Home / Romansa / ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN / 06. Perlindungan sang CEO

Share

06. Perlindungan sang CEO

Author: Senjaaa_
last update publish date: 2026-04-16 20:00:03

"Arlan! Buka pintunya! Saya tahu kamu menyembunyikan wanita itu di dalam!" suara Clarissa melengking lewat speaker interkom.

Keyla berdiri mematung di anak tangga, menatap monitor CCTV yang menunjukkan Clarissa datang bersama beberapa petugas keamanan apartemen berseragam polisi.

Jantungnya berdegup kencang, tangannya meremas pegangan tangga dengan kuat. "Pak, itu... polisi beneran? Saya bakal ditangkap karena dituduh nyulik Bapak?"

Arlan menoleh, wajahnya kembali tenang seolah teriakan di luar sana hanyalah angin lalu. Dia berjalan mendekati Keyla dan memberikan isyarat agar gadis itu tetap tenang.

"Itu hanya polisi sewaan keluarga Clarissa untuk menggertak kita," jawab Arlan dengan suara rendah dan mantap.

Arlan menekan tombol interkom, suaranya terdengar sangat dingin dan penuh otoritas. "Clarissa, jika kamu tidak pergi dalam tiga menit, saya akan menuntutmu atas pencemaran nama baik dan gangguan privasi."

"Tapi Arlan! Wanita itu tidak pantas berada di sana! Dia hanya asisten murahan!" jerit Clarissa semakin histeris.

Arlan tidak menyahut lagi, dia mematikan layar monitor dan menarik napas panjang. Dia menghampiri Keyla, lalu menggenggam jemari gadis itu yang terasa sedingin es.

"Jangan takut. Selama kamu di sini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuhmu," bisik Arlan tepat di depan wajah Keyla.

Keyla mendongak, menatap mata Arlan yang berkilat tajam namun terasa sangat menenangkan. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh debaran aneh yang membuat pipinya memanas.

"Bapak nggak perlu sampai segininya, Pak. Kalau saya keluar dan jelasin semuanya, mungkin mereka bakal pergi," usul Keyla ragu.

Arlan menggeleng tegas, genggamannya pada tangan Keyla semakin mengerat. "Kamu adalah asisten kesayangan saya, Keyla. Melindungimu adalah tugas utama saya sekarang."

Keyla tertegun mendengar kata 'kesayangan' keluar dari mulut pria sekaku Arlan. "Bapak... tadi bilang apa? Kesayangan?"

Wajah Arlan sedikit berubah kaku, dia berdeham pelan dan segera melepaskan tangan Keyla. "Maksud saya, asisten yang paling kompeten. Jangan percaya diri berlebihan."

Keyla mencibir pelan, namun dia tahu Arlan hanya sedang berusaha menutupi rasa gengsinya. "Halah, bilang saja Bapak sudah mulai terpesona dengan aura bar-bar saya."

Tiba-tiba, suara gedoran di pintu berhenti, digantikan oleh suara langkah kaki yang menjauh. Arlan kembali mengecek monitor dan mendapati lorong apartemen sudah kosong.

"Mereka sudah pergi. Clarissa tahu saya tidak pernah main-main dengan ancaman hukum," ucap Arlan sambil melonggarkan dasinya.

Keyla mengembuskan napas lega yang sangat panjang sampai bahunya merosot. "Syukurlah. Saya hampir saja mau lompat dari balkon kalau mereka beneran dobrak pintu."

Arlan berjalan menuju dapur bersih dan menuangkan segelas air putih untuk Keyla. "Minumlah. Wajahmu sudah pucat seperti mayat."

Keyla menerima gelas itu dan meminumnya sampai tandas dalam satu tarikan napas. "Makasih, Pak Bos. Bapak ternyata keren juga ya kalau lagi ngusir lampir."

Arlan hanya mendengus, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sangat tipis. Dia mengambil gelas kosong dari tangan Keyla, membuat jemari mereka kembali bersentuhan sesaat.

