya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara notifikasi dari ponsel Aluna. Transfer masuk. Aluna buru-buru memeriksa layar ponselnya. Matanya langsung berbinar ketika melihat nominal yang baru saja masuk. “Terima kasih.” Tanpa banyak bicara, Aluna memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berbalik hendak pergi. Namun, baru selangkah, ia sempat melirik Sebastian. Pria itu justru tengah menatapnya

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Kontrak Kerjasama

    Pria itu menghentikan langkah dan menoleh. Sebelah alisnya terangkat ketika melihat Aluna yang datang terengah-engah. Senyum tipis yang menyebalkan pun muncul di wajahnya. Aluna mendengus. Ia masih berusaha mengatur napas sebelum kemudian berdiri tegak di hadapan Sebastian. “Soal tawaranmu tadi …” Aluna diam sejenak, tampak ragu untuk melanjutkan. “Apa masih berlaku?” Sebastian mengangkat sebelah alisnya, lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Lima menit lagi nggak berlaku” Aluna nyaris berdecak kesal, tapi akhirnya ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengepalkan kedua tangannya untuk menguatkan diri. “Aku mau jadi tunangan pura-puramu.” Aluna menatap Sebastian mantap. “Jadi, aku harus lakuin apa sekarang?” Sebastian tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat, membuat jantung Aluna perlahan berdetak lebih cepat. Tiba-tiba Sebastian tersenyum miring. “Baguslah.” Aluna mengerjapkan mata. Hanya begitu? Itu tidak menjawab pertanyaannya! Alun

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Langsung Menerima Tawaran

    Mata Aluna langsung membelalak. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat tawaran seperti itu dari pria yang sejak dulu selalu berhasil membuat darahnya naik setiap kali mereka bertemu dalam kegiatan kuliah.Plak!Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Sebastian.“Dasar pria gila!” “Kamu berani menamparku?!” Sebastian memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Aluna. Matanya menatap sekeliling yang untungnya lobi dalam keadaan sepi.Aluna langsung berkacak pinggang. “Iya, kenapa? Lagipula kamu emang kayaknya perlu disadarin. Kamu pikir aku bakal segampang itu mau jadi tunangan pura-puramu?! Jangan harap!” Sebastian menggertakkan giginya, lalu menarik napas kasar. “Ikut aku.” “Ah— lepasin aku!” protes Aluna sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sebastian.Namun, pria itu sama sekali tidak peduli dan terus menarik Aluna menjauhi lobi hotel. begitu sampai di halaman samping hotel, Sebatian baru melepasnya.Aluna langsung mendengus kesal sambil mengusap-usap p

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Tawaran Kerja Tak Terduga

    BRAK!“Jaga mata Anda, dasar HRD mesum!” Pekik Aluna kesal sambil menggebrak meja.Gadis itu berdiri dari kursinya dengan wajah merah. Niatnya datang ke Hotel ini untuk wawancara pekerjaan, tapi lagi-lagi ia malah berurusan dengan orang mesum.Bukannya fokus dengan wawancara, pria yang menjadi pewawancara itu malah fokus pada dada Aluna sejak tadi. Aluna jelas mengetahui hal itu, awalnya ia pikir hanya kebetulan melihat ke arah sana, tapi setelah berkali kali dengan senyum aneh yang muncul di wajah pria itu, Aluna semakin yakin dengan pikirannya.Bukannya membela diri, pria itu malah terkekeh kecil. “Kalau tidak mau dilihat, ya jangan pakai baju seperti itu. Sok suci sekali. Pantas saja kerjaanmu sering pindah-pindah, sedikit-sedikit protes.” Aluna semakin geram. Bagaimana bisa pria itu menyalahkan pakaiannya? Ia bahkan mengenakan kemeja yang sopan dan longgar, sama sekali tidak ketat apalagi memperlihatkan lekuk tubuhnya. “Tidak ada yang salah dengan baju saya! Mata Anda saja yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status