Share

MAIN API

Auteur: Deameriawan
last update Dernière mise à jour: 2026-03-02 16:58:09

Setelah makan malam bersama para ibu-ibu di gerbang rusun, Rio dan Maya kembali ke unitnya dengan langkah yang pelan-pelan. Udara malam terasa sedikit hangat, dan lampu kamar yang baru dicat putih membuat ruangan terlihat lebih cerah dari biasanya.

“Waduh, ternyata setelah dibersihin dan dicat, kamar kamu benar-benar beda banget Mas Rio,” ujar Maya sambil menutup pintu dengan lembut. “Biar aku bersihin meja aja, biar tidak ada bekas makanan.”

“Gapapa kok Mbak, nanti saja saya yang bersihinnya. Kamu sudah capek membantu seharian,” kata Rio, tapi matanya tidak bisa lepas dari sosok Maya yang sedang membungkuk membersihkan sudut meja. Daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, dan kali ini Rio tidak lagi mengalihkan pandangan.

“Mas Rio… kamu lagi lihat apa sih?” tanya Maya menoleh, tapi wajahnya sudah mulai memerah. Dia sengaja tidak memperbaiki dasternya yang naik sampai ke paha, lalu perlahan berdiri dan menghadap Rio. “Kamu kan bilang capek, tapi kok matamu malah penuh semangat ya?”

“Mbak Maya… kamu yang bikin aku semangat malam ini,” jawab Rio dengan suara yang sedikit dalam. Dia melangkah mendekat, tangannya perlahan meraih tangan Maya. “Kayaknya sudah cukup waktunya untuk bersih-bersih. Sekarang waktunya untuk istirahat.”

“Jadi mau istirahat sekarang?” tanya Maya dengan tatapan yang penuh godaan. Dia menarik Rio lebih dekat, dadanya sedikit menyentuh dada Rio yang sedang berdebar kencang. “Beneran Mas pengen istirahat sekarang?”

Rio mengangguk dengan cepat. “Ia, aku pengen melakukan sesuatu hal yang lain. Mungkin sesuatu yang bikin kamu seneng Mbak.”

Maya tersenyum licik, lalu dengan berani mengelus bagian tubuh Rio yang kelihatan menegang di balik celana pendek yang di pakainya. “Aku gak tahu apa bagian yang aku sentuh ini juga ikut semangat atau malah padam dengan sentuhan kita.”

Dia mengambil tangan Rio dan membawanya untuk menyentuh dadanya yang terbalut bra tipis berwarna putih yang dibalut oleh daster bali. Saat ujung jari Rio menyentuh ujung payudara milik Maya, Rio cepat-cepat menarik tangannya kembali. “Mbak, kog jadi panasnya ya…”

“Takut ya Mas?” canda Maya. Dia mengulurkan jarinya lagi, membuka resleting celana milik Rio, lalu mulai mengelus-elus si pejantan yang sudah berukuran jumbo dari balik kain segitiga milik Rio. “Tapi kalau kita bersentuhan, mungkin panasnya tidak terasa lagi lho.”

Tanpa menunggu jawaban, Rio mendekap Maya erat-erat. Tubuh mereka saling bersandar, gesekan lembut antara kulit mereka terasa semakin jelas seiring dengan setiap detak jantung. Bibir Maya perlahan mendekat ke telinga Rio.

“Rasanya gimana Mas? Ada yang berbeda tidak?” bisiknya dengan suara yang menggairahkan. “Kita bisa coba gesekkan badan kita saja dulu… nanti kita lihat apa yang terjadi.”

Rio mengangguk, tangannya perlahan merayap ke pinggang Maya, lalu naik perlahan ke punggungnya. Keduanya mulai bergoyang perlahan, badan mereka saling menggeser dengan gerakan yang lambat namun penuh hasrat.

“Mbak… ini rasanya enak sekali,” bisik Rio sambil mencium aroma rambut Maya yang harum. “Kita bisa lebih dekat lagi tidak?”

“Kalau kamu berani Mas,” jawab Maya dengan menatap mata Rio langsung. Dia perlahan membuka kerah dasternya sedikit, menunjukkan lekukan bahu yang lembut. “Coba sentuh saja deh… pelan-pelan ya.”

Rio menuruti, tangannya yang sedikit gemetar menyentuh bahu Maya, lalu meluncur perlahan ke lehernya. Keduanya semakin dekat, bibir mereka beberapa kali Sling melumat, saat tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras.

