Home / Romansa / ASAL TARIK JADI MENIKAH / Langsung Menerima Tawaran

Share

Langsung Menerima Tawaran

Author: SweetWater
last update publish date: 2026-09-30 14:50:39

Mata Aluna langsung membelalak. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat tawaran seperti itu dari pria yang sejak dulu selalu berhasil membuat darahnya naik setiap kali mereka bertemu dalam kegiatan kuliah.

Plak!

Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Sebastian.

“Dasar pria gila!”

“Kamu berani menamparku?!” Sebastian memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Aluna. Matanya menatap sekeliling yang untungnya lobi dalam keadaan sepi.

Aluna langsung berkacak pinggang. “Iya, kenapa? Lagipula kamu emang kayaknya perlu disadarin. Kamu pikir aku bakal segampang itu mau jadi tunangan pura-puramu?! Jangan harap!”

Sebastian menggertakkan giginya, lalu menarik napas kasar. “Ikut aku.”

“Ah— lepasin aku!” protes Aluna sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sebastian.

Namun, pria itu sama sekali tidak peduli dan terus menarik Aluna menjauhi lobi hotel. begitu sampai di halaman samping hotel, Sebatian baru melepasnya.

Aluna langsung mendengus kesal sambil mengusap-usap pergelangan tangannya. Ia menatap Sebastian dengan dahi berkerut.

“Kamu ini mau apa sebenarnya?!” keluh Aluna seraya melepaskan tangannya.

Sebastian tak langsung menjawab. Tatapannya terus tertahan pada Aluna. Sampai akhirnya, pria itu melangkah lebih dekat, membuat Aluna mau tak mau mundur hingga punggungnya menabrak dinding.

Seketika, Aluna membelalak. Dadanya bergemuruh cepat. Posisi ini benar-benar membuatnya tak bisa berbuat apa-apa, bahkan lidahnya mendadak kelu.

Sebastian sedikit menundukkan kepalanya, lalu berkata dengan suara rendah. “Tawaranku nggak datang dua kali, Aluna.”

“Mau dua kali, tiga kali. Aku nggak peduli! Lagipula apa untungnya buatku?” ketus Aluna sambil berusaha memalingkan wajahnya.

Sebastian menaikkan sebelah alisnya. “Kalau kamu mau, aku bisa bayar kamu lima kali lipat dari gaji yang biasa kamu dapetin dalam sebulan.”

Lima kali lipat?

Aluna kembali terbelalak, mulutnya bahkan sedikit terbuka.

Astaga, jumlah itu cukup besar jika dibandingkan dengan gaji UMR yang selama ini sering Aluna dapatkan.

Tapi … tidak.

Aluna menggeleng dalam hati. Ia lalu menatap sengit Sebastian.

Pria menyebalkan itu. Bagaimana bisa Aluna menjadi tunangannya sedangkan ia saja sangat membenci pria itu? Aluna bahkan tidak sanggup membayangkannya.

Lagipula, Aluna juga punya harga diri yang harus dijaga. Itu pesan mendiang ayahnya.

Seenaknya saja Sebastian ingin membeli harga dirinya dengan uang sebesar lima kali lipat gaji UMR.

Meski kalau dinaikkan lagi … mungkin Aluna mau juga, sih.

“Bodoh,” gumam Aluna sambil menepuk kepalanya sendiri.

Sebastian hanya mengernyit melihat tingkah Aluna yang menurutnya aneh.

“Jadi, gimana?” tanya Sebastian kemudian.

“Aku tetap nggak tertarik. Cari aja wanita lain.” Aluna mendongak, menatap pria itu, lalu mendorong dada Sebastian. “Udah ah, awas, kamu cuma buang-buang waktuku aja!”

Namun, saat itu juga Sebastian kembali menahan pergelangan tangan Aluna dan berkata dengan dingin, “Oke, tapi setelah ini jangan putus asa kalau kamu kesulitan cari kerja.”

Aluna mengepalkan tangannya, bibirnya mengatup keras. “Maksudmu apa?!”

Sebastian tersenyum miring. “Kamu lupa, siapa aku?”

Ck! Pria itu masih saja sombong seperti dulu.

Tentu saja Aluna sangat tahu siapa Sebastian Narendra. Setiap ucapan pria itu bukan hanya sekadar gertakan belaka.

Keluarga Narendra memang salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Mereka memiliki banyak perusahaan, termasuk bisnis hotel dan properti yang tersebar di berbagai kota.

Bahkan sejak masa kuliah, Sebastian yang kini menyandang status sebagai duda tampan itu sudah digadang-gadang akan menjadi pewaris Narendra Group. Meski begitu, hingga sekarang kabar tersebut belum benar-benar terbukti.

