LOGINPada akhirnya Luna terpaksa menuruti rencana Alfa. Entahlah, apa pantas gagasan Alfa disebut sebagai rencana. Atau justru tindakan bunuh diri.Pasalnya dengan bungkamnya Alfa. Rina makin seenaknya sendiri mengoceh di akun pribadinya. Selain itu tanggapan publik terhadap kasus ini makin tidak karuan.Bergulir panas dan liar bak bola salju yang tak terkendali.Terhitung sudah dua hari sejak skandal Alfa mencuat di publik kampus. Membuat heboh seisi kampus. Termasuk para dosen, mereka tak ketinggalan penasaran dengan kehidupan seorang Alfa.Kecaman, hujatan, cacian mengarah pada Alfa. Hampir semua kalangan mahasiswa menyebut Alfa brengsek, kurang ajar, bajingan serta deretan makian yang seharusnya tak pantas disebut oleh kalangan yang katanya berpendidikan."Pecat saja dia jadi dekan. Usir dia dari sini."Luna sedang berada di perpustakaan ketika dia mendengar dua mahasiswi berbisik sambil memilah buku. Tempat itu adalah lokasi terbaik untuk menyembunyikan diri bagi Luna. Terlebih ada N
"Brengsek! Bukannya itu anaknya. Darah dagingnya sendiri. Bagaimana bisa dia marah karena hal semacam ini.""Lagian masalah anak ini sulit. Tidak semua orang diberi kepercayaan untuk memilikinya. Dia sudah dikasih, malah terkesan menolak.""Panutan macam apa itu! Dia ini lebih buruk dari si rektor koruptor. Menelantarkan anak dan istri. Kejam!"Senyum di bibir Rina tak jua menghilang. Dia sejak tadi terus memantau perkembangan grup internal kampus.Di mana saat ini sebagian isinya menghujat seorang Alfa."Kamu akan memohon padaku. Kamu tidak mungkin mau kehilangan reputasimu. Benar tidak, Alfa."Lengkung bibir Rina kian kentara. Dia merasa telah mengambil kendali. Keyakinannya pulih kembal. Alfa akan jadi miliknya.Di tengah kegembiraan kecil yang perlahan tumbuh bak sulur tanaman. Satu pesan terkirim ke nomor Rina.Kesenangan Rina terganggu dengan adanya pesan tadi. Tapi Rina pilih mengabaikannya. "Tidak penting. Siska, Siska, akulah pemenangnya," kata Rina seraya minum jus alpukat.
Kevin menyemburkan tawa sepanjang jalan. Pemuda itu mengiringi Luna ketika wanita itu memilih pergi dari pada diinterogasi."Kesal, Nya. Kok jadi Rina yang naik," ejek Kevin penuh kepuasan.Dia suka melihat wajah cemberut Luna. Juga Luna yang berjalan sambil menghentakkan kaki."Mana aku tahu!""Apa suamimu setuju menikahinya?!" Goda Kevin."Apa dia sudah gila?!" Luna balas berteriak. Dadanya kembang kempis menahan emosi yang serasa membakarnya."Siapa tahu, aku kan nanya."Luna mendadak berhenti ketika dia teringat sesuatu. "Apa Rina sengaja merencanakan ini?"Kevin mengedikkan bahu. "Tidak tahu. Tapi bisa saja dia memanfaatkan situasi. Temanmu tidak bisa diremehkan ternyata."Luna kembali bergerak. Ketika mereka melewati koridor yang sepi. Langkah Kevin dan Luna terhenti kala mendapati dua orang sedang bicara.Dilihat dari gelagatnya, mereka sepertinya sedang ...."Na, itu bukannya Alfa."Luna lekas memicing. "Dia sama siapa?"Kevin lekas menarik Luna ke sudut. Tempat yang cukup dek
Kehebohan kembali melanda kampus tempat Luna mengenyam pendidikan.Dia tidak tahu menahu kalau Alfa telah membuka sedikit tabir pernikahan mereka. Sebab dia tak mengetahui jika Alfa punya akun medsos.Jadi ketika dia melangkahkan kaki di kelas keesokan paginya. Dia langsung dicecar Finda."Ahh, Luna. Ini hari patah hati sekampus."Gadis itu heboh mengejar Luna yang duduk di tempat biasa."Apa lagi sekarang, Nda?" Respon Luna malas-malasan."Lihat nih, lihat."Finda menunjukkan ponselnya. Di mana screen shot postingan akun Alfa jadi trending topik di grup internal kampus."Pak dekan udah sold out!" Kata Finda nyaris menjerit saking antusiasnya.Luna sendiri langsung menarik turun tangannya. Sementara jantungnya berdebar kencang waktu membaca postingan Alfa."To my beloved wife. The one and the only. Till death do us apart. I love you."Caption tadi disertai satu foto berupa dua tangan yang saling menggenggam. Dalam foto itu juga terlihat sepasang cincin pernikahan.Benda yang meski te
