แชร์

Bab 51

ผู้เขียน: Capucinno
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-08 17:02:32

Ella makan sambil cerita tentang Sisi ke Ardi.

"Jadi, Sisi sudah dapat darah tali pusat?" tanya Ardi.

"Sudah. Tinggal tunggu kondisi Sisi siap transplantasi."

"Bagus. Satu step sudah terlewati. Transplantasi bisa dilakukan saat penyakit dalam kondisi remisi, organ vital stabil, dan tidak ada infeksi aktif," kata Ardi.

Ella menganguk.

"Kalau belum remisi, tidak bisa transplantasi," Ardi mengimbuhi.

"Itu yang membuatku pusing. Sisi masih jauh dari target remisi," kata Ella.

"Sebenarnya, aku ingin mencoba kombinasi obat untuk mencapai target remisi. Tapi selama ini selalu terbentur dengan Dokter Beji," Ardi curhat.

Ella menatap Ardi. Dia tahu Ardi dokter onkologi yang berbakat. Tapi bekerja di tempat yang kurang tepat.

Ella melamun. Entah kenapa saat ini otak bisnisnya berisik. Dia terpikir untuk membangun rumah sakit standar international dengan pelayanan kanker terbaik. Karena di negara ini belum ada rumah sakit yang secanggih itu, sehingga orang kaya di negeri ini se
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 52.

    "Kenapa tidak boleh?" tanya Zega, serak. Ella tidak menjawab, malu setengah mati teringat semalam Zega melihatnya dalam kondisi tanpa busana, mencium dan menjilati bagian paling pribadinya sampai dia orgasme! "Aku ingin menghamilimu," ujar Zega. Mata almond Ella membelalak. Tidak percaya Zega kembali menyinggung hal itu! "Zega, aku sudah membayarmu 4 milyar 2 bulan lalu. Dan kita sudah sepakat tidak membahas hal ini. Kenapa—" "Aku tidak bisa tidur. Tidak bisa konsen kerja. Membayangkan kamu kembali sama Kakak." Zega memotong ucapan Ella. Lalu meraih pinggang Ella dan mengecup bibirnya. Mata almond Ella mengerjap beberapa kali, jantungnya berdetak tidak karuan. Ella takut dibuat tidak waras lagi oleh Zega. Ella mendorong Zega sekuat tenaga, namun hanya berhasil lepas dari ciuman Zega. "Aku tidak akan kembali sama Ma—" Zega kembali mengecup bibir Ella, sekilas. "Aku tahu kamu tidak mau kembali sama Kakak. Kakak juga tidak mau kembali sama kamu. Tapi Ayahku mau kalian kem

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 51

    Ella makan sambil cerita tentang Sisi ke Ardi. "Jadi, Sisi sudah dapat darah tali pusat?" tanya Ardi. "Sudah. Tinggal tunggu kondisi Sisi siap transplantasi." "Bagus. Satu step sudah terlewati. Transplantasi bisa dilakukan saat penyakit dalam kondisi remisi, organ vital stabil, dan tidak ada infeksi aktif," kata Ardi. Ella menganguk. "Kalau belum remisi, tidak bisa transplantasi," Ardi mengimbuhi. "Itu yang membuatku pusing. Sisi masih jauh dari target remisi," kata Ella. "Sebenarnya, aku ingin mencoba kombinasi obat untuk mencapai target remisi. Tapi selama ini selalu terbentur dengan Dokter Beji," Ardi curhat. Ella menatap Ardi. Dia tahu Ardi dokter onkologi yang berbakat. Tapi bekerja di tempat yang kurang tepat. Ella melamun. Entah kenapa saat ini otak bisnisnya berisik. Dia terpikir untuk membangun rumah sakit standar international dengan pelayanan kanker terbaik. Karena di negara ini belum ada rumah sakit yang secanggih itu, sehingga orang kaya di negeri ini se

