LOGINSetelah turun dari bus dan naik ojek, Rio sampai di dekat gerbang Rusun Simpang Tiga pukul sekitar dua pagi. Badan yang lelah seolah ingin langsung menjemur diri di kasurnya, tapi perut yang keroncongan membuatnya berhenti di depan warung pecel lele milik Lek Minto yang masih menyala dengan lampu neon kuning kusam.
“Pak Lek, satu porsi pecel lele besar ya, tambah tempe dan tahu!” teriak Rio sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik yang sedikit goyah. “Baik Mas Rio, sebentar saja!” jawab Lek Minto dari belakang meja masak yang berasap. Di sudut warung, tiga ibu-ibu warga rusun masih terjaga dan sedang duduk berkerumun sambil ngobrol. “Betul kan Bu Kartini, tadi jam sebelas lebih tuh tukang tagihnya datang lagi ke warung Siska,” ucap Ibu Yanti dengan suara pelan tapi jelas terdengar. “Bawa dua orang cowok tinggi, wajahnya kayak preman.” “Iya Bu, katanya hutangnya sudah sampai 2 juta rupiah. Karena suaminya Iskandar itu main judi online terus kalah,” tambah Ibu Sri sambil mengocok gelas teh manisnya. “Siska nangis terus, bilang suaminya sudah tiga hari tidak pulang. Kalau tidak dibayar besok, warungnya akan disita!” Rio mendengarkan semua percakapan itu dengan hati berat. Siska adalah tetangga yang sering memberikan makanan gratis saat dia kesusahan. Ia menghela nafas sambil menerima piring pecel lele hangat dari Lek Minto. Setelah menyelesaikan makan dan membayar, Rio berjalan pelan-pelan menuju unit rusunnya di lantai tiga. Setelah membuka pintu, dia langsung masuk kamar mandi untuk menyegarkan diri, lalu berganti pakaian. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu yang cepat dan keras. “Mas Rio… Mas Rio tolong buka pintunya!” suara Siska terdengar berisik dan penuh tangisan. Rio segera membuka pintu. Siska berdiri di depan dengan mata merah dan wajah berkeringat. Tanpa basa-basi, dia langsung meraih tangan Rio. “Mas Rio tolongin saya … saya butuh bantuan. Tukang tagih utang bilang kalau besok pagi uangnya belum ada, mereka akan merusak warung saya,” ucap Siska sambil menangis deras. “Saya sudah minta bantuan ke orang-orang tapi tidak ada yang bisa membantu. Cuma kamu yang bisa saya andalkan, tolong pinjamkan saya uang 2 juta rupiah!” Rio tidak berpikir panjang. Dia mengambil amplop coklat yang masih ada di tasnya, mengambil uang 2 gepok yang berisi 1 jutaan per gepok nya, lalu memberikannya kepada Siska. “Ini Mbak Siska. Cukup kan untuk membayar hutangnya? Yang penting kamu tidak diganggu lagi,” ucap Rio dengan suara lembut. Siska menangis lebih deras dan ingin memeluk Rio, tapi tepat saat itu pintu rusun digedor dengan sangat keras. “SIALAN! Siska kamu ngapain ada di sini?! ANAK MUDA KAMPRET!” suara Iskandar terdengar sangat marah dari luar pintu. Siska langsung menyembunyikan amplop uang di dalam saku roknya, wajahnya penuh ketakutan. Rio dengan tenang membuka pintu, melihat Iskandar berdiri dengan wajah memerah dan mata menyala api. “Lu ngapain sama istriku?! Mau cari kesempatan kan?! Sudah tahu dia punya suami masih aja deket-deket!” teriak Iskandar sambil mendekat dan siap memukul Rio. Sebelum tinjunya menyentuh tubuh Rio, cincin perak di tangan Rio sepertinya memberikan kekuatan ekstra. Rio dengan cepat menyingkirkan badannya dan menyangga tinju si Iskandar itu. “Jangan salah sangka Mas Iskandar!” teriak Rio dengan suara yang lebih keras dari biasanya. “Mbak Siska datang ke saya karena mau meminjam uang untuk membayar hutang yang kamu buat gara-gara main judi! Bukannya saya ada apa-apa dengan dia!” “KAMU BERANI NGATAIN KALAU SAYA MAIN JUDI?! KAMU INGAT DIRI KAMU ITU APA?!” Iskandar semakin marah dan mencoba menyerang lagi dengan tendangan kaki. Rio dengan gesit menghindar dan menarik lengan Iskandar ke belakang, membuatnya sedikit kesusahan bergerak. “Kalau kamu masih punya hati nurani sebagai suami dan ayah, tolong berhenti judi! Mbak Siska sudah bekerja keras merawat warung dan anak kalian, tapi kamu malah menghabiskan uangnya buat hal yang tidak berguna!” ucap Rio dengan tegas. Iskandar terkejut dengan kekuatan dan kata-kata Rio. Wajahnya mulai meredup, tapi masih