แชร์

Part 2 Enrio Carlos

ผู้เขียน: Luisana Zaffya
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-02 08:58:43

“Enrio sudah mati, aku tak punya alasan menggunakan dirimu lagi untuk menyiksanya.”

“Aku tak akan pernah menampakkan wajahku di hadapanmu lagi. Aku tak tahu kalau kau adalah …”

“Yang mengakuisisi perusahaan ini?”

Rhea mengangguk meski wajahnya sama sekali tak bergerak karena cengkeraman Dario yang semakin menguat.

“Tapi … mengingat karir cemerlangmu di masa lalu, aku tak tahu kau rela menjadi karyawan di perusahaan ini. Apakah uang ganti rugi yang kuberikan tak cukup untuk membiayai hidup nyamanmu tiga tahun ini?”

Rasa panas menjalar di kedua mata Rhea, meleleh di ujung matanya.

Dario melepaskan wajah Rhea dan menegakkan punggungnya. “Well, tapi … sepertinya aku ingin melihat. Seberapa rendahnya hidupmu setelah kepergian Enrio.”

“M-maksudmu?”

“Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu.” Dario menyeringai, membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Rhea terduduk lemah di kursi tersebut saat pintu tertutup rapat. Tapi ia tak punya waktu untuk meratapi nasibnya dan bergegas membersihkan pecahan gelas di lantai saat pintu kembali terbuka.

“Apa yang terjadi? Apa presdir memecatmu?”

“Tidak ada. Hanya menyuruhku untuk membersihkan lantai ini sampai bersih.”

Shalen tampak tak puas dengan jawaban tersebut. Mengamati Rhea yang berjongkok di lantai dan memunguti pecahan gelas satu persatu ke dalam tempat sampah. “Ini benar-benar bencana. Di hari spesial ini, asisten pembawa sialan itu merusak acaranya. Aku akan bicara dengan Gerald untuk mendapatkan asisten yang baru. Sepertinya yang kudengar tentang tuan Carlos itu benar. Dia sangat pemilih dan hanya menginginkan yang terbaik dari yang terbaik.”

Rhea berdiri, mengambil tisu di meja dan mulai mengeringkan lantai di depannya. Sementara Shalen menggerutu panjang lebar tentang presdir baru mereka. Apakah ia harus mengundurkan diri? Mengingat pesan yang dikirim Anin beberapa saat lalu, ia benar-benar membutuhkan gajinya bulan ini. Yang bahkan tak akan cukup untuk bertahan hidup sampai minggu depan.

“Apakah presdir mengatakan memecatmu?”

Rhea tersadar ketika pundaknya disentakkan oleh Shalen. Lalu mengaduh dengan tusukan tajam di ujung jarinya yang berdarah.

“Ck, kau harus hati-hati, anak baru,” sergah Shalen. 

Rhea mengangguk.

“Apakah presdir mengatakan memecatmu atau tidak?” ulang Shalen untuk ketiga kalinya.

Rhea menggeleng pelan. Dario memang tidak mengatakan secara langsung akan memecatnya.

“Baguslah. Aku suka hasil pekerjaanmu dibandingkan anak baru yang lain. Tapi sebaiknya kau tak lagi menampakkan wajahmu di depan presdir baru kita.”

Rhea mengangguk dan Shalen berbalik meninggalkannya. Ia pun tak punya rencana akan menampakkan mukanya di depan Dario lagi.

*** 

Enrio Carlos.

Rhea menatap nama di ujung ranjang pasien sebelum menatap wajah pria yang berbaring di sana. Matanya terpejam, tak bergerak dan tak bersuara. Tetapi masih bernapas. Jika hanya bernapas bisa dikatakan hidup.

Dua tahun tanpa perkembangan apa pun. Entah apa yang membuatnya tak menyerah. Semua dokter mengatakan tak ada harapan. Hanya dirinya seoranglah yang berharap Enrio akan terbangun. Mungkin besok, minggu depan, satu bulan lagi, satu tahun lagi. Atau bahkan sepuluh tahun lagi. Ia tak akan menyerah.

Akan tetapi, kenyataan yang terpampang di hadapannya tak semenyakinkan tekadnya. Seolah seluruh dunia menginginkannya untuk menyerah akan harapan yang tak lebih tebal dari kulit ari.

“Kami tak bisa melakukan apa pun jika biayanya tidak segera dilunasi, Rhea. Aku sudah berusaha membujuk dokter yang bertanggung jawab, tapi kau tahu mereka juga melakukan yang terbaik dan semampu mereka untuk membantumu.” Perawat paruh baya tersebut menepuk lembut pundak Rhea.

“Tapi dia masih hidup, kan?” Rhea tak bisa menahan getaran dalam suaranya. “Aku akan melakukan apa pun untuk membayarnya. Setidaknya tunggu sampai minggu depan. Aku pasti mendapatkan beberapa untuk melunasinya meski tidak sepenuhnya.”

