INICIAR SESIÓN“Bagaimana kondisi kantor, Angga?” tanya bunda saat sarapan.
“Sudah ditangani, bunda," jawab Angga lanjut menjelaskan. Tim investigasi sudah dibentuk. Hendra bergerak cepat. Semalam rapat dadakan dilakukan di lobi kantor setelah pemadam berhasil menjinakkan api. Tiga puluh persen lokasi yang terbakar diberi garis polisi, relokasi dilakukan untuk mempermudah penyelidikan dari pihak kepolisian dan asuransi. Angga meminta Tyo langsung membuat desain relokasi agar semua cepat ditangani. Melihat beberapa ruang yang dapat digunakan serta melakukan perhitungan kebutuhannya. Kekhawatiran di wajah bunda sirna dengan penjelasannya. Alisha hanya ikut mendengarkan. “Sha, jika nanti sudah siap ikut ke kantor ya. Mulai belajar sedikit-sedikit. Nanti juga bisa ke kantor Tyo kalau mau belajar desain,” ucap Angga sedikit memerintah. Angga meihat Alisha mengangguk setuju. Bagaimanapun Alisha harus membantunya. Kemarin Tyo memberitahu jika Alisha sudah bisa ikut terjun langsung. Hanya menunggu kesempatan dan kontrak yang sesuai maka dia bisa berkembang. Selesai sarapan Angga langsung berangkat ke kantor. Dia ingin memastikan jika kejadian semalam tidak mempengaruhi mobilitas pekerjaan yang sedang digarap beberapa divisi kantornya. Setelah sampai di ruangan kantornya, Angga langsung memanggil Hendra dan memintanya membawa laporan terbaru. Hendra datang membawa beberapa berkas dan diberikannya. Angga membaca sambil mendengarkan laporan Hendra. “Semua barang yang masih bisa digunakan siang nanti baru bisa dipindahkan. Sementara karyawan pada lokasi yang terbakar kini menempati sebagian lobi dan ruang rapat utama,” ucap Hendra saat melaporkan kondisi terakhir. Laporan Hendra mengenai kondisi karyawannya melegakan Angga. Bagaimanapun dia adalah CEO yang memiliki tanggung jawab penuh pada karyawannya. Mereka menggantungkan kehidupan keluarganya pada perusahaan. “Adakah berkas penting yang terbakar?” tanya Angga kemudian. “Masih didata, Pak. Proyek baru dengan Persada Agung Grup baru tahap persiapan. Sebagian besar berkas kemungkinan di sana Pak.” “Persada Agung Grup? Pusat perbelanjaan di Bandung yang akan diakuisisi oleh Pak Fariz?” tanya Angga beruntun. “Benar Pak.” Mereka mengajukan kerja sama untuk penanaman modal dengan mengakuisisi sebuah pusat perbelanjaan yang mulai sepi. Lokasinya strategis, namun pengelolaan yang kurang tepat menyebabkan pemilik gedung akan menjualnya. “Hubungi Pak Fariz minta kirimkan kontrak kerja sama terbaru, sampaikan maaf atas kejadian ini," perintah Angga pada Hendra yang dijawab dengan anggukan kepalanya. Setelah Hendra kembali ke mejanya menyelesaikan pekerjaan yang diminta. Ucapan paman kembali datang menghampiri pikirannya. Sepetinya Angga harus mencari rahu sendiri kisah yang sebenarnya. Ucapan Paman Hasan kembali terngiang. Angga akan menyelidik kebakaran ini. Apakah ada hubungannya dengan rahasia yang disampaikan paman Hasan kemarin? Sambil menunggu penyelidikan, Angga berencana melakukan cek DNA untuk membuktikan kebenarannya. Walaupun tanpa tes pun sudah dipastikan jika Alisha memang bukan adik kandungnya. Paman Hasab sudah sangat meyakinkannya jika Alisha memang bukan adik kandungnya, apakah akan menjadi adik angkatku? *** -Sha, ini jadwal sidang. Pekan depan dimulai dan kita bareng- Pesan dari Dania, sahabatnya membuat Alisha terpaku. Pekan depan. Apakah sulit? Batinnya. “Sha, selesaikan dahulu sarapannya.” Bunda menegur saat Alisha membaca pesan dari Dania. Diletakkan kembali ponselnya di samping piring, melanjutkan sarapan, namun pikirannya sudah tak fokus lagi. Saat Mas Angga memintanya mulai belajar di kantor hanya dijawab dengan anggukan saja. Pikirannya menerawang membayangkan sidang skripsi yang akan dihadapinya. Sepertinya memang harus kembali menemui