Home / Romansa / Adakah Jalan Untuk Kembali / 50. Bukan Tandingan 1

Share

50. Bukan Tandingan 1

last update Last Updated: 2025-12-30 21:28:14

NADIA

- 24 Bukan Tandingan

Bagaimana, Davin? Apa harus maju melawan Dewa? Meski duda dia paket komplit sebagai seorang pria. Tidak pernah terlibat skandal apapun, termasuk urusan wanita.

Davin menghela napas panjang. Mau membuat alasan apa kalau sampai dia menemui Dewa. Bisa-bisa CTO Graha Utama itu malah tahu cerita tentang dirinya, Nadia, dan Selina. Apa ini tidak memalukan?

Nadia tidak mungkin diam kalau diusik. Sidang terakhir di pengadilan waktu itu memberinya pengalaman. Nadia yang awalnya manut, akhirnya membongkar semua aibnya karena Davin yang mencari gara-gara.

Dia tidak ingin semua ini terulang lagi. Jalan satu-satunya tetap membiarkan Nadia bekerja di sana. Meski sebenarnya ia tidak rela. Davin tahu pasti apa statusnya Dewa yang single. Atau, ia bisa mencari cara lain. Supaya Nadia bisa diberhentikan secara alami.

Davin tahu bagaimana karakter CTO itu. Dia tegas, tidak suka basa-basi, terlebih kompromi nakal tentang bisnis tidak akan mulus jika ditangannya. Kakaknya ju
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Erni Apriani
kasihan deh lo berdua.
goodnovel comment avatar
Adfazha
Pliz mba Lis jgn biarin selina hml anak Davin gk rela dunia akhirat aq heheee Dewa tuh Duren sawit yg klo sm Nadia JaMu kuat bkn tandingan si Davin " Ayam Bakar" wkwkkkkk jgn bgg ya mb Lis
goodnovel comment avatar
Magda
nyesel ya....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   103. Dia Harus Tahu 3

    Dewa menatap tajam sepupu di hadapannya. "Lupakan saja niatmu itu.""Kenapa? Karena Nadia punya kekasih dan aku pun sama?""Karena dia milikku," jawab Dewa dengan suara tegas dan dingin. Dia tidak peduli kalau harus 'gelud' dengan sepupunya di tempat itu.Arif terkejut. Sejenak keheningan itu terasa menegangkan. Mata saling mengintimidasi dan embusan napas terasa kasar. "Mas, serius?""Ya."Akhirnya Arif menghela napas panjang. "Oke. Aku nggak berani bersaing kalau denganmu, Bos. Mungkin aku memang harus tetap bersama Lita."Dewa sebenarnya heran dengan sikap Arif. Biasanya dia tidak akan semudah itu menyerah. Tapi tatapan matanya tak menunjukkan perlawanan."Oke. Aku kembali ke kantor dulu." Arif bangkit dari duduknya. Lalu meninggalkan Dewa.Pria itu mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Nadia. Namun belum sempat mengetik, ada pesan masuk dari nomer asing.[Assalamu'alaikum. Ini Bu Isti, Mas Dewa. Bisakah Ibu bertemu denganmu dan mamamu sebelum acara lamaran.]Membaca pesan it

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   102. Dia Harus Tahu 2

    Nadia menceritakan pembicaraannya dengan Dewa tadi. Membuat ibu dan buleknya pun terharu. Setelah Nadia tidak dihargai oleh Davin, sekarang mendapatkan perhatian yang luar biasa dari sosok pria yang jauh lebih baik."Nanti kita bikin persiapan untuk lamaran, Na. Ngasih tahu Pak Kyai saja, ya. Nggak usah ngundang siapa-siapa. Biar nggak bikin heboh.""Iya, Bu. Kalau gitu, aku ke kamar dulu, ya.""Jangan lupa sholat isya dulu.""Ya."Nadia masuk kamar ibunya sejenak untuk melihat putranya. Menciumi pipinya Adam, baru masuk ke kamarnya sendiri. Sedangkan Bu Isti mengajak adiknya duduk di teras depan untuk membahas persiapan menyambut tamu nanti."Mbak, apa kali ini Nadia tetap nggak dikasih tahu tentang ayahnya?" tanya Bulek Sari lirih.Bu Isti menarik napas panjang. Tatapannya jauh ke langit malam. "Sampai kapan Mbak merahasiakan kenyataan itu. Apakah selamanya Nadia nggak akan Mbak kasih tahu?"Bu Isti diam. Sebenarnya hal ini menjadi beban dalam hatinya. Namun jika ingat betapa sakit

