MasukNamun kenapa setelah mereka sah bersama, justru tidak merasakan lagi keindahan bersama Selina. Yang ada hanya perih mengenang mantan istrinya.Dada Davin mengencang. Dulu ia tidak pernah benar-benar memikirkan itu. Ia terlalu sibuk mengejar perasaan yang menurutnya layak diperjuangkan. Terlalu sibuk membenarkan keputusannya sendiri. Dan sekarang saat semua telah terjadi, ia baru sadar betapa kejamnya pada Nadia."Ayo, kita pulang!" ajak Bu Terry setelah acara selesai.Rombongan mereka akhirnya meninggalkan Kayutangen Heritage. Suara bising perlahan menjauh, digantikan keheningan jalanan. Di dalam mobil Selina tampak ceria, membicarakan rencana tahun baru termasuk program punya anak. Davin hanya menjawab seperlunya. Saat itu mereka duduk di bangku belakang dan Arda yang mengemudi.Sampai di villa, Selina langsung menuju kamar, menatap Davin dengan senyum yang menggoda."Malam ini spesial," katanya sambil melangkah mendekat. Tangannya menyentuh dada Davin, jarinya bergerak pelan. "Kita
Kembang api berikutnya membentuk lingkaran besar, lalu pecah menjadi puluhan titik kecil yang berkelap-kelip. Ada yang meletup cepat, ada yang menggantung lebih lama di udara sebelum menghilang. Setiap letupan menandai detik-detik terakhir tahun yang akan berlalu. Dan sorak sorai menggema malam itu.Nadia mengambil ponsel di saku untuk mengucapkan terima kasih dan selamat tahun baru. Namun saat bersamaan ada pesan masuk.[Happy new year, Nadia. May this moment be the beginning of your success.][Thank's, Pak Dewa. Selamat tahun baru juga. Semoga tambah sukses lagi dan lagi. Diberikan panjang umur, kesehatan, dan kebahagiaan.][Aamiin.]Mbak Ayi menurunkan ponselnya. Kemudian melakukan video call dengan suami dan anak perempuannya yang merayakan tahun baru di Surabaya North Quay. Di Pelabuhan Tanjung Perak dengan latar belakang laut dan kapal-kapal besar. Itulah alasannya kenapa si sulung tidak mau diajak ke Malang. Akhirnya sang suami yang mengalah untuk menemani.Nadia kembali menget
NADIA- 36 Perempuan Istimewa "Apa ini, Mbak?" Nadia menerima kotak cantik berbentuk persegi dengan lapisan kain beludru warna biru tua yang diulurkan Mbak Ayi."Cincin untuk melamarmu mungkin," jawab Mbak Ayi sambil tersenyum. Membuat Nadia kian berdebar. Kemudian segera membuka kotak. Dan ternyata berisi bros dari emas putih."Wow!" Mbak Ayi terbeliak melihat benda itu. "Istimewa ini, Na. Beneran. Victorian filigree brooch. Tentu harganya nggak main-main."Nadia terdiam. Dia tidak seberapa mengerti tentang benda seperti ini. Tapi jujur, bros itu terlihat berkilau dengan permata blue safir di tengahnya. Indah dan elegan. Pasti ini bukan bros biasa dan tentu harganya tidak murah."Kamu tahu ini apa, Na?"Nadia memandang Mbak Ayi."Ini bros dengan model antik era Victoria. Bros vintage geometric. Pembuatannya dilakukan dengan tangan dan diproduksi dalam jumlah terbatas. Permatanya blue safir. Memang ini bukan barang aslinya dari zaman itu. Karena kalau barang antik, hanya kolektor yan
"Kamu memang sedang terluka. Tapi Pak Dewa sudah bertahun-tahun selesai dengan masa lalunya. Jadi nggak ada yang perlu kamu khawatirkan."Nadia terdiam. Dalam sekali ucapan Mbak Ayi. Jujur ia merasakan kalau Dewa itu sangat tulus. Cara dia memperlakukan Adam tidak dibuat-buat. Mengalir alami begitu saja. Bahkan Davin saja tidak seperti itu pada anaknya. Dan Dewa juga pernah merasakan sebuah pengkhianatan yang kejam. Nadia menghela napas panjang. "Tante, Adam ngantuk," ucapan Zaki memecah keheningan sesaat."Oh iya, Kak." Nadia menoleh pada anaknya. Adam sudah memejam. Ia bangkit untuk menyelimuti kakinya. "Adam sudah minum obat?" tanya Mbak Ayi."Sudah tadi, Mbak." "Pantesan ngantuk. Hawa di sini juga ngedukung sekali buat molor sepanjang hari."Di luar sana masih terdengar keseruan para karyawan dalam permainan. Bos memberikan hadiah tidak tanggung-tanggung, membuat semangat semakin menyala."Na, saran dari Mbak. Kalau memang Pak Dewa serius, jangan ditolak. Beneran ini. Kamu ngg
Bu Hana terdiam sejenak, lalu menatap putranya dengan sorot yang sulit ditebak. Sedangkan pandangan Dewa mengarah ke lapangan, tapi pikirannya jelas tidak berada di sana. Sang mama mencondongkan tubuh. "Kamu beneran serius sama dia?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa basa-basi. Dewa menoleh dan ia tidak mengelak. "Serius," jawabnya mantap.Wanita itu tersenyum lebar. Sudah lama sekali ia ingin mendengarkan putranya bicara seperti ini. Semenjak dikhianati istrinya, Dewa benar-benar menutup diri. Bahkan pergi menepi dan itu tidak sebentar "Dekati saja jangan buang waktu," ucap Bu Hana. "Mama mendukungmu. Mama pengin kamu segera menikah. Hidup jangan cuma untuk kerja terus.""Mama beneran tidak keberatan. Dia janda anak satu, Ma.""Nggak. Mama juga serius, De. Jadi kenapa harus keberatan? Dia dari keluarga baik-baik. Mama sudah tahu itu."Dewa memandang ke arah sang mama. "Mama, menyelidikinya?"Bu Hana tersenyum. Mamanya dalam urusan ini tidak berubah. Pasti telah menyuruh ora
NADIA- 35 Buket Bunga Selina melangkah turun dari tangga dengan langkah kesal. Menghampiri sofa ruang tamu lantai bawah, tempat Bu Terry duduk bersama Pak Haris dan Arda.Ia kaget karena adiknya sudah duduk di sana. "Kok kamu sudah nyusul ke sini. Nggak jadi hiking?" "Adikmu barusan nyampe. Belum lima belas menitan duduk." Bu Terry yang menjawab."Ada dua temanku yang batal ikut karena ada keperluan mendadak, Mbak. Jadi kami batalin rencana."Hening sejenak. Semua mata tertuju pada layar televisi. Hingga Bu Terry bertanya sambil memandang tangga. "Mana Davin?""Lagi tidur, Ma. Padahal kita sedang berlibur. Dia malah tidur." Selina menggerutu."Biarin dulu istirahat. Mungkin capek nyetir. Nanti malam baru kita keluar nyambut pergantian tahun. Makan-makan di luar."Selina menghela napas panjang. Kesalnya bukan karena Davin tidur, tapi suaminya itu pasti sedang galau telah melihat mantan istrinya bersama pria lain."Tadi aku melihat Nadia bersama seorang laki-laki sewaktu kita keluar







