Share

KEMELUT UTANG

Auteur: Deameriawan
last update Dernière mise à jour: 2026-02-27 20:51:07

Setelah turun dari bus dan naik ojek, Rio sampai di dekat gerbang Rusun Simpang Tiga pukul sekitar dua pagi. Badan yang lelah seolah ingin langsung menjemur diri di kasurnya, tapi perut yang keroncongan membuatnya berhenti di depan warung pecel lele milik Lek Minto yang masih menyala dengan lampu neon kuning kusam.

“Pak Lek, satu porsi pecel lele besar ya, tambah tempe dan tahu!” teriak Rio sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik yang sedikit goyah.

“Baik Mas Rio, sebentar saja!” jawab Lek Minto dari belakang meja masak yang berasap.

Di sudut warung, tiga ibu-ibu warga rusun masih terjaga dan sedang duduk berkerumun sambil ngobrol.

“Betul kan Bu Kartini, tadi jam sebelas lebih tuh tukang tagihnya datang lagi ke warung Siska,” ucap Ibu Yanti dengan suara pelan tapi jelas terdengar. “Bawa dua orang cowok tinggi, wajahnya kayak preman.”

“Iya Bu, katanya hutangnya sudah sampai 2 juta rupiah. Karena suaminya Iskandar itu main judi online terus kalah,” tambah Ibu Sri sambil mengocok gelas teh manisnya. “Siska nangis terus, bilang suaminya sudah tiga hari tidak pulang. Kalau tidak dibayar besok, warungnya akan disita!”

Rio mendengarkan semua percakapan itu dengan hati berat. Siska adalah tetangga yang sering memberikan makanan gratis saat dia kesusahan. Ia menghela nafas sambil menerima piring pecel lele hangat dari Lek Minto.

Setelah menyelesaikan makan dan membayar, Rio berjalan pelan-pelan menuju unit rusunnya di lantai tiga. Setelah membuka pintu, dia langsung masuk kamar mandi untuk menyegarkan diri, lalu berganti pakaian.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu yang cepat dan keras.

“Mas Rio… Mas Rio tolong buka pintunya!” suara Siska terdengar berisik dan penuh tangisan.

Rio segera membuka pintu. Siska berdiri di depan dengan mata merah dan wajah berkeringat. Tanpa basa-basi, dia langsung meraih tangan Rio.

“Mas Rio tolongin saya … saya butuh bantuan. Tukang tagih utang bilang kalau besok pagi uangnya belum ada, mereka akan merusak warung saya,” ucap Siska sambil menangis deras. “Saya sudah minta bantuan ke orang-orang tapi tidak ada yang bisa membantu. Cuma kamu yang bisa saya andalkan, tolong pinjamkan saya uang 2 juta rupiah!”

Rio tidak berpikir panjang. Dia mengambil amplop coklat yang masih ada di tasnya, mengambil uang 2 gepok yang berisi 1 jutaan per gepok nya, lalu memberikannya kepada Siska.

“Ini Mbak Siska. Cukup kan untuk membayar hutangnya? Yang penting kamu tidak diganggu lagi,” ucap Rio dengan suara lembut.

Siska menangis lebih deras dan ingin memeluk Rio, tapi tepat saat itu pintu rusun digedor dengan sangat keras.

“SIALAN! Siska kamu ngapain ada di sini?! ANAK MUDA KAMPRET!” suara Iskandar terdengar sangat marah dari luar pintu.

Siska langsung menyembunyikan amplop uang di dalam saku roknya, wajahnya penuh ketakutan. Rio dengan tenang membuka pintu, melihat Iskandar berdiri dengan wajah memerah dan mata menyala api.

“Lu ngapain sama istriku?! Mau cari kesempatan kan?! Sudah tahu dia punya suami masih aja deket-deket!” teriak Iskandar sambil mendekat dan siap memukul Rio.

Sebelum tinjunya menyentuh tubuh Rio, cincin perak di tangan Rio sepertinya memberikan kekuatan ekstra. Rio dengan cepat menyingkirkan badannya dan menyangga tinju si Iskandar itu.

“Jangan salah sangka Mas Iskandar!” teriak Rio dengan suara yang lebih keras dari biasanya. “Mbak Siska datang ke saya karena mau meminjam uang untuk membayar hutang yang kamu buat gara-gara main judi! Bukannya saya ada apa-apa dengan dia!”

“KAMU BERANI NGATAIN KALAU SAYA MAIN JUDI?! KAMU INGAT DIRI KAMU ITU APA?!” Iskandar semakin marah dan mencoba menyerang lagi dengan tendangan kaki.

