LOGIN
BRAK!
“Jaga mata Anda, dasar HRD mesum!” Pekik Aluna kesal sambil menggebrak meja. Gadis itu berdiri dari kursinya dengan wajah merah. Niatnya datang ke Hotel ini untuk wawancara pekerjaan, tapi lagi-lagi ia malah berurusan dengan orang mesum. Bukannya fokus dengan wawancara, pria yang menjadi pewawancara itu malah fokus pada dada Aluna sejak tadi. Aluna jelas mengetahui hal itu, awalnya ia pikir hanya kebetulan melihat ke arah sana, tapi setelah berkali kali dengan senyum aneh yang muncul di wajah pria itu, Aluna semakin yakin dengan pikirannya. Bukannya membela diri, pria itu malah terkekeh kecil. “Kalau tidak mau dilihat, ya jangan pakai baju seperti itu. Sok suci sekali. Pantas saja kerjaanmu sering pindah-pindah, sedikit-sedikit protes.” Aluna semakin geram. Bagaimana bisa pria itu menyalahkan pakaiannya? Ia bahkan mengenakan kemeja yang sopan dan longgar, sama sekali tidak ketat apalagi memperlihatkan lekuk tubuhnya. “Tidak ada yang salah dengan baju saya! Mata Anda saja yang tidak bisa dijaga!” Aluna meraih tasnya dengan kasar, lalu melangkah pergi. “Sudahlah, saya tidak jadi melamar kerja di hotel sini.” Tanpa menunggu jawaban, Aluna langsung berbalik dan pergi meninggalkan ruangan. “Dasar hotel nggak jelas!” Aluna berjalan keluar dari ruang interview itu dengan langkah cepat. Wajahnya masih dipenuhi kekesalan, apalagi kejadian seperti ini bukan pertama kalinya ia alami. Sudah empat belas kali ia berpindah tempat kerja karena selalu mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari rekan kerja maupun atasannya. Bedanya, Aluna bukan tipe perempuan yang bisa diam ketika dilecehkan. Sekali ada yang berani macam-macam, ia pasti akan melawan. Sayangnya, keberaniannya itu justru sering berujung pada dirinya sendiri yang dianggap pembuat masalah dan akhirnya dipecat. Baru sampai di lobi, langkah Aluna terhenti ketika mendengar suara seorang perempuan yang sedang membentak seseorang. “Sebastian! Sampai kapan kamu mau menghindari Mama?!” Aluna melirik sekilas. Seorang pria tinggi berjas hitam berdiri di tengah lobi. Wajahnya tampan, tetapi ekspresinya datar. Sementara di depannya, seorang wanita paruh baya tampak terus mengomel. “Kalau kamu memang sudah punya kekasih, tunjukkan pada Mama! Jangan buat malu keluarga!” Namun, bukan makian-makian itu yang membuat Aluna tidak melanjutkan langkahnya, melainkan wajah pria yang dipanggil Sebastian itu. “Bukannya itu kakak tingkat nyebelin pas kuliah dulu?” Aluna langsung mengenalinya. Sebastian, kakak tingkatnya semasa kuliah. Putra keluarga Narendra yang terkenal suka bertindak sesukanya dan agak tidak peka dengan keadaan orang lain. Aluna nyaris terkekeh melihat pemandangan itu. Dulu Sebastian selalu sok keren dan paling berani kalau sedang mengejeknya dengan sebutan ‘anak BEM sok kritis’. Tidak disangka, sekarang pria itu malah berdiri diam di depan mamanya seperti anak sekolah yang sedang dimarahi. “Anak mama ternyata,” gumam Aluna pelan, menahan tawa. Namun, sebelum sempat beranjak, Sebastian tiba-tiba mengangkat wajahnya hingga tatapan mereka bertemu. Aluna langsung terdiam. Sebastian juga tampak membeku sejenak, seolah baru menyadari siapa perempuan yang berdiri tak jauh darinya. Mata mereka bertemu cukup lama sampai Aluna merasa suasananya mendadak canggung. “Jangan bilang dia masih ingat aku …” pikir Aluna dalam hati. Aluna langsung membuang muka dan pura-pura tidak melihatnya. Ia baru saja hendak melangkah pergi ketika suara Sebastian terdengar dari belakang. “Ma, Mama tadi tanya mana kekasihku, kan?” ujar Sebastian santai. “Kebetulan orangnya ada di sini.” Langkah Aluna langsung terhenti. Hah? Siapa? Rasa penasarannya muncul begitu saja. Aluna menoleh pelan, sekadar ingin melihat siapa perempuan yang dimaksud Sebastian. Namun, begitu kepalanya sedikit menoleh, Sebastian justru sedang menunjuk tepat ke arahnya. “Itu. Namanya Aluna.” Aluna langsung membeku. “……” Mata Aluna membelalak sempurna. Otaknya seolah berhenti bekerja selama beberapa detik. Kekasih? Apa telinganya baru saja salah mendengar? Bagaimana bisa tiba-tiba pria itu mengaku