Share

Part 7 Aroma

last update Last Updated: 2025-12-04 09:58:36

“Maafkan saya atas kecerobohan anak buah saya, Tuan.” Henri menatap Rhea yang baru saja mendapatkan keseimbangan tubuh.

“Maafkan saya, Tuan.” Rhea mengangguk dan berjalan ke samping.

Dario mengangguk singkat, tentu saja ia menyadari keberadaan wanita itu dari jauh. Ujung bibirnya tertarik sedikit sebelum melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Rhea yang berdiri di depan Henri. Langkahnya sempat terhenti melihat tatapan Henri pada Rhea yang mengganggunya. Bukan jenis tatapan teguran yang diberikan atasan pada bawahannya.

“Sebelah sini, Tuan.” Asistennya berhenti di depan pintu ganda kaca. Mengalihkan perhatiannya dan membukakan pintu untuknya. Mengabaikan gangguan tersebut, Dario masuk ke dalam ruang pertemuan yang lebih sempit tersebut.

Seorang wanita paruh baya beranjak dari tempatnya di balik meja. Terkejut dengan kedatangan sang presdir yang tiba-tiba.

“Tuan Carlos,” sapa wanita itu dengan wajah pucat. Mengikuti sang pemilik perusahaan duduk di sofa. “Anda datang tanpa pemberitahuan. Jika tahu …”

“Aku bisa datang kapan pun.”

Kalimat dingin Dario membuat wanita itu lebih pucat lagi. “Maafkan saya, Tuan.”

“Berikan semua data keuangan sebelum kuakusisi.” Sejujurnya Dario tak perlu turun tangan seperti ini. Tetapi bau busuk yang tercium, membawanya harus turun tangan sendiri. Ada alasan kenapa semua data itu tidak dikirim meskipun ia sudah menyuruh orang untuk mendapatkannya.

“Semua sudah saya serahkan pada utusan Anda, Tuan.”

“Termasuk buku hitamnya?”

Wajah wanita itu sepucat mayat. Dengan sia-sia tampil penuh ketenangan yang memuat seringai Dario bergerak naik.

“Dua bulan waktu yang lama untuk mempertimbangkan pilihanmu, K.”

Kaniz melirik deskname di ujung mejanya, yang dijatuhkan ke lantai menggunakan ujung jemari sang pimpinan tertinggi tersebut. “Saya sama sekali tidak tahu …”

“Itu bukan jawaban yang ingin kudengar.” Dario merogoh saku jasnya, menekan panggilan cepatnya yang langsung tersambung. “Dan itu bukan sikap yang kusukai.”

Kaniz jatuh terduduk di lantai. “Maafkan saya, Tuan.”

“Kau sudah menemukannya?” Dario berbicara pada pria di seberang. Seringai bergerak tinggi dan saat beranjak dari duduknya. “Kau dipecat.”

Kaniz mengeleng dengan air mata yang berurai. “T-tidak, Tuan.”

“Ah, kau punya waktu satu hari untuk melarikan diri sebelum polisi bertindak.” Dario berhenti di samping Kaniz, yang memegang kedua kakinya dan langsung ditendang dengan tanpa hati. “Aku tak suka tikus yang menggerogoti barangku. Enyah dari hadapanku.”

Pintu ruangan tersebut dibuka oleh salah satu pengawalnya. Dengan kedua tangan di dalam saku, langkah tegapnya menyusuri lorong pendek dan berbelok melintasi ruangan luas dengan meja-meja yang berjajar rapi. Para karyawan menghentikan setiap kegiatannya dan berdiri untuk memberinya hormat. Tapi pandangannya hanya terarah pada satu meja yang ada di sudut terjauh. Tempat karyawan kontrak duduk. Tempat Rhea berdiri dan menundukkan wajah padanya.

“Ada apa, Tuan?” Jack mendekat untuk bertanya ketika langkah Dario tiba-tiba terhenti meski pintu lift sudah terbuka.

“Bawa dia ke atas.”

Jack mengangguk patuh.