“Tok...tok...tok! Mas Rio ada di dalam tidak?” teriak Pak RT dari luar. “Saya cuma mau nanya, apa masih butuh bantuan tambahan untuk ngecat rumah? Saya punya teman yang bisa bantu!”

Keduanya kaget cepat-cepat menjauh dan menata penampilan mereka. Maya langsung mengambil kain lap dan berpretensi membersihkan meja lagi, sementara Rio berjalan cepat ke pintu.

“Wah Pak RT, maaf ya,” ucap Rio dengan suara yang sedikit kaget. “Cuma ngecat rumah aja, dan sudah selesai pak. Jadi tidak perlu bantuan tambahan. Terima kasih banyak ya Pak.”

“Oh begitu ya Mas Rio,” kata Pak RT dengan suara sedikit kecewa tapi tetap ramah. “Kalau begitu saya pulang aja ya. Jangan lupa kalau ada yang perlu bantu, bilang aja sama saya!”

Setelah Pak RT pergi, Rio menutup pintu dan menghadap Maya yang sedang menahan tawa. “Waduh Mbak, baru saja mau mulai sudah ketemu Pak RT.”

“Hehehe… gapapa Mas,” kata Maya dengan menyeringai. Dia mendekat lagi ke Rio dan menyentuh dadanya dengan lembut. “Ayo kita lanjutkan sekarang Mas. Nanggung nih udah panas!”

Rio tersenyum dan mencium bibir Maya. “Kamu bikin aku nafsu deh Mbak. Jadi pengen ngerasain kamu.”

Mereka berciuman dan saling melumat. Daster milik Maya sedikit tersingkap dan tangan Rio membelai area sensitif yang sudah becek milik Maya sambil berbisik ke telinga Maya "Yang ini jatah selanjutnya ya".

***

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   MAIN API

    Setelah makan malam bersama para ibu-ibu di gerbang rusun, Rio dan Maya kembali ke unitnya dengan langkah yang pelan-pelan. Udara malam terasa sedikit hangat, dan lampu kamar yang baru dicat putih membuat ruangan terlihat lebih cerah dari biasanya. “Waduh, ternyata setelah dibersihin dan dicat, kamar kamu benar-benar beda banget Mas Rio,” ujar Maya sambil menutup pintu dengan lembut. “Biar aku bersihin meja aja, biar tidak ada bekas makanan.” “Gapapa kok Mbak, nanti saja saya yang bersihinnya. Kamu sudah capek membantu seharian,” kata Rio, tapi matanya tidak bisa lepas dari sosok Maya yang sedang membungkuk membersihkan sudut meja. Daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, dan kali ini Rio tidak lagi mengalihkan pandangan. “Mas Rio… kamu lagi lihat apa sih?” tanya Maya menoleh, tapi wajahnya sudah mulai memerah. Dia sengaja tidak memperbaiki dasternya yang naik sampai ke paha, lalu perlahan berdiri dan menghadap Rio. “Kamu kan bi

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   GAK SENGAJA

    Setelah merapikan buku-buku di rak dan menyusun pakaian di lemari, Maya mengusap dahinya yang sedikit berkeringat. “Wah Mas Rio, kamar kamu sekarang benar-benar jadi lebih nyaman. Kayak rumah baru ya kelihatannya!” ujarnya sambil menoleh ke arah Rio yang sedang menyimpan kuas cat dan ember. “Terima kasih banyak Mbak Maya. Kalau gak karena bantuanmu, mungkin sampai sekarang saya masih bingung ngurusin barang-barangnya. Dan selesainya pasti lebih lama” jawab Rio sambil mengusap tangan di celananya. Tiba-tiba, ia melihat Maya yang sedang membungkuk untuk merapikan sajadah di sudut kamar daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, menampakkan paha putihnya yang lembut. Rio tidak sengaja menatap sejenak, hatinya berdesir lalu cepat-cepat meneguk ludah dan mengalihkan pandangan ke jendela. “Mas Rio capek? Mau saya pijet bahunya gak?” ajak Maya dengan suara lembut sambil berdiri dan mendekatinya. Tanpa menunggu jawaban, tangannya yang lembut sudah mulai memijat b