bahwa dirinya adalah kekasihnya? Namun, Sebastian seolah mengabaikan keterkejutan Aluna. Ia justru berjalan mendekat, lalu meraih lengan Aluna dan menariknya begitu saja. “Eh?” Aluna bahkan belum sempat mencerna apa yang sedang terjadi. Tubuhnya refleks mengikuti langkah Sebastian, sementara wajahnya menunjukkan kebingungan dan rasa kikuk yang sulit disembunyikan. “Hentikan candaanmu, Sebastian. Kamu hanya menariknya secara asal, lalu mengaku dia sebagai kekasihmu, kan? Kamu pikir Mama percaya?” Wanita paruh baya bernama Sarah itu melipat kedua tangan di depan dada. Sebastian justru terlihat tenang. Ia melirik Aluna sekilas sebelum kembali menatap ibunya. “Kami sudah kenal sejak kuliah, Ma. Dulu Aluna adik tingkatku dan kami juga pernah pacaran saat itu.” Aluna langsung melongo. Pernah pacaran saat kuliah? Sebastian segera mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri. “Kalau Mama masih nggak percaya, aku punya buktinya. Ini, foto-foto kami sewaktu kuliah.” Namun, baru saja pria itu hendak menunjukkan layar ponselnya, Sarah langsung menyela, “Halah, kalau cuma foto itu masih bisa dimanipulasi pakai AI. Mama tetep tidak akan percaya!” Sebastian terdiam sejenak. Namun, matanya kemudian jatuh pada jari manis Aluna yang dihiasi sebuah cincin sederhana. “Aku udah melamarnya, Ma. Lihat, cincinnya masih dia pakai,” ujar Sebastian tenang sambil menggenggam tangan Aluna. Aluna spontan melihat jarinya sendiri. “Hah?” Sarah langsung melirik cincin di jari Aluna. Wajahnya sempat terlihat kaget, tetapi kemudian ia mengernyit. “Bohong! Mana mungkin cincin tunangan dari kamu sejelek itu?” Cincin itu cuma aksesori diskonan yang dibelinya dari toko dekat kos. Harganya bahkan tidak sampai lima puluh ribu. Bisa-bisanya Sebastian menganggapnya sebagai cincin tunangan! “Memang sederhana. Aluna emang nggak suka yang terlalu mewah,” jawab Sebastian santai. “Katanya, yang penting niatnya.” Aluna menatapnya tidak percaya. Pria ini benar-benar asal bicara. “Kami juga udah bicarain soal pernikahan. Tinggal nentuin waktunya aja,” lanjut sebastian. Sarah masih terlihat tidak terima. Ia menatap Sebastian dengan wajah kesal, lalu menghembuskan napas panjang. “Kalau begitu, bawa dia ke rumah. Berbicaralah sendiri dengan papamu.” “Oke,” jawab Sebastian singkat. Sarah mendengus kesal. Ia masih terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya memilih berbalik dan melangkah pergi. Begitu Sarah menjauh, Aluna yang sejak tadi menahan kesal langsung menarik lengan Sebastian. “Sumpah, kamu masih gila kayak dulu ya?!” Semprot Aluna kesal. Sebastian sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. Ia malah menatap Aluna dengan santai, seolah baru saja menyeretnya ke dalam masalah keluarga adalah hal biasa. “Kamu tadi nggak jadi wawancara kerja di sini, kan?” Tanyanya, membuat Aluna semakin bingung. Aluna terdiam, tapi juga bingung. Dari mana Sebastian tahu itu? Sebastian mengangkat bahu, seolah menjawab kebingungan Aluna, lalu kembali berkata, “Daripada kamu pusing cari kerja lagi, lebih baik kamu kerja jadi tunangan pura-puraku. Nanti kubayar lebih.”Belum sempat Papa Sebastian melanjutkan pertanyaannya, Sarah tiba-tiba muncul dari arah ruang makan dengan senyum lebar. “Aluna! Akhirnya datang juga.” Wanita itu langsung menghampirinya dan menggenggam tangannya. “Saya pikir, kamu tidak jadi datang malam ini.” Aluna hanya bisa tersenyum kaku. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mungkin ia mengatakan terus terang bahwa dirinya datang hanya karena tergiur dengan uang yang ditawarkan Sebastian? “Kamu pasti lapar. Ayo, kita makan malam dulu.” Sarah kembali bersuara. Aluna hanya mengangguk, lalu mengikuti Sarah yang membawanya menuju ruang makan. Awalnya suasana berlangsung cukup tenang. Makan di selingi obrolan ringan dari kedua orang tua Sebastian. Namun, baru beberapa suapan masuk ke mulut Aluna, Papa Sebastian yang bernama Julian itu sudah mulai bertanya. “Jadi, kamu ini benar-benar kekasihnya Sebastian kan, Aluna?” Aluna hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. “Tentu saja.” Sebastian yang menjawab. Julian lalu mena