***

“Hufft, tuan Carlos menendangnya saat nyonya Kaniz bersujud di kakinya,” bisik Genna pada Rhea.

Rhea masih tak menanggapi, meski wanita itu menceritakan tuan Dastin yang dihajar hingga babak belur. Kekejaman Dario memang bukan sekadar kabar burung. Ia pernah mendengar dan melihat yang lebih parah lagi.

“Ada banyak direksi yang dipecat, dan kudengar akan ada penggantinya yang berasal dari kantor pusat. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan perusahaan.”

Rhea tahu ada masalah internal di perusahaan ini yang membuat Dario mengakuisisinya. Tetapi ia tak tertarik atau berniat mencari tahu lebih dalam. Korupsi yang dilakukan para dewan dan bawahannya mungkin hanyalah satu masalah yang cukup serius. Bahkan sebagai karyawan, kesejahteraannya sama sekali tak terjamin. Satu-satunya alasan melamar di perusahaan ini adalah karena lokasinya yang cukup dekat dengan rumah sakit. Sehingga lebih muda baginya untuk melihat keadaan Enrio secara berkala.

“Tapi setidaknya perusahaan ini terselamatkan dan gosip tentang PHK massal itu tidak perlu terjadi,” gumam Genna dalam helaan panjangnya. “Tidak sepenuhnya, sih. Hampir semua direksi dipecat,” lanjutnya kemudian dengan kikikan.

Braakkk …

Rhea tersentak ketika dua map dilemparkan tepat di atas berkas yang dibacanya.

“Tuan Carlos ingin kau membawanya ke ruangannya.”

Rhea tersedak ludahnya sendiri. “A-aku?”

Mata Shalen menyipit curiga. “Aku sudah bilang untuk tidak menampakkan wajahmu di hadapan tuan Carlos, kan?”

“D-dan kenapa sekarang kau menyuruhku membawa ini padanya … maksudku pada beliau?”

Shalen mendesah kasar. “Henri bilang kau menabraknya di lorong.”

“A-aku …”

“Mungkin tuan Carlos sedang mencari alasan bagus untuk memecatmu.” Shalen mendengus antara kesal dan kecewa. “Ck, sejujurnya aku menyukai pekerjaanmu. Tapi aku bisa apa kalau atasan ingin kau dipecat.”

Rhea menelan ludahnya dan menatap dua map tersebut. Ragu untuk mengambilnya atau tidak. Apakah hanya karena ia menabrak pria itu dan sekarang ingin menghukumnya lagi. Sejujurnya dua map ini hanyalah alasan konyol untuk menyuruhnya ke atas. Ia hanya karyawan biasa.

“Cepat, Rhea. Sebelum tuan Carlos marah. Kau membutuhkan pekerjaan ini, kan?” Genna mengambil map tersebut dan menariknya berdiri.

“Tetap di tempatmu, Genna,” delik Shalen sebelum Genna menyeret Rhea menuju lift. “Dan aku tak ingin laporan ini terlambat diletakkan di mejaku.”

Rhea pun melanjutkan langkahnya setelah peringatan Shalen. Lebih karena tak ingin membuat masalah dengan Shalen.

“Sebelah sini.” Seorang pria menghalanginya yang hendak masuk ke dalam lift karyawan. Rhea mengenali pria itu sebagai salah satu anak buah Dario. Mengarahkannya ke lift khusus yang ada di sebelah kanan mereka. “Dan berikan itu padaku.” Tangannya terulur pada map yang dipegang Rhea.

Rhea menurut, sudah menduga bahwa itu hanyalah alasan. Sampai di lantai teratas, wanita itu mendengar suara benda pecah dari ujung ruangan. Ruangan satu lantai ini dikhususkan sebagai ruang kerja yang dihubungkan dengan ruang pribadi untuk sang pemimpin. Lukisan berjajar di sepanjang lorong luas. Sampai pada empat meja yang berjajar dengan dinding kaca di belakangnya.

