เข้าสู่ระบบ“Ba-baik, Tuan,” sahut Alana gugup.
“Cuci dan sterilkan tanganmu!” titah El tegas. Alana segera ke kamar mandi mencuci tangannya dengan sabun dan air yang mengalir. Tak lupa ia melepas apron yang sedari tadi dipakai. Wanita itu kemudian keluar dan mengambil Arga dengan segan dari tangan El. "Sakit ya, sayang? Cup. Cup. Kasihan sekali anak ganteng, anak soleh," tutur Alana lembut, wanita itu pun memangku dan menidurkan Arga di kasur. Alana kemudian memijit perut Arga dengan pijitan ILU sehingga tangisannya sedikit demi sedikit mereda. El cukup tercengang karena Arga kini berhenti menangis. Ia menelisik setiap gerakan yang Alana buat. Takut jika sang asisten rumah tangganya membuat Arga cedera. "Dia kolik, Tuan. Perutnya kembung. Biasanya tak cocok dengan susu formula," jelas Alana tanpa diminta, yang membuat dahi El mengernyit. Setelah tangis bayi itu reda dan akhirnya tertidur, Alana menyimpan Agra dengan hati-hati ke dalam box bayi yang ada di ruangan penuh warna itu. Ruangan ini memang dipersiapkan El untuk putra pertamanya. Semuanya tertata rapi, menunjukan jika El sangat menyambut kelahiran buah hatinya dengan penuh suka cita, walau akhirnya berakhir dengan pilu karena sang istri memilih pergi dengan pria lain. "Sepertinya kamu tahu banyak tentang bayi?" tanya El dengan wajah berwibawa, tak lagi keras seperti sebelumnya. Pria itu duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar Arga. Ziyan yang baru selesai menelpon dokter, masuk dan heran bayi majikannya sudah berhenti menangis. "Dokter sedang di perjalanan, Tuan," lapor Ziyan. El hanya mengangguk. Tak lama datang dokter spesialis anak, mereka segera memeriksa Arga yang tertidur. Sedangkan Alana dan Bi Narti masih di sana karena belum dipersilahkan keluar. "Bayi anda kolik karena tidak cocok dengan susu formula. Sepertinya tidak bisa mencerna laktosa yang masuk," jelas dokter. El langsung menoleh pada Alana. Merasa heran mengapa asisten rumah tangga sepertinya tahu apa yang menimpa Arga. Selesai memeriksa, dokter itu langsung pulang. Ziyan sendiri langsung masuk kembali ke dalam kamar Arga setelah mengantarkan dokter sampai pintu depan. "Kalian duduklah!" kata El. Alana dan Bi Narti pun duduk di lantai karena sadar akan posisi mereka sebagai asisten rumah tangga. El menatap keduanya dengan dahi mengerut. "Duduklah di atas sofa!" katanya tegas, membuat Alana dan Bi Narti segera berdiri dengan ragu, dan duduk berhadapan dengannya. Ziyan pun bergabung bersama mereka. "Mengapa kamu tahu banyak tentang bayi?" El menanyakan hal yang sedari tadi bergelayut di pikirannya. Alana menundukkan wajahnya. Ia memilin jarinya sendiri yang terasa dingin. Alana ketakutan. Ia takut tindakannya tadi membuat sang majikan tersinggung. Alana menyesali mengapa tadi ia bersikeras menyentuh bayi majikannya itu. Bi Narti menyikut tangan Alana pelan sebagai kode agar wanita itu segera menjawab, akan tetapi Alana masih takut untuk menjawab. Segala sikap Heri menjadikan dirinya tidak percaya diri dan merasa selalu salah dalam melakukan apapun. "Kebetulan Alana baru melahirkan dan usia bayinya sama dengan putra anda, Tuan. Tapi nasib berkata lain, bayi Alana sudah tiada karena sebuah kecelakaan tragis yang diakibatkan oleh suaminya," jelas Bi Narti pada sang majikan karena Alana tak kunjung membuka mulut. Elzaino mengangguk. Ia memang tidak pernah memperhatikan Alana selama bekerja padanya. Pelayan di rumahnya cukup banyak dan ia tak ada waktu memperhatikan asisten rumah tangganya satu persatu. "Itu artinya kamu bisa menyusui?" tanya El secara gamblang. "Iya, kebetulan air susu saya masih sangat banyak. Apa ada masalah, Tuan?" Alana bertanya dengan cemas, takut jika keadaannya mengganggu kinerjanya sebagai asisten rumah tangga di rumah itu. "Apa kamu bersedia dipindah tugaskan?" tanya sang majikan lagi. Alana menatapnya kebingungan. "Pindah tugas? Maaf, Tuan, bagaimana maksudnya?" "Saya ingin kamu menyusui Arga. Itu pun jika ASI kamu masih ada dan semua pemeriksaan menunjukan kesehatanmu baik,” kata Elzaino. “Jika kamu memenuhi semua syarat, kamu akan menjadi ibu susu dari Arga dan tidak perlu bekerja lagi sebagai asisten rumah tangga di