Share

Bab 54

Penulis: Capucinno
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 10:25:29

Ella memang tidak pernah mengatakan cinta kepada Mario. Jadi, saran Ibu mertuanya sebuah tekanan tersendiri.

"Kalau bahasa cintamu apa?" tanya Margaret.

Ella tersenyum. "Ella tidak tahu, Bu."

"Kan ada 5 bahasa cinta. Diantara kelima itu kamu lebih ke arah mana? supaya Mario juga tahu apa yang dilakukan agar kamu juga merasa dicintai," Margaret mencoba mengorek informasi.

"Sejujurnya Ella tidak tahu apa itu bahasa cinta, Bu," jawab Ella, polos.

Margaret tertawa. "Oh ya?"

Ella mengang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 72

    Ella memakai bajunya kembali lalu tidur di ranjang untuk penunggu pasien. Dia terkejut Zega menyusulnya dan memeluknya dari belakang. "Kamu marah?" tanya Zega. Ella tidak menjawab. Dia memang ingin marah tapi tidak bisa. "Aku minta maaf. Aku sengaja menggodamu karena—" Ella sontak menoleh, semakin kesal mendengar pengakuan Zega. "Berapa kali harus kukatakan aku tidak mau melakukan itu sebelum menikah?!" Zega tidak bisa menjawab Ella. Akhirnya Ella menarik nafas, lalu memeluk dan mencium Zega. "Aku tidak ingin bertengkar denganmu. Karena aku sangat menyayangimu." "Itu cukup bagiku." Ella kembali menarik nafas. Dia jadi tidak enak kalau begini. Akhirnya Ella menciumi Zega, mulai dari keningnya, bibirnya, leher, dada, hingga perut six pack pria itu. Jantung Ella berdetak tidak karuan melihat batang Zega yang menggembung di balik boxer. Ella menatap Zega. "Kamu tidak perlu melakukan ini karena ingin menyenangkan aku. Aku menghormati prinsip yang kamu pegang dan aku tidak akan

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 71

    "Meski aku tidak mencintainya, aku tidak akan memberikan Ella padamu!" Mario merasa sangat dihianati oleh adiknya ini. Mario kembali melayangkan tinju, namun kali ini gagal karena ditangkis Zega. "Pikirkan kembali," kata Zega. "Aku tidak perlu berpikir dua kali untuk mengambil keputusan semudah ini!" Mario kembali melayangkan tinju, namun lagi-lagi gagal. "Tawaranku hanya berlaku saat ini," Zega menjeda kalimatnya, seperti sedang presentasi. Setelah Mario menatapnya, Zega melanjutkan. "Setelah keluar dari kamar ini, aku tidak akan memberikan kompensasi apapun atas apa yang terjadi." Zega kembali menjeda kalimatnya. Setelah beberapa detik Zega melanjutkan sisanya. "Lepaskan Ella, sebagai gantinya aku akan menjamin posisi Kakak sebagai CEO grup MD." "Bangsat! apa tidak ada wanita lain?!" Mario kembali melayangkan tinju namun Zega terus menangkis dan tidak membalas. "Tidak ada," jawab Zega. "Lebih baik aku dipecat dari pada memberikan Ella padamu!" jawab Mario. "Taw

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 70

    Sementara itu di tempat lain, di kamar rawat inap Margaret dan Ray. Zega mendudukkan semua keluarganya yang beberapa jam lalu menghakimi Ella hingga pingsan. Mario juga ada disana. Namun Sisi dijaga Suster di luar kamar. Suasana hati Zega sedang buruk. Semakin buruk setelah mendengar Ella dihakimi hingga pingsan dan jatuh dari tangga dan mendapat 2 jahitan di dahinya, sementara Sisi 1 jahitan karena terlindungi tangan Ella. Tatapan Zega lebih gelap dibanding malam. Rahangnya lebih keras dibanding batu. "Memang kenapa kalau Ella selingkuh denganku?" tanya Zega, pelan tapi tidak ada yang berani menjawab. Semua menundukkan kepala. Zega meminta laptopnya dari Gashi, lalu membukanya dan mengunduh file rahasia yang dia simpan di awan. "Fredo, kudengar kamu orang pertama yang menanyai Ella," kata Zega. "Kenapa kalau Ella selingkuh denganku? kamu iri?" Fredo mendongak dan tersenyum kuda. "Aku hanya terkejut Zega." Zega menatap Fredo, lalu ke istrinya. "Bibi Moi, kenapa kamu meng

