Share

Bab 13

Penulis: Hiro Sayank
last update Tanggal publikasi: 2026-10-18 17:18:45

​"Baru pulang, Semesta?" sapa Andi begitu Semesta melangkah melewati area ruang makan apartemen. Di sana, Andi, Alya, dan Embun tengah menikmati makan malam bersama.

​"Iya, Yah," jawab Semesta santai.

​"Dari mana saja kamu?" Nada suara Andi terdengar tenang, namun menyimpan ketegasan yang tak bisa dibantah.

​"Anu, Yah ... tadi habis dari rumah teman perkuliahan," alibi Semesta berbohong.

​"Lain kali, kalau jadwal perkuliahan sudah selesai, langsung pulang ke rumah. Nggak usah keluyuran, apalagi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
My dream
Aduhh embun yg digituin aku yg deg2an hahahah… pasti ngak fokus c embun ngajarin kamu semesta...️...️
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 38

    Tok... tok... tok…​Embun mengetuk pintu kamar Semesta. Entah mengapa, ia sudah tidak merasa takut lagi untuk mendatangi kamar saudara tirinya itu, terbiasa dengan segala dinamika di antara mereka.​"Kak! Aku boleh masuk?" panggil Embun lantang.​"Masuklah!" sahut suara Semesta dari dalam.​Embun membuka pintu perlahan dan melongok ke dalam. Ia melihat Semesta sedang duduk bersila di lantai, tepat di ambang pintu balkon kamar yang terbuka. Di hadapannya, seekor kucing oren gemuk sedang asyik dielus-elus bulunya.​"Kakak sedang main sama kucing," gumam Embun melangkah masuk. Melihat interaksi Semesta dan kucing oren itu, Embun merasa pemandangan tersebut terlihat sangat kontras namun manis.​"Lucunya!" panggil Embun ikut duduk bersila di lantai, tepat berhadapan dengan Semesta. "Dia namanya siapa, Kak?"​"Jumiati," jawab Semesta datar.​"Hah? Serius? Kok namanya kayak penjual lotek di belakang perumahan!" Embun terkejut.​"Dih, gitu aja percaya," cibir Semesta. "Dia sebenarnya nggak pu

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 37

    Semesta melangkah keluar dari mobil mewah yang mengantarnya. Wanita paruh baya berpenampilan elegan yang duduk di kursi pengemudi tersenyum tipis sebelum akhirnya menginjak pedal gas, melesatkan kendaraan roda empat itu pergi meninggalkan area depan gerbang kampus. ​Semesta berdiri terpaku sejenak, lalu berbalik hendak memasuki halaman kampus. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti ketika ia melihat sosok Embun berdiri di dekat pilar, rupanya sedari tadi memperhatikan interaksinya dengan wanita tersebut.​Sorot mata Semesta melunak sesaat, namun ia segera memasang ekspresi dingin dan datar seperti biasa saat berjalan mendekat.​"Ngapain lo masih nongkrong di sini, Mbun?" tanya Semesta begitu berdiri di hadapan adik tirinya.​"Wanita di dalam mobil tadi siapa, Kak?" alih-alih menjawab, Embun justru melemparkan pertanyaan dengan nada penuh selidik.​"Ngatinem, penjual lotek di belakang perumahan kita," jawab Semesta asal-asalan sambil merebut tas miliknya sendiri yang sedari tadi dib

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 36

    Tepat pukul dua siang, aktivitas perkuliahan di gedung Fakultas Ekonomi akhirnya usai. Seluruh mahasiswa berhamburan keluar dari ruangan kelas, berjalan beriringan menuju area lobi, kantin, maupun gerbang keluar untuk segera pulang setelah lelah memikirkan teori-teori ekonomi pembangunan yang rumit.Embun membereskan buku-buku tebal, diktat kuliah, serta alat tulisnya ke dalam tas ransel. Namun, berbeda dengan mahasiswa lain yang tampak terburu-buru ingin segera meninggalkan kampus, Embun justru duduk terpaku termenung di bangkunya. Matanya melirik ke arah meja di sebelah, tempat tas milik Semesta masih bertengger dengan tenang di dalam laci kayu tersebut.Sejak kepergian Semesta yang mendadak akibat pesan misterius di jam perkuliahan pertama tadi pagi, cowok itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya lagi hingga jam kuliah sore berakhir. Berbagai macam pikiran buruk berkecamuk di dalam benak Embun. Ke mana sebenarnya Semesta pergi? Urusan pelik apa yang mampu memicu kemarahan