"Istirahatlah. Besok kita harus kembali ke kantor dan menghadapi kejutan lainnya dari Ayah saya," perintah Arlan.

Keyla mengangguk patuh, dia kembali menaiki tangga menuju kamar mewahnya. Namun, baru beberapa langkah, dia berhenti dan menoleh kembali ke bawah.

"Pak Bos... terima kasih ya sudah jagain saya tadi," ucap Keyla dengan nada yang jauh lebih lembut.

Arlan yang sedang membereskan gelas hanya mengangguk tanpa menoleh. "Itu sudah termasuk dalam kontrak kerja non-formal kita, Keyla."

Malam itu, Keyla tidur dengan perasaan yang sangat campur aduk di atas kasur empuknya. Dia merasa aman, namun hatinya mulai merasa tidak aman karena sosok pria di lantai bawah.

Keesokan paginya, suasana kantor Adiguna Group tampak sangat aneh dan penuh bisikan. Keyla berjalan di samping Arlan dengan kepala tegak, meskipun dia tahu semua mata tertuju padanya.

Begitu sampai di depan ruangan CEO, mereka mendapati sebuah buket bunga mawar merah raksasa yang menutupi seluruh meja kerja Keyla.

"Wah, Pak! Bapak romantis banget pagi-pagi sudah kasih bunga!" seru Keyla sambil mendekati meja itu dengan girang.

Arlan mengernyitkan dahi, dia melangkah mendekat dan mengambil kartu ucapan yang terselip di antara bunga. Wajahnya langsung berubah menjadi sangat gelap.

"Bukan dari saya," ucap Arlan dingin sambil meremas kartu ucapan itu hingga hancur.

Keyla mengintip potongan kertas yang jatuh ke lantai, di sana tertulis sebuah nama yang sangat asing. “Untuk Asisten Paling Berani, Dari Penggemar Rahasiamu.”

"Pak, kenapa dibuang? Kan sayang bunganya bagus banget," keluh Keyla sambil mencoba menyelamatkan satu tangkai mawar.

Arlan langsung menyambar mawar itu dari tangan Keyla dan membuangnya ke tempat sampah. "Kamu dilarang menerima apa pun dari orang asing selama jam kantor."

Keyla ternganga melihat reaksi Arlan yang sangat berlebihan. "Bapak... cemburu ya?"

Arlan tidak menjawab, dia masuk ke ruangannya dan membanting pintu dengan cukup keras. Keyla hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah bosnya yang mendadak jadi sensi.

Namun, baru saja Keyla hendak duduk, telepon kantornya berbunyi nyaring. Dia mengangkatnya dengan profesional.

"Halo, dengan Keyla asisten Pak Arlan. Ada yang bisa dibantu?"

"Keyla... ini Ibu. Tolong, Nak... ada orang-orang asing di rumah kita..." suara ibunya terdengar gemetar dan penuh ketakutan di seberang telepon.

Keyla mendadak lemas, jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendengar suara tangisan ibunya yang terputus-putus.

"Ibu? Halo! Ibu kenapa?!" teriak Keyla histeris, membuat Arlan langsung keluar dari ruangannya dengan wajah panik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   64. Menu Sarapan Misterius

    "Arlan! Kamu kenapa melotot begitu sambil pegang ponsel? Apa ada hantu kirim pesan singkat atau kamu baru saja lihat harga saham jatuh drastis sampai wajahmu kaku begitu?!" seru Keyla yang tiba-tiba duduk tegak di tempat tidur, mengucek matanya yang masih setengah terpejam.Keyla menatap Arlan dengan tatapan menyelidik, merasa suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu di balik cahaya redup lampu tidur. Rasa kantuknya seketika hilang saat melihat ketegangan di rahang Arlan, membuat imajinasi liar Keyla kembali bekerja memikirkan hal-hal aneh yang mungkin terjadi di tengah malam.Arlan segera mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali ke dalam laci dengan gerakan yang sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Dia menarik Keyla kembali ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala istrinya di dada bidangnya yang hangat untuk meredam kecurigaan asisten kesayangannya itu."Tenanglah, Sayang. Tidak ada hantu, hanya laporan rutin dari tim keamanan yang sedikit terlambat masuk karena kendal