Mas Tyo. Belajar untuk sidang dan belajar menjalankan perusahaan seperti yang diminta Mas Angga. Agak ragu untuk kembali berdekatan dengan Mas Tyo. Tatapan mata mas Tyo membuat debaran aneh di dadanya. Mas Tyo juga terlalu baik, sabar mengajari atau menjelaskan saat dia tak mengerti. Setelah dua bulan kemarin membantu menyelesaikan skripsi, pasti saat ini sedang sibuk. Sekarang Alisha akan mengganggunya lagi. Apakah masih punya waktu untuknya? Alisha akan meminta Mas Angga yang menanyakannya. Pasti tidak akan menolak. Lagi pula hanya beberapa kali pertemuan saja sebelum sidang. Selesai sarapan, dering ponsel membuatnya tersadar dari lamunan, dilihatnya nama Dania di sana. “Sha, kok tidak dibalas? Bagaimana sudah siap belum?” tanyanya setelah aku menjawab salamnya. “Aku belum siap, kamu bagaimana, Dania?” jawab Alisha yang dengan gugup. “Kita ngobrol sambil makan siang yuk. Di tempat biasa.” Alisha menyetujuinya. Sudah lama tak bertemu Dania. Kangen juga. Alisha mencari bunda yang sedang menyiapkan makan siang. Meminta izin bertemu Dania dan makan siang bersamanya. Bunda mengizinkannya, Alisha tersenyum senang dan memeluk bunda sesaat. Dibantunya bunda menyelesaikan kegiatannya di dapur diselingi perbincangan mengenai sidang yang akan kuhadapi. Bunda selalu memberikan semangat padanya, Alisha pasti bisa melewatinya. Kali ini bunda juga mendoakan agar nanti dimudahkan saat sidang. -Sha, kapan mau ke kantor?- Pesan Mas Angga masuk saat Alisha akan berganti pakaian. Sedikit riasan diberikan pada wajah dengan lipstik warna merah muda. -Besok boleh Mas, sekalian belajar untuk sidang ya. Pekan depan jadwalnya.- Balasnya cepat. Tidak lupa mengingatkan Mas Angga untuk memberitahu Mas Tyo. -Kantor Mas atau Tyo?- -Mas Tyo saja ya. Alisha sudah biasa di sana. Kalau kantor Mas Angga harus ketemu orang baru lagi- -Ok.- -Mas, Alisha mau makan siang dengan Dania di War**** ****ng, kalau Mas dan Mas Tyo mau ikutan boleh sekalian- -Mas kabari nanti ya.- Pesan terakhir dari Mas Angga belum memberikan jawaban yang pasti, namun Alisha takut jika tiba-tiba Mas Angga dan Mas Tyo datang. Agar Dania tidak kaget Alisha berniat memberitahukannya pada Dania. Alisha langsung menghubungi Dania. Dimintanya untuk memesan meja yang agak besar minimal untuk berempat. Saat Dania menanyakan alasannya, Alisha hanya menjawab jika Mas Angga akan menyusul nanti. Setelah membalas pesan-pesan di ponselnya selesai, Alisha melanjutkan merias wajahnya dengan riasan tipis. 'Sudah siap' batinnya. Ditatapnya cermin yang memperlihatkan wajahnya yang tersenyum setelah semua terlihat sesuai. Alisha memutuskan untuk turun. Saat melalui kamar bunda, diketuknya pintu untuk pamit. Tak ada jawaban dari dalam kamar bunda. “Bunda...” “Bunda di bawah Alisha,” ucap bunda saat mendengar dia mencarinya. Alisha menuruni tangga dengan cepat. Saat ini Dania mengabari jika dia sudah dalam perjalanan. Alisha terpaku setelah sampai di ruang tamu, Mas Tyo sudah ada di sana bersama bunda. “Assalamualaikum, Alisha,” ucapnya sambil tersenyum. “Waalaikumsalam...,” jawab Alisha gugup. Bunda hanya tersenyum di sofa. Bunda mengerlingkan matanya saat Alisha mencoba mencari jawaban mengapa Mas Tyo ada di ruang tamu. “Sudah siap?” tanya Mas Tyo. Alisha hanya mengangguk ragu. Apa Mas Angga memintanya untuk menjemput atau... Tyo pamit pada bunda. Alisha berjalan menuju sofa dan mencium tangan bunda. Meminta maaf karena bunda akan makan siang sendiri hari ini. Bunda tersenyum dan berpesan untuk hati-hati. Salam untuk Dania. Mereka keluar pintu menuju teras, dilanjutkan langkahnya menuju pintu mobil silver Mas Tyo. Pintu mobil dibuka oleh Mas Tyo dan memberikan isyarat agar Alisha masuk. Setelah menutup pintu, dengan bergegas Mas Tyo melangkah ke sisi lain, membuka pintu dan