Share

Bab 34

Author: Hiro Sayank
last update publish date: 2026-10-28 19:47:37

​"Malam ini lo tidur di sini saja ya, sama gue!" pinta Semesta penuh tuntutan.

​"Nggak mau!" tolak Embun mentah-mentah. "Kak Semesta pasti akan berbuat yang aneh-aneh lagi, bahkan mungkin lebih parah dari yang tadi!"

​"Enggak, gue janji nggak akan macam-macam. Kita cuma tidur bareng doang, lo bakal gue peluk sampai pagi," bujuk Semesta meyakinkan.

​"Gitu doang?"

​"Iya, cuma tidur."

​"Tapi kenapa Kak Semesta tiba-tiba pengin tidur sama aku?"

​Semesta berpikir sejenak mencari alasan logis. "Karen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 34

    ​"Malam ini lo tidur di sini saja ya, sama gue!" pinta Semesta penuh tuntutan.​"Nggak mau!" tolak Embun mentah-mentah. "Kak Semesta pasti akan berbuat yang aneh-aneh lagi, bahkan mungkin lebih parah dari yang tadi!"​"Enggak, gue janji nggak akan macam-macam. Kita cuma tidur bareng doang, lo bakal gue peluk sampai pagi," bujuk Semesta meyakinkan.​"Gitu doang?"​"Iya, cuma tidur."​"Tapi kenapa Kak Semesta tiba-tiba pengin tidur sama aku?"​Semesta berpikir sejenak mencari alasan logis. "Karena malam ini gue kedinginan banget, Mbun. Gue butuh kehangatan tubuh lo."​"Kedinginan?"​"Iya, kedinginan."​Embun menimbang-nimbang sejenak. "Tapi Kak Semesta janji ya beneran tidak akan berbuat aneh-aneh?"​"Iya, janji."​"Baiklah, aku mau tidur di sini. Tapi aku mau pakai baju dulu," ujar Embun hendak mengenakan pakaiannya.​"Jangan! Udah begini saja!" cegah Semesta menahan tangan Embun.​"Tapi nanti aku kedinginan, Kak."​"Nggak akan, kan gue pelukin terus."​Embun akhirnya mengalah, terjeba

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 33

    ​"Ini gimana, Kak? Ibu mau masuk ke kamar ini!" Embun begitu ketakutan setengah mati. Ia panik luar biasa, membayangkan reaksi ibunya jika mendapati dirinya berada di dalam kamar Semesta tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh bagian atasnya.​"Ayo, ikut gue!" ajak Semesta bertindak cepat. Ia meraih pergelangan tangan Embun, menyambar kaus dan bra yang bergeletakan di atas karpet, lalu menarik gadis itu naik ke atas tempat tidurnya.​Mereka berdua segera berbaring di atas ranjang empuk tersebut secara berdampingan. Semesta menyelimuti tubuh mereka berdua menggunakan selimut tebal, bagian Semesta hanya sebatas dada, sementara Embun ditutupi secara keseluruhan hingga menutupi kepala agar benar-benar tersembunyi. Semesta mendekap tubuh Embun dengan erat, membuat tubuh telanjang gadis itu menempel sempurna tanpa jarak di dada bidangnya.​"Lo diam dan jangan bergerak. Gue bakal pura-pura tidur," bisik Semesta tepat di telinga Embun.​Keduanya terdiam seribu bahasa di balik selimut tebal. T

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 32

    Giliran Embun mengocok setumpuk kartu Remi dan membagikannya secara adil kepada mereka berdua di atas lantai karpet kamar Semesta. Permainan babak kedua berlangsung jauh lebih sengit dari sebelumnya. Embun berusaha membaca pola permainan dan memasang strategi sebaik mungkin untuk mengejar ketertinggalannya. Namun, ketenangan dan kemampuan Semesta dalam membaca situasi membuat Embun kembali menelan kekalahan telak di akhir babak."Sekarang Kak Semesta mau minta apa lagi sebagai hukumannya?" tanya Embun dengan jantung yang berdegup kencang tak beraturan.Semesta tersenyum menyeringai tipis, menikmati setiap detik kepanikan yang terpancar dari wajah adik tirinya. "Lo harus buka baju lo, Mbun!""Hah?! Nggak mau! Aku nggak mau buka baju!" tolak Embun panik, menggelengkan kepalanya kuat-kuat."Ayolah, cuma buka baju doang kok, cuma kaus yang lo pakai ini. Nggak sama pakaian dalamnya!" bujuk Semesta dengan nada menuntut."Pokoknya aku nggak mau, Kak!""Berarti lo ingkar janji dong? Perjanjia