Rio dengan gesit menghindar dan menarik lengan Iskandar ke belakang, membuatnya sedikit kesusahan bergerak.

“Kalau kamu masih punya hati nurani sebagai suami dan ayah, tolong berhenti judi! Mbak Siska sudah bekerja keras merawat warung dan anak kalian, tapi kamu malah menghabiskan uangnya buat hal yang tidak berguna!” ucap Rio dengan tegas.

Iskandar terkejut dengan kekuatan dan kata-kata Rio. Wajahnya mulai meredup, tapi masih ada api kemarahan di matanya. Dia mencoba melepaskan diri dari genggaman Rio.

“Lepaskan aku! Uangnya dimana Siska?! Aku butuh uang buat balik modal!” teriak Iskandar sambil menatap istrinya dengan pandangan meminta.

Siska keluar dari balik badan Rio dengan wajah penuh kebencian dan keputusasaan.

“Uangnya baru akan di pinjami besok sama Mas Rio. Besok saya akan membayarkan hutangmu. Kalau kamu berani mengambilnya buat judi lagi, saya akan mengajukan perceraian dan kamu tidak akan pernah melihat anak-anak lagi!” ucap Siska dengan suara yang kuat meskipun tangisannya masih mengalir.

Kata-kata itu membuat Iskandar terkejut dan tubuhnya sedikit gemetar. Dia melihat ke arah Rio yang masih menahan tangannya, lalu menunduk dan melepaskan diri perlahan.

“Baiklah… baiklah… saya tidak akan mengambilnya,” ucap Iskandar dengan suara pelan. “Tapi… tolong beri saya kesempatan terakhir Siska. Kali ini saya pasti menang dan akan mengganti semua hutang saya.”

Tanpa menunggu jawaban, Iskandar berbalik dan keluar dari unit rusun Rio dengan langkah goyah. Rio menoleh ke arah Siska yang sudah tidak kuat lagi dan langsung jatuh tersungkur di lantai, menangis sambil memeluk kedua lututnya.

***

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   MAIN API

    Setelah makan malam bersama para ibu-ibu di gerbang rusun, Rio dan Maya kembali ke unitnya dengan langkah yang pelan-pelan. Udara malam terasa sedikit hangat, dan lampu kamar yang baru dicat putih membuat ruangan terlihat lebih cerah dari biasanya. “Waduh, ternyata setelah dibersihin dan dicat, kamar kamu benar-benar beda banget Mas Rio,” ujar Maya sambil menutup pintu dengan lembut. “Biar aku bersihin meja aja, biar tidak ada bekas makanan.” “Gapapa kok Mbak, nanti saja saya yang bersihinnya. Kamu sudah capek membantu seharian,” kata Rio, tapi matanya tidak bisa lepas dari sosok Maya yang sedang membungkuk membersihkan sudut meja. Daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, dan kali ini Rio tidak lagi mengalihkan pandangan. “Mas Rio… kamu lagi lihat apa sih?” tanya Maya menoleh, tapi wajahnya sudah mulai memerah. Dia sengaja tidak memperbaiki dasternya yang naik sampai ke paha, lalu perlahan berdiri dan menghadap Rio. “Kamu kan bi

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   GAK SENGAJA

    Setelah merapikan buku-buku di rak dan menyusun pakaian di lemari, Maya mengusap dahinya yang sedikit berkeringat. “Wah Mas Rio, kamar kamu sekarang benar-benar jadi lebih nyaman. Kayak rumah baru ya kelihatannya!” ujarnya sambil menoleh ke arah Rio yang sedang menyimpan kuas cat dan ember. “Terima kasih banyak Mbak Maya. Kalau gak karena bantuanmu, mungkin sampai sekarang saya masih bingung ngurusin barang-barangnya. Dan selesainya pasti lebih lama” jawab Rio sambil mengusap tangan di celananya. Tiba-tiba, ia melihat Maya yang sedang membungkuk untuk merapikan sajadah di sudut kamar daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, menampakkan paha putihnya yang lembut. Rio tidak sengaja menatap sejenak, hatinya berdesir lalu cepat-cepat meneguk ludah dan mengalihkan pandangan ke jendela. “Mas Rio capek? Mau saya pijet bahunya gak?” ajak Maya dengan suara lembut sambil berdiri dan mendekatinya. Tanpa menunggu jawaban, tangannya yang lembut sudah mulai memijat b