Perawat itu menatap Rhea dengan penuh rasa iba, lalu mengangguk pelan. “Aku akan bicara dengan dokter Miller secara pribadi.”

Rhea menghambur ke pelukan wanita paruh baya yang sudah seperti ibunya sendiri tersebut. “Terima kasih, Nyonya May.”

“Kau sudah melakukan yang terbaik dan sebisamu untuknya, Rhea. Apa pun yang terjadi, dia tak akan pernah menyalahkanmu.”

“Tapi aku tidak bisa melepaskannya dengan cara seperti ini.” Rhea mengurai pelukannya. “Tidak sekarang.”

“Apakah tidak ada satu pun anggota keluarganya yang datang membantu? Orang tua atau saudaranya?”

Rhea terdiam, menatap wajah Enrio yang masih diselimuti ketenangan di tengah mesin-mesin yang dihubungkan ke tubuh pria itu. Bayangan Dario muncul di benaknya. “Dia tidak punya siapa pun selain aku.”

May mengangguk, mengelus punggung Rhea. Memberikan dukungan apa pun yang dibutuhkan wanita malang tersebut. Getaran ringan dari dalam tas mengalihkan perhatian Rhea.

“Aku harus pulang. Besok pagi aku akan datang lagi.”

“Setelah selesai sifku besok pagi, aku akan mengganti pakaiannya untukmu. Lihatlah matamu, kau benar-benar butuh tidur.”

Rhea mengusap pipinya dan mengangguk. “Terima kasih, Nyonya May.”

Bantuan tersebut sangat berarti, begitu ia keluar dari ruang perawatan Enrio, Anin kembali mengirim pesan singkat padanya untuk segera pulang. Firasatnya mendadak memburuk. Anin tak pernah menggunakan kata segera pada situasi genting apa pun. Karena wanita itu melakukan pekerjaannya lebih karena rasa iba dan naluri keibuan yang dimiliki. Bukan semata-mata karena bayaran yang seringkali dibayarnya dengan terlambat.

Dan belum cukup dengan situasi di rumah sakit yang memaksanya untuk menyerah pada kejamnya dunia, kali ini yang menunggu di apartemen kecilnya tersebut adalah sosok yang paling tak diinginkannya untuk dilihat.

“Kau tak suka melihat ibumu berkunjung?”

Rhea melirik pada Anin yang berdiri di depan pintu kamar. Seolah berjaga-jaga jika ibu tirinya tersebut menerobos masuk.

“Dan kau tak pernah mengirim kabar tentang cucu mama.” Senyum Mona terlalu lebar dengan matanya yang berkilat licik. “Maksudku, cucu-cucu mama.”

Wajah Rhea memucat, sekali lagi menatap Anin yang membalasnya dengan tatapan tak berdaya. “Apa yang mama lakukan pada mereka?” Rhea berlari ke depan pintu kamar si kembar, membukanya dan masuk ke dalam tanpa lupa menguncinya dari dalam. Dan betapa leganya melihat keempat anaknya terlelap di boks masing-masing.

*** 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Extra Part 4

    Dario mendengus tipis dan memalingkan mukanya. “Kau sama sekali tak menarik untuk mendapatkan perhatianku, Angela.” “Kau akan memberikannya padaku, kan? Atau setidaknya meminjamkannya untukku?” tanya Angela pada Rhea. Kemudian suaranya berubah penuh permohonan dan kedua tangan di depan dada. “Aku berjanji akan bersikap lebih baik pada mantanmu dan ini terakhir kalinya aku membeli tas itu.” “Jangan coba-coba kau, Rhea,” hardik Dario. “Itu hadiah dariku? Suamimu. Dia bukan siapa-siapamu.” Rhea menatap Dario dan Angela bergantian. “Aku tak mungkin menggunakan semuanya, Dario. Warna dan modelnya sama.” “Apa?!” Angela melompat berdiri. Matanya membeliak tak percaya saat menatap Dario dan Rhea? “Tiga-tiganya kau yang membelinya?! Dan itu hanya ada tiga di muka bumi ini.” Rhea hanya meringis malu. Ini bukan pertama kalinya Dario memberinya hadiah yang diincar oleh Angela. Tapi ia merasa curiga saat minggu lalu Dario

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Extra Part 3

    Beberapa bulan kemudian … Begitu mobil berhenti, Dario lekas turun untuk membuka pintu penumpang. Menggunakan tangannya untuk dijadikan pegangan Rhea yang dengan hati-hati bergerak turun. “Sepertinya acaranya sudah dimulai.” Dario hanya membalas dengan gumaman kecil, pandangannya sibuk mengawasi kaki Rhea yang melangkah di sampingnya. Memastikan gaun panjang yang dikenakan wanita itu tidak membuat jalan wanita itu terganggu. “Kau tak mendengarku?” “Aku sudah bilang, seharusnya kau mengenakan gaun yang satunya lagi. Kita kembali ke mobil, tadi aku meminta pelayan meletakkannya di mobil untuk berjaga-jaga.” “Aku baik-baik saja, Dario.” “Bagaimana kalau gaunmu tersangkut di tengah-tengah kau melangkah, hah? Lalu kau jatuh dengan perut sebesar ini,” gerutu Dario. “Ini salahnya, menggelar pernikahan saat kau sedang hamil.” Rhea hanya menghela napas rendahnya. Tanganny