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 31

    ​"Kak Semesta mau ngapain?!" teriak Embun begitu melihat Semesta hendak melemparkan pot bunga ke arah mobil Rani.​Semesta segera menghentikan tindakannya. Tubuhnya mematung dengan pot bunga tanah liat yang masih ia genggam erat di kedua tangannya. Ia urung menghantamkan benda berat itu ke arah mobil Rani yang kini sudah melaju kencang meninggalkan area tersebut dan berbelok di tikungan jalan.​Brukkkk!​Semesta melepaskan cengkeramannya begitu saja, membiarkan pot bunga itu jatuh menghantam trotoar dan pecah berkeping-keping. Tanpa berkata sepatah kata pun pada Embun, Semesta berbalik dan melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan Embun seorang diri.​"Kak Semesta mau ke mana?!" seru Embun panik. Namun Semesta tidak memedulikannya. Ia sedang ingin menyendiri untuk meredam amarah yang membakar dadanya.​Setelah ditinggal Semesta, Embun segera naik bus umum menuju rumah. Ia harus berdesakan dengan penumpang lain sambil mendekap erat boneka beruang besar pemberian Semesta. Kurang lebih

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 30

    Motor Semesta berhenti di depan sebuah gerobak mie ayam tepi jalan yang sederhana. "Kita mau makan di sini?" tanya Semesta heran.​"Iya, Kak," jawab Embun mantap.​"Kok kayak gini, Mbun? Nggak ada tempat yang lebih bagus?"​"Jangan dilihat dari tempatnya, Kak. Mie ayamnya enak banget. Yuk, turun!" ajak Embun.​Mereka memesan dua porsi mie ayam dan dua gelas es teh manis, lalu duduk di kursi plastik tepi trotoar.​"Kak Semesta belum pernah makan di tempat seperti ini, ya?" tanya Embun membuka percakapan.​"Belum," jawab Semesta datar.​"Kalau aku sering, Kak. Sebelum Ibu menikah sama Ayah, kehidupan kami pas-pasan. Jadi harus pintar berhemat dengan makan di tempat sederhana," jelas Embun. Semesta diam mendengarkan penjelasan adik tirinya tersebut.​Pesanan pun datang. Mereka menikmati hidangan yang disajikan. "Enak banget, Mbun!" celetuk Semesta di tengah suapannya.​Embun tersenyum manis. "Makanya makan pelan-pelan, Kak. Nih, sampai belepotan," ucap Embun refleks menyapu noda kuah di

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 29

    "Malah menangis!" celetuk Semesta dengan nada setengah berbisik. Ia masih berada di atas tubuh Embun, dengan sengaja menempelkan area sensitifnya dari luar balutan rok yang dikenakan gadis lugu tersebut. Suasana di dalam kamar kos yang sunyi membuat desiran napas mereka terdengar begitu jelas di telinga."Habisnya Kak Semesta bohong! Katanya tadi tidak akan seperti ini, katanya tadi cuma pakai tanganku saja," jelas Embun masih sambil terisak pelan. Air mata kecil menetes di sudut matanya, mencerminkan rasa takut bercampur polos yang membuat Semesta mendadak merasa dilema di antara hasrat dan nuraninya."Cerewet sekali! Iya-iya, gue nggak akan memaksa lo melakukan hal yang lebih jauh, anjing!" ucap Semesta mengalah. Kali ini ia sedikit beranjak dari atas tubuh Embun, meski tidak benar-benar meninggalkan gadis itu sepenuhnya. Ia hanya menggeser posisinya sedikit ke samping, namun bagian vital miliknya tidak lagi menempel pada Embun.Semesta kemudian meraih area sensitif miliknya sendiri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status