Namun, Aluna tak mau mempedulikannya. Sekali lagi, ia menarik tangannya dengan keras, lalu mendorong tubuh Sebastian menjauh dari hadapannya.

“Terserah kamu!” Setelah berkata demikian, Aluna langsung melangkah pergi dengan hati dongkol.

Akan tetapi, baru beberapa langkah Aluna pergi, ponselnya tiba-tiba bergetar. Ia kembali menghentikan langkahnya dan mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

Nama Dion, adik Aluna, langsung muncul di layar ponsel. Aluna langsung mengangkatnya.

“Kak… Ibu sesak lagi.” Suara panik dari seberang langsung masuk ke telinga Aluna.

Langkah Aluna terhenti. “Sudah minum obat?”

“Sudah, tapi belum membaik,” jawab Dion.

Aluna memejamkan mata. Kepalanya tiba-tiba terasa penuh. “Kakak akan kirim uang malam ini. Bawa Ibu ke dokter kalau sesaknya semakin parah.”

Setelah panggilan berakhir, Aluna segera membuka dompetnya. Hanya tersisa tiga lembar uang seratus ribuan dan kartu ATM yang bahkan lebih sering kosong daripada terisi.

“Ya Tuhan, cobaan apalagi ini?” Aluna mengusap wajahnya kasar.

Uangnya benar-benar sudah habis. Dua bulan terakhir ia bahkan belum membayar sewa kos. Ditambah lagi, sampai sekarang ia belum juga mendapatkan pekerjaan baru, membuatnya tidak memiliki penghasilan sama sekali.

Dan sekarang, asma Ibunya kembali kambuh. Itu berarti Aluna harus menyiapkan dana tambahan untuk perawatan, sementara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri saja ia sudah kesulitan.

Aluna memejamkan mata. Rasanya semua masalah datang bersamaan.

Di tengah kebingungan yang melanda, tiba-tiba ucapan Sebastian kembali terngiang di kepalanya.

“Apa … aku terima aja tawaran cowok nyebelin itu ya?”

Aluna masih ragu. Di bawah terik matahari siang, Aluna terus menimbang-nimbang keputusan tersebut. Namun, bayangan wajah Ibu dan Dion kembali muncul di benaknya. Senyum keduanya seolah menjadi pengingat bahwa keputusan ini bukan hanya tentang dirinya.

Aluna mengembuskan napas panjang.

“Persetan dengan harga diri!” Aluna langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. “Aku harus segera menemui Sebastian sekarang.”

Tanpa membuang waktu lagi, Aluna langsung berlari kembali memasuki hotel.

Untuk saat ini, tidak ada yang lebih penting di pikirannya selain tawaran Sebastian. Uang dan pekerjaan. Dua hal yang paling Aluna butuhkan saat ini.

Dan sialnya, pria menyebalkan itu menawarkan keduanya sekaligus.

“Lagipula, jadi tunangan pura-pura itu pekerjaan yang mudah, kan? Aku jelas bisa berakting dengan sangat baik untuk memerankannya,” gumam Aluna. Ia tiba-tiba tertawa sendiri, membayangkan betapa mudahnya pekerjaan yang akan ia jalani itu.

Beruntung, Aluna langsung menemukan sosok pria yang sedang dicarinya. Sebastian tampak berjalan tergesa menuju lift.

“Sebastian!” panggilnya sambil berlari mengejarnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Tuntutan Nikah Mendadak

    Belum sempat Papa Sebastian melanjutkan pertanyaannya, Sarah tiba-tiba muncul dari arah ruang makan dengan senyum lebar. “Aluna! Akhirnya datang juga.” Wanita itu langsung menghampirinya dan menggenggam tangannya. “Saya pikir, kamu tidak jadi datang malam ini.” Aluna hanya bisa tersenyum kaku. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mungkin ia mengatakan terus terang bahwa dirinya datang hanya karena tergiur dengan uang yang ditawarkan Sebastian? “Kamu pasti lapar. Ayo, kita makan malam dulu.” Sarah kembali bersuara. Aluna hanya mengangguk, lalu mengikuti Sarah yang membawanya menuju ruang makan. Awalnya suasana berlangsung cukup tenang. Makan di selingi obrolan ringan dari kedua orang tua Sebastian. Namun, baru beberapa suapan masuk ke mulut Aluna, Papa Sebastian yang bernama Julian itu sudah mulai bertanya. “Jadi, kamu ini benar-benar kekasihnya Sebastian kan, Aluna?” Aluna hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. “Tentu saja.” Sebastian yang menjawab. Julian lalu mena