Sebastian mengangkat sebelah alis. “Kamu bahkan belum mulai bekerja.” Aluna menggigit bagian dalam bibirnya. Sebenarnya Aluna juga merasa tidak enak meminta uang secepat itu. Ia bahkan baru saja menandatangani kontrak. Tapi mau bagaimana lagi? Ia memang sedang membutuhkan uang sekarang. Dan hanya Sebastian lah satu-satunya harapannya. “Kalau nggak bisa…” Aluna menarik napas. “Aku minta DP-nya dulu aja. Bisa dikirim ke rekeningku sekarang?” Tanpa menunggu jawaban, Aluna menyebutkan nomor rekeningnya. Sebastian tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya berpindah dari Aluna ke layar ponselnya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara notifikasi dari ponsel Aluna. Transfer masuk. Aluna buru-buru memeriksa layar ponselnya. Matanya langsung berbinar ketika melihat nominal yang baru saja masuk. “Terima kasih.” Tanpa banyak bicara, Aluna memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berbalik hendak pergi. Namun, baru selangkah, ia sempat melirik Sebastian. Pria itu justru tengah menatapnya
Pria itu menghentikan langkah dan menoleh. Sebelah alisnya terangkat ketika melihat Aluna yang datang terengah-engah. Senyum tipis yang menyebalkan pun muncul di wajahnya. Aluna mendengus. Ia masih berusaha mengatur napas sebelum kemudian berdiri tegak di hadapan Sebastian. “Soal tawaranmu tadi …” Aluna diam sejenak, tampak ragu untuk melanjutkan. “Apa masih berlaku?” Sebastian mengangkat sebelah alisnya, lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Lima menit lagi nggak berlaku” Aluna nyaris berdecak kesal, tapi akhirnya ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengepalkan kedua tangannya untuk menguatkan diri. “Aku mau jadi tunangan pura-puramu.” Aluna menatap Sebastian mantap. “Jadi, aku harus lakuin apa sekarang?” Sebastian tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat, membuat jantung Aluna perlahan berdetak lebih cepat. Tiba-tiba Sebastian tersenyum miring. “Baguslah.” Aluna mengerjapkan mata. Hanya begitu? Itu tidak menjawab pertanyaannya! Alun
Mata Aluna langsung membelalak. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat tawaran seperti itu dari pria yang sejak dulu selalu berhasil membuat darahnya naik setiap kali mereka bertemu dalam kegiatan kuliah.Plak!Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Sebastian.“Dasar pria gila!” “Kamu berani menamparku?!” Sebastian memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Aluna. Matanya menatap sekeliling yang untungnya lobi dalam keadaan sepi.Aluna langsung berkacak pinggang. “Iya, kenapa? Lagipula kamu emang kayaknya perlu disadarin. Kamu pikir aku bakal segampang itu mau jadi tunangan pura-puramu?! Jangan harap!” Sebastian menggertakkan giginya, lalu menarik napas kasar. “Ikut aku.” “Ah— lepasin aku!” protes Aluna sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sebastian.Namun, pria itu sama sekali tidak peduli dan terus menarik Aluna menjauhi lobi hotel. begitu sampai di halaman samping hotel, Sebatian baru melepasnya.Aluna langsung mendengus kesal sambil mengusap-usap p
BRAK!“Jaga mata Anda, dasar HRD mesum!” Pekik Aluna kesal sambil menggebrak meja.Gadis itu berdiri dari kursinya dengan wajah merah. Niatnya datang ke Hotel ini untuk wawancara pekerjaan, tapi lagi-lagi ia malah berurusan dengan orang mesum.Bukannya fokus dengan wawancara, pria yang menjadi pewawancara itu malah fokus pada dada Aluna sejak tadi. Aluna jelas mengetahui hal itu, awalnya ia pikir hanya kebetulan melihat ke arah sana, tapi setelah berkali kali dengan senyum aneh yang muncul di wajah pria itu, Aluna semakin yakin dengan pikirannya.Bukannya membela diri, pria itu malah terkekeh kecil. “Kalau tidak mau dilihat, ya jangan pakai baju seperti itu. Sok suci sekali. Pantas saja kerjaanmu sering pindah-pindah, sedikit-sedikit protes.” Aluna semakin geram. Bagaimana bisa pria itu menyalahkan pakaiannya? Ia bahkan mengenakan kemeja yang sopan dan longgar, sama sekali tidak ketat apalagi memperlihatkan lekuk tubuhnya. “Tidak ada yang salah dengan baju saya! Mata Anda saja yang