ada api kemarahan di matanya. Dia mencoba melepaskan diri dari genggaman Rio. “Lepaskan aku! Uangnya dimana Siska?! Aku butuh uang buat balik modal!” teriak Iskandar sambil menatap istrinya dengan pandangan meminta. Siska keluar dari balik badan Rio dengan wajah penuh kebencian dan keputusasaan. “Uangnya baru akan di pinjami besok sama Mas Rio. Besok saya akan membayarkan hutangmu. Kalau kamu berani mengambilnya buat judi lagi, saya akan mengajukan perceraian dan kamu tidak akan pernah melihat anak-anak lagi!” ucap Siska dengan suara yang kuat meskipun tangisannya masih mengalir. Kata-kata itu membuat Iskandar terkejut dan tubuhnya sedikit gemetar. Dia melihat ke arah Rio yang masih menahan tangannya, lalu menunduk dan melepaskan diri perlahan. “Baiklah… baiklah… saya tidak akan mengambilnya,” ucap Iskandar dengan suara pelan. “Tapi… tolong beri saya kesempatan terakhir Siska. Kali ini saya pasti menang dan akan mengganti semua hutang saya.” Tanpa menunggu jawaban, Iskandar berbalik dan keluar dari unit rusun Rio dengan langkah goyah. Rio menoleh ke arah Siska yang sudah tidak kuat lagi dan langsung jatuh tersungkur di lantai, menangis sambil memeluk kedua lututnya. ***Hari-hari setelah pertemuan terakhir dengan Nabila, hidup Rio mulai mengalami perubahan yang sangat aneh dan tak terduga. Awalnya ia mengira masalah dengan Nabila sudah selesai begitu saja, namun ternyata itu baru permulaan dari serangkaian kejadian ajaib yang membuat bulu kuduknya meremang. Kejadian pertama yang membuatnya kaget adalah pesan singkat yang masuk dari mantan selingkuhannya dulu, Sari. "Mas Rio, maaf ya selama ini sudah mengganggu. Aku rasa kita sudah cukup sampai di sini. Aku mau tobat dan memperbaiki hidupku. Jangan hubungi aku lagi ya. Selamat tinggal." Rio terbelalak. Baru saja Nabila menghilang, sekarang Sari juga tiba-tiba memutuskan hubungan secara permanen tanpa sebab yang jelas. Belum sempat ia mencerna itu, satu per satu nama wanita yang pernah dekat atau pernah berselingkuh dengannya mulai melakukan hal yang sama. Mereka mengirim pesan pamit, memblokir nomornya, dan seolah lenyap ditelan bumi. Tidak ada yang menuntut apa-apa, ti
Beberapa hari berlalu sejak Rio melepaskan cincin misterius itu. Awalnya, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Pikiran jernih, emosi stabil, dan nafsu yang kembali normal. Rio merasa seperti kembali menjadi dirinya yang dulu, Rio yang mencintai Dewi sepenuh hati dan tak pernah sekalipun berpikir untuk mengkhianatinya. Dewi pun terlihat lebih tenang dan bahagia, seolah beban berat yang sempat menyelimuti rumah tangga mereka telah terangkat. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suatu sore, saat Rio sedang memeriksa laporan penjualan di kantornya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. "Mas Rio, ini aku, Nabila. Kita perlu bicara." Jantung Rio langsung berdegup kencang. Ia mengira setelah kejadian malam itu, Nabila akan menghilang dari hidupnya. Ia mencoba mengabaikannya, namun ponselnya kembali bergetar. "Ini penting, Mas. Aku tunggu di kafe biasa, jam 7 malam. Ini terakhir ka
Rio mengemudikan mobilnya dengan perasaan campur aduk. Hatinya bergemuruh, antara rasa bersalah yang menusuk dan kebingungan akan apa yang baru saja terjadi. Langit memang mendung, seolah memahami badai yang sedang berkecamuk di dalam hatinya. Ia tahu, ia harus menghadapi Dewi, istrinya yang sedang menanti di rumah dengan perut membuncit. Sesampainya di rumah, Rio mendapati Dewi sedang duduk di sofa ruang tamu, membaca buku dengan tenang. Aroma teh melati yang baru diseduh menyeruak, menciptakan suasana hangat yang justru membuat Rio semakin merasa tidak pantas. "Assalamualaikum," ucap Rio pelan, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya. "Waalaikumsalam, Mas. Kok baru pulang?" tanya Dewi lembut, menatap suaminya dengan senyum. Senyum yang kini terasa seperti jutaan pisau menusuk jantung Rio. "Aku bikinin teh, Mas. Minum dulu biar enakan." Rio hanya mengangguk, melangkah gontai menuju sofa. Ia duduk di samping Dewi, me
