Share

Bab 36

Author: Hiro Sayank
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-29 18:45:00

Tepat pukul dua siang, aktivitas perkuliahan di gedung Fakultas Ekonomi akhirnya usai. Seluruh mahasiswa berhamburan keluar dari ruangan kelas, berjalan beriringan menuju area lobi, kantin, maupun gerbang keluar untuk segera pulang setelah lelah memikirkan teori-teori ekonomi pembangunan yang rumit.

Embun membereskan buku-buku tebal, diktat kuliah, serta alat tulisnya ke dalam tas ransel. Namun, berbeda dengan mahasiswa lain yang tampak terburu-buru ingin segera meninggalkan kampus, Embun justr
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 36

    Tepat pukul dua siang, aktivitas perkuliahan di gedung Fakultas Ekonomi akhirnya usai. Seluruh mahasiswa berhamburan keluar dari ruangan kelas, berjalan beriringan menuju area lobi, kantin, maupun gerbang keluar untuk segera pulang setelah lelah memikirkan teori-teori ekonomi pembangunan yang rumit.Embun membereskan buku-buku tebal, diktat kuliah, serta alat tulisnya ke dalam tas ransel. Namun, berbeda dengan mahasiswa lain yang tampak terburu-buru ingin segera meninggalkan kampus, Embun justru duduk terpaku termenung di bangkunya. Matanya melirik ke arah meja di sebelah, tempat tas milik Semesta masih bertengger dengan tenang di dalam laci kayu tersebut.Sejak kepergian Semesta yang mendadak akibat pesan misterius di jam perkuliahan pertama tadi pagi, cowok itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya lagi hingga jam kuliah sore berakhir. Berbagai macam pikiran buruk berkecamuk di dalam benak Embun. Ke mana sebenarnya Semesta pergi? Urusan pelik apa yang mampu memicu kemarahan

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 35

    Jam dinding besar di lorong Fakultas Ekonomi menunjukkan pukul delapan pagi. Para mahasiswa dan mahasiswi mulai bergegas melangkah memasuki ruang kelas perkuliahan. Suasana yang sempat riuh dan bising seketika berubah menjadi lebih tertib begitu Bu Ayu, dosen pengampu mata kuliah Manajemen Keuangan, melangkah masuk membawa setumpuk map dokumen dan berdiri di depan kelas.​"Selamat pagi semuanya!" sapa Bu Ayu ramah.​"Selamat pagi, Bu!" jawab serentak seluruh mahasiswa di dalam kelas perkuliahan.​"Hari ini kegiatan kita adalah mengerjakan tugas kelompok seperti yang sudah Ibu sampaikan minggu lalu. Kalian harus mencari partner pasangan mahasiswa dan mahasiswi untuk bersama-sama menyelesaikannya. Kalian mengerti?"​"Mengerti, Bu!" jawab para mahasiswa kompak.​Suasana kelas pun langsung mendadak riuh dan gaduh kembali. Semua mahasiswa sibuk berdiskusi mencari pasangan untuk mengerjakan tugas besar yang diberikan oleh Bu Ayu.​Mahasiswi-mahasiswi yang merasa paling cantik dan populer di

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 34

    ​"Malam ini lo tidur di sini saja ya, sama gue!" pinta Semesta penuh tuntutan.​"Nggak mau!" tolak Embun mentah-mentah. "Kak Semesta pasti akan berbuat yang aneh-aneh lagi, bahkan mungkin lebih parah dari yang tadi!"​"Enggak, gue janji nggak akan macam-macam. Kita cuma tidur bareng doang, lo bakal gue peluk sampai pagi," bujuk Semesta meyakinkan.​"Gitu doang?"​"Iya, cuma tidur."​"Tapi kenapa Kak Semesta tiba-tiba pengin tidur sama aku?"​Semesta berpikir sejenak mencari alasan logis. "Karena malam ini gue kedinginan banget, Mbun. Gue butuh kehangatan tubuh lo."​"Kedinginan?"​"Iya, kedinginan."​Embun menimbang-nimbang sejenak. "Tapi Kak Semesta janji ya beneran tidak akan berbuat aneh-aneh?"​"Iya, janji."​"Baiklah, aku mau tidur di sini. Tapi aku mau pakai baju dulu," ujar Embun hendak mengenakan pakaiannya.​"Jangan! Udah begini saja!" cegah Semesta menahan tangan Embun.​"Tapi nanti aku kedinginan, Kak."​"Nggak akan, kan gue pelukin terus."​Embun akhirnya mengalah, terjeba