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   101. Dia Harus Tahu 1

    NADIA - 41 Dia Harus TahuNadia semakin berdebar dan sejenak ketegangan tercipta. Ia mengaduk minumannya lalu menyesap untuk melonggarkan tenggorokan.Beberapa saat kemudian mulai terlihat santai. "Lebih aman pacaran setelah menikah. Tujuan saya ke kamu, memang untuk menikah. Kita membina hidup baru dan melupakan masa lalu.""Ya." Nadia mengangguk pelan. "Tapi jangan karena kasihan sama saya, terus Pak Dewa mendekati saya.""Kalau hanya karena kasihan, saya tidak akan mengorbankan diri dengan menikahimu. Kita niatkan pernikahan ini untuk ibadah, hidup bersama saling melengkapi dan mengingatkan. Itu saja. Jangan ada pikiran yang lain. Kalau hanya sekedar kasihan, cukup saya ngasih pekerjaan ke kamu atau saya bisa ngasih uang, misalnya."Mendengar kalimat Dewa, Nadia merasa speechless. Keheningan kembali menjadi jeda. Mereka memandang cahaya lampu yang memantul di permukaan sungai. Lampu-lampu kuning temaram yang menggantung rendah di teras kafe, memantulkan kehangatan di balik udara

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   100. Sebuah Jawaban 3

    Nadia duduk di balik mejanya, menunduk serius pada tumpukan berkas yang harus segera ia selesaikan sebelum bos rapat siang ini. Jemarinya bergerak cekatan, matanya menelusuri angka-angka di layar komputer.Namun semuanya goyah, saat tanpa sengaja ia mengangkat wajah untuk meraih map di sisi meja, pandangannya bertabrakan dengan sosok yang baru keluar dari lift. Dewa. Jas gelapnya rapi, langkahnya tenang, wibawanya terasa bahkan dari jarak beberapa meter. Mata mereka bertaut sepersekian detik. Sangat singkat, tapi cukup untuk membuat dada Nadia berdegup tak karuan. Ia buru-buru menunduk kembali.Dewa melangkah masuk ke ruangannya dan pintu kaca tertutup perlahan. Nadia memejamkan mata sejenak, lalu memaksa diri kembali fokus. Angka-angka di layar mendadak tampak kabur dan tangannya terasa dingin."Fokus, Na. Fokus."Tiga puluh menit berlalu dengan cepat."Na," suara Mbak Ayi menyapa pelan sambil meletakkan map di mejanya. "Bisa mintakan tanda tangan Pak Dewa sebelum beliau keluar meeti

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   99. Sebuah Jawaban 2

    Sepertinya Adam tidak rela berpisah. Makanya belum menjawab. Hanya memandangi wajah Dewa. Lalu Dewa tersenyum dan mencium pipinya. "Lain hari Om akan ngajak Adam jalan-jalan lagi."Baru Adam mengangguk."Ayo, Adam sama Mama. Om Dewa mau pulang." Nadia mengambil anaknya dari gendongan Dewa. Saat berpindah tangan, bocah itu masih memandangi pria berkaus hitam. Dewa tersenyum lalu melambaikan tangan.Nadia mengantar hingga ke teras. Sampai pria itu selesai mengenakan sneaker-nya. "Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam." Bu Isti dan adiknya yang berdiri di ambang pintu juga menjawab salam. Dewa melangkah cepat ke mobilnya. Saat itu hujan sudah mereda. Setelah mobil Dewa pergi, Nadia dan Adam kembali masuk. Mereka duduk berempat di ruang tamu. Bu Isti menanyakan tentang Dewa dengan serius. Nadia cerita apa adanya. Termasuk kedekatan Adam dengan Dewa."Bulek baru sekali bertemu. Tapi menurut Bulek, dia pria yang baik, Na." Bulek Sari mengutarakan penilaiannya. Dan mereka berbincang satu ja

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   98. Sebuah Jawaban 1

    NADIA- 40 Sebuah Jawaban Jujur meski kaget, ada bahagia yang mekar di dada Nadia. Perempuan mana yang tidak senang melihat effort luar biasa dari pria seperti Dewa. Bukankah ini keberuntungannya. Ia tahu sendiri bagaimana kaum wanita di seminar hari itu sangat mengaguminya. Belum lagi staf-staf di kantor yang diam-diam mengidolakan bosnya.Sementara Bu Isti terhenyak dengan sikap Dewa. Beberapa saat ia terdiam. Bagaimana tidak terkejut, putrinya yang baru saja bercerai, tiba-tiba hendak dinikahi pria yang notabene bosnya sendiri. Dewa tidak bilang ingin melamar, tapi langsung bilang menikah."Saya duda, Bu. Bercerai sudah delapan tahun yang lalu. Sekarang saya tidak memiliki hubungan dengan wanita mana pun." Dewa tidak menutupi kisah hidupnya. Ia menceritakan bagaimana akhirnya bercerai dengan istri yang sudah mengkhianatinya.Dan Dewa tetap menutup cerita tentang Naima. Dia tidak perlu menceritakan hal itu. Antara dirinya dan Naima tidak terlibat hubungan apapun. Bahkan disaat dia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status