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   CINCIN BERULAH

    Rio mengusap tangan Maya dengan lembut. “Tenang Mbak Maya, kita pasti bisa cari jalan keluar. Kalau perlu, aku bisa minta bantuan pak RT juga. Jangan terlalu kuatir.” Maya mengangguk perlahan, masih menangis tapi sudah mulai bisa mengendalikan emosinya. “Terima kasih banyak mas… aku cuma takut dia akan melakukan hal lebih buruk lagi.” Setelah menjaga Maya sampai larut malam dan memastikan dia sudah tenang, Rio kembali ke unitnya. Saat membuka kunci pintu, dia melihat cincin perak di jari telunjuknya milik mbah buyutnya. “Semoga kamu bisa bikin rejeki aku lancar ya,” gumam Rio sambil mencium cincin itu lalu langsung beristirahat. Keesokan paginya, Rio berangkat kerja seperti biasa ke Supermarket Jaya Makmur. Tapi saat memasuki supermarket, dia langsung terkejut. Antrian pembeli membentang panjang, kebanyakan adalah wanita dan anak-anak gadis yang terus mengirim senyuman kepadanya. “Waduh Rio, hari ini kayak ada promo besar?” tanya Budi, te

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   WANITA BARU DI LANTAI DUA

    Setelah kejadian dengan Siska dan Iskandar, hampir seminggu Rio tidak bisa benar-benar rileks. Ia sering melihat Siska yang mulai kembali berjualan dengan wajah yang lebih tenang, meskipun kadang masih terlihat lesu. Iskandar juga mulai jarang keluar rumah dan terkadang membantu istrinya di warung, meskipun belum jelas apakah dia benar-benar berhenti judi. Sore itu, saat Rio hendak keluar untuk membeli air mineral di warung dekat gerbang rusun, dia melihat seorang wanita sedang memerintahkan pekerja untuk membawa barang-barangnya masuk ke unit di lantai dua. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna coklat kemerahan yang terurai lembut, mengenakan blazer hitam yang rapi dan rok sampai lutut. Wajahnya cantik dengan alis yang jelas dan bibir yang sedikit menonjol. Rio merasa wajahnya sangat akrab, tapi tidak bisa ingat dari mana. “Permisi mas, mau tanya nih unit nomor 207 ada di mana ya?” tanya wanita itu dengan suara lembut saat melihat Rio yang sedang memperhat

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   KEMELUT UTANG

    Setelah turun dari bus dan naik ojek, Rio sampai di dekat gerbang Rusun Simpang Tiga pukul sekitar dua pagi. Badan yang lelah seolah ingin langsung menjemur diri di kasurnya, tapi perut yang keroncongan membuatnya berhenti di depan warung pecel lele milik Lek Minto yang masih menyala dengan lampu neon kuning kusam. “Pak Lek, satu porsi pecel lele besar ya, tambah tempe dan tahu!” teriak Rio sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik yang sedikit goyah. “Baik Mas Rio, sebentar saja!” jawab Lek Minto dari belakang meja masak yang berasap. Di sudut warung, tiga ibu-ibu warga rusun masih terjaga dan sedang duduk berkerumun sambil ngobrol. “Betul kan Bu Kartini, tadi jam sebelas lebih tuh tukang tagihnya datang lagi ke warung Siska,” ucap Ibu Yanti dengan suara pelan tapi jelas terdengar. “Bawa dua orang cowok tinggi, wajahnya kayak preman.” “Iya Bu, katanya hutangnya sudah sampai 2 juta rupiah. Karena suaminya Iskandar itu main judi on

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   CINCIN TUAH

    Malam ini juga Rio bersiap-siap mandi, makan dan langsung keluar dari unit rusunnya dan Rio langsung memanggil ojek online untuk menuju ke stasiun bus. Rio naik bus dan menempuh perjalanan selama lebih dari sembilan jam, dia tiba di desa kecil tempat Mbah Buyutnya dulu tinggal. Rumah tua kayu yang masih berdiri tampak kokoh berdiri di tengah lahan yang luas.Pak Karsono sudah menunggu di depan rumah. “Mas Rio, kamu datang tepat waktu. Pembayaran akan dilakukan dua jam lagi. Sebelum itu, barangkali kamu mau menengok rumah Mbah Buyutmu dan mengambil surat dan barang yang perlu di bawa pulang ke Jakarta.”Rio masuk ke rumah yang sudah penuh dengan debu dan ingatan masa kecilnya. Di dalam kamar belakang dia menemukan sebuah lemari kayu kuno yang terkunci. Di balik tumpukan kain batik jadul dan buku-buku tua, jari telunjuk Rio tersentak oleh sesuatu yang dingin dan licin. Dia menariknya keluar dengan hati-hati.“Cincin?” bisik Rio sambil melihat benda perak tua

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status