FAZER LOGINGiliran Embun mengocok setumpuk kartu Remi dan membagikannya secara adil kepada mereka berdua di atas lantai karpet kamar Semesta. Permainan babak kedua berlangsung jauh lebih sengit dari sebelumnya. Embun berusaha membaca pola permainan dan memasang strategi sebaik mungkin untuk mengejar ketertinggalannya. Namun, ketenangan dan kemampuan Semesta dalam membaca situasi membuat Embun kembali menelan kekalahan telak di akhir babak."Sekarang Kak Semesta mau minta apa lagi sebagai hukumannya?" tanya Embun dengan jantung yang berdegup kencang tak beraturan.Semesta tersenyum menyeringai tipis, menikmati setiap detik kepanikan yang terpancar dari wajah adik tirinya. "Lo harus buka baju lo, Mbun!""Hah?! Nggak mau! Aku nggak mau buka baju!" tolak Embun panik, menggelengkan kepalanya kuat-kuat."Ayolah, cuma buka baju doang kok, cuma kaus yang lo pakai ini. Nggak sama pakaian dalamnya!" bujuk Semesta dengan nada menuntut."Pokoknya aku nggak mau, Kak!""Berarti lo ingkar janji dong? Perjanjia
"Kak Semesta mau ngapain?!" teriak Embun begitu melihat Semesta hendak melemparkan pot bunga ke arah mobil Rani.Semesta segera menghentikan tindakannya. Tubuhnya mematung dengan pot bunga tanah liat yang masih ia genggam erat di kedua tangannya. Ia urung menghantamkan benda berat itu ke arah mobil Rani yang kini sudah melaju kencang meninggalkan area tersebut dan berbelok di tikungan jalan.Brukkkk!Semesta melepaskan cengkeramannya begitu saja, membiarkan pot bunga itu jatuh menghantam trotoar dan pecah berkeping-keping. Tanpa berkata sepatah kata pun pada Embun, Semesta berbalik dan melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan Embun seorang diri."Kak Semesta mau ke mana?!" seru Embun panik. Namun Semesta tidak memedulikannya. Ia sedang ingin menyendiri untuk meredam amarah yang membakar dadanya.Setelah ditinggal Semesta, Embun segera naik bus umum menuju rumah. Ia harus berdesakan dengan penumpang lain sambil mendekap erat boneka beruang besar pemberian Semesta. Kurang lebih
Motor Semesta berhenti di depan sebuah gerobak mie ayam tepi jalan yang sederhana. "Kita mau makan di sini?" tanya Semesta heran."Iya, Kak," jawab Embun mantap."Kok kayak gini, Mbun? Nggak ada tempat yang lebih bagus?""Jangan dilihat dari tempatnya, Kak. Mie ayamnya enak banget. Yuk, turun!" ajak Embun.Mereka memesan dua porsi mie ayam dan dua gelas es teh manis, lalu duduk di kursi plastik tepi trotoar."Kak Semesta belum pernah makan di tempat seperti ini, ya?" tanya Embun membuka percakapan."Belum," jawab Semesta datar."Kalau aku sering, Kak. Sebelum Ibu menikah sama Ayah, kehidupan kami pas-pasan. Jadi harus pintar berhemat dengan makan di tempat sederhana," jelas Embun. Semesta diam mendengarkan penjelasan adik tirinya tersebut.Pesanan pun datang. Mereka menikmati hidangan yang disajikan. "Enak banget, Mbun!" celetuk Semesta di tengah suapannya.Embun tersenyum manis. "Makanya makan pelan-pelan, Kak. Nih, sampai belepotan," ucap Embun refleks menyapu noda kuah di
"Malah menangis!" celetuk Semesta dengan nada setengah berbisik. Ia masih berada di atas tubuh Embun, dengan sengaja menempelkan area sensitifnya dari luar balutan rok yang dikenakan gadis lugu tersebut. Suasana di dalam kamar kos yang sunyi membuat desiran napas mereka terdengar begitu jelas di telinga."Habisnya Kak Semesta bohong! Katanya tadi tidak akan seperti ini, katanya tadi cuma pakai tanganku saja," jelas Embun masih sambil terisak pelan. Air mata kecil menetes di sudut matanya, mencerminkan rasa takut bercampur polos yang membuat Semesta mendadak merasa dilema di antara hasrat dan nuraninya."Cerewet sekali! Iya-iya, gue nggak akan memaksa lo melakukan hal yang lebih jauh, anjing!" ucap Semesta mengalah. Kali ini ia sedikit beranjak dari atas tubuh Embun, meski tidak benar-benar meninggalkan gadis itu sepenuhnya. Ia hanya menggeser posisinya sedikit ke samping, namun bagian vital miliknya tidak lagi menempel pada Embun.Semesta kemudian meraih area sensitif miliknya sendiri
Motor sport milik Semesta akhirnya berhenti di depan sebuah area bangunan kos-kosan. Kamar-kamar berderet rapi di sana, menjadi tempat hunian para mahasiswa.Semesta dan Embun turun dari motor. "Yuk, masuk!" ajak Semesta sambil mendorong pintu salah satu kamar kos yang tidak terkunci.Embun melangkah masuk, mengedarkan pandangan mengamati ruangan tersebut. Kamar itu berukuran sedang dengan fasilitas kamar mandi di dalam. Di dalamnya hanya terdapat satu tempat tidur dan sebuah lemari pakaian."Ini kamar kos siapa, Kak?" tanya Embun."Punya Rivan. Tapi jarang dipakai. Cuma buat kumpul-kumpul doang, atau buat dia kalau lagi mojok sama ceweknya," jelas Semesta. Embun manggut-manggut mengerti."Lo duduk dulu! Gue mau cuci muka sebentar," ucap Semesta melangkah ke kamar mandi.Embun duduk di tepi kasur. Jantungnya berdegup kencang membayangkan apa yang akan ia lakukan sebentar lagi. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.Beberapa menit kemudian, Semesta keluar dari kamar
"Maksudnya aku disuruh berhubungan intim sama Kak Semesta?" tanya Embun. Suaranya terdengar bergetar karena efek keterkejutannya yang baru saja terjadi di koridor Fakultas Ekonomi."Bukan. Maksud gue cuma pakai tangan lo doang," jawab Semesta datar. Kening Embun tampak mengernyit, masih diselimuti kebingungan."Jadi gini, Mbun. Tangan lo nanti pegang anunya gue.""Anu? Anu itu apa, Kak?" tanya Embun polos.Sialan, polos banget nih cewek, batin Semesta merutuk dalam hati."Anu itu ... junior gue."Embun masih mengernyitkan dahi. "Junior?""Iya, junior. Junior tuh ini, Mbun." Semesta kembali meraih jemari Embun dan menempelkannya ke area sensitif di balik celananya. Embun terkejut, lalu secara refleks menarik tangannya kembali ke dada. "Memang aku disuruh ngapain dengan juniornya Kak Semesta?" tanya Embun sedikit takut-takut."Lo cuma gue suruh pegang doang. Habis itu lo gerakin pelan-pelan. Kayak gini." Semesta memeragakan gerakan tangan naik-turun seperti sedang mengocok bo