duduk di depan kemudi. “Mas, sudah tahu kita mau ke mana?” “Sudah. Angga tadi mengabari, kebetulan baru selesai urusan di dekat sini. Jadi langsung mampir.” “Ooh.” Setelah hilang rasa penasarannya, suasana sepi menyelimuti. Alisha hanya menatap lurus ke depan dan sesekali melihat ke luar melalui jendela. Pasti Mas Angga sudah mengatakan juga jika besok aku akan mulai belajar di kantornya. Tak lama kami sampai di area parkir. Mas Tyo kembali membukakan pintu untuknya. Alisha tersenyum senang. Seorang pelayan menghampiri saat kami masuk. Ditanyakan meja atas nama Dania dan pelayan menunjuk ke lantai dua sebelah kiri. Tak lupa diucapkannya terima kasih dan mereka melangkah menuju tangga. Kuedarkan pandangan ke arah meja di lantai dua sambil menaiki tangga. Saat dilihatnya Dania, dilambaikan tangannya memberi tanda. Dania membalas dan tersenyum. Karena kurang konsentrasi, kakinya menginjak bagian pinggir tangga. Seketika pijakannya terpeleset. Badan Alisha terhuyung ke belakang. Beruntung Mas Tyo sigap menangkap pinggangnya dan menariknya pelan. Wajah Alisha kini berada di depan dada Mas Tyo. Tercium aroma citrus yang selama ini membuatnya terlena. Wajah Alisha terasa panas, sedikit gugup dicobanya berdiri kembali dengan baik. Setelah dirasakan aman, disingkirkan tangan Mas Tyo perlahan dari pinggangnya. Entah, apakah Mas Tyo melihat wajahnya yang merona. Alisha hanya bisa menunduk setelahnya dan tak berani menatap karena debaran di dadanya yang tak karuan. “Terima kasih.” Ucapnya lirih. Mas Tyo hanya mengangguk dan mereka melanjutkan langkah kakinya menuju Dania.Setelah dokter bisa menangani Aristya, Angga memutuskan kembali ke ruang rawat Alisha. Hendra berdiri di depan pintu ruangan bersama John dan Hans. Saat melihat Pak Angga keluar, mereka mengangguk namun tak berbicara. “Hendra, jika ada kabar penting langsung hubungi,” pesan Angga sebelum beranjak menuju ke ruang rawat Alisha. “Baik Pak.” “Bukannya tadi ada Adrian?” tanyanya penasaran sambil melihat sekeliling. Hendra menatap John dan Hans bergantian. Tadi Adrian memang ada di sini. Mereka sempat mengobrol. Adrian datang bersama Dania, namun sepertinya mereka berduua sudah pergi. Angga menghubungi Alisha. Hanya nada sambung terdengar berbunyi, Alisha tidak mengangkatnya. Dicobanya hingga tiga kali, namun hasilnya sama saja. Angga langsung bergegas menuju lorong ruang rawat Alisha. Perasaannya tak enak. Hendra diminta menghubungi Fathir. Jika ada di luar minta segera kembali ke ruang Alisha. John dan Hans mengikuti langkah bosnya. Angga tak ingin kejadian buruk menimpa Alisha.
Saat Alisha membuka matanya, dirasakan tubuhnya terbaring dalam kamar dengan aroma yang sangat dikenalnya. Dinding putihnya selalu bersih. Walau suka dengan warnanya tapi dia tak mau lama-lama di sini. Mas Angga…? Tadi Hendra bilang jika Mas Angga kecelakaan. Sari yang menabraknya. Jadi benar yang dikatakan Adrian jika kotak hadiah itu dari Sari. Nomor yang selalu menerornya mungkin juga Sari. Tapi mengapa? Alisha mencoba bangun dari tidurnya. Alisha harus mencari Mas Angga. Dia harus tahu kondisinya saat ini. Saat badannya mulai digeser untuk duduk, suara pintu dibuka menghentikan gerakkannya. Ditunggunya siapa yang akan masuk dengan terus menatap lurus ke arah pintu. “Mas Angga…!” Angga duduk di kursi roda yang didorong masuk oleh Fathir, menatap Alisha tajam. Kemudian tersenyum saat melihatnya diam. Setelah Alisha sadar siapa yang datang, Alisha ingin beranjak turun memeluknya. “Di sana saja Hanny. Mas tidak mau kamu lelah,” ucapnya sambil memberikan tanda agar Alisha teta