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 33

    ​"Ini gimana, Kak? Ibu mau masuk ke kamar ini!" Embun begitu ketakutan setengah mati. Ia panik luar biasa, membayangkan reaksi ibunya jika mendapati dirinya berada di dalam kamar Semesta tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh bagian atasnya.​"Ayo, ikut gue!" ajak Semesta bertindak cepat. Ia meraih pergelangan tangan Embun, menyambar kaus dan bra yang bergeletakan di atas karpet, lalu menarik gadis itu naik ke atas tempat tidurnya.​Mereka berdua segera berbaring di atas ranjang empuk tersebut secara berdampingan. Semesta menyelimuti tubuh mereka berdua menggunakan selimut tebal, bagian Semesta hanya sebatas dada, sementara Embun ditutupi secara keseluruhan hingga menutupi kepala agar benar-benar tersembunyi. Semesta mendekap tubuh Embun dengan erat, membuat tubuh telanjang gadis itu menempel sempurna tanpa jarak di dada bidangnya.​"Lo diam dan jangan bergerak. Gue bakal pura-pura tidur," bisik Semesta tepat di telinga Embun.​Keduanya terdiam seribu bahasa di balik selimut tebal. T

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 32

    Giliran Embun mengocok setumpuk kartu Remi dan membagikannya secara adil kepada mereka berdua di atas lantai karpet kamar Semesta. Permainan babak kedua berlangsung jauh lebih sengit dari sebelumnya. Embun berusaha membaca pola permainan dan memasang strategi sebaik mungkin untuk mengejar ketertinggalannya. Namun, ketenangan dan kemampuan Semesta dalam membaca situasi membuat Embun kembali menelan kekalahan telak di akhir babak."Sekarang Kak Semesta mau minta apa lagi sebagai hukumannya?" tanya Embun dengan jantung yang berdegup kencang tak beraturan.Semesta tersenyum menyeringai tipis, menikmati setiap detik kepanikan yang terpancar dari wajah adik tirinya. "Lo harus buka baju lo, Mbun!""Hah?! Nggak mau! Aku nggak mau buka baju!" tolak Embun panik, menggelengkan kepalanya kuat-kuat."Ayolah, cuma buka baju doang kok, cuma kaus yang lo pakai ini. Nggak sama pakaian dalamnya!" bujuk Semesta dengan nada menuntut."Pokoknya aku nggak mau, Kak!""Berarti lo ingkar janji dong? Perjanjia

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 31

    ​"Kak Semesta mau ngapain?!" teriak Embun begitu melihat Semesta hendak melemparkan pot bunga ke arah mobil Rani.​Semesta segera menghentikan tindakannya. Tubuhnya mematung dengan pot bunga tanah liat yang masih ia genggam erat di kedua tangannya. Ia urung menghantamkan benda berat itu ke arah mobil Rani yang kini sudah melaju kencang meninggalkan area tersebut dan berbelok di tikungan jalan.​Brukkkk!​Semesta melepaskan cengkeramannya begitu saja, membiarkan pot bunga itu jatuh menghantam trotoar dan pecah berkeping-keping. Tanpa berkata sepatah kata pun pada Embun, Semesta berbalik dan melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan Embun seorang diri.​"Kak Semesta mau ke mana?!" seru Embun panik. Namun Semesta tidak memedulikannya. Ia sedang ingin menyendiri untuk meredam amarah yang membakar dadanya.​Setelah ditinggal Semesta, Embun segera naik bus umum menuju rumah. Ia harus berdesakan dengan penumpang lain sambil mendekap erat boneka beruang besar pemberian Semesta. Kurang lebih

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status