Tangan Rhea terulur kembali saat pintu lift hendak bergerak menutup karena tak ada pergerakan apa pun. Melangkah keluar dan berjalan mendekati salah meja yang terdekat. Menatap pria dengan kerutan di kening dari balik meja. Tentu saja merasa heran dengan keberadaannya. Tetapi keheranan tersebut dipecahkan oleh suara bantingan dari dalam ruangan yang tertutup rapat di samping mereka.

Rhea menoleh sambil menelan ludahnya. Melirik pada keempat asisten pribadi Dario yang tampak sudah terbiasa mendengarkan suara-suara aneh tersebut.

“Nama?”

Rhea menoleh, menatap pria tersebut. “A-aku …”

Salah satu pintu ganda tersebut terbuka, dua orang pengawal Dario menyeret seorang pria bersetelan biru muda yang tak sadarkan diri. Hidung dan bibirnya berdarah, matanya tampak lebam dan setelannya berantakan.

“Masuklah.” Pengawal yang lainnya tetap mempertahankan pintu tetap terbuka dan menutupnya begitu Rhea melangkah masuk.

Pandangan Rhea langsung terpaku pada meja kaca dan guci yang sudah berhamburan di lantai di sebelah kirinya.

“Kau sudah datang?”

Rhea memutar kepalanya, menemukan Dario yang menuangkan cairan keemasan dari botol ke dalam gelas kecil di meja. Pria itu tak lagi mengenakan dasi, tiga kancing teratas kemejanya terbuka dan lengannya digulung hingga ke siku. Pandangannya bergerak ke bawah dan ujung kemejanya keluar dari pinggang.

“Kau mau?”

Rhea segera menggeleng. “Aku tak biasa minum.”

Dario mendengus. Meneguk habis gelas miliknya dan kembali memenuhinya saat berjalan mendekati wanita itu.

Jejak darah di setiap langkah Dario membuat Rhea menahan napas. “Kau menginjak kaca,” ucapnya setengah memekik.

“Aku tak bertanya.” Dario mendekatkan gelas tersebut di bibir Rhea.

“Aku harus bekerja, Dario.”

“Aku juga.”

“Posisi kita tidak sama.”

Kali ini Dario tertawa dengan kalimat tersebut. Meneguk habis cairan di tangannya dan melempar gelasnya ke lantai. “Kau benar,” ucapnya lalu bergerak menutup jarak di antara tubuh mereka. Lengannya mengambil pinggang Rhea dan bibirnya menangkap ciuman yang panjang.

Rhea terkesiap, menatap mata Dario yang sudah terpejam dan napas pria itu yang mulai memberat. Tubuhnya didorong ke sofa panjang yang empuk, pakaiannya dilucuti dan tak ada penolakan yang mampu ditunjukkan oleh wanita itu. Dario menyuruhnya ke ruangan ini hanya untuk menjadikan tubuhnya pelampiasan nafsu pria itu.

***

Rhea mengendus pakaiannya dan merasa putus asa dengan aroma Dario yang kembali menempel di bajunya. Entah apa yang diharapkannya dengan memenuhi panggilan pria itu, bahkan di tengah jam kerjanya.

Ia mengibas-ngibaskan kain tersebut ke udara, berharap mampu menghilangkan aroma musk yang menempel di sana. Merasa sia-sia, Rhea tak punya pilihan selain mengenakannya kembali. Toh ia sudah membersihkan tubuhnya. Berharap aroma sabun yang dipakainya bisa menyamarkan aroma keringat Dario. Dan pilihan tersulit berada di rambutnya. Wangi samponya lagi-lagi sudah digantikan aroma pria itu, menyanggul rambutnya hanya akan membuat lehernya terekspos bebas.

“Aku tak suka rambutmu ditali.”

Rhea tersentak, nyaris menjatuhkan baju yang hanya menempel di dadanya. Tangannya pun bergerak melepaskan kunciran di rambutnya. Memiringkan tubuhnya saat mengenakan pakaiannya dengan cepat.

Dario bersandar di meja wastafel, menghentikan jemari Rhea yang tengah mengancingkan baju di bagian depan.

