Home / Romansa / ASI Untuk Putra Sang CEO / Menawari Menenangkan Sang Bayi

Share

Menawari Menenangkan Sang Bayi

Author: Zinnia Azalea
last update Last Updated: 2024-11-06 15:40:49

Hari berganti hari, nyatanya kehilangan seseorang pun hidup harus tetap berjalan.

Semua uang Alana sudah dibawa lari oleh suaminya. Mau tak mau, Alana harus menyimpan kesedihannya dan kembali bekerja.

Ia berencana menjual rumah peninggalan rumah orang tuanya, lalu mengikuti jejak Bi Narti yang menjadi pembantu di rumah Elzaino dengan menetap di rumah itu.

Alana pun sudah mendaftarkan gugatan cerai setelah dibantu oleh para warga. Jika dulu Alana bertahan karena anak yang dikandungnya, tapi tidak untuk sekarang. Tidak ada alasan lagi untuk Alana bertahan di sisi Heri yang memiliki temperamen buruk.

Tak lupa wanita itu terus berterima kasih dan berpamitan pada semua warga yang tulus menolongnya tanpa pamrih.

Bi Narti langsung menyambut Alana begitu ia tiba dan memeluknya dengan erat. “Turut berduka atas kehilanganmu, Alana.”

Wanita itu tergugu dalam pelukan Bi Narti. Ia tidak dapat menahan kesedihan yang masih membelenggunya.

Puas menangis, Bi Narti menyuruh Alana untuk beristirahat. Namun, Alana menolak. Ia langsung bekerja membantu Bi Narti mengepel rumah yang sangat luas itu.

Saat mengepel di depan kamar majikannya, jantung Alana berdebar ketika mendengar suara tangisan bayi.

"Bi, apakah Bibi mendengar suara tangisan bayi? Ataukah aku berhalusinasi?" tanya Alana, suaranya bergetar karena teringat dengan bayinya yang telah tiada.

"Itu bayi Tuan El. Namanya Den Agra. Bayi itu siang malam menangis, sepertinya ia tengah merindukan mamanya," bisik Bi Narti tepat di telinga Alana.

"Memang Nyonya Amanda ke mana, Bi?" Alana terlihat ingin tahu. Tiga minggu ia tak bekerja sampai tak tahu kabar besar yang mengejutkan semua penghuni rumah. Bi Narti memajukan tubuhnya dan berbisik, "Nyonya Amanda pergi, dia lebih memilih kembali pada mantan kekasihnya. Nyonya meninggalkan bayinya di sini."

"Astaghfirullah!" Alana terperanjat, sama sekali tak menduga hal ini. Matanya seketika berkaca-kaca, tak habis pikir bagaimana ada seorang ibu yang tega meninggalkan anaknya demi seorang pria?

Alana memang tahu mengenai cerita masa lalu Amanda dan Elzaino dari beberapa asisten rumah tangga yang sering bergosip. Namun, Alana tak menyangka jika Amanda memilih mantan kekasihnya dan tega meninggalkan suami serta buah hati mereka.

"Kalian ini tak berguna! Buat apa saya membayar kalian jika kalian tak bisa mendiamkan bayi ini!" Suara teriakan sang majikan dari dalam ruangan membuat Alana dan Bi Narti saling berpandangan. Sepertinya suasana di dalam sana sedang kacau.

"Maaf, Pak!" Ucap seorang wanita yang mungkin baby sitter yang diperkerjakan oleh Elzaino.

"Saya akan coba menggendongnya, Tuan," terdengar suara Ziyan menawarkan.

"Cukup! Jangan sentuh putraku! Kau belum berpengalaman mempunyai seorang bayi. Telfon saja dokter anak dan suruh mereka datang ke sini!"

"Baik, Tuan."

Suara pintu yang dibuka membuat Alana dan Bi Narti berjingkat. Mereka terkejut bersamaan karena melihat Ziyan—asisten pribadi Elzaino—berdiri di depan mereka. Terlihat dua orang baby sitter muda juga keluar dari dalam ruangan itu.

"Ma-maaf, Tuan. Kami sedang mengepel lantai di depan kamar ini," jelas Alana yang merasa tak enak.

"Tak apa-apa," jawab Ziyan singkat. Ia pun berlalu pergi sambil menelpon seseorang.

Pintu terbuka sedikit, di sana Alana melihat tuannya tengah menggendong bayi yang menangis. Dengan memberanikan diri Alana mengetuk pintu, ia langsung masuk setelah pria itu memberinya izin.

Alana menelan saliva, ia begitu gugup saat berhadapan dengan wajah tampan majikannya yang terlihat lelah sekali.

"Tu-Tuan, apakah boleh saya menenangkan bayi anda?" tanya Alana takut-takut.

Elzaino langsung menatapnya sengit. “Apa katamu? Menenangkan?” Ia tertawa sinis.

