LOGINZega menunggu Kapten Rogi di mobil pria itu. Senyumnya mengembang ketika pria itu dekat. "Selamat malam, Kapten Rogi," sapa Zega. Kapten Rogi terkejut. "Selamat malam, anda siapa?" "Adik Pak Mario." "Oh, ya, ya. Dimana Anda saat kejadian?" bagi Kapten Rogi, setiap orang punya potensi jadi tersangka. Karena itu dia ingin tahu alibi Zega. "Saya di Sheraton hotel." "Ok, bagaimana anda tahu rumah Kakak anda didatangi perampok?" "Perasaan saya tidak enak. Saya kepikiran Ella. Saya tidak tahu kenapa merasa cemas. Akhirnya saya menengok rumah Ella. Saya terkejut ada garis polisi di sana. Kata tetangga ada pembunuhan," jawab Zega. Kapten Rogi menatap Zega cukup lama. "Apa Anda menyukai Nyonya Ella?" Zega tersentak. Kapten Rogi terkekeh. "Anda menuduh saya yang membunuh orang itu?" tanya Zega, kesal. "Siapa tahu. Sekarang ini ada banyak kasus perselingkuhan. Mungkin Anda menyukai Nyonya Ella. Malam itu Anda ke sana dan kepergok oleh suster dan asisten rumah tangganya. Anda membunuh
Zega tiba di vila, dia membuka helmnya, terkejut melihat Gashi, Adrian dan anak buahnya yang lain menunggu di depan gerbang. Mereka sudah seperti gembel. "Kenapa kalian ke sini?" tanya Zega. "Tuan. Kami minta maaf," jawab Gashi. "Tolong jangan marah ke kami." "Kami janji tidak akan mengulangi kesalahan kami," Adrian juga memohon. Begitu pula yang lain. Zega menarik nafas. "Ok." Setelah itu Zega masuk ke dalam vila, disusul Gashi dan yang lain. "Kenapa kalian ikut masuk?" Zega heran. Gashi meringis kuda. "Kami mau bekerja untuk Tuan lagi." "Aku tidak butuh pekerja." "Tentu saja Tuan butuh. Tuan tidak bisa masak, cuci baju, cuci piring, nyapu, nyepel, betulin AC, motor, keran rusak, atap bocor, dan masih banyak lagi, tapi kami bisa," urai Gashi. Zega berdecih. "Sebanyak itukah kekuranganku?!" "Benar, Tuan. Bahkan lebih banyak dari itu. Karena itu Tuan butuh kami," jawab Gashi sembari tersenyum kuda. Zega berdecih. Dia memang tidak bisa apa-apa selain cari uang!
Beberap hari kemudian. Setiap hari Zega membesuk Ella, tapi dia suka melakukannya di siang hari, saat Mario kerja. "Dokter, saya harus menemui Mario. Tolong jangan tahan saya di sini. Anak saya sakit leukemia akut. Dia butuh darah tali pusat. Saya harus bilang ke Mario, untuk menghamili saya," kata Ella. Dokter yang sedang berkunjung untuk mengecek kondisi Ella itu menatap Ella dengan iba. Sementara Zega, ekspresinya tidak terbaca. "Saya tahu, Nyonya. Tapi anda baru saja melakukan operasi. Belum bisa melakukan aktivitas normal," kata Dokter. Ella menatap Zega, ekspresinya tampak sungkan, seperti dulu ketika belum dekat dengan pria itu. Lalu Ella kembali merengek ke dokter agar diperbolehkan keluar dari rumah sakit untuk menemui Mario. Setelah dokter pergi, Ella merengek ke Zega seperti kaset rusak. Akhirnya dia diam setelah dibentak Zega. Zega membanting pantatnya ke sofa, lalu memijat pelipisnya. Dia tahu, setiap ketemu Ella sumbunya pendek. Tapi entah kenapa tetap ke
Ella kekeh mengatakan tidak. "Kamu ingin nikah sama Zega kan?! sini ku tanda tangani!" "Tidak! sekali kubilang tidak tetap tidak! " kata emosi. "Tidak mungkin. Jalang sialan sepertimu pasti suka sama pria kaya. karena itu dulu kamu tidur denganku, sekarang dengan Zega. Karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi," sangka Mario. "Aku kecewa kamu mengataiku jalang. Bisakah lain kali tidak menuduhku seperti itu?" Ella mencoba asertif menghadapi Mario yang selalu menyalahkannya. "Memang kamu jalang kan?" ujar Mario. Ucapan Mario benar-benar menusuk hati Ella. Akhirnya Ella menangis dan terpancing emosi. "Kamu mabuk, terpengaruh obat, dan memperkosaku. Aku sudah bilang padamu aku Ella, bukan Emma. Tapi telinganya seperti tuli! Kamu memperkosaku dan membuatku hamil. Salahkan aku jika minta tanggung jawabmu?" Ella sesenggukan. Kemudian Ella mengimbuhi, "Kalau itu kamu pandang salah, ok. Aku minta maaf. Karena itu aku siap membawa Sisi pergi dari kehidupanmu. Jadi, jangan tahan S
Ella menatap Sisi yang lahap disuapi Zega dan tertawa terbahak-bahak bermain puzzle dengan adik iparnya itu. Ella mendengus, heran. Kenapa anaknya bisa seakrab itu sama Zega, seolah Zega bapaknya. Akhirnya Ella menyuruh suster Sisi dan asisten rumah tangganya tutup mulut. Agar tidak cerita ke Mario tentang kedatangan Zega. Setelah itu Ella menyiapkan obat untuk Sisi. Sisi minum obat tanpa rewel lalu lanjut main. Pukul 2 siang Sisi tidur di gendongan Zega, setelah lelah bermain. Zega membaringkan Sisi di ranjang, setelah itu dia mendekati Ella dan duduk di sampingnya. "Bagaimana kabarmu?" tanya Zega. "Baik," jawab Ella. "Aku sedih melihatmu baik-baik saja tanpa aku." Ella menoleh ke Zega. "Kenapa kamu menipuku?" Zega membalas tatapan Ella. Ella tahu maksud Zega adalah waktu dia pura-pura mau diajak makan malam ketika di Caldera, padahal setelah itu dia tinggal pulang ke Brigton. "Aku lupa," dusta Ella. "Mau menebusnya sekarang?" "Aku tidak akan menebusnya. Kar
Sampai dalam rumah, Mario senang melihat Ella dan Sisi. Inilah keluarganya saat ini. Sejujurnya, sampai sekarang Mario masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia bukan anak kandung keluarga Alexander. Dulu dia Tuan muda, calon pewaris, kekayaannya triliunan, dia tidak takut masa depan karena dunia di gengamannya. Sekarang, semuanya lenyap. Bahkan Emma, wanita yang sangat dia cintai. Tapi justru orang yang tidak pernah dia perhitungkan, yang dia anggap sampah, yaitu Ella dan Sisi, yang tetap di sampingnya sampai sekarang. Ella tidak pernah memandang rendah dia, meski gajinya jauh dibawah pendapatan Ella. "Hai, sudah pulang?" Ella baru menyadari kehadiran Mario. "Ya." Mario melangkah ke arah Ella. Usai Mario mandi, Ella menyiapkan makan malam. "Coba besok kamu telpon dinas sosial, afs pengemis di depan rumah," kata Mario. "Pengemis?" "Kamu tidak tahu?" "Tidak," jawab Ella. "Di depan gerbang ada pengemis aneh," cerita Mario. "Aneh gimana?" tanya Ella sembari meng