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Extra Part 2

    “Sepuluh minggu tiga hari.” Dokter menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Angela. Yang masih tengah menggerak-gerakkan alat di kulit perutnya. Mendengarkan penjelasan dokter tentang berat, ukuran, dan bentuknya yang mulai sempurna. Juga gejala-gejala kehamilan yang mulai dirasakannya. Yang paling melegakan, kandungannya tumbuh dengan baik.“Setelah anak ini lahir, aku akan mempertimbangkan untuk bercerai denganmu. Dan kita akan membicarakan tentang kesepakatan apa pun …”“Apa maksudmu?” Langkah Enrio seketika terhenti, tubuhnya berputar menghadap wanita itu untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya adalah memang kata-kata yang baru saja diucapkan oleh wanita itu.“Aku hanya tak ingin keluargaku memanfaatkanmu lebih banyak lagi setelah perbuatan Paul pada anak Dario. Kali ini kesepakatan …”“Berhentilah bicara atau kau akan membuat anakku tertekan,” penggal Enrio dengan suara penuh penekanan.“A-apa?”“Bercerai

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Extra Part 1

    “Semuanya?”Eric mengangguk dengan mantap. “Ya, Tuan. Semuanya.”“Dan dia yang melakukannya?”“Ya, Tuan.”“Kenapa kau tidak bisa mempercayai kebaikan orang, Dario?” sela Rhea dengan nada gusar. “Orang, bukan Enrio,” koreksi Dario penuh penekanan. Lalu melemparkan tatapan tajam dan penuh curiganya pada Rhea. “Baru beberapa saat yang lalu kau mengatakan agar aku tak meninggalkanmu dan sekarang kau terdengar membelanya, Rhea. Apa yang dikatakannya padamu?”“Hanya beberapa hal.”“Dan apakah itu?”Rhea beralih pada Eric, yang kemudian berpamit keluar setelah mendapatkan tatapan tajamnya. “Aku tahu kau tak akan mempercayainya, jadi aku tak berminat mengatakannya padamu.”“Dan kau lebih mempercayai dia dibandingkan suamimu sendiri?”“Saat membicarakan soal kepercayaan, kau tahu aku lebih mempercayai Enrio, Dario. Kami saling mengenal sudah hampir sepuluh tahun, berkencan selama lima tahun s

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 68 Jangan Tinggalkan Aku (END)

    Ruangan tersebut begitu sunyi ketika Seth melangkah masuk. Ia menutup pintu dengan perlahan. Memastikan tak memecah kesunyian yang begitu pekat. Begitu melewati sekat kaca yang memisahkan ruang untuk pengunjung dan ruang perawatan, pandangannya langsung mengarah pada ranjang pasien yang di samping dinding kaca. Di sampingnya, Rhea duduk dengan kepala berbaring di tepi ranjang.Pamannya masih tampak begitu tenang dengan mata terpejam. Luka goresan kaca mobil yang mengenai wajah sempurna sang paman sudah mengering. Operasi tiga hari yang lalu juga berjalan dengan lancar meski sang paman sempat mengalami pendarahan yang begitu hebat. Kondisi vitalnya juga normal. Tetapi entah kenapa paman berengseknya itu tak juga membuka mata. Membuat Rhea lebih menderita lagi, yang tak bisa diterimanya.“Bangun, Rhea,” bisik Seth sambil menyentuh pundak wanita itu dengan lembut.“Kau sudah datang lagi?” Rhea mengucek matanya dan menatap wajah Seth yang tampak sega

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 67 Akhir Keangkuhan Sang Mertua

    Suara tamparan tersebut bergema di seluruh ruangan. Menciptakan keheningan yang begitu menegangkan. Saat kepala Angela terdongak dengan pipi kanannya yang memerah, air mata menggenang di kedua mata.“Siapa yang menyuruhmu untuk bersikap lancang seperti ini, hah?” Mata Renata terlihat memerah, nyaris seperti darah. “Kau hanya perlu menjadi menantu yang patuh. Itu satu-satunya cara kau bisa bertahan sebagai istrinya. Saat Dario mati, kau tahu siapa yang akan menjadi penguasa Carlos Group, kan? Aku hanya perlu menjentikan jari untuk menghancurkan keluargamu.”“Kenapa kau masih tak menyadari posisimu, hah? Kau hanyalah pengganti. Kau hanyalah batu loncatan bagi putraku yang sangat berharga untuk sampai di puncak kejayaannya.” Renata menjambak rambut Angela hingga kepala wanita itu terdongak ke atas. “Hanya Rhea satu-satunya wanita yang akan membuat Enrio bahagia.”Air mata Angela mengalir lebih deras, meskipun begitu tak ada suara isakan yang keluar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status