“Bahkan dua babysitter yang berpengalaman pun tak bisa menenangkannya!" Pria itu mendengus, menatap Alana kesal karena sudah bersikap lancang ingin menyentuh putranya.

Bi Narti yang mengekori Alana pun mencolek lengan wanita itu, mengajaknya undur diri dari sana. Ia tak mau Alana berurusan dengan El, apalagi emosi pria itu sedang tidak baik-baik saja.

"Ta-tapi Tuan, sepertinya bayi Anda kolik, kemungkinan dia tidak cocok dengan susu formula," kata Alana lagi, berusaha tidak menciut meski tatapan tuannya begitu mengintimidasi.

Sebagai seorang ibu yang baru saja kehilangan bayi, ia merasa tak tega jika bayi itu terus menangis. Hatinya terus menjerit ingin menggendong bayi tampan bernama Arga itu.

"Kolik? Kamu ini dokter spesialis anak? Jangan sok tahu!" cecar El tak suka.

"Tuan, biarkan saya menggendongnya. Saya hanya—”

"Jangan kurang ajar kamu!" sela El dengan wajah keras dan memerah.

Alana pun tertunduk, terkejut dengan bentakan

dari sang majikan. Selama ini Alana menilai El adalah pribadi yang hangat. Apalagi ia sering melihat kasih sayang pria itu pada istrinya.

Tapi hari ini, Alana seolah melihat orang lain. Pria itu terlihat dingin sekali. Seolah ada bagian hatinya yang sudah membeku karena dicampakan oleh sang istri. Arga semakin menangis histeris di dalam dekapan ayahnya, membuat El kewalahan.

"Tuan, jangan takut. Alana berpengalaman, dia juga pernah memiliki anak," Bi Narti akhirnya bersuara.

Alana menatap tuannya penuh harap karena kasihan mendengar tangisan bayi itu yang tak kunjung mereda. El yang kebingungan harus melakukan apa kini terlihat menimbang-nimbang.

"Baiklah,” katanya kemudian. Ia menatap Alana tajam. “Tapi kalau sampai kamu gagal, aku tidak akan tinggal diam!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Pertengkaran

    Sudah seminggu ini Heri terbaring sakit. Mantan suami dari Alana itu kini tinggal sebatang kara. Heri memicingkan mata, kepalanya terasa berat, wajahnya pun terlihat pias.. "Haus sekali," lirihnya dengan suara lemah. Pria yang berprofesi sebagai tukang bangunan itu memaksakan diri untuk bangun demi membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering. Heri berjalan dengan tergopoh ke arah galon yang berada di sudut ruangan. Tubuhnya terasa remuk redam. Bekerja sebagai kuli bangunan memang pengalaman hidup yang amat berat bagi Heri yang terbiasa bekerja dengan santai. Tangan Heri menuangkan air ke dalam gelas dengan pelan. Pria itu meneguk habis air dalam gelas sampai tak tersisa. Untung saja temannya berbaik hati tidak membawa galon dan gelas gelas di kontrakan karena iba akan nasib Heri. Heri sudah sebulan bekerja sebagai tukang bangunan. Dirinya amat dibenci oleh rekan rekannya karena perseteruannya dengan salah satu pekerja. "Ibu, Bapak, Annida," Heri merebahkan dirinya kemb

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Perayaan Tahun Baru

    Alana memetik pucuk teh dengan riang. Ia kemudian memperlihatkannya pada Arga yang sedang ia gendong. "Lihat nih, Sayang!" Ujar Alana riang. Matanya beralih pada hamparan kebun teh yang begitu luas. Hijau, sejuk, damai dan begitu memanjakan mata. Alana begitu riang ketika ia diajak untuk merayakan tahun baru di villa milik tuannya, Elzaino. Alana amat bersyukur bisa bekerja pada Elzaino. Alana mengalihkan pandangannya pada Arga yang sedang ia gendong dengan gendongan depan. Bayi berusia 8 bulan itu menatapnya dengan mata yang jernih. Kehampaan dan kesedihan Alana memang sangat terobati dengan kehadiran bayi gembul itu. "Arga dingin, Nak?" Alana menyentuh pipi Arga yang memerah. Bayi itu kemudian tersenyum menatap Alana. "Emm, hangat," Alana berbicara sendiri. Yakin jika tuan mudanya itu tidak kedinginan karena Alana juga sudah memakaikan pakaian yang hangat untuk Arga. "Ayo kita ke sebelah sana ya, kita lihat kabut dan embun!" Alana melangkah lebih jauh. Sementara itu Elzaino,