Napas Rhea tertahan ketika kedua tangan Dario bergerak melanjutkan pekerjaannya. Berhenti di dua kancing teratas lalu menariknya. Mengintip belahan dada Rhea yang tampak di dalam sana. Pemandangan yang sempat mengusiknya di bawah beberapa saat yang lalu. “Kau tidak mengancing bajumu dengan benar.”

Rhea mengikuti arah pandangan Dario dan wajahnya seketika memerah.

“Atau kau memang suka memamerkannya?”

Tubuh Rhea bergerak mundur, menautkan kancingnya dan menyisakan satu yang paling atas. Lalu mengambil syal di meja dan melilitkannya di leher. “Aku harus kembali ke bawah.”

“Nanti malam aku ada urusan, aku tidak bisa ke apartemenmu.”

Rhea mengangguk pelan dan dalam hati merasa lega. Setidaknya malam ini dirinya tak perlu diganggu oleh Dario. Tapi kelegaan itu hanya bertahan sedetik.

“Jadi tunggu aku di apartemenku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Extra Part 4

    Dario mendengus tipis dan memalingkan mukanya. “Kau sama sekali tak menarik untuk mendapatkan perhatianku, Angela.” “Kau akan memberikannya padaku, kan? Atau setidaknya meminjamkannya untukku?” tanya Angela pada Rhea. Kemudian suaranya berubah penuh permohonan dan kedua tangan di depan dada. “Aku berjanji akan bersikap lebih baik pada mantanmu dan ini terakhir kalinya aku membeli tas itu.” “Jangan coba-coba kau, Rhea,” hardik Dario. “Itu hadiah dariku? Suamimu. Dia bukan siapa-siapamu.” Rhea menatap Dario dan Angela bergantian. “Aku tak mungkin menggunakan semuanya, Dario. Warna dan modelnya sama.” “Apa?!” Angela melompat berdiri. Matanya membeliak tak percaya saat menatap Dario dan Rhea? “Tiga-tiganya kau yang membelinya?! Dan itu hanya ada tiga di muka bumi ini.” Rhea hanya meringis malu. Ini bukan pertama kalinya Dario memberinya hadiah yang diincar oleh Angela. Tapi ia merasa curiga saat minggu lalu Dario

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Extra Part 3

    Beberapa bulan kemudian … Begitu mobil berhenti, Dario lekas turun untuk membuka pintu penumpang. Menggunakan tangannya untuk dijadikan pegangan Rhea yang dengan hati-hati bergerak turun. “Sepertinya acaranya sudah dimulai.” Dario hanya membalas dengan gumaman kecil, pandangannya sibuk mengawasi kaki Rhea yang melangkah di sampingnya. Memastikan gaun panjang yang dikenakan wanita itu tidak membuat jalan wanita itu terganggu. “Kau tak mendengarku?” “Aku sudah bilang, seharusnya kau mengenakan gaun yang satunya lagi. Kita kembali ke mobil, tadi aku meminta pelayan meletakkannya di mobil untuk berjaga-jaga.” “Aku baik-baik saja, Dario.” “Bagaimana kalau gaunmu tersangkut di tengah-tengah kau melangkah, hah? Lalu kau jatuh dengan perut sebesar ini,” gerutu Dario. “Ini salahnya, menggelar pernikahan saat kau sedang hamil.” Rhea hanya menghela napas rendahnya. Tanganny

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Extra Part 2

    “Sepuluh minggu tiga hari.” Dokter menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Angela. Yang masih tengah menggerak-gerakkan alat di kulit perutnya. Mendengarkan penjelasan dokter tentang berat, ukuran, dan bentuknya yang mulai sempurna. Juga gejala-gejala kehamilan yang mulai dirasakannya. Yang paling melegakan, kandungannya tumbuh dengan baik.“Setelah anak ini lahir, aku akan mempertimbangkan untuk bercerai denganmu. Dan kita akan membicarakan tentang kesepakatan apa pun …”“Apa maksudmu?” Langkah Enrio seketika terhenti, tubuhnya berputar menghadap wanita itu untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya adalah memang kata-kata yang baru saja diucapkan oleh wanita itu.“Aku hanya tak ingin keluargaku memanfaatkanmu lebih banyak lagi setelah perbuatan Paul pada anak Dario. Kali ini kesepakatan …”“Berhentilah bicara atau kau akan membuat anakku tertekan,” penggal Enrio dengan suara penuh penekanan.“A-apa?”“Bercerai