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 35

    Jam dinding besar di lorong Fakultas Ekonomi menunjukkan pukul delapan pagi. Para mahasiswa dan mahasiswi mulai bergegas melangkah memasuki ruang kelas perkuliahan. Suasana yang sempat riuh dan bising seketika berubah menjadi lebih tertib begitu Bu Ayu, dosen pengampu mata kuliah Manajemen Keuangan, melangkah masuk membawa setumpuk map dokumen dan berdiri di depan kelas.​"Selamat pagi semuanya!" sapa Bu Ayu ramah.​"Selamat pagi, Bu!" jawab serentak seluruh mahasiswa di dalam kelas perkuliahan.​"Hari ini kegiatan kita adalah mengerjakan tugas kelompok seperti yang sudah Ibu sampaikan minggu lalu. Kalian harus mencari partner pasangan mahasiswa dan mahasiswi untuk bersama-sama menyelesaikannya. Kalian mengerti?"​"Mengerti, Bu!" jawab para mahasiswa kompak.​Suasana kelas pun langsung mendadak riuh dan gaduh kembali. Semua mahasiswa sibuk berdiskusi mencari pasangan untuk mengerjakan tugas besar yang diberikan oleh Bu Ayu.​Mahasiswi-mahasiswi yang merasa paling cantik dan populer di

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 34

    ​"Malam ini lo tidur di sini saja ya, sama gue!" pinta Semesta penuh tuntutan.​"Nggak mau!" tolak Embun mentah-mentah. "Kak Semesta pasti akan berbuat yang aneh-aneh lagi, bahkan mungkin lebih parah dari yang tadi!"​"Enggak, gue janji nggak akan macam-macam. Kita cuma tidur bareng doang, lo bakal gue peluk sampai pagi," bujuk Semesta meyakinkan.​"Gitu doang?"​"Iya, cuma tidur."​"Tapi kenapa Kak Semesta tiba-tiba pengin tidur sama aku?"​Semesta berpikir sejenak mencari alasan logis. "Karena malam ini gue kedinginan banget, Mbun. Gue butuh kehangatan tubuh lo."​"Kedinginan?"​"Iya, kedinginan."​Embun menimbang-nimbang sejenak. "Tapi Kak Semesta janji ya beneran tidak akan berbuat aneh-aneh?"​"Iya, janji."​"Baiklah, aku mau tidur di sini. Tapi aku mau pakai baju dulu," ujar Embun hendak mengenakan pakaiannya.​"Jangan! Udah begini saja!" cegah Semesta menahan tangan Embun.​"Tapi nanti aku kedinginan, Kak."​"Nggak akan, kan gue pelukin terus."​Embun akhirnya mengalah, terjeba

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 33

    ​"Ini gimana, Kak? Ibu mau masuk ke kamar ini!" Embun begitu ketakutan setengah mati. Ia panik luar biasa, membayangkan reaksi ibunya jika mendapati dirinya berada di dalam kamar Semesta tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh bagian atasnya.​"Ayo, ikut gue!" ajak Semesta bertindak cepat. Ia meraih pergelangan tangan Embun, menyambar kaus dan bra yang bergeletakan di atas karpet, lalu menarik gadis itu naik ke atas tempat tidurnya.​Mereka berdua segera berbaring di atas ranjang empuk tersebut secara berdampingan. Semesta menyelimuti tubuh mereka berdua menggunakan selimut tebal, bagian Semesta hanya sebatas dada, sementara Embun ditutupi secara keseluruhan hingga menutupi kepala agar benar-benar tersembunyi. Semesta mendekap tubuh Embun dengan erat, membuat tubuh telanjang gadis itu menempel sempurna tanpa jarak di dada bidangnya.​"Lo diam dan jangan bergerak. Gue bakal pura-pura tidur," bisik Semesta tepat di telinga Embun.​Keduanya terdiam seribu bahasa di balik selimut tebal. T

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status