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 50

    Ella hendak masuk ke gerainya namun saat ini ponselnya berdering. Rupanya Mario yang menelpon. Meski malas, Ella mengangkatnya. "Kenapa?" tanya Ella, dingin. "Sisi mencarimu." Ella diam sejenak. Selama ini, Mario tidak pernah meluangkan waktu untuk Sisi. Bahkan, setiap dia minta tolong Mario untuk menjaga Sisi, pria itu selalu alasan sibuk. Sekarang, Mario sudah tidak bekerja. Ella merasa perlu balas dendam kepada Mario, biar pria itu tahu rasanya momong anak! "Aku masih di mall," sahut Ella. "Cepat pulang." "Aku masih mengecek toko," alasan Ella. "Sisi menangis mencarimu." "Bujuk aja, lama-lama diam," saran Ella sembari berjalan menuju gerainya. Mario diam cukup lama, sebelum akhirnya kembali bicara dengan geram. "Aku bilang pulang ya pulang!" Ella meremas ponselnya, lalu mematikan telpon dan mengubah nada panggilan menjadi senyap. Meski sebenarnya tidak tega dengan Sisi, Ella mencoba tidak peduli. Lalu Ella pergi ke butik khusus baju kantoran. Dia membeli 2

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 49

    Zega mencuci tangan dan mulutnya di toilet pengunjung dekat lobby. Setelah itu menuju mobilnya. Pukul 12 malam dia baru sampai rumah orang tuanya. Zega papasan dengan Mario sebelum masuk kamar. "Oh, tidur di sini?" "Iya, Ayah menyuruhku tinggal di sini." Zega menganguk-angguk. Ada enaknya kalau Ella tinggal di rumah ini. Bisa bertemu tiap hari. "Dari mana kamu?" tanya Mario. "Club malam," sahut Zega, asal. Mario tidak bertanya lagi lalu masuk ke dalam kamar. Zega menyusul dan sukses membuat Mario kaget. Zega duduk di sofa depan ranjang. Dia melihat ada beberapa alkohol di atas meja. Mario menyusul Zega duduk. Membuka botol alkoholnya, menuang ke gelas lalu memberikan ke Zega. "Aku sudah minum tadi," tolak Zega, takut mabuk. Karena tidak lucu jika dia mabuk lalu cerita habis membuat Ella orgasme. Mario akhirnya minum sendiri. "Aku tidak tahu kenapa Ayah menyuruhku kembali sama Ella." "Bilang aja kalau tidak cinta," saran Zega. "Sudah. Tapi kamu tahu, Ayah bilan

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 48.

    Ella tahu ada yang salah dengan dirinya. Harusnya dia takut dan menyuruh Zega pulang, setelah malam ini Zega melebihi batas. Tapi entah kenapa malah ingin Zega menginap di sini. Apa karena uang? Setelah Ella pikir-pikir, sepertinya memang iya. Dia suka uang, apalagi sejak punya anak. Tapi, sepertinya bahaya menerima uang dari Zega. Sebab Zega terlalu tampan dan gagah untuk dia hadapi.Mungkin beda cerita jika dia seorang Istri yang bahagia, tercukupi lahir dan batin. Masalahnya, dia bukan istri yang bahagia. Ella menatap Zega. "Zega ... aku mau mengembalikan uangmu." "Kenapa?" "Hanya ingin mengembalikan," dusta Ella. "Jangan bicara setengah-setengah, aku tidak paham." Zega mengambil jam tangannya di atas meja lalu memakainya di pergelangan tangan kiri."Ya aku cuma ingin mengembalikan," ulang Ella. "Apa karena malam ini?" Ella terkesiap. Bagaimana Zega bisa menebak setepat itu? Usai memakai jam tangan, Zega meraih ponselnya di atas meja, memasukkan ke dalam saku ce

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 47.

    Usai membagi makanan ke tim produksi, Ella menuju kantor Poppy. "Bestiieeee," Poppy langsung menyambut, memeluk, dan mencium Ella. "Aku sibuk banget hari ini. Sampai belum makan. Kejar target supaya bonus keluar." Ella tertawa. "Ini, makan dulu. Nanti bilang terima kasihnya sama dia. Dia yang beliin." Ella menunjuk Zega yang masih melihat display. "Oh ya? doy yang beliin?" tanya Poppy, antusias sekaligus malu. "Ya." Ella tidak heran Poppy memanggil Zega doy. Memang begitulah sahabatnya ini, semua yang ganteng dipanggil doy. "Jadi ingin kuabadikan ramennya. Btw kok kamu gak bilang kalau datang sama si ganteng? tahu gitu make up ku gak kehapus." Ella terkekeh melihat sikap Poppy setiap melihat Zega. "Tobat, Pop. Kasihan pacarmu." "Mumpung si ganteng lagi ke sini. Kan dia gak pernah datang." Poppy meraih kaca di meja kerjanya. Mengurai rambut panjangnya, mengoles lipstik dan memakai soflennya lagi. Dia juga mengganti sandal flatnya dengan high heels. Ella hanya tertawa me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status