sini. Apa kamu mengerti?" jelas pria itu panjang, membuat Alana dan Bi Narti tak percaya mendengar perkataannya. "Ma-maaf, Tuan, apa Tuan yakin mempercayakan saya menjadi ibu susu Tuan Arga?" Alana bertanya dengan penuh kesopanan. Elzaino menghela napas lelah. "Kamu mendengar sendiri kalau Arga tidak cocok dengan susu formula merk apapun. Saya terkejut kamu paham tentang kolik. Apa kamu pernah mengurus anak sebelumnya? Sebelum kamu melahirkan?” Sepasang mata yang tajam itu seakan sedang menginterogasi terdakwa. "Kebetulan saya pernah mengurus anak tetangga sebelum bekerja di sini, Tuan. Jadi, saya sedikit banyak tahu," timpal Alana sembari masih memilin jarinya, merasa gugup. "Baiklah, besok kamu akan dibawa ke rumah sakit untuk melakukan serangkaian tes. Jika kamu cocok menjadi ibu susu Arga, aku akan memberikan gaji lima kali lipat untukmu. Aku akan mempersiapkan kontrak kerjanya," penjelasan El membuat Alana membulatkan matanya. ‘Apa tadi katanya? Lima kali lipat?!’ Alana berteriak dalam hati. Ia senang bukan kepalang. Memiliki gaji besar tentu akan membuat Alana mudah menabung. Rencananya jika sudah mempunyai tabungan, ia ingin membuka usaha sendiri. Alana ingin berjualan kecil-kecilan karena tak selamanya ia bisa jadi asisten rumah tangga. "Pembicaraan telah selesai. Kalian boleh keluar," ujar El, membuat lamunan Alana buyar. Alana dan Bi Narti pun langsung keluar dari kamar Arga. Bi Narti menutup mulutnya tak percaya atas apa yang mereka alami barusan. "Alana, kamu emang bejo!!" seru Bi Narti saat mereka sudah jauh dari kamar Arga. "Bejo gimana, Bi? Kan belum pasti aku cocok jadi ibu susu Arga," Alana tampak pesimis. "Bibi doakan biar segalanya lancar. Semoga semua hasil pemeriksaan kesehatanmu bagus. Dengan begitu kamu bisa diterima jadi ibu susu Arga. Kapan lagi kamu bisa menjadi ibu susu dari bayi konglomerat!" cicit Bi Narti yang membuat Alana tertawa karena mendengar kata konglomerat. Sementara itu, di dalam kamar milik Arga, El bertanya mengenai kebiasaan Alana pada asisten pribadinya itu. Ia ingin tahu mengenai profil Alana beserta kehidupannya selama ini. Ziyan pun tampak mengerti. Ia segera menyuruh orang untuk mengumpulkan segala informasi mengenai Alana. El menatap putranya yang tertidur pulas untuk pertama kalinya selama beberapa hari terakhir. “Aku harus memastikan kalau wanita itu memang layak.”Sudah seminggu ini Heri terbaring sakit. Mantan suami dari Alana itu kini tinggal sebatang kara. Heri memicingkan mata, kepalanya terasa berat, wajahnya pun terlihat pias.. "Haus sekali," lirihnya dengan suara lemah. Pria yang berprofesi sebagai tukang bangunan itu memaksakan diri untuk bangun demi membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering. Heri berjalan dengan tergopoh ke arah galon yang berada di sudut ruangan. Tubuhnya terasa remuk redam. Bekerja sebagai kuli bangunan memang pengalaman hidup yang amat berat bagi Heri yang terbiasa bekerja dengan santai. Tangan Heri menuangkan air ke dalam gelas dengan pelan. Pria itu meneguk habis air dalam gelas sampai tak tersisa. Untung saja temannya berbaik hati tidak membawa galon dan gelas gelas di kontrakan karena iba akan nasib Heri. Heri sudah sebulan bekerja sebagai tukang bangunan. Dirinya amat dibenci oleh rekan rekannya karena perseteruannya dengan salah satu pekerja. "Ibu, Bapak, Annida," Heri merebahkan dirinya kemb
Alana memetik pucuk teh dengan riang. Ia kemudian memperlihatkannya pada Arga yang sedang ia gendong. "Lihat nih, Sayang!" Ujar Alana riang. Matanya beralih pada hamparan kebun teh yang begitu luas. Hijau, sejuk, damai dan begitu memanjakan mata. Alana begitu riang ketika ia diajak untuk merayakan tahun baru di villa milik tuannya, Elzaino. Alana amat bersyukur bisa bekerja pada Elzaino. Alana mengalihkan pandangannya pada Arga yang sedang ia gendong dengan gendongan depan. Bayi berusia 8 bulan itu menatapnya dengan mata yang jernih. Kehampaan dan kesedihan Alana memang sangat terobati dengan kehadiran bayi gembul itu. "Arga dingin, Nak?" Alana menyentuh pipi Arga yang memerah. Bayi itu kemudian tersenyum menatap Alana. "Emm, hangat," Alana berbicara sendiri. Yakin jika tuan mudanya itu tidak kedinginan karena Alana juga sudah memakaikan pakaian yang hangat untuk Arga. "Ayo kita ke sebelah sana ya, kita lihat kabut dan embun!" Alana melangkah lebih jauh. Sementara itu Elzaino,