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   63. Detak Jantung yang Salah Alamat

    "Arlan! Itu di kantor ada paket berdetak kok kamu malah tenang-tenang saja sambil rapihin kerah baju?! Apa kamu pikir itu jam weker raksasa yang mau kasih kejutan ulang tahun buat saya?!" seru Keyla dengan suara melengking saat helikopter mereka baru saja mendarat di atap gedung kantor pusat.Wajah Keyla sudah pucat pasi, matanya melirik ngeri ke arah pintu lift yang menuju lobi utama tempat paket misterius itu berada. Keyla merasa lututnya lemas, membayangkan sebuah benda berbahaya meledak dan menghancurkan dokumen-dokumen penting yang baru saja mereka amankan.Arlan tidak membiarkan Keyla jatuh dalam kepanikan, dia segera menangkap pinggang istrinya dan menariknya ke dalam dekapan yang sangat protektif dan hangat. Dengan tatapan mata yang sangat tenang dan berwibawa, dia mengusap pipi Keyla untuk memberikan ketenangan instan."Tenanglah, Sayang. Itu bukan bom sungguhan, melainkan hanya jam pasir kuno dengan mekanisme pegas yang sengaja dibuat berisik untuk menakut-nakuti kita," jawa

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   62. Warisan Rahasia

    "Arlan! Itu di layar kenapa ada nama Arlo di atas brankas mini itu?! Apa jangan-jangan Ibu saya dulu sebenarnya adalah agen rahasia yang lagi ngasuh sepupu kamu yang menyebalkan itu?!" seru Keyla sambil menunjuk layar proyektor dengan ekspresi antara bingung dan tidak terima.Suasana ruangan rahasia yang tadinya sunyi mendadak penuh dengan suara melengking Keyla yang menggema di antara rak buku tua. Keyla merasa otaknya mulai memproses skenario gila, mulai dari bayi tertukar hingga teori konspirasi keluarga yang membuatnya pening tujuh keliling.Arlan tidak membiarkan istrinya jatuh dalam lubang spekulasi yang aneh-aneh, dia segera menarik Keyla ke dalam pelukan hangatnya. Dengan satu tangan, dia mengusap lembut punggung Keyla, memberikan ketenangan instan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Arlan Adiguna."Tenanglah, Keyla. Arlo bukan anak hilang atau saudara rahasia, dia hanya anak yang dititipkan oleh paman saya kepada Ibu kamu untuk dibantu biaya pendidikannya karena dulu kelua

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   61. Sandaran CEO

    "Arlan! Itu si Arlo KW super kenapa dadah-dadah dari kapal pesiar kayak mau ikut lomba melambai sedunia?! Terus ini kenapa helikopternya miring-miring begini, apa pilotnya lagi belajar goyang di udara?!" seru Keyla sambil mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat hingga buku jarinya memutih.Wajah Keyla sudah pucat pasi, matanya melirik ngeri ke arah laut lepas yang terlihat gelap dan bergulung di bawah sana. Keyla merasa perutnya dikocok habis-habisan, rasa takut akan ketinggian berbaur dengan rasa kesal melihat Arlo yang tampak sangat santai di atas kapal mewah itu.Arlan segera menarik tubuh Keyla ke dalam dekapannya, membiarkan kepala asisten kesayangannya itu bersandar di dada bidangnya yang kokoh. Dengan tangan yang sangat tenang, dia mengusap bahu Keyla, berusaha menyalurkan kekuatan dan ketenangan yang selalu ia miliki."Tenanglah, Keyla. Helikopter ini sangat stabil, pilot saya hanya sedang menyesuaikan dengan arus angin laut agar perjalanan kita lebih mulus," jawab Arlan deng