Hari pertama Luna kembali ke kampus. Rasanya dia ingin menghajar seseorang. Permintaan Rina sungguh membuatnya marah.Namun di depan perempuan yang sedang mengandung, Luna tak berdaya. Dia tidak tega marah. Apalagi Luna masih mode pura-pura tidak tahu kelakuan Rina di belakangnya.Rina sendiri berpikir, Luna akan bersimpati padanya. Hingga sudi melakukan apapun untuk menolongnya. Padahal aslinya Luna muak setengah mati. Di hadapan Rina, Luna diam saja. Entah mereka masih bisa disebut teman atau tidak. Ketika salah satu menyimpan kebohongan, walau tidak merugikan Luna secara langsung.Begitu Rina berlalu, Luna seketika mengayunkan tinju. Dia lampiaskan kemarahannya pada udara kosong."Brengsek!" Makinya seraya berbalik sambil menghentakkan kaki ketika melangkah.Tujuannya adalah kantor sang suami. Luna memang sudah dikenal kerap dipanggil ke ruangan Alfa. Mereka selalunya menduga jika Alfa sedang menghukum anak didiknya.Tidak ada yang mengira jika hal itu hanyalah kedok untuk menutup
"Alex punya pacar? Siapa?"Pertanyaan itu segera mengudara di benak Luna. Dia penasaran."Cemburu, Nya?" Bisik Kevin penuh makna. "Itu dilarang," balas Luna kesal."Tapi hatinya bilang enggak deh." Makin getol Kevin menggoda Luna."Sok tahu."Kevin terbahak melihat wajah cemberut Luna. "Serius, Na. Kamu sebenarnya ada rasa gak sih sama Alex.""Bukan urusanmu!" Jawab Luna tegas. Kevin angkat tangan. Luna sudah mencapai batasnya. Jika dilanjutkan dia akan kena murka nyonya Attarazka. Bahaya!Luna sendiri sesaat terdiam. Alex punya pacar, bukannya itu bagus. Pria itu tidak lagi menaruh hati padanya. Yang jelas sudah bersuami.Sedikit banyak dia merasa bersalah. Telah menyembunyikan statusnya selama ini. Tapi, bukannya Alex tidak pernah menyatakan perasaannya padanya.Jadi anggap saja Luna tidak tahu apa-apa. Biarkan mereka berteman seperti biasanya. Dan jika Alex punya kekasih, tambahan hati. Luna akan ikut bahagia mendengarnya.Bukankah teman seharusnya seperti itu.Seminggu kemudian.
Di tempat lain, seorang pria berperawakan tinggi besar, baru keluar dari air port. Seorang pria mengiringi langkahnya. Kaca mata hitam, sukses menyembunyikan tatapan elang sang pria. "Di mana dia?" "Jadi dosen di kota Yogyakarta." Tawa kecil menyambut jawaban sang asisten. "Main dosen-dosenan rup
"Kita mulai materinya. Dengarkan dan simak baik-baik. Karena akan ada tugas setelah ini."Gumam keberatan, kecewa membahana di seluruh kelas. Bisa Luna lihat, Alfa sempat mengedipkan sebelah mata padanya. Gadis itu berdecak kesal. Dia ingat bagaimana semalam Alfa memasukkannya paksa ke mobil. Me
Luna protes sepanjang jalan, entah ke mana Alfa membawanya. "Eh pak dosen. Tanggung jawab dong. Situ ngadain kelas tambahan, tapi situ malah melarikan diri. Satu lagi, saya gak mau dijodohin sama Bapak." "Itu bukan salah saya. Asistennya saja gak kompeten! Dengar ya Luna, bukan saya yang nentuin
"Lama amat," protes Rina yang akhirnya memesan bakso lebih dulu karena kelamaan menunggu Luna. "Pak dosen banyak tanya." Luna menggertakkan gigi. Ingat bagaimana dia berakhir menindih tubuh Alfa. Dengan lelaki itu tersenyum puas. Tangan Alfa bertengger manis di pinggang Luna kemudian turun menje