Amanda masih berusaha memasuki kediaman orang tuanya meski petugas keamanan terus saja berbicara sinis padanya. Wanita yang sudah berada di depan gerbang rumah ayahnya itu pun keluar dari mobil. Ia berteriak bak orang kesetanan karena tak kunjung mendapat izin untuk masuk ke dalam kediaman orang tuanya. "Buka gerbangnya, Babu!!!" Hardiknya dengan penuh amarah kepada petugas keamanan yang bernama Jono. Jono keukeuh tak ingin membuka gerbang. "Tidak bisa," tolak Jono sekali lagi, wajahnya cukup santai. "Kurang ajar!! Aaaa!!" Amanda berteriak seraya mencari batu untuk ia lempar kepada petugas keamanan yang sudah mengabdi di sana selama puluhan tahun itu. Handoko dan Resti yang sedang berada di pendopo merasa terganggu dengan suara bising yang terdengar dari pos keamanan. "Seperti suara Amanda, Pa!" Resti berdiri dari duduknya. Raut wajahnya berubah saat mendengar suara sang putri. Sementara Handoko hanya diam. Ia memang sudah mengira sang putri akan datang ke kediamannya. "Bi
Sejak kedatangan Amanda, Meri begitu mencemaskan keadaan sang cucu. Meri takut, Amanda akan berbuat nekat untuk mengambil Arga dari sisi keluarganya. Meri berjalan ke arah kamar Arga dan Alana. Wanita modis itu membuka pintu kamar Arga sedikit, ia tersenyum saat melihat Arga sedang berceloteh dan bercanda dengan Alana. Lagi-lagi hatinya menghangat karena Alana. "Alana," Panggil Meri lembut "Iya, Nyonya?" Alana menatap Meri yang sedang berjalan ke arahnya. "Terima kasih, Alana. Karena kamu telah menyayangi cucu saya sepenuh hati kamu," ucap Meri yang membuat Alana seakan tak percaya, karena Meri tak pernah mengatakan terima kasih kepada pekerjanya. "Sama-sama, Nyonya. Sudah kewajiban saya harus menjaga dan menyayangi Den Arga dengan sepenuh hati," Alana tersenyum yang membuat Meri semakin menyukai wanita cantik itu. "Saya akan membawa Arga ke taman, hanya di taman rumah ini. Saya ingin menghabiskan waktu dengan cucu saya," Meri berujar yang mirip sekali dengan meminta izin kepada
Elzaino berencana untuk merayakan pergantian tahun di villa pribadi miliknya yang ada di kota kembang. Villa itu terletak di kawasan asri dan dikelilingi kebun teh yang luas. Elzaino memang sengaja membelinya agar ia bisa membawa keluarganya menjauh sejenak dari hiruk pikuk perkotaan. Elzaino ingin menenangkan pikirannya dari segala masalah yang akhir-akhir ini menderanya."Seriusan Kak kita mau ke villa?" Tanya Mireya dengan mata yang berbinar.Kakak beradik itu kini berada dalam ruangan pribadi milik Elzaino. Mireya sendiri diminta datang ke ruangan pribadi kakaknya untuk menyampaikan hasil rapat tadi siang dengan perusahaan dari Amerika."Seriusan. Tapi semua kerjaan kantor udah beres kan?" Elzaino memastikan. Ia tak ingin pergi berlibur sementara pekerjaan di kantor belum rampung."Kakak ini tidak tahu apa kinerjaku seperti apa?" Mireya mengerucutkan bibirnya.Memang Elzaino begitu mengenali sifat pekerja keras adiknya. Bukan karena Mireya adalah adiknya lantas El menunjuk wanita
Pagi-pagi sekali Alana sudah berjibaku dengan apron warna putihnya. Hari ini, adalah hari pertama Arga MPASI. Wanita itu sangat fokus sekali dengan masakannya, hingga tak menyadari kedatangan Meri dan Mireya yang menghampiri dirinya. "Sedang apa, Sus? Serius sekali!" Mireya yang sedang libur itu bertanya kepada Alana seraya berdiri di samping Alana. Elzaino sudah dua hari ke luar kota, ia pun tak tahu Arga akan mulai MPASI hari ini. "Saya sedang memasak untuk Den Arga. Hari ini hari pertama MPASInya," jawab Alana dengan ceria. Mireya dan Meri merasa terkejut mendengar Arga yang sudah mulai fase MPASI. Mereka sangat sibuk sampai tidak sadar jika Arga sudah genap berusia enam bulan. "Kamu masak apa saja untuk Arga, Alana?" Meri memperhatikan makanan yang ada di dalam panci anti lengket itu. Meri sebenarnya merasa tak yakin dengan Alana, apakah wanita itu tahu gizi yang dibutuhkan oleh seorang bayi? Meri menatap isi panci itu, isinya adalah nasi, daging sapi, brokoli, dan tahu.