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   60. Duel Tampan

    "Arlan! Itu tadi siapa yang nelepon kok suaranya mirip kamu tapi versi lebih menyebalkan?! Terus kenapa dia panggil kamu Kakak? Kamu beneran punya kembaran yang tertinggal di masa lalu?!" seru Keyla sambil memegang erat pegangan pintu mobil yang mulai melaju kencang meninggalkan villa.Napasnya memburu, bayangan wajah bermasker di layar ponsel tadi benar-benar menghantuinya. Keyla merasa kepalanya mau pecah membayangkan ada dua pria setampan Arlan di dunia ini, tapi yang satu sepertinya ingin mencuri hidup suaminya.Arlan tidak membiarkan Keyla tenggelam dalam ketakutan, dia segera memindahkan tangannya dari kemudi hanya untuk menggenggam jemari Keyla yang dingin. Dia memberikan tatapan mata yang sangat tajam namun penuh keteduhan, berusaha meredam badai di hati asisten kesayangannya itu."Tenanglah, Keyla. Dia bukan kembaran biologis saya, melainkan sepupu jauh bernama Arlo yang sejak kecil memang dididik untuk menjadi bayangan saya dalam urusan bisnis keluarga," jawab Arlan dengan s

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   59. Rahasia Kembaran

    "Arlan! Itu kakek kamu kok hidup lagi? Terus kenapa dia pegang foto bayi kembar begitu? Kamu jangan bilang kalau sebenarnya saya ini punya kembaran yang tertukar di puskesmas?!" seru Keyla dengan suara melengking sambil menunjuk-nunjuk layar monitor di balik pintu villa.Napasnya memburu, matanya membelalak melihat pria tua di depan pintu yang sangat mirip dengan mendiang Kakek Adiguna. Keyla merasa dunianya kembali jungkir balik, membayangkan jika selama ini ada orang lain yang memiliki wajah persis sepertinya dan mungkin sedang merencanakan sesuatu yang aneh.Arlan tidak membiarkan Keyla terus berimajinasi liar sampai menembus batas logika. Dia segera menarik Keyla ke belakang punggungnya, lalu dengan tenang membuka pintu villa setelah memastikan tidak ada ancaman senjata di tangan pria tua tersebut."Tenanglah, Keyla. Beliau bukan hantu kakek saya, melainkan adik kembar Kakek yang selama ini menetap di luar negeri untuk mengelola yayasan panti asuhan rahasia itu," jawab Arlan denga

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   58. Lift Macet

    "Arlan! Ini pintunya kok didobrak segala?! Terus kenapa kita harus lari-lari di kegelapan begini, kamu nggak lagi ngajak saya main petak umpet versi ekstrem kan?!" seru Keyla sambil tersandung kakinya sendiri karena suasana kantor yang mendadak gelap gulita.Jantungnya berdegup kencang, suaranya be

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   47. Vitamin Cinta dan Mantan Halu

    "Arlan! Itu perawat kenapa mukanya mirip banget sama foto mantan kamu yang pernah saya temukan di laci kantor tempo hari?! Dan kenapa dia pegang botol infus Ibu sambil senyum-senyum serem begitu?!" seru Keyla sambil menunjuk layar monitor dengan jari yang gemetar.Jantungnya berdegup kencang meliha

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   46. Pelaku di Balik Masker

    "Arlan, ini kasur Ibu kenapa bisa kosong melompong begini?! Apa Ibu tiba-tiba sembuh terus pergi cari tukang bubur ayam depan rumah sakit tanpa pamit?!" teriak Keyla sambil mengacak-acak selimut yang sudah dingin di bangsal VIP itu. Napasnya memburu, matanya menatap liar ke arah monitor jantung ya

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   40. Tunangan Masa Kecil?

    "Arlan, jawab jujur! Kamu punya koleksi tunangan berapa banyak di dunia ini?! Kenapa di surat ungu ini tertulis ada 'pengantin asli' yang mau datang menagih janji sepuluh tahun lalu?" seru Keyla sambil mengayunkan surat itu tepat di depan hidung mancung Arlan.Wajah Keyla memerah padam, antara kesa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status