Masuk"Ada urusan lain yang perlu kuselesaikan di luar kota. Sekalian aku akan mengajak Acit menemaniku, siapa tahu ingatannya akan pulih meski sedikit," jawab Tuan Henry.Aluna yang sedang meraih gelas hampir saja tersedak mendengar jawaban itu. Dia buru-buru menunduk, menyembunyikan ekspresi terkejutnya."Wah, Papa pintar juga mencari alasan," batinnya."Oh, begitu." Nyonya Livia mengangguk kecil, lalu menoleh kepada Aluna. "Kalau begitu, jangan lupa makan dengan teratur ya, Sayang. Kalau sudah selesai, kalian langsung pulang. Mama tidak mau kamu kelelahan.""Iya, Ma. Tenang saja." Aluna menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Jangan lupa kabari Mama kalau ada apa-apa," pinta wanita itu.Aluna mengangguk patuh. "Iya, Ma!"Percakapan itu berlanjut dengan obrolan ringan hingga mereka selesai sarapan. Setelah berpamitan kepada Nyonya Livia, Aluna mengikuti Tuan Henry menuju mobil sambil membawa tas kecil yang sudah disiapkannya sejak pagi.Begitu pintu mobil tertutup, gadis itu langsung me
Tuan Henry mengangkat alis. "Apa itu?""Aku ingin Papa janji untuk tetap tenang dan mendengarkan ceritaku sampai selesai, oke?"Tuan Henry memperhatikan wajah Aluna selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Aku janji. Ceritakan saja."Aluna mengusap telapak tangannya yang mulai berkeringat ke pakaian yang dikenakannya."Setelah Papa pergi ke kantor, Kak Galandra membawa dua temannya. Namanya Sagara dan Abimanyu." Aluna mulai bercerita.Ekspresi Tuan Henry perlahan berubah serius, tetapi dia tidak menyela. Pria itu mendengarkan tanpa memotong satu kata pun.Kemudian Aluna menceritakan tentang sebuah paper bag yang diberikan kepada dirinya."Aku gak tahu apa isinya, tapi setelah dipaksa untuk membuka, ternyata ada sebuah kotak berisi beberapa foto." Aluna menatap kedua tangannya. "Ternyata itu foto rumahku, nenek, dan adikku.""Apa?" Tuan Henry seketika menegakkan tubuh, tangannya terkepal di atas lutut. "Bocah itu benar-benar keterlaluan!""Pa, tolong jangan marahi Kak Galand
Setelah makan malam selesai, Tuan Henry segera bangkit dari kursinya."Ayo, ikut Papa," katanya sambil berjalan meninggalkan ruang makan.Aluna dan Galandra menyusul di belakangnya. Gadis itu terus memikirkan alasan mengapa Tuan Henry memanggil mereka, sedangkan Galandra berjalan dengan wajah datar.Baru beberapa langkah meninggalkan ruang makan, Galandra tiba-tiba mencengkeram lengan Aluna.Aluna tersentak dan menoleh. Galandra tidak berkata apa pun. Lelaki itu hanya menatapnya tajam, seolah hendak menyampaikan sesuatu tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun.Aluna tentu memahami maksud tatapan tersebut. Dia segera menepis tangan Galandra dari lengannya.Galandra mengerutkan kening, jelas tidak senang Aluna melawannya. Akan tetapi, lelaki itu tidak melakukan apa pun lagi.Sesampainya di ruang kerja, Tuan Henry berjalan menuju meja kerjanya, sedangkan Aluna dan Galandra berdiri di hadapannya.Tuan Henry membuka sebuah map yang tergeletak di atas meja, lalu mengangkat wajah untuk me
Aluna segera mengambil ponselnya, lalu mencari nama Adnan di daftar kontak. Tanpa berpikir panjang, dia menekan tombol panggilan. Tut ... tut ... tut ... Tidak lama kemudian, panggilan tersebut tersambung. ["Hai, Lun. Kebetulan banget, baru aja aku mau telepon kamu."] "Oh, ya? Ada apa, Adnan?" Aluna langsung menaikkan volume ponselnya agar suara Adnan terdengar lebih jelas. ["Aku mau ngabarin soal Nenek."] "Nenek kenapa? Nenek gapapa, kan?" tanya Aluna cemas. ["Hei, tenang, Lun. Nenek gapapa kok. Aku mau ngabarin kalo Nenek udah boleh pulang. Dokter bilang kondisinya cukup stabil, jadi gak perlu dirawat di rumah sakit lagi."] "Serius?" Mata Aluna langsung berbinar. ["Iya. Nenek juga kelihatannya udah lebih seger."] "Syukurlah." Senyum kecil muncul di wajah Aluna. "Aku kira ada apa." ["Tapi Nenek belum pulang hari ini. Katanya besok baru boleh pulang. Aku sama Gio sekarang lagi beres-beres rumah dulu. Biar nanti pas Nenek pulang, rumahnya udah rapi dan bersih."] "Oh, begitu
Aluna menggeleng pelan."Gak tahu," jawabnya jujur.Sagara masih menatapnya tajam. Lelaki itu kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa."Kami cuma ingin lihat seberapa lama kamu bisa bertahan," katanya tenang."Bertahan dari apa?" Aluna mengerutkan dahinya.Abimanyu yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari meja tersenyum tipis dan menjawab singkat, "Dari semuanya.""Aku gak paham." Aluna semakin tidak mengerti.Galandra yang sejak tadi hanya memperhatikan akhirnya bicara."Kamu tinggal di rumahku," katanya. "Memakai kamar Acitra. Memakai pakaian Acitra. Bahkan Mama memanggilmu dengan nama Acitra."Aluna terdiam sejenak. Dia tidak tahu harus menjawab apa."Aku ... aku cuma menjalankan apa yang diminta Tuan Henry," jawab Aluna akhirnya."Tapi kamu tetap menikmatinya, kan?" sahut Galandra.Aluna terdiam. Kalimat itu terasa menusuk."Sebenarnya Kakak mau apa dariku?" Aluna memberanikan diri untuk bertanya.Ruangan itu mendadak hening. Tidak ada yang langsung menjawab. Aluna akhirnya bangkit
Ada dua laki-laki asing yang sedang duduk di sofa.Keduanya langsung menoleh begitu mendengar langkah kaki Aluna dan Nyonya Livia.Aluna membeku. Dia sama sekali tidak mengenal kedua laki-laki itu.Salah satu dari mereka bahkan langsung berdiri dan tersenyum ke arahnya."Hai, Acit. Long time no see," sapa lelaki berkaos cokelat.Aluna hanya mengangguk kecil. Tatapannya masih dipenuhi kebingungan.Gadis itu kemudian mendekat ke Nyonya Livia dan berbisik pelan di telinga wanita itu."Ma, mereka siapa?" bisiknya."Mereka teman Kakakmu. Dulu kalian juga sangat dekat," jawab Nyonya Livia sambil mengusap pucuk kepalanya.Aluna menelan ludah.Teman Galandra?Pandangan Aluna perlahan beralih pada lelaki yang duduk santai di sofa.Lelaki itu hanya memperhatikannya dengan tenang. Sudut bibirnya bahkan terangkat membentuk senyum tipis.Aluna langsung curiga."Apa ini rencana Kak Galandra?" pikirnya.Aluna kembali menatap kedua lelaki asing itu."H-halo juga, Kak," sapanya akhirnya.Lelaki yang m