Suasana di kamar mandi terasa hangat, namun hati Rio justru terasa dingin dan hampa. Air shower yang membasahi tubuhnya seolah tidak mampu membersihkan rasa kotor yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ia berdiri mematung, menatap lantai keramik yang mengalirkan air bercampur sisa-sisa kenikmatan duniawi yang baru saja mereka nikmati. Di sebelahnya, Nabila sedang membasuh tubuhnya dengan gerakan lambat. Wajahnya tampak lelah namun masih memancarkan aura kepuasan. Namun, perlahan-lahan, senyum di wajah itu memudar seiring dengan memudarnya kabut nafsu yang tadi menguasai akal sehat mereka. Kini, realitas mulai menghantam keras. Rio menghela napas panjang, sangat panjang. Tangannya mengepal kuat, menampar pelan pipinya sendiri dalam hati. Apa yang sudah aku lakukan? batinnya berteriak panik. Ia baru saja mengkhianati kepercayaan Dewi, istri yang sangat setia dan mencintainya dengan tulus. Ia baru saja melakukan
Mata Rio terpaku pada bentuk tubuh Nabila yang terbentang di atas sofa. Meskipun nafsunya sangat besar, sejenak ia terhenti ingatan tentang Dewi yang sedang menunggu dirinya di rumah muncul tiba-tiba. Namun, godaan yang ada di depannya terlalu kuat untuk ditahan, dan segera ia merendahkan wajahnya perlahan ke arah payudaranya, dengan sentuhan lembut yang membuat Nabila mengeluarkan hembusan napas lembut. Bahkan sesekali Rio menggigit area ujung dada Nabila karena gemas. Nabila menyesuaikan posisinya hingga berada di bawah Rio, tubuhnya rileks namun penuh dengan hasrat yang sudah lama terpendam. Tangan Rio perlahan merayap ke arah bagian bawah tubuhnya, menyentuh lapisan tipis yang sudah lembap karena gairah yang tak bisa disembunyikan. Dan Rio langsung menarik kain itu dengan cepat, karena ia sudah tidak sabar ingin membalas perbuatan Nabila dulu. "Kenapa kita tidak melakukannya dengan lebih dalam waktu di Lombok?" bisik Rio dengan suara yang penuh nafsu saat i
Rio mencengkeram plastik buah di tangan kanannya sambil menatap wajah Nabila yang sedang tersenyum menyiratkan sesuatu. Meski hati masih berdebar karena pertemuan tadi, keputusannya sudah bulat ia tidak ingin sia-siakan kesempatan untuk bertemu dengan wanita yang telah mengusik pikirannya selama berbulan-bulan. "Boleh kah aku minta alamat apartemen dan nomor teleponmu," ucap Rio dengan suara yang sedikit bergetar, namun penuh tekad. "Saya ingin bisa menghubungimu ... atau hanya sekadar mampir." Nabila sedikit mendekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Rio. "Kamu bisa datang, tapi kabarin dulu ya Pak Supervisor," bisiknya dengan nada yang menggairahkan. "Jangan sampai datang tiba-tiba, saya kan juga perlu waktu untuk menyambutmu dengan baik atau saya sedang tidak ada di apartemen saat itu" Saat mengucapkan kata-kata itu, ia menyentuh lembut dagu Rio dengan jemari telunjuknya sebelum mengambil selembar kertas dari kantong roknya dan menuliskan nomor serta alamat a
Cincin bermata merah yang berasal dari Mbah Buyut tetap terpampang jelas di jari tangan Rio. Cincin itu dipercaya sebagai warisan yang membawa keberuntungan bagi pemakainya, namun juga menyimpan sisi gelap yang tak bisa dipungkiri. Sejak ia mengenakannya, Rio selalu menjadi incaran para wanita mu
Hari setelahnya, Rio datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Dia langsung menuju ruangan kantor Pak Budi, pimpinan yang sudah bekerja bersama dirinya selama lima tahun. Dengan hati yang penuh harap, Rio mengetuk pintu dan masuk setelah suara izin terdengar. “Pak Budi, bolehkah saya b
Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Arin, Rio mengemudi mobilnya dengan hati yang lebih ringan. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidak merasa beban atau ragu di dalam dada hanya rasa tekad untuk memperbaiki apa yang sudah perlu ia perbaiki dengan Dewi. Jalan pulang yang biasanya te
Kerinduan Arin terhadap Rio semakin memuncak seiring berjalannya hari. Meskipun ia sering mencoba bekerja ekstra atau mengikuti kegiatan bersama teman-teman kantor, rasa rindu itu selalu muncul setiap kali ia melihat tempat tidur kosong di kamarnya. Namun, Arin yang memiliki rasa harga diri yang