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Bertemu Orang Tua Sebastian

    Sebastian mengangkat sebelah alis. “Kamu bahkan belum mulai bekerja.” Aluna menggigit bagian dalam bibirnya. Sebenarnya Aluna juga merasa tidak enak meminta uang secepat itu. Ia bahkan baru saja menandatangani kontrak. Tapi mau bagaimana lagi? Ia memang sedang membutuhkan uang sekarang. Dan hanya Sebastian lah satu-satunya harapannya. “Kalau nggak bisa…” Aluna menarik napas. “Aku minta DP-nya dulu aja. Bisa dikirim ke rekeningku sekarang?” Tanpa menunggu jawaban, Aluna menyebutkan nomor rekeningnya. Sebastian tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya berpindah dari Aluna ke layar ponselnya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara notifikasi dari ponsel Aluna. Transfer masuk. Aluna buru-buru memeriksa layar ponselnya. Matanya langsung berbinar ketika melihat nominal yang baru saja masuk. “Terima kasih.” Tanpa banyak bicara, Aluna memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berbalik hendak pergi. Namun, baru selangkah, ia sempat melirik Sebastian. Pria itu justru tengah menatapnya

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Kontrak Kerjasama

    Pria itu menghentikan langkah dan menoleh. Sebelah alisnya terangkat ketika melihat Aluna yang datang terengah-engah. Senyum tipis yang menyebalkan pun muncul di wajahnya. Aluna mendengus. Ia masih berusaha mengatur napas sebelum kemudian berdiri tegak di hadapan Sebastian. “Soal tawaranmu tadi …” Aluna diam sejenak, tampak ragu untuk melanjutkan. “Apa masih berlaku?” Sebastian mengangkat sebelah alisnya, lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Lima menit lagi nggak berlaku” Aluna nyaris berdecak kesal, tapi akhirnya ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengepalkan kedua tangannya untuk menguatkan diri. “Aku mau jadi tunangan pura-puramu.” Aluna menatap Sebastian mantap. “Jadi, aku harus lakuin apa sekarang?” Sebastian tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat, membuat jantung Aluna perlahan berdetak lebih cepat. Tiba-tiba Sebastian tersenyum miring. “Baguslah.” Aluna mengerjapkan mata. Hanya begitu? Itu tidak menjawab pertanyaannya! Alun

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Langsung Menerima Tawaran

    Mata Aluna langsung membelalak. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat tawaran seperti itu dari pria yang sejak dulu selalu berhasil membuat darahnya naik setiap kali mereka bertemu dalam kegiatan kuliah.Plak!Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Sebastian.“Dasar pria gila!” “Kamu berani menamparku?!” Sebastian memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Aluna. Matanya menatap sekeliling yang untungnya lobi dalam keadaan sepi.Aluna langsung berkacak pinggang. “Iya, kenapa? Lagipula kamu emang kayaknya perlu disadarin. Kamu pikir aku bakal segampang itu mau jadi tunangan pura-puramu?! Jangan harap!” Sebastian menggertakkan giginya, lalu menarik napas kasar. “Ikut aku.” “Ah— lepasin aku!” protes Aluna sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sebastian.Namun, pria itu sama sekali tidak peduli dan terus menarik Aluna menjauhi lobi hotel. begitu sampai di halaman samping hotel, Sebatian baru melepasnya.Aluna langsung mendengus kesal sambil mengusap-usap p

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Tawaran Kerja Tak Terduga

    BRAK!“Jaga mata Anda, dasar HRD mesum!” Pekik Aluna kesal sambil menggebrak meja.Gadis itu berdiri dari kursinya dengan wajah merah. Niatnya datang ke Hotel ini untuk wawancara pekerjaan, tapi lagi-lagi ia malah berurusan dengan orang mesum.Bukannya fokus dengan wawancara, pria yang menjadi pewawancara itu malah fokus pada dada Aluna sejak tadi. Aluna jelas mengetahui hal itu, awalnya ia pikir hanya kebetulan melihat ke arah sana, tapi setelah berkali kali dengan senyum aneh yang muncul di wajah pria itu, Aluna semakin yakin dengan pikirannya.Bukannya membela diri, pria itu malah terkekeh kecil. “Kalau tidak mau dilihat, ya jangan pakai baju seperti itu. Sok suci sekali. Pantas saja kerjaanmu sering pindah-pindah, sedikit-sedikit protes.” Aluna semakin geram. Bagaimana bisa pria itu menyalahkan pakaiannya? Ia bahkan mengenakan kemeja yang sopan dan longgar, sama sekali tidak ketat apalagi memperlihatkan lekuk tubuhnya. “Tidak ada yang salah dengan baju saya! Mata Anda saja yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status