Jadi hadiah itu dari Sari. Tiba-tiba rasa mual kurasakan, Alisha bangun menuju toilet. Dania mengikutiku dari belakang. Adrian hanya duduk diam dalam kebingungan memutuskan untuk menunggu mereka. Alisha didampingi Dania Kembali duduk di hadapan Adrian. Masih banyak yang ingin diketahuinya. Saat ini Alisha sangat ingin tahu di mana Mas Angga. Pesan yang tadi dikirim masih belum dibacanya. dicobanya menghubungi, tapi hanya suara operator yang menjawab. Alisha mencoba menghubungi Hendra, namun sama saja. Saat Alisha panik, dering telepon berbunyi. Mas Angga. Aisha langsung menggeser layar dan berbicara padanya. “Mas di mana? Kenapa sulit dihubungi?” “Maaf Hanny, mas lagi rapat dan susah sinyal. Ini juga hanya sebentar bisa teleponnya. Mas mau mengingatkan jangan lupa makan siang ya.” “Iya mas. Mas Angga juga ya,” ucap Alisha menginggatkannya. “Kalau di kantor, jangan terlalu lelah ya, kasihan dede nanti. Makan siangnya ditemenin Dania saja Hanny,” ucap Mas Angga. Belum sem
Aku menoleh ke arah Mas Angga, mencoba tersenyum dan menatap wajahnya lekat. Aku Kembali mengusap lembut perutku. Aku harus kuat, Arjuna dan aku bisa melewatinya dulu. Kini aku juga harus bisa. “Tidak apa mas, sudah mulai terasa tidak enak perutnya,” jawabku pelan. “Sebentar lagi kita sampai dede, sabar ya.” Aku tersenyum mendengarnya. Mas Angga sangat memperhatikan kami, aku berharap ini bukan sementara. Pikiranku mengenai Aristya masih mengganjal. Apalagi nomor asing yang mengirim pesan dan foto, membuat aku bertanya-tanya siapa dia? Sesampainya di rumah besar, aku langsung masuk ke dalam kamar. Mas Angga menggendong Arjuna ke kamarnya. Oma dan Opa juga akan beristirahat, sebelum Oma menyiapkan makan siang. Suara pintu kamar yang dibuka membuat aku menoleh. Mas Angga sudah melangkah menuju ke arahku yang masih duduk di tepi tempat tidur. “Masih jail dedenya?” tanya Mas Angga padaku. “Tidak papa. Dede aman,” jawabku sambil tersenyum. Mas Angga mendekat dan berhenti di ha
Aku menatap wajah Alisha lekat, rasa bersalah menyelimuti. Aku sepertinya terlalu terburu-buru mengharapkan kehamilannya. Seharusnya aku membahagiakannya dahulu. Aku melangkah mendekatinya dan memeluknya erat. “Tidak apa Hanny, masih banyak waktu. Arjuna pasti mau menunggu,” ucapku pelan di telinganya. “Arjuna mau menunggu, apakah mas juga mau menunggu?” tanyanya pelan. Aku lepas pelukanku, menangkup kedua pipinya dan memintanya menatapku. Mata Alisha berkaca-kaca, aku tak ingin butiran air mata itu turun. Aku tersenyum menguatkannya. “Aku pasti akan menunggu Hanny, tidak perlu khawatir. Sampai nanti Allah memberikan kita kepercayaan untuk menjaga amanah,” ucapku pelan sambil tetap tersenyum. “Mas, ini hasilnya,” suara Alisha terdengar pelan sambil menyodorkan testpack yang tadi kuberikan. Aku mengambilnya dan meneliti bagian yang memiliki garis merah. Kesedihan Alisha sepertinya harus kuhilangkan, aku sudah merencanakan akan mengajaknya bersama Arjuna berlibur nanti. Aku
“Lebih baik diperiksa ke dokter kandungan, biar lebih yakin hasilnya,” ucap Oma sambil menatap pada Alisha. “Oma bilang apa? Aku tidak salah dengar kan?” tanyaku mendengar ucapan Oma pada Alisha. Oma hanya tersenyum. Mengajak Arjuna untuk kembali ke rumah. Arjuna yang masih duduk di samping Alisha mengangguk, meminta papa untuk menjaga bunda dan dia berjanji akan menuruti Oma dan Opa. Aku tersenyum mendengarnya kemudian menurunkan Arjuna setelah mencium pipi Alisha dan membuat janji kelingking agar Arjuna menepati janji. Alisha melambaikan tangannya hingga Arjuna menghilang di balik pintu. Kini hanya ada aku dan Alisha di kamar. “Mas mau keluar sebentar Hanny, berani sendiri atau mau dipanggilkan perawat?” tanyaku sesaat tiba di samping tempat tidur. “Berani mas, tapi jangan lama-lama ya,” jawab Alisha pelan sambil menatap matanya. Sebuah senyum terbit dari sudut bibirku, kemudian melangkah keluar kamar. Setelah aku menutup pintu Alisha merebahkan tubuhnya. Sebenarnya Alisha