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   CINCIN BERULAH

    Rio mengusap tangan Maya dengan lembut. “Tenang Mbak Maya, kita pasti bisa cari jalan keluar. Kalau perlu, aku bisa minta bantuan pak RT juga. Jangan terlalu kuatir.” Maya mengangguk perlahan, masih menangis tapi sudah mulai bisa mengendalikan emosinya. “Terima kasih banyak mas… aku cuma takut dia akan melakukan hal lebih buruk lagi.” Setelah menjaga Maya sampai larut malam dan memastikan dia sudah tenang, Rio kembali ke unitnya. Saat membuka kunci pintu, dia melihat cincin perak di jari telunjuknya milik mbah buyutnya. “Semoga kamu bisa bikin rejeki aku lancar ya,” gumam Rio sambil mencium cincin itu lalu langsung beristirahat. Keesokan paginya, Rio berangkat kerja seperti biasa ke Supermarket Jaya Makmur. Tapi saat memasuki supermarket, dia langsung terkejut. Antrian pembeli membentang panjang, kebanyakan adalah wanita dan anak-anak gadis yang terus mengirim senyuman kepadanya. “Waduh Rio, hari ini kayak ada promo besar?” tanya Budi, te

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   WANITA BARU DI LANTAI DUA

    Setelah kejadian dengan Siska dan Iskandar, hampir seminggu Rio tidak bisa benar-benar rileks. Ia sering melihat Siska yang mulai kembali berjualan dengan wajah yang lebih tenang, meskipun kadang masih terlihat lesu. Iskandar juga mulai jarang keluar rumah dan terkadang membantu istrinya di warung, meskipun belum jelas apakah dia benar-benar berhenti judi. Sore itu, saat Rio hendak keluar untuk membeli air mineral di warung dekat gerbang rusun, dia melihat seorang wanita sedang memerintahkan pekerja untuk membawa barang-barangnya masuk ke unit di lantai dua. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna coklat kemerahan yang terurai lembut, mengenakan blazer hitam yang rapi dan rok sampai lutut. Wajahnya cantik dengan alis yang jelas dan bibir yang sedikit menonjol. Rio merasa wajahnya sangat akrab, tapi tidak bisa ingat dari mana. “Permisi mas, mau tanya nih unit nomor 207 ada di mana ya?” tanya wanita itu dengan suara lembut saat melihat Rio yang sedang memperhat

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   KEMELUT UTANG

    Setelah turun dari bus dan naik ojek, Rio sampai di dekat gerbang Rusun Simpang Tiga pukul sekitar dua pagi. Badan yang lelah seolah ingin langsung menjemur diri di kasurnya, tapi perut yang keroncongan membuatnya berhenti di depan warung pecel lele milik Lek Minto yang masih menyala dengan lampu neon kuning kusam. “Pak Lek, satu porsi pecel lele besar ya, tambah tempe dan tahu!” teriak Rio sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik yang sedikit goyah. “Baik Mas Rio, sebentar saja!” jawab Lek Minto dari belakang meja masak yang berasap. Di sudut warung, tiga ibu-ibu warga rusun masih terjaga dan sedang duduk berkerumun sambil ngobrol. “Betul kan Bu Kartini, tadi jam sebelas lebih tuh tukang tagihnya datang lagi ke warung Siska,” ucap Ibu Yanti dengan suara pelan tapi jelas terdengar. “Bawa dua orang cowok tinggi, wajahnya kayak preman.” “Iya Bu, katanya hutangnya sudah sampai 2 juta rupiah. Karena suaminya Iskandar itu main judi on

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   CINCIN TUAH

    Malam ini juga Rio bersiap-siap mandi, makan dan langsung keluar dari unit rusunnya dan Rio langsung memanggil ojek online untuk menuju ke stasiun bus. Rio naik bus dan menempuh perjalanan selama lebih dari sembilan jam, dia tiba di desa kecil tempat Mbah Buyutnya dulu tinggal. Rumah tua kayu yang masih berdiri tampak kokoh berdiri di tengah lahan yang luas.Pak Karsono sudah menunggu di depan rumah. “Mas Rio, kamu datang tepat waktu. Pembayaran akan dilakukan dua jam lagi. Sebelum itu, barangkali kamu mau menengok rumah Mbah Buyutmu dan mengambil surat dan barang yang perlu di bawa pulang ke Jakarta.”Rio masuk ke rumah yang sudah penuh dengan debu dan ingatan masa kecilnya. Di dalam kamar belakang dia menemukan sebuah lemari kayu kuno yang terkunci. Di balik tumpukan kain batik jadul dan buku-buku tua, jari telunjuk Rio tersentak oleh sesuatu yang dingin dan licin. Dia menariknya keluar dengan hati-hati.“Cincin?” bisik Rio sambil melihat benda perak tua

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status