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Extra Part 1

    “Semuanya?”Eric mengangguk dengan mantap. “Ya, Tuan. Semuanya.”“Dan dia yang melakukannya?”“Ya, Tuan.”“Kenapa kau tidak bisa mempercayai kebaikan orang, Dario?” sela Rhea dengan nada gusar. “Orang, bukan Enrio,” koreksi Dario penuh penekanan. Lalu melemparkan tatapan tajam dan penuh curiganya pada Rhea. “Baru beberapa saat yang lalu kau mengatakan agar aku tak meninggalkanmu dan sekarang kau terdengar membelanya, Rhea. Apa yang dikatakannya padamu?”“Hanya beberapa hal.”“Dan apakah itu?”Rhea beralih pada Eric, yang kemudian berpamit keluar setelah mendapatkan tatapan tajamnya. “Aku tahu kau tak akan mempercayainya, jadi aku tak berminat mengatakannya padamu.”“Dan kau lebih mempercayai dia dibandingkan suamimu sendiri?”“Saat membicarakan soal kepercayaan, kau tahu aku lebih mempercayai Enrio, Dario. Kami saling mengenal sudah hampir sepuluh tahun, berkencan selama lima tahun s

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 68 Jangan Tinggalkan Aku (END)

    Ruangan tersebut begitu sunyi ketika Seth melangkah masuk. Ia menutup pintu dengan perlahan. Memastikan tak memecah kesunyian yang begitu pekat. Begitu melewati sekat kaca yang memisahkan ruang untuk pengunjung dan ruang perawatan, pandangannya langsung mengarah pada ranjang pasien yang di samping dinding kaca. Di sampingnya, Rhea duduk dengan kepala berbaring di tepi ranjang.Pamannya masih tampak begitu tenang dengan mata terpejam. Luka goresan kaca mobil yang mengenai wajah sempurna sang paman sudah mengering. Operasi tiga hari yang lalu juga berjalan dengan lancar meski sang paman sempat mengalami pendarahan yang begitu hebat. Kondisi vitalnya juga normal. Tetapi entah kenapa paman berengseknya itu tak juga membuka mata. Membuat Rhea lebih menderita lagi, yang tak bisa diterimanya.“Bangun, Rhea,” bisik Seth sambil menyentuh pundak wanita itu dengan lembut.“Kau sudah datang lagi?” Rhea mengucek matanya dan menatap wajah Seth yang tampak sega

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 67 Akhir Keangkuhan Sang Mertua

    Suara tamparan tersebut bergema di seluruh ruangan. Menciptakan keheningan yang begitu menegangkan. Saat kepala Angela terdongak dengan pipi kanannya yang memerah, air mata menggenang di kedua mata.“Siapa yang menyuruhmu untuk bersikap lancang seperti ini, hah?” Mata Renata terlihat memerah, nyaris seperti darah. “Kau hanya perlu menjadi menantu yang patuh. Itu satu-satunya cara kau bisa bertahan sebagai istrinya. Saat Dario mati, kau tahu siapa yang akan menjadi penguasa Carlos Group, kan? Aku hanya perlu menjentikan jari untuk menghancurkan keluargamu.”“Kenapa kau masih tak menyadari posisimu, hah? Kau hanyalah pengganti. Kau hanyalah batu loncatan bagi putraku yang sangat berharga untuk sampai di puncak kejayaannya.” Renata menjambak rambut Angela hingga kepala wanita itu terdongak ke atas. “Hanya Rhea satu-satunya wanita yang akan membuat Enrio bahagia.”Air mata Angela mengalir lebih deras, meskipun begitu tak ada suara isakan yang keluar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status