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 69

    "Zega, kenapa berhenti di sini?" Ella heran Zega berhenti di Rihana suite and resort. "Ingin saja," sahut Zega. "Ingin apa?" Ella takut Zega mengajaknya melakukan sesuatu di hotel mewah yang terkenal untuk bulan madu ini. "Healing, melepas stress." "Healing? melepas stress?" Ella semakin takut, karena bertukar keringat juga termasuk salah satu cara melepas stress. "Ya. Enak kan lepas stress di sini?" Zega mencium pipi Ella sebelum turun dari mobil dan membukakan pintu. "Aku nggak mau," tolak Ella tegas. "Nggak mau apa?" Zega menahan tawa. "Kamu mau mengajakku itu kan?" tebak Ella. "Betul. Aku mau mengajakmu itu. Aku ingin memilikimu seutuhnya." Wajah Ella semakin tegang. "Nggak. Aku gak mau melakukan itu sebelum kita menikah." "Aku mau sekarang, supaya cepet bisa menikah." Zega berusaha sekuat tenaga tidak tertawa melihat wajah Ella yang gugup. Ella menatap Zega, tubuhnya yang sempurna, dan wajahnya yang tampan. Tidak ada yang tidak membuatnya penasaran dan ber

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 68

    "Halo, Sus. Sisi sudah makan dan minum obat?" tanya Ella. "Sudah, Bu." Ella menatap foto Sisi di meja kerjanya. "Apa dia cari saya?" "Iya, Bu. Ibu jam berapa pulang?" "Agak malam, Sus. Bisa saya video call sama Sisi sebentar?" tanya Ella. "Bisa, Bu, sebentar ya." Ella langsung tersenyum lebar ketika melihat wajah Sisi. "Halo, Sayang. Lagi apa?" tanya Ella, lembut. "Main sama Ayah." Senyum Ella seketika surut melihat wajah Mario muncul di layar. "Kamu nggak kerja?" tanya Ella. "Aku sakit," jawab Mario. Ella tidak bertanya lagi. Dia beralih ke Sisi. "Sisi main apa sama Ayah?" tanya Ella. "Puzzle." "Ok, nanti waktunya bobok siang bobok ya, gak boleh main terus," pesan Ella. "Ok." "Ya sudah kalau gitu, Ibu lanjut kerja dulu ya, bye Sisi, Ibu sayang Sisi," pamit Ella sembari melambaikan tangan. "Bye, Ibu. Emuach." Sisi memonyongkan bibirnya, ajaran dari Zega. Ella tertawa lalu mematikan telponnya. Usai menelpon Sisi Ella mengecek ponselnya. Ada puluh

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 67

    Ella tiba di depan kantornya tepat 12 siang. "Jangan lupa makan," pesan Zega sebelum Ella turun. "Hm." Zega mencium pipi Ella lalu mengijinkan Ella keluar. Ella turun dari mobil lalu gegas masuk ke dalam kantornya. "Selamat siang, Bu," sapa satpam kantor setelah membukakan pintu kaca lobby. "Siang," jawab Ella sembari lalu. "Selamat siang, Bu," sapa resepsionis. "Siang." Ella memang tipe bos yang jarang menyapa bawahannya. Karena itu dia tidak kenal nama mereka. Meski pernah membaca namanya kadang lupa. Jika berjalan, pandangan Ella lurus ke depan dan jalannya cepat. Karena itu Ella tidak pernah sadar sering jadi pusat perhatian. Ella segera disambut sekretarisnya, Melia. Melia adalah sekretaris barunya. Sekretaris yang lama berhenti kerja setelah melahirkan. "Selamat siang, Bu," sapa Melia sembari memperhatikan tas Ella yang seharga 30 miliar dan membukakan pintu. "Siang, terima kasih." Ella masuk ke dalam ruang kerjanya lalu meletakkan tasnya di atas meja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status