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Siasat Amanda

    Amanda masih berusaha memasuki kediaman orang tuanya meski petugas keamanan terus saja berbicara sinis padanya. Wanita yang sudah berada di depan gerbang rumah ayahnya itu pun keluar dari mobil. Ia berteriak bak orang kesetanan karena tak kunjung mendapat izin untuk masuk ke dalam kediaman orang tuanya. "Buka gerbangnya, Babu!!!" Hardiknya dengan penuh amarah kepada petugas keamanan yang bernama Jono. Jono keukeuh tak ingin membuka gerbang. "Tidak bisa," tolak Jono sekali lagi, wajahnya cukup santai. "Kurang ajar!! Aaaa!!" Amanda berteriak seraya mencari batu untuk ia lempar kepada petugas keamanan yang sudah mengabdi di sana selama puluhan tahun itu. Handoko dan Resti yang sedang berada di pendopo merasa terganggu dengan suara bising yang terdengar dari pos keamanan. "Seperti suara Amanda, Pa!" Resti berdiri dari duduknya. Raut wajahnya berubah saat mendengar suara sang putri. Sementara Handoko hanya diam. Ia memang sudah mengira sang putri akan datang ke kediamannya. "Bi

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Tak Ingin Alana Sakit

    Sejak kedatangan Amanda, Meri begitu mencemaskan keadaan sang cucu. Meri takut, Amanda akan berbuat nekat untuk mengambil Arga dari sisi keluarganya. Meri berjalan ke arah kamar Arga dan Alana. Wanita modis itu membuka pintu kamar Arga sedikit, ia tersenyum saat melihat Arga sedang berceloteh dan bercanda dengan Alana. Lagi-lagi hatinya menghangat karena Alana. "Alana," Panggil Meri lembut "Iya, Nyonya?" Alana menatap Meri yang sedang berjalan ke arahnya. "Terima kasih, Alana. Karena kamu telah menyayangi cucu saya sepenuh hati kamu," ucap Meri yang membuat Alana seakan tak percaya, karena Meri tak pernah mengatakan terima kasih kepada pekerjanya. "Sama-sama, Nyonya. Sudah kewajiban saya harus menjaga dan menyayangi Den Arga dengan sepenuh hati," Alana tersenyum yang membuat Meri semakin menyukai wanita cantik itu. "Saya akan membawa Arga ke taman, hanya di taman rumah ini. Saya ingin menghabiskan waktu dengan cucu saya," Meri berujar yang mirip sekali dengan meminta izin kepada

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Rencana Pergantian Tahun

    Elzaino berencana untuk merayakan pergantian tahun di villa pribadi miliknya yang ada di kota kembang. Villa itu terletak di kawasan asri dan dikelilingi kebun teh yang luas. Elzaino memang sengaja membelinya agar ia bisa membawa keluarganya menjauh sejenak dari hiruk pikuk perkotaan. Elzaino ingin menenangkan pikirannya dari segala masalah yang akhir-akhir ini menderanya."Seriusan Kak kita mau ke villa?" Tanya Mireya dengan mata yang berbinar.Kakak beradik itu kini berada dalam ruangan pribadi milik Elzaino. Mireya sendiri diminta datang ke ruangan pribadi kakaknya untuk menyampaikan hasil rapat tadi siang dengan perusahaan dari Amerika."Seriusan. Tapi semua kerjaan kantor udah beres kan?" Elzaino memastikan. Ia tak ingin pergi berlibur sementara pekerjaan di kantor belum rampung."Kakak ini tidak tahu apa kinerjaku seperti apa?" Mireya mengerucutkan bibirnya.Memang Elzaino begitu mengenali sifat pekerja keras adiknya. Bukan karena Mireya adalah adiknya lantas El menunjuk wanita

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Hari Pertama MPASI

    Pagi-pagi sekali Alana sudah berjibaku dengan apron warna putihnya. Hari ini, adalah hari pertama Arga MPASI. Wanita itu sangat fokus sekali dengan masakannya, hingga tak menyadari kedatangan Meri dan Mireya yang menghampiri dirinya. "Sedang apa, Sus? Serius sekali!" Mireya yang sedang libur itu bertanya kepada Alana seraya berdiri di samping Alana. Elzaino sudah dua hari ke luar kota, ia pun tak tahu Arga akan mulai MPASI hari ini. "Saya sedang memasak untuk Den Arga. Hari ini hari pertama MPASInya," jawab Alana dengan ceria. Mireya dan Meri merasa terkejut mendengar Arga yang sudah mulai fase MPASI. Mereka sangat sibuk sampai tidak sadar jika Arga sudah genap berusia enam bulan. "Kamu masak apa saja untuk Arga, Alana?" Meri memperhatikan makanan yang ada di dalam panci anti lengket itu. Meri sebenarnya merasa tak yakin dengan Alana, apakah wanita itu tahu gizi yang dibutuhkan oleh seorang bayi? Meri menatap isi panci itu, isinya adalah nasi, daging sapi, brokoli, dan tahu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status